Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 82 Nath gak mau punya adik


__ADS_3

Langit


Satu bulan sudah aku menyandang status sebagai suami. Ternyata sangat terasa perubahannya. Meskipun aku dan Rara telah sejak lama bersama.


Yang sangat berbeda adalah hadirnya sosok cantik yang menemaniku berbagi cerita sebelum tidur. Wanita cantik yang menjadi objek pertama yang ku cari saat aku terbangun.


Kehidupan selama sebulan ini begitu terasa menyenangkan. Terlebih saat hadirnya keluarga kak Lintang. Candaan yang selalu di lontarkan mas Akhtar pasti tak jauh-jauh dari aktivitas iya-iya.


"Perang dunia ketiga di menangkan oleh siapa, Lang?" tanya mas Akhtar pada hari pertama setelah pernikahanku. Pagi itu kak Lintang dan keluarga datang ke rumah. Karena kerabat yang akan pulang ke kota masing-masing.


Aku tersenyum sinis. "Sudah bisa ditebak kan mas?" tanyaku balik.


Dia memang abang ipar rasa rival. Tapi percayalah, dia yang terbaik. Dia penyayang. Tak pernah ragu menunjukkan rasa sayangnya pada ayah-bunda. Dan seharusnya semua orang bisa menilainya dari caranya memperlakukan Bintang dan Zoya.


Aku rasa tugasku untuk kak Lintang sudah usai. Dan sekarang tugas baruku sudah di depan mata. Yaitu membahagiakan anak perempuan yang telah dipercayakan oleh orang tuanya padaku.


Sesuai rencana, kami memang pergi berlibur di Maldives atau lebih sering di sebut Maladewa. Awalnya bang Sat ingin menyewa pulau pribadi. Tapi kami semua melaranganya karena harga permalam bisa mencapai 1 M lebih.


Bang Sat memang donatur liburan kami kali ini. Tapi bukan berarti kami memanfaatkan kebaikannya. Kami juga mengupayakan budged yang ia keluarkan tak terlalu membengkak.


Liburan selama empat hari tiga malam sangat kami manfaatkan dengan baik. Entah kebetulan atau memang iri padaku. Mas Akhtar dan kak Lintang serta Bunga dan Bang Sat kompak menjalani program kehamilan.


"Kita bulan madu massal, mas?" bisik Rara padaku saat terang-terangan kedua pasangan pengantin lawas memesan kamar berbeda dari anak-anak. Kelicikan mereka adalah ikut membawa ayah-bunda serta tante Hana untuk menjaga anak-anak.


"Biarin aja sayang, biar hotelnya roboh kena getaran maut." Jawabku sambil tertawa.


Banyak aktivitas yang kami lakukan. Mulai dari snorkeling, diving, melihat lumba-lumba dan kami juga menghabiskan waktu hanya untuk sekedar duduk di pinggir pantai.


Saat makan malam bersama, dimalam terakhir kami di maladewa, Bintang berkata, "Besar nanti, Bi mau kesini lagi om."


"Harus dong! Kita nabung sama-sama supaya bisa kesini." ucapku pada keponakanku yang sudah berusia sepuluh tahun itu.


"Pulau pribadi, mahal gak om?" tanya Bintang. Dia memang sempat searching mengenai Maladewa dan pasti disana juga ada informasi tentang pulau pribadi.


"Mahal dong, makanya ayah Satya gak jadi ajak kita kesana." Sahut Zoya menunjuk bang Satya yang tengah meneguk minumannya.


Semua tertawa. "Ayah bukan gak mau Zoya, tapi papa sama om Langit gak mau kalau kita kesana."


"Dari pada buat kesana, mending duitnya buat aku, bang. Lumayan untuk tambahan beli BM*. ucapku asal.


"Aku mah mending buat bangun kontrakan. Beeeght... dapat 12 pintu. Lumayan invest buat sekolah si kembar." sahut mas Akhtar.


Bang Sat tertawa. "Aku kan mau kasih kalian kenyamanan, terutama buat anak-anak." Bang Sat mengelus kepala putranya, Shaka. "Sebenarnya ini adalah janjiku pada Bi dan Zoya. Dulu aku berjanji membawa mereka berenang bersama nemo."


"Tapi ternyata keduanya sudah gak tertarik lagi sama nemo." Bang Sat tertawa. "Jadi aku gantiakan dengan liburan kesini."


Dan pagi ini, Rara membangunkanku. Sebenarnya aku masih mengantuk karena aktivitas iya-iya yang kami lakukan malam tadi.


Aku melihat jam dinding. Sebentar lagi masuk waktu subuh.


"Mas,"

__ADS_1


"Ehm." Aku masih ingin bergelung dalam selimut dan tidur miring menghadapnya.


"I have something special for you." Bisiknya pelan.


(Aku punya sesuatu yang spesial untukmu)


Perlahan aku membuka mataku. Dan tangan Rara tepat di depan wajahku memegang (satu, dua, tiga, empat, lima, otakku otomatis menghitung) benda pipih dengan dua strip. Aku bukan tak tahu benda apa itu. Tapi...


"I... ini?" ucapku terbata. Aku langsung duduk dan memegang lima benda itu.


Rara duduk bersila di hadapanku, air matanya tumpah.


"Ra...!" Aku masih ternganga menatapnya.


Istriku mengangguk berkali-kali menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tak pecah.


Aku langsung menariknya dalam pelukanku. "Terima kasih sayang. Terima kasih ya Allah." Allah seolah tau aku sedang kejar target karena usiaku tak lagi muda. Tapi ini seperti mimpi. Bahkan pernikahan kami baru sebulan. Dan satu hal yang membuatku tersadar. Tamu bulanan Rara yang tak pernah datang selama sebulan ini.


"Kita ke dokter! Kamu bersiap." Aku melepas pelukannya dan bergegas turun dari ranjang.


"Mas!" Rara memanggilku.


Aku menatapnya yang tengah menahan tawa. "Ini masih subuh, dokter mana yang buka?"


Aku menepuk keningku. "Heheh... terlalu semangat, sayang!"


Dan saat kami sedang sarapan bersama, tetangga sebelah datang beserta rombongannya. Siapa lagi jika bukan kakakku dan suaminya serta keempat anaknya.


"Good morning mommy, daddy, grandpa, grandma." Nath mencium tangan kami lalu langsung bergegas duduk di depan tv. Nair mengekor di belakangnya. Sementar Bi dan Zoya mengambil posisi di meja makan.


"Numpang sarapan, bun!" Mas Akhtar menyalami ayah dan bunda.


"Astagfirullah, kak Lintang gak masak kak?" tanyaku terkejut.


"Bi, imah pulang kampung, Lang! Dan kakak lagi malas masak."


"Gak apa-apa. Bunda sama Rara masak banyak ini."


Memang benar, bunda dan Rara memasak banyak menu. Cukup jika untuk sarapan bersama keluarga kakakku.


"Nair, Nath. Gak sarapan?" tanya Ayah pada mereka.


"No, grandpa."


"Enggak Kakung."


"Diih, kembar tapi gak kompak!" cibirku pada kedua keponakanku.


Bintang dan Zoya tertawa bersama. "Nah kan, lebih kompak kak Bi sama kak Zoy, nih!" Rara ikut menggoda keduanya.


"Mereka udah sarapan, yah. Tadi pas jogging mereka mampir di bangku taman sambil buka bekal." Kak Lintang menahan senyum.

__ADS_1


Aku terbahak. "Olahraga bawa bekal, lemak belum terbakar udah di tambahin lagi."


"Udah, mas!" Rara melirikku karena wajah si kembar sudah cemberut sambil menonton film kartun.


"Kami punya kabar bahagia." Aku akan mengumumkan kehamilan Rara saat kami sudah selesai sarapan.


Mereka menatapku penuh tanya.


"Cucu ayah akan nambah lagi." Teriakku semangat. "Alhamdulillah, perut Rara sudah ada isinya."


Mereka bersorak. "Selamat Rara." Kak Lintang langsung bangkit dari kursinya dan memeluk Rara. Begitu juga bunda.


Ayah dan Mas Akhtar memelukku dan memberi selamat.


"Jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak aktivitas. Kalau lelah, langsung istirahan, Ra." Itu pesan bunda.


"Iya, bun."


"Udah ke dokter?" tanya kak Lintang.


"Belum kak." Rara menggeleng.


"Segera ke dokter. Lang, temani Rara!"


"Siap ibu boss!" Aku memberinya hormat.


Giliran Bintang dan Zoya yang memeluk Rara.


"Semoga dedeknya cewek ya, tan." Bintang mengelus perut Rara.


"Iya, yang cantik kayak kak Zoya ya dek." Zoya ikut mengelus perut Rara.


Kami semua tersenyum.


"Nair, gak ikut senang? Om Langit mau punya adik loh." tanyaku saat melihat dua bocah itu tak bereaksi.


"Gak mau kalau laki-laki, om!"


"Nath?" Aku memanggil bocah yang menunduk sedari tadi.


Nath menangis. "Huuuaaaaa... Nath gak mau punya adik. Mommy Rara nanti gak sayang lagi sama Nath. Daddy juga. Kak Bi kak Zoya juga! Huaaa..." Bocah itu tidur tengkurap sambil memukul-mukul sofa.


****


Hai semuanya. 😍😍😍 Cerita ini akan segera aku tamatin. Masih tersisa sih beberapa bab Lagi.


Aku mau fokus sama Bintang dan pasangannya (?)


Siapa *pasangannya Bintang thor?


Masih Rahasiaaaaa 😎😎*

__ADS_1


__ADS_2