Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 49 Berebut besan


__ADS_3

Akhtar


"Kita harus segera ke rumah sakit sekarang!"


Semua orang menegang, takut ada sesuatu yang buruk terjadi. "Mama Hana sudah sadarkan diri."


Serempak mereka menghembuskan nafas lega. "Alhamdulillah."


"Pulang kerumah mama, ya sayang! Kamu istirahat ya!" Ku elus perut besar istriku. "Baik-baik sayang-sayang papa."


"Pa, titip Lintang dan anak-anak." Ucapku pada papa. "Hati-hati dijalan. Jangan ngebut." Ucap papa padaku.


Kami langsung bergegas ke rumah sakit. Aku, Satya, bibi Heni dan Ferdy segera berjalan menuju mobil Satya. "Bawa mobil Fer!" Satya melempar kunci mobilnya pada Ferdy.


Ferdy sigap menangkap kunci dan segera mendudukkan diri di kursi kemudi. Aku duduk di sebelahnya. Sementara Satya dan bibi Heni duduk di kursi belakang.


Bibi Heni tak henti menangis. Satya menenangkannya dengan merangkul pundaknya.


"Bi, sudah ya. Semua sudah terjadi." Aku tau ini berat baginya. Bagaimana ia sangat menyayangi Arum dan kedua orang tua angkatnya. Satya bahkan rela hidup terpisah demi mengurus usaha papa. Dia tak ingin diusia yang sudah tidak muda lagi, papa masih bekerja.


"Maafkan Bibi Sat, bibi tidak tahu kalau Sintya bertindak sejauh ini." Aku melihat dari spion, bibi Heni menyeka air matanya.


"Sudahlah Bi. Yang terpenting jangan halangi aku untuk menghukumnya. Dia telah menghilangkan nyawa dua orang paling berarti dalam hidupku."


Bibi Heni mengangguk. "Hukum saja Sat. Dia memang pantas mendapatkannya."


"Maafkan aku kak. Aku juga lalai menjaganya." Ucap Ferdy penuh sesal.


"Bukan salahmu Fer."


Sampai di rumah sakit, mama Hana masih dirawat di ruang ICU. Menunggu kondisinya stabil barulah dipindahakn di ruang rawat.


Saat ini mama belum boleh diajak bicara. Karena kondisinya yang masih sangat lemah. Hanya Satya yang masuk kedalam menemani mama Hana.


Hampir tengah malam aku sampai di rumah orang tuaku. Aku meminta supir untuk menjemput. Aku masuk ke kamar, segera mandi dan berganti pakaian.


Melihat Lintang, Bintang dan Zoya yang terlelap, aku ikut berbaring di sebelah Lintang. Mengelus perut besarnya menjadi hobi baruku sekarang. Terlebih saat aku disambut dengan tendangan kecil dari dalam, hal yang tak pernah terbayang olehku sebelumnya.


Lintang menggeliat, "Mas... kapan pulang?" tanyanya dengan suara serak.


"Baru saja sayang. Ayo tidur lagi." Aku menariknya dalam pelukanku.

__ADS_1


"Tante Hana bagaimana, Mas?"


"Sudah lebih baik. Ada Satya yang menemani mama."


"Besok kita nengokin sikembar ya? Kita reservasi ke dokter Salma. Biar gak lama menunggu. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada kalian, karena kejadian penuh kejutan beberapa hari terakhir." Aku kembali mengelus perutnya.


"Mereka bergerak sayang." Ucapku antusias. Lintang tersenyum menatapku. "Aku sudah tak sabar menunggu mereka lahir." Aku mencium keningnya dan tak lama ia kembali terlelap.


***


Esok harinya, setelah makan siang aku segera menjemput Lintang di rumah. Dia sudah bersiap, kali ini kami mengajak Bintang dan Zoya. Karena keduanya kerap kali berdebat soal wajah sikembar.


"Adiknya pasti mirip Bintang, kan ma?" Bintang selalu mengucapkan itu saat mengelus perut Lintang.


"Mirip mama Bi. Seperti aku yang mirip mama Arum." Ucapan Zoya ini selalu berhasil membuat Bintang bersungut-sungut.


Padahal jika di perhatikan, Bintang dan Zoya sangat mirip karena mewarisi wajah almarhum Rezki. Hanya bentuk wajah dan bibir mereka yang berbeda. Zoya memiliki wajah lebih oval dan bibir yang sedikit lebih tebal sedangkan Bintang memiliki wajah bulat dan bibir tipis seperti Lintang.


"Ayo kita masuk kedalam, dan lihat wajah adik mirip siapa." Ajakku pada anak-anak saat Lintang mendapat giliran.


Anak-anak terlihat antusias terlebih saat perut Lintang dioles gel sebelum di USG. "Perut mama dikasih apa pa?" Aku menatap keduanya dan meletakkan telunjuk di bibir pertanda mereka tak boleh berisik.


"Bilang hai ke dedeknya kak." Lanjut dokter.


"Hai adik kembar." Ucap Zoya dan Bintang bersamaan saat menatap layar di depan mereka.


"Wah, adik-adik malu dilihatin kakak-kakanya, ya? Kok wajahnya ditutup pakai tangan." Memang benar, sikembar kompak menutup wajah mereka dengan tangan.


"Hi..hi..hi.." Bintang dan Zoya tertawa. "Adiknya malu pa."


"Bayinya sehat. Usianya sudah enam bulan penuh ya Bu, Pak. Air ketuban dan letaknya juga bagus."


"Segera ke dokter jika mengalami sesak nafas. Karena kehamilan kembar rentan mengalami sesak nafas di trisemester terakhir. Jangan terlalu lelah dan konsumsi makanan sehat, Bu."


Kami juga berkonsultasi soal persalinan nanti. "Kita lihat sampai bulan ke sembilan. Apakah bisa lahir normal atau harus caesar."


Setelah keluar dari rumah sakit aku melajukan mobil ke sebuah baby shop. "Kita beli hadiah buat babynya Josep dulu ya. Setelah ini kita langsung kerumah sakit bersalin. Ray dan Dion juga masih on the way."


Lintang terlihat menikmati momen ini. Dia sibuk mencari hadiah yang cocok. "Anaknya cowok ya Mas?" Aku mengangguk.


"Biru atau hijau?" Tanyanya sambil menunjukkan dua buah jumper bayi.

__ADS_1


"Biru."


Lintang berfikir sejenak. "Aku suka keduanya. Kita ambil dua saja." Lalu memasukkan dua jumper itu ke keranjang belanjaan yang hampir penuh.


Huuft. Kalau mau keduanya buat apa nanya, Lintang! Batinku.


Tak butuh waktu lama, kami sudah berada di rumah sakit tempat Nathalia melahirkan.


"Woho... apa kabar calon besan!" Ray yang pertama kali menyambutku.


"Jangan mulai Ray!" Aku tak mempedulikannya. Aku bergegas meletakkan hadiah kami di meja.


"Tak perlu repot Tar!" Josep berbasa-basi.


"Gak repot Sep! Selamat ya, sudah sah jadi bapak." Aku menjabat tangannya.


"Makasih bro!"


"Jodohin sama Bintang kuy!" Candaanya masih sama. Menjodohkan anak kami.


"Ogah Sep. Ogah!" Aku menolak karena keyakinan kami berbeda. Sangat tidak mungkin untuk menjodohkan anak-anak kami.


"Sama anakku aja." Ray kembali cari gara-gara. "Kalau anakku cowok, Bintang atau zoya oke lah buat jadi mantu."


"Anak lo belum lahir Ray."


"Sudahlah mas, Ray cuma bercanda." Ucap Lintang yang sedari tadi langsung duduk di sebelah brankar Nathalia.


Bintang dan Zoya sedari tadi tak berpindah dari box tempat bayi Josep di tidurkan. Sesekali mereka tertawa cekikikan.


Kami berempat duduk di sofa. "Bagaimana tentang kasus penyerangan mantan mertuamu? Kemarin Langit menghubungiku dan katanya pelakunya sudah tertangkap." Kali ini Ray terlihat serius.


"Iya, waktu itu yang tertangkap hanya orang suruhan. Dan malam tadi dalangnya juga sudah tertangkap. Thanks sudah banyak membantu."


"Siapa dalangnya Tar?" Tanya Ray.


"Masih kerabat dekat." Akhirnya aku menceritakan semuanya pada mereka. Bagaimana Sintya juga mengakui kejahatannya dimasa lalu.


Ck..ck..ck.. Ray berdecak. "Astaga, itu sih cinta gila namanya."


Memang benar, karena obsesi yang berlebihan terhadap Satya sampai-sampai Sintya tega melenyapkan saudaranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2