
Langit
Hari ini akan menjadi hari paling bersejarah dalam hidupku. Karena status di KTPku akan berubah setelah usiaku hampir 30 tahun.
Terlambat menikah? Tidak masalah. Yang penting menikah dengan orang yang tepat. Lihat saja mas Akhtar. Dia menikah di usia muda. Tapi baru menemukan kebahagiaan berumah tangga di usia yang ke 30 tahun.
Soal anak? Kembali ke mas Akhtar. Di usia 30 tahun dia malah dapat jackpot. Dua bodyguard cilik berwajah sama, Nair dan Nath.
Aku bukan menjadikannya panutan atau role mode. Tapi, dari perjalanan hidupnya aku percaya satu hal. Manusia memiliki takdirnya sendiri. Sekeras apa manusia itu berusaha, jika Allah bilang belum saatnya. Manusia bisa apa?
Pagi ini dengan setelan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam serta jas yang baru saja di pasangkan oleh kakak tersayangku aku siap menghalalkan gadis yang menemani perjalanan hidupku lebih dari 6 tahun.
Aku akan menjadikannya sebagai istriku dengan kalimat kabul yang terucap dalam sekali tarikan nafasku. Dan setelahnya, seluruh jiwa raga, hati, nafas bahkan denyut jantungku akan ku dedikasikan untuknya, untuk kebahagiaannya.
"Jadilah suami yang bisa menjadi panutan keluarga. Menjadi suami yang tak pernah menggunakan tangan ini untuk melukai." Kak Lintang menggeggam tanganku.
"Jadilah pemimpin rumah tangga yang menjadi sandaran, pedoman dan pelindung keluargamu kelak."
"Selamat, Lang. Bahagialah dengan lembaran baru yang akan kamu jalani."
"Terima kasih sejauh ini telah berkorban banyak untukku, terutama untuk Bi dan Zoya."
"Semoga kelak Allah memberikan keturuna soleh dan soleha padamu."
"Bahagialah, adik kecilku." Kak Lintang berhasil mengecup keningku saat aku menunduk dan ku yakin ia berjinjit.
Aku menghapus air matanya, "Berjanjilah kak, jangan ada air mata kesedihan lagi dalam hidup kakak. Karena aku sudah punya tanggung jawabku sendiri. Aku takkan bisa sepenuhnya memperhatikan kakak lagi."
"Kakak sudah bahagia, sekarang jemputlah kebahagiaanmu." Dia mengapit lenganku. Kami berjalan keluar kamar.
Aku berdebar, tapi ini menyenangkan. Adrenalin ku berpacu hebat. Bagaimana bisa aku berdebar saat akan menemui gadis yang hampir setiap hari ku lihat wajahnya?
"Sudah siap?" tanya Ayah padaku.
"Siap ayah!" ucapku mantap.
__ADS_1
Kami pergi ke sebuah Masjid di dekat rumah Rara. Akad nikah akan di lakukan disana. Kak Lintang, mas Akhtar dan anak-anak mengiringku dengan mobil yang lain. Bahkan bang Sat juga hadir.
Kami memasuki sebuah masjid, tamu yang hadir dibagi menjadi dua dengan dibatasi tirai. Yaitu tamu laki-laki dan perempuan.
Aku duduk berhadapan dengan ayah Rara. Seorang pria tangguh yang memang jarang ada di rumah. Ayah Rara bekerja sebagai kuli bangunan yang merantau dari kota satu ke kota yang lain. Tapi setelah Rara memiliki penghasilan, gadisku itu membuatkan sebuah kios sembako untuk di kelolah oleh ayahnya.
Rara memang tidak ingin menerima uangku sepeserpun jika itu menyangkut keluarganya. Dia hanya mau menerima uangku jika itu untuk tugas dan biaya kuliahnya.
Bagaimana mungkin aku tidak menunggu gadis sebaik dan sesederhana itu?
Sekarang akad nikah akan di mulai. Ayah Rara menjabat tanganku. Aku tau pria seusia ayah ini gugup. Tangannya bergetar dan matanya memerah. Tentu, rasa haru, sedih dan bahagia bercampur jadi satu. Saat seorang ayah akan melepas putri yang ia jaga hampir dua puluh empat tahun pada pria lain.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ananda Langit Alfarezi bin Reza Kesuma dengan anak saya yang bernama Auzora Cahaya Syahputri dengan mas kawin sebesar dua ratus empat puluh juta rupiah dan seperangkat alat sholat, tunai."
Jantungku, tolong selamatkan aku! Ini lebih mendebarkan dari pada menghadapi emak-emak yang menunggak kontrakan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Auzora Cahaya Syahputri binti Sudirja dengan mas kawin tersebut, tunai."
Gema suara sah yang diusap para saksi dan di sambung dengan doa membuat air mataku luruh seketika.
Kami saling memasang cincin kawin dan aku mencium keningnya. Ternyata begini rasanya kalau sudah sah.
Aktivitas cium kening memang sering kamid lakukan, tapi kali ini rasanya sungguh berbeda. Dia tersenyum dan wajah itu berseri. Benar kataku tadi, dia malaikat. Bahkan jika malaikat maut secantik ini. Aku rela mati berkali kali. Maaf ya Allah, aku hanya becanda. Jangam buat aku mati dulu.
****
Lintang
Selasai acara akad nikah, aku dan yang lainnya kembali ke rumah. Para kerabat juga berangkat ke rumah sebelum malam nanti setelah magrib kami akan segera berangkat ke tempat resepsi.
Konsep outdoor dipilih keduanya dengan memanfaatkan lahan kosong yang baru dibeli Langit sebulan lalu.
"Ma, Bi gak mau pakai make up, ma!" Bi cemberut saat aku memberinya sentuhan terakhir berupa blush on pink.
Zoya sudah terkekeh. Gadis kecil bergaun biru laut yang duduk di tepi ranjang itu sudah siap sedari tadi. Bahkan hampir 60% make up diwajahnya adalah hasil polesan tangannya sendiri.
__ADS_1
Sebagai youtuber cilik yang aktif di depan layar, Zoya memang selalu memperhatikan penampilannya. Berbeda dengan Bi yang lebih sering di belakang kamera dan mengurung diri dan bermain dengan cat.
"Kamu cantik, Bi. Tante Rara mah lewaaaat!" Zoya kembali terkikik. Nih anak bikin Bi makin cemberut.
"Foto dulu Bi." Zoya berdiri disebelah Bi yang masih duduk di kursi. Mengarahkan kamera depan ponselku kearah mereka.
"Cekreeek!"
"Jangan pakai flash Zoya!" Bi agak berteriak. Zoya terkekeh dan berlari keluar kamar. Lalu Bi berlari mengejar Zoya. Pemandangan ini sudah biasa ku lihat. Asal jangan setelah Zoya tertangkap, mereka saling menarik rambut dan aku harus menata ulang rambut keduanya. Sungguh, ku harap mereka mengerti kalau aku sudah sangat lelah.
"Kemeja ku yang mana, Lin?" Suara mas Akhtar mengagetkanku. Bayi besar satu ini minta diurus juga rupanya.
"Di lemari mas," ucapku tanpa menatapnya. Aku tengah fokus merias wajahku.
Dia mencium bibirku sekilas. Suka sekali curi-curi kesempatan! Aku meliriknya tajam.
"Jangan pakai lipstick merah!" Oke. Ini perintah.
"Kenapa?"
"Jadi perhatian laki-laki lain, sayang!" jawabnya. Dan dia membuka lemari, aku tidak melihat tapi suara pintu lemari yang terbuka sudah sangat familiar di telingaku.
"Jadi pakai apa? Hitam?" ucapku sinis.
"Kalau ada silahkan pakai!" ucapnya dengan tawa kecil.
"Kamu mau aku jadi vampir mas?"
Dia mendekat. Dan mengarahkan lehernya ke wajahku. Apa maksudnya ini?
"Kalau vampir cantiknya begini. Aku siap sedia digigit tiap hari." ucapnya dengan mengedipkan sebelah mata.
Aku mendorong wajahnya setelah mengecup singkat pipinya.
"Terima kasih sayang." Dia tersenyum lebar.
__ADS_1
Suami oh suami...