
" Ayo boy, kita pulang,!" Ajak Papa Wira menghampiri Bintang yang sedang berduaan dengan Safira.
" Papa sama Mama duluan saja, aku pulang bareng Safira nanti."
" Huss... Kamu harus pulang sama kita, Safira gak boleh ikut pulang ke rumah mu, Safira di sini saja !" Timpal Mama Erna.
" Kenapa ? Gak bisa gitu dong !" Bintang tak terima dengan apa yang mama Erna katakan padanya barusan.
" Safira harus di pingit, gak boleh ketemu kamu dulu sampe nanti pas acara pernikahan." Jelas mama Erna.
" Tapi... kenapa gitu ? Berarti kita ga ketemu seminggu dong sayang ? Ah,,, gak usah pingit pingitan lah,,, lama banget itu." Bintang merengek menarik narik tangan Safira bak anak kecil yang minta di belikan mainan oleh ibunya.
" Boy ! Ikuti aturan, hormati keputusan kami selaku para orang tua, cuma seminggu, dan Safira juga gak usah berangkat kantor selama pingitan, biar dia fokus untuk acara pernikahan saja,!" Titah papa Wira yang begitu tegas seolah tak menerima bantahan.
Bintang dengan berat hati menerima dan mengikuti apa yang orang tua Safira dan orang tuanya inginkan, meskipun di lubuk hati terdalamnya dia sangat tak rela bila harus berpisah dengan kekasih yang baru di pacarinya dua hari itu, tapi ketika papa Wira sudah bersabda, Bintang bisa apa, selain mengikuti perintahnya.
***
Ini tepat hari ke lima Bintang tak bertemu Safira, di kantor yang dia lakukan hanya uring uringan tak jelas, semua salah di matanya, semua terjadi sebenarnya karena bentuk protesnya yang tak bisa bertemu calon istri tercintanya itu,sayangnya dia pun tak tau harus melampiaskan kekesalannya pada siapa.
Meski hampir satu jam sekali dia menelpon dan video call kekasih hatinya itu selama mereka tak boleh bertemu.
__ADS_1
Semenjak Safira tak masuk kerja, Alan di panggil untuk kembali menjadi asisten pribadinya, termasuk mengurus segala sesuatu untuk acara pernikahan Safira dan Bintang yang hanya tinggal dua hari lagi.
" Alan... ! Kenapa harus ada adat yang bernama pingitan,? siapa yang mencetuskan ide acara pingitan yang sangat menyiksa hati ini,? ah.... berengs*k !" Kesal Bintang sambil mengacak rambutnya kasar, lagi lagi hanya Alan yang menjadi sasaran kekesalan Bintang.
" Saya gak tau bos, siapa yang mencetuskan ide itu, sabar bos,,, hanya tinggal dua hari lagi, bos dan mba Safira akan bersama terus selamanya setiap hari, setiap waktu." Alan mencoba menenangkan bosnya.
" Ini berat banget rasanya, satu minggu itu rasanya seperti satu tahun, kamu jomblo akut gak akan pernah tau rasanya seperti apa yang aku rasakan sat ini, makanya, cari pacar !" Bukannya tenang, Bintang malah semakin kesal.
" Owalah bos,,, bos,,, kepriwe aku arep nduwe pacar jal, kerja ora ono mandege, ora ono prei ne,apa aku kon pacaran karo berkas berkas, opo karo dokumen ?"
(Owalah bos,,, bos,,, gimana aku mau punya pacar coba, kerja gak ada berhentinya, gak ada liburnya, apa aku di suruh pacaran sama berkas berkas, apa sama dokumen ?)
Gumam Alan sambil pergi meninggalkan ruangan Bintang karena hendak bertemu WO untuk melihat persiapan acara pernikahan bosnya.
***
" Hallo jagoan,,, bulan depan kita ketemu, baik baik di perut bunda ya !" Wisnu mengelus perut buncit Mia yang sedang bermanja di pangkuannya. Wisnu terlihat sangat bahagua dan menyayangi bayi yang masih dalam perut Mia itu.
Mia bahagia sekali, perhatian Wisnu kini benar benar hanya tercurah untuk dirinya dan anak dalam kandungannya yang menurut prediksi dokter dan hasil USG berjenis kelamin laki laki itu.
Meski pernikahannya belum juga di catat secara hukum negara, tapi dia yakin anak laki lakinya pasti akan menjadi pewaris harta kekayaan wisnu nantinya. Dan tentu saja akan menjadi cucu kesayangan satu satunya sang wali kota yang mungkin saja sebentar lagi akan mengetahui tentang keberadaan dirinya dan bayi dalam kandungannya.
__ADS_1
Apalagi Wisnu terlihat sangat menyayangi anak dalam perutnya itu. Sungguh semua itu membuat Mia merasa dirinya berada di atas angin saat ini.
" Mas, beberapa hari terakhir ini aku tak pernah melihat janda gatel itu di rumah seberang, sepertinya dia sudah di usir warga karena mereka kumpul kebo ." Mia dengan tak tau dirinya menjelekan Safira, dia seperti lupa seperti apa kelakuan dirinya sendiri.
" Sssttt,,,, tak baik menggunjingkan orang lain, itu bukan urusan kita." Wisnu mengusap lembut kepala Mia yang di rebahkan di paha nya.
" Ishhh,, masih saja membela wanita itu !" kesal Mia menepis tangan Wisnu.
" Bukan begitu sayang, aku tak ingin membicarakan orang lain saat kita berdua, aku hanya ingin kita hidup tenang tanpa ada siapapun mengganggu kebahagian keluarga kecil kita." Wisnu mengecup pipi Mia yang kini duduk di sampingnya.
Sejujurnya, hatinya itu belum bisa menghapus nama Safira sepenuhnya, terkadang kenangan manis bersama mantan istrinya itu muncul tiba tiba, tapi Wisnu sudah membulatkan tekad, dia akan berusaha mencintai dan menyayangi Mia dan calon anak yang bulan depan akan segera istri sirinya itu lahirkan kedunia.
Sebenarnya Wisnu juga merasa penasaran karena beberapa hari ini dia tak pernah melihat sosok Safira yang sering dia curi curi pandang dari kejauhan secara diam diam.
" Mas, dedek bayi kayanya pengen di jenguk papa nya,deh, !" Mia mencumbu Wisnu dan berbisik di telinganya.
" Baiklah, dengan senang hati " Wisnu tersenyum dan membalas cumbuan Mia, mereka pun menikmati indahnya surga dunia yang penuh dengan suara suara gaib dan mampu membawa mereka terbang menuju langit ke tujuh.
Di perumahan elit itu beredar gosip tentang ada pasangan kumpul kebo dan sang perempuan adalah seorang janda muda, cantik, dan genit yang kapan saja bisa merebut suami siapa pun di perumahan itu, tentu saja itu meresahkan ibu ibu yang ada di perumahan.
Jangan di tanya siapa penyebar fitnah keji itu, tentu saja Mia, pelakor tak tau diri yang teramat dendam pada Safira, sang istri sah yang berhasil dia singkirkan, tapi menurutnya sekarang masih menjadi ancaman, karena suami yang dia curi dari Safira sepertinya masih sangat mencintai mantan istrinya itu.
__ADS_1
Mia tidak ingin apa yang sudah dia perjuangkan selama ini akan sia sia, karena menurutnya kehadiran Safira bisa saja menghancurkan rumah tangganya yang mati matian dia curi dengan segala tipu daya.
Mia menghasut ibu ibu perumahan, tapi masih merahasiakan identitas siapa janda gatel itu, karena beberapa hari ini Safira seolah menghilang, dan Mia merasa untuk sementara posisinya aman, nanti apabila Safira berani kembali ke perumahan elit itu lagi dia akan membawa pasukan ibu ibu perumahan untuk mendatangi Safira, agar dia di permalukan dan di usir dari lingkungan itu secara paksa oleh warga.