Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 68 Permata


__ADS_3

Bunga


Aku berjalan ke arah ruang keluarga setelah menghapus air mataku. Aku mendapati tante Hana tengah duduk di sofa di sebelah kak Lintang.


Aku menyalami wanita itu. "Apa kabar tante."


"Baik, Bunga. Kamu apa kabar?"


"Baik tan."


"Dari mana? Kok datang dari arah belakang."


"I-iya. Tadi kebelakang sebentar, tan."


Tante Hana bersikap ramah seperti biasa. Tapi ada yang berbeda. Dia tak berani menatap mataku. Apa tante sejenis manusia bermuka dua, tan? Mengapa tante bersikap baik, tapi tak merestuiku dan kak Satya?


"Tan, boleh Bunga bicara sebentar."


Tante Hana menghembuskan nafas kasar. Sepertinya dia sudah menebak apa yang akan ku bicarakan. Tante Hana mengangguk. "Mau pindah tempat?"


Aku melihat sekeliling. Tak ada anak-anak. Hanya ada kak Lintang dan kak Akhtar yang berbicara dengan si kembar.


"Anak-anak masih mandi sama mbak Dini." Kak Lintang seolah mengerti apa yang ku fikirkan. Aku tak mungkin membiarkan anak-anak mendengarkan pembicaraan serius ini.


"Disini aja tante."


Aku menghela nafas. Aku duduk bertumpu pada lututku di depan tante Hana. Aku menggenggam tangannya.


"Ini tentang Bunga dan kak Satya, tan."


Tante Hana hanya diam. "Tolong restui kami, tante."


"Aku mencintai putra tante. Kami saling mencintai, tan!" Aku menunduk, air mataku sudah mengalir deras. Kak Lintang mengusap punggungku.


"Bunga, maaf nak. Tante gak bisa!" Tante Hana melepas tanganku. Aku menatapnya. "Tante, Bunga mohon tan."


"Kasih satu alasan mengapa tante tak merestui kami."


Tante Hana masih diam. Matanya mulai berkaca-kaca. Aku tahu dia wanita baik.


Tante Hana menggeleng.


"Tante, hubunganku dan kak Satya sudah di mulai sebelum kecelakaan kak Arum dan kak Rezki." Aku akan menjelaskan semuanya. Jika setelah ini tak ada restu, maka aku siap untuk tak pernah menikah dengan siapapun.


"Kecelakaan mereka membuat hubungan kami rusak dalam sekejap. Saat aku menangisi jasad kakakku dan saat kak Satya meratapi jasad adiknya. Disitulah hubungan kami berhenti. Tapi tidak dengan cinta kami."


"Kami berkali-kali memungkiri perasaan ini. Tapi tetap sama, tan. Cinta itu tetap sama."

__ADS_1


"Aku bersyukur, keluarga kita masih terhubung karena Zoya. Tapi aku sakit, tak bisa memeluk dia, pria yang ku cinta." Aku menunjuk kak Satya yang berdiri mematung dengan jarak beberapa meter dari kami.


"Aku berpura-pura baik-baik saja. Aku mengubur perasaan itu dalam-dalam. Dan aku tau kak Satya melakukan hal yang sama. Tapi itu lebih baik, setidaknya kami masih bisa melihat satu sama lain."


"Karena jika hubungan ini terbuka, maka ini yang kutakutkan. Kami akan terpisah, benar- benar terpisah."


"Dua tahun lalu, kak Satya memintaku untuk berani mengakui hubungan ini di depan kalian, orang tua kami." Aku menyeka air mataku.


"Tapi aku meminta waktu dua tahun, karena aku sudah terlanjur mendapatkan beasiswa S2."


"Aku juga ingin menguji cinta ku yang tumbuh di sini." Aku memegang dadaku.


"Ternyata cinta itu masih sama, tan. Nama di dalamnya masih Satya. Bukan pria lain."


"Kak Satya juga mengakui hal yang sama."


"Cukup, Bunga." Tante Hana menghapus air matanya.


Wanita itu berdiri dan berjalan meninggalkanku. Aku bersujud menyentuh kakinya.


"Bunga mohon, tante!"


"Na! Berhenti, Na." Kak Satya menarik tubuhku untuk bangkit. Kak Lintang juga membantuku untuk bangun.


"Na, please. Jangan lakukan ini!" Kak Satya membentakku. Tapi aku tau, bukan karena marah, melainkan karena tak ingin aku merendah serendah-rendahnya.


"Kakak pernah bilang, akan berlutut di kaki papa kalau papa tak merestui kita, kan?"


Kak Satya memelukku yang terduduk di lantai. Tante Hana masih berdiri terpaku. Ibu kak Satya itu belum beranjak.


"Dengar, Na! Ini urusanku dan Ibu. Kamu tak harus melakukan ini."


"Tapi ini karena aku kak. Karena perempuan yang kakak cintai dan ingin nikahi adalah aku."


"Aku gak tega melihat kakak seolah berada di ujung tanduk. Kakak tersudutkan dengan masalah ini?"


"Ibarat buah simalakama kan kak?"


"Kakak bingungkan harus pilih aku atau ibu kakak?"


Kak Satya melepaskan pelukanku. Dia berdiri dan menyuruhku duduk di sofa. Dia juga menuntun tante Hana untuk ikut duduk di sofa.


"Katakan bu, bagaimana caranya agar aku bisa bersama dengan Bunga?" Kak Satya berlutut di depan tante Hana.


"Aku mencintainya."


"Kamu yakin mencintainya, Sat?" Tanya tante Hana.

__ADS_1


"Sangat yakin, Bu."


"Kamu yakin tak akan menyakitinya?" Tante Hana meneteskan air mata.


"Kamu yakin tak akan meninggalkannya?"


"Aku yakin, Bu." Ucap kak Satya dengan tegas.


"Ibu masih merasa bersalah karena Arum, Nak."


"Arum merusak rumah tangga putra om Darma. Ibu sebenarnya malu pada keluarga mereka."


"Dan kamu malah ingin meminang putri mereka. Ibu takut kamu menyakitinya. Ibu takut kamu membuat mereka kecewa."


Aku bisa bernafas lega, ternyata alasannya bukan karena aku tak pantas dengan kak Satya. Tapi karena aku begitu berharga di matanya.


"Aku berjanji tak akan melakukannya, Bu."


"Tante," aku berlutut di sebelah kak Satya.


"Kak Rezki dan kak Arum sudah tenang disana. Jangan selalu menyalahkan mereka. Dan jangan jadikan kesalahan mereka sebagai batu sandungan untuk kita menjalani hidup, tan."


Kak Lintang duduk mendekat. "Bunga benar, tante. Aku bahkan sudah mengikhlaskan semuanya. Kesalahan mas Rezki dan Arum sebaiknya kita kubur dalam-dalam."


"Kita harusnya memfokuskan diri pada Zoya dan Bintang. Kita tidak boleh selalu membahas ini. Mereka sudah mulai besar. Mereka akan mempertanyakan banyak hal sebelum tiba masa dimana kita menceritakan semuanya." Lanjut kak Lintang.


"Kita harus benar-benar menjaga hati mereka, tante. Hati rapuh itu akan hancur saat keduanya menyadari masalalu orang tua mereka meninggalkan banyak duka dan luka."


"Kamu benar, Lin." Tante Hana setuju dengan ucapan kak Lintang.


"Masa depan anak-anak taruhannya."


"Akan sangat membingungkan bagi mereka, mereka lahir di hari yang sama, tapi bukan kembar. Mereka punya papa yang sama tapi dengan mama yang berbeda."


"Kelak, tugas kalianlah yang menjelaskan pada mereka."


"Tante titip anak-anak pada kalian semua."


"Bunga, maaf tante membuatmu sedih. Kamu permata yang berharga bagi kedua orang tuamu. Dan tante tak ingin kamu terluka karena putra tante."


"Satya janji, Bu."


"Hadapi om Darma. Berjanji dan buktikan padanya."


"Papa sudah merestui, tan." Aku sebenarnya memang sudah membahas ini pada mama dan papa. Mereka merestuiku. Aku tau alasannya, agar aku tak pergi keluar pulau untuk mengajar.


Kak Satya langsung memelukku. Namun seketika dia menjauh dengan memegang telinganya.

__ADS_1


"Aduuh, sakit, Bu!" Tante Hana menarik telinga kak Satya.


"Halalkan dulu!"


__ADS_2