Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 54 Shopping day


__ADS_3

Akhtar


Sepulangnya pak Bondan dan rekan setelah makan siang, kami putuskan untuk istirahat. Satya dan mama Hana beristirahat di kamar masing-masing, aku dan Lintang menemani anak-anak tidur siang di kamar Zoya.


Lintang dengan telaten mengusap punggung Zoya hingga gadis kecil itu terlelap. Sementara Bintang sudah lebih dulu terlelap di sebelahku.


Aku keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur. Membuka kulkas dan mencari minuman dingin. "Mau dibuatkan sesuatu, Pak?" Salah satu asisten rumah tangga bertanya padaku.


"Tidak, Bik. Saya cuma mau minum."


Aku mengambil gelas, menuang air mineral dan meminumnya. Namun, sekilas aku melihat bayangan Satya di halaman belakang. Aku melangkahkan kakiku dan menemukan pria 33 tahun itu tengah duduk di bangku panjang di pinggir kolam sambil memberi makan ikan koi.


"Gak Istirahat Sat?" Aku mendudukkan diri disebelahnya.


Dia menoleh ke arahku, lalu menggeleng pelan. "Rugi banget pulang ke rumah tapi cuma tiduran, Tar!" Satya menyodorkan sebuah cup berisi pakan ikan.


Ku ambil sedikit dan kulemparka ke kolam, dalam sekejap ikan-ikan cantik itu langsung berkerumun.


"Mama tidak mau ikut denganku, Sat." Ucapku padanya.


"Ibu juga tidak mau ikut denganku, Tar."


Kami saling diam. Yang terdengar hanya gemercik air dan suara air kolam yang berombak akibat ulah ikan-ikan cantik itu.


"Seharusnya Ibu tanggung jawabku. Tapi mau bagaimana lagi. Ibu berkeras ingin tinggal di sini."


"Disini ada beberapa orang asisten rumah tangga dan seorang perawat yang bisa merawat dan menemani Ibu. Aku akan usahakan pulang setiap satu atau dua minggu sekali," lanjutnya.


"Jadi, mama tetap tinggal di sini?"


Satya mengangguk. "Sesekali, biarkan Zoya menginap. Menemani Ibu. Atau biarkan Ibu menginap di rumah kalian."


"Pasti, dengan senang hati Sat."


"Soal Arumi Resto..."


Satya memotong ucapanku. "Arumi Resto adalah restoran yang papa dirikan untuk mengenang putri kesayangannya, Tar."


Satya menatap lurus kedepan. "Awalnya papa hanya membuka satu Restoran di Surabaya. Setelah Zoya tak membutuhkan ASI Lintang, mereka pindah ke sana. Mereka memulai semuanya disana. Terlalu pahit jika harus melihat bayangan Arum di setiap sudut rumah ini, Tar. Walaupun selama dua tahun dia tinggal bersamamu. Tapi dia dibesarkan di rumah ini."


"Aku melarang ayah membuka Resto, karena aku tak akan bisa membantu. Kamu tahu sendiri, semenjak aku bisa menghandle pertambangan, aku langsung pindah kesana. Dan tak membiarkan ayah bekerja."


"Tapi ayah tetaplah ayah. Ayah tengah mempersiapkan semua demi masa depan Zoya. Setengah tahun lalu, Ayah membuka cabang dua cabang, satu di Surabaya dan satu dikota ini." Satya menatapku.


"Managernya orang-orang terpercaya Tar. Kamu cukup memeriksa laporan yang dikirim ke email kamu. Nanti kalau ada waktu kita kesana. Mengenalkanmu sebagai pengganti ayah." Satya menepuk bahuku.


"Dan masalah Arumi Resto clear," lanjutnya tanpa menanyakan pendapatku.


"Satya..."


"Sudahlah, Tar. Kamu juga pernah menjadi anak ayah. Sebenarnya harta ayah yang paling berharga adalah Zoya. Dan ayah percayakan dia kepadamu." Ucapnya tak ingin dibantah.


Aku akan berusaha menerima semuanya. Semoga aku bisa menjaga amanah dari papa. Doaku dalam hati.


"Lalu, setelah menikah. Apakah kamu akan membawa Zoya, Sat?" tanyaku.

__ADS_1


Satya mengangkat bahu, "jodohnya aja belum nongol." Dia tertawa.


"Dicari lah!"


Satya menyeringai. "Berat Tar. Berat!"


"Jodohnya masih lanjut S2 di Luar negeri, Mas!"


Kami menoleh kebelakang. Lintang dengan perut besarnya tengah berjalan kearah kami. Aku segera membantunya duduk di bangku yang lain.


"Masih dia kan kak orangnya?" Tanya pada Satya.


Satya mengangguk lemah. "Tapi dia masih tetap pada pendiriannya, Lin."


"Siapa sih sayang? Kamu kok kenal?" tanyaku penasaran.


"Kamu juga kenal kok, sayang." Ucap Lintang padaku.


"Aku kenal?" tanyaku tak yakin. Siapa ya kira-kira?


"Jangan ceritakan apapun Lin!" Perintah Satya. "Bisa habis aku jadi bahan olok-olokan suami kamu."


Lintang mengangguk dan tersenyum tipis. "Aman kak. Aman!" Ucapnya mengacungkan dua jempol.


Keduanya tertawa bersama. Menyisakan aku yang masih menebak-nebak siapakah wanita itu.


****


Lintang


"Kaaak..." Sora melambaikan tangan padaku. Lalu berjalan kearah kami dan ikut bergabung.


"Papa ikut?" tanya mas Akhtar karena melihat papa menggendong Caraka.


"Perintah ibu negara, Tar." Papa melirik ke arah mama.


"Iya. Kalian ajak anak-anak main selama kami berbelanja. Kasian anak-anak, pasti mereka cepat bosan kalau ikut keluar masuk toko."


"Horeee.... main sama kakek." Bintang yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan orang dewasa langsung berteriak.


"Bintang senang?" tanya papa padanya.


"Senang kek." Kepalanya mengangguk berkali-kali.


"Zoya juga senang?" Mas Akhtar bertanya pada Zoya.


"Pasti doong, Pa."


"Papa juga senang! Habiskan makanannya. Dan Let's go!! Kita main sama kakek." Ucap mas Akhtartak kalah semangat.


Ide mama Riana memang gak ada duanya. Kami berpisah dari anak-anak. Dan kami langsung menuju ke Babyshop yang terletak di lantai dua. Bunda dan mama yang terlihat paling antusias.


"Jenis kelaminnya belum ketahuan ya kak?" Tanya Sora saat ia memilih kaos kaki bayi.


"Belum Ra, kakak kamu gak mau. Biar *surpri*se katanya." Jawabku sambil memilih dua buah sarung tangan bayi dengan warna netral, yaitu putih.

__ADS_1


"Ambil warna netral saja Lin," ucap bunda.


"Iya bun, ini juga aku ambil warna putih."


"Beli untuk sampai umur satu atau dua bulan saja Lin, kita kan gak tau nanti perkembangannya baby nya setelah lahir seperti apa. Kalau cepat gemuk, sayang banget, banyak baju yang gak terpakai nanti." Itu adalah saran mama Riana.


"Iya ma." Sebenarnya aku sudah menyiapkan beberapa pakaian bayi yang ku jual di toko onlineku. Tapi demi memuaskan para calon nenek yang tak kuasa ku tolak permintaannya, maka aku menurut saja. Toh yang bayar bukan aku. Tapi suamiku.


"Kak, beli dua stroller untuk bayi kembar, nanti satunya disimpan di rumah mama. Supaya gak repot harus bawa-bawa stroller kalau ke rumah." Ucapan Sora membuatku mengerutkan kening.


"Belum butuh, Sora. Nanti saja kalau sudah lahir baby nya baru dibeli." Ucapku pada Sora yang sibuk memilih Stroller.


"Yaaah... padahal tante Soranya lagi semangat empat lima dek." Sora mengelus perutku. Aku tertawa melihat wajah Sora yang pura-pura lemas.


Kami keluar dari toko dengan banyak paperbag ditangan mama, bunda dan Sora. aku tidak di izinkan membawa walau hanya satu paperbag.


Rencana awal adalah membeli perlengkapan bayi, namun nyatanya bertambah dengan pakaian Caraka, Zoya dan Bintang. Bahkan Sora benar-benar menikmati momen belanja tanpa anak. Terbukti dengan 4 paperbag ditangannya yang merupakan miliknya sendiri.


"Aji mumpung kak." Bisiknya padaku.


"Mau langsung pulang atau mau makan lagi?" Tanya mama Riana.


"Langsung pulang aja, Ma. Kak Lintang sudah capek banget kelihatannya." Sora menunjukku dengan dagunya.


"Iya, kita pulang saja, Mbak." Bunda menyetujui saran Sora.


Di perjalanan pulang, aku duduk di sebelah mas Akhtar sedangkan bunda duduk di belakang bersama anak-anak yang masing-masing tengah memegang boneka. Mas Akhtar mengatakan itu hasil dari main capit boneka.


"Bagaimana mainnya? Seru?" tanyaku pada anak-anak.


"Seru maaaa." Teriak keduanya. Always kompak anak mama ya...


"Apalagi tadi ada tante cantik yang minta papa untuk ambilin boneka yang tante itu suka, ya kan Zoy?" Ucapan Bintang membuatku terkesiap. Aku menatap tajam suamiku yang sedang tersenyum menunjukkan gigi putihnya.


Aku tau, dia telah menyiapkan jawaban jika kutanya siapa tante yang dimaksud Bintang. Tapi ku urungkan, karena lebih menarik mendengar anak-anak bercerita.


"Sheeet.... sheeet.... sheeet..." Bintang memperagakan bagaimana papanya dengan lihai menaklukan mesin capit boneka.


"Yeee.... Dapaaat." Zoya berteriak. Dan setelah itu keduanya tertawa.


"Bilang apa sama papa?" tanya Bunda pada keduanya.


"Terima kasih papaaaaa."


"Sama-sama sayang."


****


Hai readers ter❀


Sudah bisa di tebak kan siapa jodohnya Satya??


πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…


Atau ada yang mau daftar? πŸ˜† Mayan kak dapat 100 hektar kebun sawit πŸ˜‚

__ADS_1


Happy reading guys and Jangan lupa tinggalkan jejak ya akak Cantiik πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2