Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 42 Besan sableng


__ADS_3

Akhtar


Jam lima sore kami pulang ke rumah. Aku memaksa untuk mengadakan perayaan kecil-kecilan. Padahal tadinya aku sangat kelelahan. Tapi kebahagiaan yang ku rasa jauh lebih besar.


"Aku mau undang anak-anak." Ucapku pada Lintang saat dalam perjalanan pulang. Anak-anak yang ku maksud adalah teman sekolahku. Ray dkk. Mumpung masih hari Rabu. Karena hari Minggu nanti Ray akan mengadakan resepsi.


"Aku juga mau kumpulin anak-anak toko." Sambungku lagi. "Aku mau undang keluarga om Darma dan papa Bram." Lintang hanya mengangguk.


"Kita pesan makanan di luar saja mas. Kasihan bi Imah harus masak banyak." Ucapnya padaku.


"Tentu. Tapi ku lagi kepingin makan tumis kangkung. Biar mama yang masak. Kebetulan mama punya stok di kulkas. Aku udah bilang ke tadi. Sama sekalian aku minta mama beliin es cincau."


Lintang menatapku curiga. "Jangan menatapku begitu Lin. Aku lagi nyetir." Kami memakai mobil Sora karena kami memang tak ada yang membawa mobil ke rumah mama.


"Memangnya ada apa dengan tatapanku?" Keningnya mengernyit. Mumpung anak-anak ikut di mobil mama dan papa aku ingin sekali menggodanya.


"Tatapan itu seperti menantangku untuk melakukan hal 'iya-iya' yang sudah beberapa hari tidak kita lakukan." Aku mengedipkan mata. "Atau kamu mau kita menepi sejenak untuk..."


"Jangan dilanjutin, Mas!" Dia memotong ucapanku. Wajahnya panik. Aku terkekeh melihat responnya.


"Aku bercanda Lin." Aku mengelus kepalanya. "Mengapa kamu memberiku tatapan seperti tadi?"


"Ehm... itu. Kok sepertinya kamu yang ngidam ya mas?" Ucapnya padaku.


"Ngidam?"


"Iya. Aku gak ada keinginan untuk makan apapun. Tapi kamu malah aneh-aneh. Ingat gak? Kemarin itu pagi-pagi kamu pernah minta nasi goreng seafood?" Aku mengangguk.


"Terus yang kalian ke kantor, aku lagi pengen es dawet. Dan sekarang tumis kangkung sama es cincau." Ucapku menggebu.


Lintang tertawa. "Kenapa ketawa?"


Dia mengelus perutnya. "Papa kamu ngidamnya receh banget ya nak." Dia berbicara dengan janin dalam perutnya.


Aku terharu dengan apa yang dia lakukan. Mataku kembali berembun namun dengan senyum di bibir.


Sampai di rumah, aku langsung datang ke rumah ayah untuk mengundang mereka makan malam. Karyawan Lintang juga ku undang.

__ADS_1


"Ada acara apa Tar?" tanya Anna.


"Gak ada An. Pokonya kalian datang semua ya!"


Aku hanya sebentar di sana dan setelahnya aku langsung kembali ke rumah. Aku juga mengirim pesan pada teman-temanku.


Lintang juga menghubungi keluarga om Darma dan papa Bram via telepon.


Malam hari kami menunggu meraka datang. Aku membentang karpet besar di ruang keluarga. Menyingkirkan sofa untuk menciptakan ruang yang lebih luas.


Satu-persatu rombongan datang. "Ada acara apa sih mbak? Kok kita pada disuruh ke sini? Ada hal penting apa?" Rara memberondong istriku dengan banyak pertanyaan.


"Akhtar tiba-tiba datang ke toko. Bikin jantungan aja! Ku kira ada masalah penting!" Aku dengar Anna berbisik pada Lintang.


Istriku tak menanggapi mereka."Kalian duduk aja dulu." Lintang mengarahkan mereka untuk duduk di karpet.


Tak butuh waktu lama, semua tamu yang kami undang sudah datang semua. Dan yang paling heboh adalah mereka yang ada di sisi kanan. Siapa lagi kalau bukan grup 'Manusia Sibuk'. Sesuai namanya, selain sibuk bekerja mereka juga sibuk mengomentari orang lain, sibuk mengerjai teman dan sibuk membuat rencana liburan yang entah kapan bisa terlaksana.


Aku meminta persetujuan pada Lintang untuk mulai berbicara. Lintang saat ini tengah duduk bersama bunda dan mamaku.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Saya selaku tuan rumah dan kepala keluarga di rumah ini sengaja mengundang kalian karena ada hal penting yang harus kami sampaikan."


Aku meraih remote tv yang ada di meja di belakangku. Aku menekan salah satu tombol dan tv menyala. Disana langsung muncul tayangan slide foto pernikahan kami. Para tamu saling berbisik dan menunjukkan raut wajah penuh tanya.


Dan slide terakhir adalah foto usg, testpack dan sebuah tulisan besar dibawahnya.


"ALVARENDRA JUNIOR, COMING SOON"


Membuat suasana riuh seketika.


"Wooohoooo... gila lo! Tokcer parah!" Ray menubrukku disusul Dion dan Josep. Mereka membuatku terjerembab di lantai. Posisi duduk mereka memang paling dekat denganku.


Aku berusaha mendorong mereka. "Woi... bisa mati gue!" Jeritku di tumpukan paling bawah.


Akhirnya mereka melepaskanku setelah puas menyiksaku. Aku duduk menetralkan nafas yang terengah. "Gila! Kalian manusia apa kebo sih? Pada berat banget!"

__ADS_1


Mereka tak peduli. Malah menyalamiku. "Congrats Tar. Benih unggul duda high class emang gak main-main. Sekali tabur langsung jadi. Gokil man!" Ucap Ray padaku. Aku sempat melirik Lintang yang tengah dikerubungi para mama. Bunda bahkan terlihat menyeka air matanya.


"Selamat bro!" Dion meninju lenganku. "Jodohin anak kita kuy." Ah, ya. Istri Dion juga sedang hamil muda.


"Masih lama Yon!" Ucapku padanya. Tawaran Dion masih bisa di pertimbangkan.


"Sama anakku Tar. Jamin deh cucu kita cakep-cakep." Josep malah nimbrung.


"Beda keyakinan Sep!" Josep mutlak gugur dari kandidat calon besan.


"Udah deh, sama anak gue aja Tar! Walaupun bibit gue masih on the way jadi kecebong." Ucap Ray dengan wajah sok gantengnya.


"Ogah! Gue gak punya cita-cita besanan sama orang sableng!" Tolakku cepat.


"Tar...! Gue udah tajir Tar! Perusahaan opa udah sah jadi milik gue! Jamin deh hidup anak lo aman terkendali!" Muka songongnya makin menjadi.


Aku menatap wajahnya. "Jangan maksa Ray!"


"Ayo lah Tar!" Nih anak masih ngerayu.


Oke terpaksa pakai jurus terakhir. "Kalau anak kita sama-sama cowok gimana? Masih mau maksa!" Ucapku tepat didepan wajahnya.


"Buahaa... hahaha..." Dion dan Josep terbahak. Sampai-sampai menarik perhatian yang lain.


"Diiih ogah! Amin-amit!!" Ray mengetuk kepalanya. "Anak gue gak boleh belok. Gak boleh pokoknya. Gak boleh. Gak boleh." Rapalnya berulang kali. Dan dia langsung duduk di sebelah istrinya.


Sekarang giliran para papa mengucapkan selamat padaku. "Ayah bahagia Tar! Selamat!" Ayah memelukku.


"Maaf yah! Aku tak pernah bermaksud menjual kisah menyedihkan tentang kondisiku agar bisa bersama Lintang." Ayah menepuk bahuku.


"Aku bahkan baru melakukan tes kemarin." Aku berusaha menjelaskan pada Ayah agar tak salah faham.


"Ayah tau itu. Papamu baru saja memberi tahu." Ayah melepas pelukannya. "Jaga Anak dan cucu-cucu ayah. Ayah tagih janjimu untuk tak membedakan Bintang dan Zoya dengan anakmu kelak!" Ucapan ayah berhasil membuatku tertegun. Aku memang berjanji untuk tak membeda-bedakan anak-anakku.


"Insya allah yah. Akhtar tepati!" Ucapku matap.


Bergantian mereka memberiku selamat. "Selamat mas!" Ucap Langit memelukku. "Jadi om lagi nih."

__ADS_1


"Produk dari Bali nih kayaknya!" Langit mengerling.


__ADS_2