
Hai readers setiaku 😍
Jangan terkejut dan terheran heran ya, karena cover tiba-tiba ganti 😂 Itu ulah pihak Nt 😅😅
Dan aku sampai gak ngenali Novelku sendiri 😭 Kenapa dari warna gradasi hitam-orange-kuning malah berubah jadi biru-pink-ungu, tau ah warna apa itu 😀
"Itu karena ceritanya janda sama duda thor!!!!." Jerit Langit dari kejauhan.
*Pura-pura gak denger 😂😂😂
*Yang penting up Lancarrrrrr
*Dan banyak jejak tertinggal 😍
Lintang
Sabtu pagi ini kami sangat sibuk, mempersiapkan diri ke acara akad nikah kak Satya dan Bunga di kediaman papa Darma.
Dan malam harinya akan di adakan resepsi dengan 1000 undangan di ballroom hotel berbintang.
Aku baru saja selesai memakaikan pakaian Bintang dan Zoya. Beralih ke meja rias mencari sisir dan minyak rambut.
"Zoyaaaa!" Teriakan Bintang memekakan telinga. Membuat baby Nath dan Nair menangis bersamaan.
"Bi... Jangan berisik!" Ucapku pelan. "Adik-adik pada bangun semua, nak!" Aku segera naik ke ranjang dimana keduanya ku tidurkan.
"Zoya ambil ikat rambut Bintang, ma!" rengeknya.
Aku masih sibuk menenangkan dua bayi yang masih menangis, memposisikan diri agar bisa menyusui keduanya sekaligus. "Huuft, repotnya!" keluhku. Tapi ini semua adalah pilihanku. Aku tak ingin menggunakan jasa pengasuh bayi. Aku ingin mengurus mereka sendiri.
"Ikat rambut Bi ada di laci di lemari kamu. Warnanya sama sayang!" Inilah caraku mengatasi Zoya dan Bintang, membelikan apapun selalu sama. Jika tidak, maka aksi saling rebut akan terjadi.
Bintang dan Zoya keluar kamar untuk mengambil ikat rambut mereka. Baru saja mereka bertengkar tapi dalam sekejap langsung berbaikan.
Akhirnya si kembar diam setelah menyusu. Dan suamiku yang kelewat santai baru saja keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya menggunakan handuk.
"Mas, bisa agak dicepatin gak geraknya. Gantian mas, aku belum bersiap!" Mbak Dini yang biasa mengurus Bintang dan Zoya meminta izin pulang kampung karena bapaknya mau bagi-bagi warisan.
"Siapa suruh minta nambah iya-iya. Kesiangan kan?" Nambah? Astaga! Bisa-bisanya memutar balikkan fakta. Rasanya ingin ku ikat bibirnya itu pakai karet.
Mas Akhtar berdiri di depan cermin. Entah apa saja yang ia lakukan. Bintang dan Zoya masuk ke kamar. "Ma, rambut kami belum disisir?"
Aku meletakkan baby Nath dan Nair yang sudah mulai tenang. Mas Akhtar mendekat, dengan tubuhnya yang sudah sangat wangi melebihi wanginya kembang tujuh rupa.
"Baby twin, sama papa ya. Mama mau ngurusin kakak kalian yang cantiknya kayak princess." Dan si kembar merespon dengan menendang udara. Bayi dua bulan itu sangat mengenali suara papanya.
__ADS_1
"Senang ya main sama papa."
Aku menyisir rambut kedua putriku. Lalu memakai make up tipis dan langsung memakai hijab serta gamis berwarna senada dengan gaun kedua putriku dan serasi dengan kemeja batik mas Akhtar dan si kembar.
Kami tiba di rumah papa Darma. Mobil ayah menyusul di belakang kami. Para saudara menyambut tamu yang datang.
"Lintaaang! Gilaaaa mama muda!" Soraya sepupu Bunga merentangkan tangan padaku begitu melihatku mendorong stroller Nath dan Nair. Wanita berambut pirang itu memelukku.
"Apa kabar, Lin?"
"Baik, apa kabar kamu. Lama di Inggris rambut jadi pirang ya!"
"Hahahaha.. aku totalitas dalam beradaptasi, Lin!"
"Ya ampun. Yang mana Bintang, yang mana Zoya nih?" Dia memang sudah empat tahun tidak pulang. Wajar dia sulit membedakan putri-putriku. Dan saat ini keduanya memang sangat mirip dengan dandanan serupa.
"I am Bintang."
"I am Zoya." Bintang dan Zoya menyapa dengan melambaikan tangan mereka.
"Lihat Lin, betapa lucunya anak-anakmu menggunakan bahasa inggris." Dia takjub hanya dengar kata I am.
"Hi girls. I'm Soraya. Tante Soraya." Ketiganya cepat akrab. Setelah menyapa keluargaku, Soraya membawa keduanya menemui keluarga yang lain.
Aku masuk ke kamar Bunga. Wanita berkebaya putih itu sudah dirias dan dia terlihat sangat cantik.
Dia menoleh padaku. "Kak."
"Akhirnya, Na!" Aku memeluknya. "Bahagialah sayang. Aku menyayangimu."
"Terima kasih kak! Kakak yang selalu ada untukku disaat aku hampir menyerah." ucapnya dengan suara serak.
"Ssst. Jangan menangis, Na. Make up kamu bisa luntur." Candaku.
"Waterproof kak!" dia tertawa.
"Lhoo! Kamu dimake up pakai cat tembok?" Candaku lagi. Aku sengaja melontarkan candaan receh hanya untuk mengurangi ketegangan dan kesedihannya.
"Iya kak, supaya gak berjamur dan berlumut." Dia tertawa.
Kami saling melempar senyum tanpa berbicara apapun.
"Kak, ini gak salahkan?" tanyanya tiba-tiba.
"Gak ada yang salah, Na."
__ADS_1
"Jodoh, rezeki dan maut sudah diatur Allah. Berapa kali kamu mengelak, akhirnya tetap bertemu dengan kak Satya, kan?" lanjutku.
"Aku juga awalnya ragu pada hubunganku dan mas Akhtar. Aku memikirkan apa kata orang. Tapi, kedua orang tua kami merestui. Papa Darma, mama Citra, almarhum om Bram dan tante Hana juga merestui. Percayalah, restu orang tua sudah cukup menjadi bekal kita memulai hubungan." Aku memegang bahunya.
"Selamat menempuh hidup baru, bunda Una." Aku tersenyum menatapnya. Mama Citra dan Soraya masuk kedalam.
"Ayo, kita turun sayang." Ajak mama Citra.
"Ma, aku mau kedua putri-" belum selesai Bungan bicara, Bintang dan Zoya masuk ke dalam.
"Bunda Unaaaa!" Mereka memeluk Bunga. "Bunda cantik."
"Sangat cantik." ucap Zoya.
"Kalian juga cantik. Antar bunda ke ayah, yuk?"
"Seperti mama, dulu?" Tanya Bintang.
"Bunga mengangguk."
Kami membawa Bunga turun. Acara ini hanya di hadiri keluarga dekat. Hingga ruang tamu ini berisi tak sampai lima puluh orang.
Bunga duduk di sebelah kak Satya. Sementara aku duduk di sebelah mas Akhtar dan tante Hana. Baby Nath dan Nair di jaga mama Riana dan Sora yang duduk di barisan belakang.
Papa Rendra dan ayah menjadi saksi. Sementara papa Darma duduk di depan Kak Satya dan sudah bersiap dengan menjabat tangannya.
Dengan suara menahan tangis, papa Darma selesai mengucapkan kalimat ijab. Menyelesaikan tugasnya sebagai ayah. Mengantarkan putri tercinta ke sebuah bahtera. Dimana tanggung jawab bukan lagi ada padanya.
Air mataku menetes. Teringat akan sebuah hak yang tak bisa di dapat Zoya dan Bintang. Dinikahkan oleh papa kandung mereka.
"Saya terima nikah dan kawinnya Bunga Ayana Darma dengan mas kawin tujuh ratus juta dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Dalam satu tarikan nafas, kak Satya mengucap kalimat kabul. Menjadikan wanita cantik di sebelahnya sebagai istri.
Dan saat saksi mengatakan sah dan doa dibacakan, isak tangis saling bersahutan. Mama Citra pasti sedih sekaligus bahagia atas pernikahan putrinya. Dan tante Hana juga pasti merasakan kesedihan, terlebih tak ada lagi om Bram disisinya.
Doa selesai dibacakan. Aku memeluk tante Hana. "Kak Satya sudah mendapatkan kebahagiaannya, Tante."
"Iya Lin, tante lega akhirnya bisa menyaksikan dia menikah. Walaupun ayahnya-" tante Hana tak sanggup melanjutkan ucapannya.
"Om Bram pasti bahagia, tan. Om Bram sudah tenang di surga." bisikku. Mas Akhtar juga ikut mengelus bahu tante Hana.
"Selamat Sat. Akhirnya berakhir masa penantian." ucap mas Akhtar saat kak Satya menyalaminya.
"Sama-sama, Tar."
"Dan selamat datang dimasa pembuktian." Ucapku pada Bunga.
__ADS_1
"Buktikan cinta kalian tak pernah main-main. Cinta kalian tak pernah salah." lanjutku.
"Pasti kak." ucapnya dengan tegas.