Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 71 Lima tahun berlalu


__ADS_3

Lintang


"Good morning everybody." Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun menyapa semua orang yag tengah duduk di meja makan. Dua bocah dengan kaos dan celana demim selutut yang baru selesai dimandikan oleh pengasuhnya berjalan menuruni anak tangga.


Bocah itu mengecup pipiku dan suamiku. Sambil berkata, "good morning mommy, morning daddy." Sementara bocah seusianya dengan wajah sangat mirip juga mengecup pipi kami.


"Bukan mommy, daddy Nath!" Aku protes pada putraku, El Nath. "Tapi mama-papa."


"No, mommy. Begini lebih keren, seperti Michel dan Jason." Nath menyebut nama temannya sekolahnya.


"Umi abi lebih mudah, Nath. Seperti Naira memanggil orang tuanya." Dialah Nair. El Nath versi kalem. Dia lebih mirip denganku bahkan Nair dua level di atasku.


"Naira?" Mas Akhtar mengulang nama yang disebutkan Nair.


Bintang dan Zoya hanya tersenyum bersiap mendengar perdebatan yang sebentar lagi akan terjadi.


"Dia kembaran Nair, Dad! Berikan saja Nair pada umi dan abinya Naira." Teriaknya.


"Nath, gak boleh ngomong begitu. Nair itu saudara kamu. Dan satu lagi, jangan berteriak!" Ucapku padanya. Nath memang begitu, teriakannya bisa memekakan telinga.


"Dia selalu belain Naira dari pada Nath, Mommy! Nair selalu salah-salahin Nath!" Okey, dia merajuk sekarang. Wajahnya di tekuk berlipat-lipat. Nath, berhenti berdrama, ini masih pagi Nak.


"Kamu memang salah Nath. Kamu tarik jilbabnya. Itu gak boleh!" Nair berbicara santai, tanpa beban. Seperti seorang abang yang tengah menegur sang adik. Dan dia adalah manusia tercool di rumah ini.


"Aku gak sengaja, Nair!" Nath tetap pada pendiriannya, membela diri. Inilah ciri khasnya. Dia tak akan mau disalahkan jika dia merasa benar.


"Dia mau jatuh dari seluncuran, terus aku cuma bisa tarik kain di kepalanya." Nath mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tapi dia nangis, Nath!" Nair mendengus kesal.


"Oke papa luruskan. Nath gak sengaja Nair. Niatnya mau menolong, tapi mungkin caranya dia salah."


"Nath, maafkan Nair. Dia fikir kamu sengaja. Sekarang, salaman. Maaf-maafan!" Mas Akhtar menatap kedua putra kami.


Nair dan Nath saling lirik. Lalu sama-sama menyodorkan tangan.


"Bilang apa Nath, Nair!" Ucapku.


"Maaf bang!"


"Maaf, Nath!" Keduanya saling jabat tangan.

__ADS_1


Aku dan kedua putriku hanya menonton. Jika perdebatan terjadi antara si kembar, maka mas Akhtar sendiri yang turun tangan.


Jika Bintang dan Zoya yang berselisih faham, maka aku yang akan bicara pada mereka. Lalu membuat mereka kembali berbaikan.


"Ayo kita sarapan. Nath pimpin doa." Perintah mas Akhar.


Nath memimpin doa dan kami mulai sarapan. Beginilah aktivitas kami saat weekend. Tak jauh berbeda saat weekday. Karena mas Akhtar tak lagi terburu-buru untuk ke kantor.


Semenjak empat tahun lalu, mas Akhtar memutuskan untuk membuka usahanya sendiri. Kerepotan membagi waktu antara pekerjaan dan Arumi resto menjadi salah satu alasannya.


Mas Akhtar saat ini telah memiliki empat cabang minimarket. Total ada delapan cabang setelah empat minimarket papa Rendra diserahkan padanya untuk ia kelola.


Arumi resto sudah ada dua cabang di Surabaya dan empat cabang di Jakarta. Pundi-pundi rupiah yang kami siapkan untuk Zoya sesuai amanah om Bram.


Kost-an dan kontrakan juga sudah hampir seratus unit jumlahnya. Mas Akhtar juga memanfaatkan lahan kosong miliknya untuk membangun lima unit ruko tiga lantai yang ia sewakan.


Aku menyewa dua ruko sekaligus. Satu untuk BL shop dan satu untuk butik Rara yang berada di bawah naunganku.


Lalu bagaimana dengan Bunga dan kak Satya? Setelah memiliki bayi tampan bernama Shaka, mereka memutuskan untuk pindah ke Jakarta. Mendirikan kantor pusat dan membuka beberapa jenis cabang usaha. Kak Satya benar-benar melebarkan sayap kerajaan bisnisnya.


Lima tahun berlalu, tak banyak yang berubah dalam kehidupan kami. Hanya saja kami semakin menua dan para oma op, kakung uti, kakek nenek sudah pada memilih pensiun.


"Assalamualaikum!" Nah, panjang umur orangnya.


Pria bertubuh atletis dengan sweater navi dan celana jeans panjang masuk dari arah depan. Pria yang baru saja menginjak usia 30 tahun itu langsung bergabung dengan kami.


"Hai boy!" Sapanya pada Nath.


"Hai bro!" Mereka bertoss mengadu kepalan tangan.


"Hai abang Nair! Makin angker aja tuh muka kayak kuburan baru!" Sapanya pada Nair yang memasang wajah datar. Langit mengusak rambutnya.


"Ck!" Nair berdecak.


"Dont touch me, om Sky!" Nair kembali merapikan rambutnya.


"Oke... oke. Mount Everest marah." Langit menyebut gunung es tertinggi.


"Pagi-pagi udah nongol, ada perlu apa Lang?" Tanyaku.


"Numpang sarapan, sayang!" Sindir mas Akhtar.

__ADS_1


"Tau aja abang iparku yang paling ganteng." Langit tersenyum mengejek.


"Hai princesses!" Sapanya pada kedua putriku.


Keduanya hanya nyengir menunjukkan deretan gigi putih mereka.


"Siap untuk jadwal padat hari ini?" Tanya Langit pada keduanya.


"Pasti, dong!" Keduanya lagi-lagi kompak.


"Oke. Ayo kita berangkat!" Ajaknya.


Hari ini ada jadwal foto prewedding Langit dan Rara. Dan kalian tau siapa fotografernya? Bintang. Dia yang akan menjadi fotografernya. Dan Zoya? Zoya adalah seorang youtuber cilik. Dia akan membuat konten, mengikuti kegiatan Bintang saat melakukan proses foto prewedding.


Aku tak menyangka anak-anakku akan sehebat ini. Berawal dari Bintang yang tertarik dengam kamera mas Akhtar sejak usianya tujuh tahun.


Dan Zoya, gadis yang selalu ceria dan tak canggung berbicara bahkan dengan orang dewasa sekalipun. Membuat Josep merasa gemas. Dialah yang mengarahkan kedua putri kami atas izinku dan mas Akhtar.


"Mereka perlu menyalurkan bakat mereka, Tar!" ucapnya kala itu.


"Kalau mereka ingin berhenti. Kita turuti. Sesuai mood mereka aja lah. Kalau mereka kelewat batas, maksudku terlalu banyak menghabiskan waktu untuk hal itu. Kita juga bisa stop. Kita yang atur dan mengarahkan." Lanjutnya.


Akhirnya kami menyetujui saran Josep. Dan sejauh ini anak-anak sangat menikmati.


"Ikut dong om!" Nath minta ikut dengan Langit dan kakak-kakaknya.


"Kamu bikin repot, Nath." Ucap Bintang.


"Janji, Nath gak bikin repot." Dia mengacungkan jari kelingkingnya.


"Nath... kita ke mall aja ya. Sore nanti kita jemput mereka ke pantai." Aku membujuknya.


Nath tampak berfikir sejenak. Lalu senyumnya mengembang. "Kita ke rumah Caraka aja ma."


"Gak mau. Lebih baik ke rumah adik Shaka, Nath!" Nair memang lebih suka ke rumah Kak Satya. Sementara Nath lebih suka ke rumah mama Riana. Karena dia sangat akrab dengan Caraka.


"Lebih baik ke rumah Caraka, bang! Naik ke rumah pohon seru tauuu!" Bibirnya maju lima inci.


"Kita ke rumah Orion!" Teriak mas Akhtar.


"Setujuuuuu!" Keduanya berteriak kompak.

__ADS_1


__ADS_2