
Akhtar
Saat ku sebut nama Orion, mereka berteriak setuju tanpa fikir panjang. Siapakah Orion? Mengapa keduanya sangat antusias bahkan tak berdebat sama sekali?
Orion adalah putra pertama Ray dan Sania. Orion Arayyan Danadyaksa yang adalah sahabat baik keduanya. Tingkahnya persis seperti Ray. Si pemersatu antara Nair dan Nath.
Nath lebih dekat sebenarnya, tapi Nair juga bisa menerima Orion, bocah cerdas yang kebanyakan main.
Satu hal lagi yang membuat Nair setuju untuk kesana. Karena ada bayi perempuan, ya anak kedua Ray dan Sania. Namanya Chiara. Nair memang sangat menyukai bayi.
Alasan itu yang membuat Lintang memintanya padaku untuk memiliki anak lagi. Tapi aku menolak. Sudah cukup sekali saja aku kehabisan nafas karena tegang menunggu persalinannya.
"Pa, janji nanti kita jemput kakak Zoya ya, ya, ya." Nath masih ingin ikut Zoya padahal kami sedang on the way ke rumah Ray.
"Iya Nath, iya. Sore nanti kita kesana. Sekalian kita bawa Shaka sama Caraka."
Nath sudah berteriak kegirangan. Sementara Nair hanya tersenyum. Aku melihatnya dari spion tengah karena keduanya tengah duduk di kursi belakang.
"Nath kenapa mau ikut kak Zoya sih, nak?" Tanya Lintang.
"Biar masuk di hp, ma. Biar Nath ada di youtube." ucapnya enteng. Dia memang sering menonton video di channel Yout*be milik Zoya. Padahal isinya kebanyakan aktivitas Zoya dan Bintang, terlebih saat melukis dan menggambar. Padahal aktivitas itu bisa ia tonton secara langsung tanpa perlu ponsel dan kuota.
"Biar bisa pamer sama teman-teman." Duplikatku sekali. Narsis. Hatiku tergelitik.
Kami tiba di rumah Ray. Aku memasukkan mobil ke halaman rumahnya setelah satpam membukakan pintu gerbang setinggi tiga meter itu. Di halaman depan Orion tengah bermain basket dengan seorang tukang kebun. Dia memang benar-benar mewarisi sifat Ray. Dia anak billionare muda, tapi bergaul dengan siapa saja.
Semenjak meninggalnya opa Ray tahun lalu, Ray menjadi satu-satunya pewaris sebuah perusahaan besar, sebuah sekolah, dan sebuah rumah sakit. Orang tua Ray sudah meninggal sejak usianya 16 tahun.
Aku, Josep, Sania, dan Dion ada disana. Melihatnya meraung-raung menangisi dua jasad kedua orang tuanya yang berpulang karena kecelakaan beruntun.
"Nath! Nair!" Sapanya saat mobil kami sudah terparkir dan putra-putraku turun dari dalamnya. Orion menghampiri kami. Dia tak lupa menyalamiku dan Lintang.
"Mami papi dimana Yon?"
"Di dalam, Om." Jawabnya singkat.
Ketiganya langsung berbaur untuk bermain basket bersama. Aku dan Lintang berjalan menuju teras. Kami terbiasa menganggap rumahnya seperti rumah sendiri.
"Tunggu sebentar, Om." Ucap Rion tiba-tiba. Dia berlari kearahku.
__ADS_1
"Ada apa Rion?" tanyaku.
"Kak Bi gak ikut om?"tanyanya balik. Dia menatapku dengan mendongakkan kepala
"Gak sayang. Kak Bi sedang pergi bersama om Langit." Lintang menjelaskan. Rion sangat akrab dengan Bintang. Rion suka sekali mengganggu Bintang, tapi Bi tak pernah marah. Karena tingkah Rion sama seperti Nath.
Rion memasang wajah datar. Lalu tiba-tiba tersenyum lagi. "Om, telpon Papa Delvin atau papa Ethan dong." pintanya dengan senyuman maut menggoda iman.
Delvin adalah putra Diana dan Dion. Sedangkan Ethan adalah putra Josep dan Nathalia. Usia mereka hampir sama hanya berbeda bulan saja.
Lintang memberi kode untuk masuk lebih dulu dan aku mengangguk. "Untuk apa Yon?" tanyaku.
"Nair gak punya tim, om." Dia menunjuk Nair yang sedang menduduki bola basket.
"Nair kan ada Nath!" Aku menaikan sebelah alisku. Ku lihat Nath menatap kami sambil bersedekap, melipat tangannya di dada. Entah apa yang dia fikirkan.
"No, Nath timku Om!" See, Ray versi mini. Pemaksa.
"Nair itu abangnya Nath. Jadi mereka satu tim Yon!" aku hanya suka mengganggunya.
"Aku teman Nath, om! Jadi Nath timku." Ucapnya tak gentar sedikitpun.
"Nair, mau kemana?" Tanya Rion.
"Ketemu Chiara! Kamu lama Yon!" Suaranya tak kalah datar dari wajahnya.
Aku dan Rion saling pandang. Lalu aku mengangkat bahu dan melenggang masuk menyusul Nair.
Aku tiba di ruang keluarga. Nair sudah duduk menghadap bayi perempuan yang dibaringkan di kasurnya.
Lintang dan Sania ikut duduk di karpet. Sementara Ray sedang tiduran di sofa sambil memainkan ponselnya.
"Gila, bos besar sempat nge-game juga." Sindirku. Aku duduk di sofa yang lain.
"Bos juga manusia, Tar. Butuh hiburanlah!" Ucapnya tanpa menatapku. Pria itu tengah memainkan game c*ndy cr*sh.
"Wiih level udah ribuan nih!" Aku melirik kearah ponselnya.
"Udah lama mainnya, Tar. Sesempatnya aja kok. Tapi gak nyangka juga bisa jauh gini." Lagi-lagi dia tak melirikku sedikitpun.
__ADS_1
"Gak sopan kamu, Ray. Letakin hp kamu!" perintah Sania. "Ada tamu, masih juga main."
"Nanggung, sayang!"
Dan tak lama Ray meletakkan ponselnya. "Calon mantuku mana? Gak ikut?" Matanya memindai sekeliling.
"Bintang dan Zoya sedang ada kerjaan. Itu loh, foto prewednya Langit." Jawabku cepat. Ray selalu menanyakan keduanya tiap kali bertemu.
"Ciiee yang setuju, besanan sama aku!" ejeknya dengan wajah tengil dan dua telunjuk yang mengarah padaku.
"Aku cuma hafal kebiasaan kamu, Ray!" Aku membela diri. Dia memang selalu menanyskan putri-putriku.
"Bi kira-kira bisa gak ya, kalau fotoin keluarga kami, Lin?" Tanya Sania pada istriku. "Dia pasti sedang sibuk mengurus prewedding Langit."
Keluarga ini menjadi langganan Bintang. Mulai dari awal kehamilan sampai foto baby bump Sania, selalu Bintang yang mengabadikannya.
Alasanya sederhana, supaya Bintang punya pengalaman. Kalau dari hasil masih jauh dari fotografer handal yang mampu mereka bayar. Tapi mereka tetap meminta Bintang.
"Kalian mau foto?"
Sania mengangguk. "Kami belum foto keluarga sama baby Chiara. Kemarin udah sih, pas baru lahir. Tapi sekarang kan Chiara udah tiga bulan. Harus abadikan momen dong!"
"Bintang pasti mau, San!" jawabku.
"Mas, kita tanya Bintang dulu." Lintang sedikit keberatan. Aku tahu alasannya. Karena project terbesar pertamanya adalah foto prewed Langit. Dan dia juga mendapat pesanan lukisan Langit dan Rara yang sama sekali belum ia kerjakan.
Bintang menekuni keduanya. Belajar membidik objek dengan kamera dan juga melukis. Dua hal yang membuatnya bahagia. Dan kami mendukung selama itu tidak berdampak buruk pada nilainya disekolah.
Josep memberinya tim khusus yang bertugas membantu layaknya fotografer profesional, termasuk juga tim editing.
Bintang banyak belajar dari temanku itu. Sementara Zoya yang berada dibawah bimbingannya juga mendapat keistimawaan yang sama, yaitu dibantu oleh tim khusus.
"Kapan bisanya aja, Lin!" Ucap Ray pada Lintang.
Lintang mengangguk.
"Aku dengar kalian mau liburan? Kemana?" tanya Ray.
Aku mengangguk dan mengangkat bahu. "Satya yang atur."
__ADS_1