Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Merelakan


__ADS_3

" Safira ! keluar kamu,,,! Kita harus bicara,,,!" Wisnu berteriak teriak di depan gerbang rumah yang Safira tempati.


Sudah seminggu semenjak kejadian di club malam itu, Wisnu terus terusan berusaha menemui Safira di rumah maupun di kantor, tapi dia tak pernah bisa bertemu mantan istri yang di hianatinya itu.


Sebenarnya bukannya Safira menghindar, tapi semenjak kejadian di club malam itu, besok paginya Safira harus menemani Bintang ke kantor cabang di luar pulau karena ada sedikit masalah disana.


Sore tadi Safira dan Bintang baru kembali dari perjalanan bisnisnya, malam ini selesai makan malam, Safira, Bintang, Dara dan Beni sedang bersantai di ruang keluarga, mereka membahas proyek apartemen yang seminggu ini di tinggal Bintang.


Waktu masih menunjukan pukul 9 malam, terdengar orang berteriak teriak di luar rumah, memanggil nama Safira, ke empat orang yang sedang bersantai itu pun mukanya langsung tak santai lagi.


" Yang, sahabatmu kumat tuh !" Dara melirik ke arah Beni.


" Ada apa ? Siapa yang merusuh di depan malam malam gini ?" Bintang berdiri dari tempat duduknya.


" Wisnu, sudah seminggu ini dia bolak balik kesini mencari Safira, bahkan katanya mencari ke kantor juga, dan dari kemarin malam dia mulai hilang akal sepertinya, dia teriak teriak di depan memanggil Safira seperti orang gila." Terang Dara.


" Kenapa kamu gak bilang ? aku bisa pulang dan menghajarnya !" Bintang mengepalkan tangannya berjalan menuju teras rumah.


" Aku gak mau ganggu urusan kerjaan abang di sana, lagian ada Bang Beni yang nemenin aku disini." Mereka berempat berjalan beriringan.


" Safira,,, akhirnya kamu mau menemuiku, ayolah Safira kita perlu bicara." Wisnu tersenyum, matanya bersinar saat melihat Safira keluar dari pintu rumah yang gerbangnya sedang dia pegangi.


Bintang tak bisa menahan amarahnya lagi, dia segera berjalan menghampiri Wisnu, di susul Beni di belakangnya.


" Apa kau tak punya otak, hah ? menggangu ketenangan di rumah orang, apa sebenarnya mau mu baji**gan ?" Bintang mencengkeram kerah baju Wisnu.


" Aku mau Safira, kau- kau tak boleh mencuri Safira dari ku, dia milik ku !" Racau Wisnu yang sepertinya setengah mabuk.


" Sayang, biar aku bicara padanya, " Safira segera memegang lengan Bintang mencoba menenangkannya, sebelum terjadi kerusuhan disana,


" Tapi..." Bintang melirik ke arah Safira yang memberi tatapan memohon padanya.

__ADS_1


" Aku bisa !" Safira meyakinkan Bintang.


" Cih,,,! Sayang ? Kau panggil dia sayang ? Oh, Fira berapa tahun kita bersama tak pernah kau panggil aku dengan sebutan sayang bahkan sekali pun, tapi laki laki itu.... Aaahhhh !" Wisnu tak sanggup meneruskan kata katanya.


" Wisnu, aku bersedia bicara pada mu, tapi tolong... Apa kita bisa bicara baik baik ?" Safira berbicara dengan tenang.


" Fira, aku menyesal, aku minta maaf... Fira, tolong kembali padaku, aku gak bisa kehilangan kamu," Wisnu mencoba meraih tangan Safira, tapi Safira sekuat tenaga menghindarinya.


" Heh, bangs*at, jangan coba coba sentuh calon istriku !" Teriak Bintang yang berdiri tak jauh dari mereka.


" Bintang, sayang !" Lirik Safira memberi kode agar dia tenang.


Nyessss,,,, hati Bintang terasa panas dingin, agak merinding mendengar panggilan Safira padanya,


' Ini bagian dari akting nya atau beneran ya ?' batinnya.


" Wisnu, tolong jangan buat hidupku semakin rumit, aku sudah lama memaafkan mu, kita sudah punya kehidupan masing masing, mari kita mencari kebahagiaan kita sendiri sendiri." Safira menatap Wisnu intens meski tetap menjaga jarak.


" Ayolah Wisnu... Kalau kamu bahagia bersama ku, tak mungkin dulu kamu mencari kebahagiaan lain di luar, sadarlah... Kamu sudah punya istri sekarang bahkan sebentar lagi kalian akan punya anak, berbahagia lah bersama mereka." Bujuk Safira.


" Tapi,, aku masih menyayangi mu Fira," keukeuh Wisnu.


" Aku sudah menyayangi orang lain, coba lah kamu menerima keadaan, terima istri dan anakmu jadilah suami dan ayah yang baikx jangan ulangi kesalahan yang sama." Wisnu tertunduk menangis mendengar apa yang di sampaikan Safira padanya.


Kata kata Safira benar, sudah saatnya dia merelakan mantan istrinya dan mencoba mencintai istrinya, menjadi ayah yang baik untuk calon anaknya, dia sudah menyakiti Safira sedemikian rupa, dia tak pantas masih berharap Safira kembali padanya.


" Baik lah, aku akan mencoba merelakan kamu, aku akan mencoba mencintai istriku, berusaha menjadi ayah yang baik untuk calon anak ku, aku do'akan semoga kamu berbahagia." Wisnu berucap tulus.


" Bagus Mas, itu memang keputusan yang terbaik, memang sudah sepantasnya kamu melupakan wanita mandul itu, wanita tak berguna, bertahun tahun menikah tak memberimu keturunan, cih...!" Decih Mia yang tiba tiba saja ada disana.


" Mia, hentikan, aku sudah memutuskan dan memilihmu, cukup !" Tegas Wisnu.

__ADS_1


" Baguslah, itu memang sudah seharusnya ! " Mia melirik Safira sinis.


" Heh, wanita sialan, jaga ucapan mu ! sungguh aku ingin menyumpal mulut kotormu itu." Teriak Dara tak terima mendengar hinaan Mia pada sahabatnya.


Tapi Beni segera memeluknya, dia tak habis pikir kenapa emosi pacarnya itu selalu tak kendali bila berhadapan dengan Mia.


Wisnu membawa pergi Mia dari sana sebelum semuanya semakin runyam karena ulah istrinya yang seolah hobi membuat keonaran dimana saja apa lagi bila itu berhubungan dengan Safira.


Bintang mendekati Safira yang masih terdiam, berdiri bersandar lesu di pagar depan rumah.


" Tak usah kamu dengar omongan wanita gila itu." Bintang yakin, Safira hatinya terluka karena hinaan Mia padanya yang menyebut dirinya wanita mandul.


" Apa benar aku wanita mandul?" Lirih Safira menahan bulir bening yang berlomba untuk terjun dari pelupuk matanya.


" Tentu saja itu tidak benar, kamu wanita sempurna, cantik, pintar, dan akan menjadi ibu dari anak anak ku kelak." cengir Bintang.


" Haish,,,, kenapa jadi begitu ?" Safira merona, wajahnya semerah tomat.


" Bukannya tadi kamu bilang kamu sudah punya orang lain yang kamu sayangi, itu pasti aku kan ?" Goda Bintang.


" Hei,, anda pede sekali Bapak Bintang Atmaja, bisa saja itu bukan anda !" Safira semakin merona dan serba salah.


" Baiklah, aku tau kamu malu mengakuinya, sayang," Bintang menoel hidung bangir Safira.


" Mohon maaf,,, drama nya sudah bubar dari tadi, kok masih sayang sayangan,!" Safira melengos dan meninggalkan Bintang, setengah berlari dia masuk ke dalam rumah, sungguh jantungnya berdebar sangat cepat saat dia di dekat Bintang,


Safira membatasi harapnya pada Bintang, karena tak ingin kecewa bila ternyata dirinya hanya bertepuk sebelah tangan.


Bintang tersenyum memandang punggung Safira yang berjalan meninggalkannya dengan cepat,


' Safira,,, ibarat langit, kamu itu langit malam yang gelap, kamu hanya butuh titik titik cahaya terang agar langitmu menjadi indah, ijinkan aku menjadi Bintang di langit gelapmu,' Bintang hanya mampu mengucapkan semua itu dalam hati saja, dia tak ingin terburu buru apa lagi memaksakan perasaannya pada Safira.

__ADS_1


Biarlah semua berjalan sesuai dengan jalan yang di takdirkan Tuhan.


__ADS_2