
Akhtar
Hari ini Lintang dan si kembar pulang ke rumah. Aku sengaja izin tak masuk kantor. Hari ini juga bertepatan dengan ulang tahun Bintang dan Zoya. Perayaan double.
"Kita sampai di rumah, Al dan El." Ucapku saat mama dan bunda berjalan masuk menggendong si kembar.
"Welcome home baby twin." Suara kompak menyambut kami. Terlihat Rara dan anak BL Shop menghias ruang tamu. Balon, dan spanduk besar bertuliskan Welcome home baby Al Nair Alvarendra dan El Nath Alvarendra.
"Waah... makasih tante-tante cantik." Ucap Lintang pada mereka.
Lintang memilih duduk di ruang keluarga bersama yang lain. Si kembar juga masih anteng dalam gendongan.
Aku segera berjalan ke dapur karena baru saja Sora mengirimku pesan bahwa mereka akan tiba dalam lima menit.
Sora memasuki rumah bersama anak-anak. Aku segera berjalan menghampiri mereka dengan sebuah tart besar di tanganku.
"Happy birthday to you... Happy birthday to you." Mereka semua melihat ke arahku. Lalu mereka ikut bernyanyi. "Happy birthday... happy birthday... happy birthday to you."
Aku berjongkok di hadapan Bintang dan Zoya yang sedang duduk di sofa. Keduanya tersenyum bahagia. "Terima kasih papa." Kecupan mendarat sempurna di kedua pipiku.
"Selamat ulang tahun para princess. Semoga kalian panjang umur dan sehat selalu. Semakin sayang mama papa dan adik-adik." Aku mencium pucuk kepala keduanya.
"Berdoa dulu sayang."
Mereka berdoa menengadahkan tangan ke atas. Lalu menyapukan telapak tangan kewajah tanda selesai berdoa.
"Tiup lilinnya... tiup lilinnya... tiup lilinnya sekarang juga... sekarang juga.. sekarang juga..." Kami melanjutkan bernyanyi.
Keduanya meniup lilin bersama. Lalu aku meletakkan tart di atas meja. Sora membantu memotong kue tersebut lalu membagikan kepada orang-orang yang ada di sini.
"Selamat ulang tahun anak-anak mama." Lintang memeluk keduanya.
"Panjang umur dan sehat selalu. Jadi anak pintar, kebanggaan mama papa." lanjutnya.
Semua orang mengucapkan selamat pada keduanya. Dan para karyawan Lintang juga segera pamit untuk kembali bekerja. "Terima kasih atas sambutannya ya..."
"Sama-sama Juleha. Sering-sering aja melahirkan." Yang lain tertawa mendengar ucapan Anna.
"Kamu fikir aku kucing!" Aku sudah terbiasa melihat perdebatan mereka.
Ponselku bergetar, panggilan video dari Satya. "Ya Sat." Sapaku padanya, saat panggilan sudah terhubung.
"Anak-anak udah pulang sekolah, Tar?" tanyanya. Aku mengarahkan layar ponsel pada Bintang, Zoya dan Caraka yang tengah sibuk memakan kue.
__ADS_1
"Haiii anak-anak... Selamat ulang tahun kesayangan uncle."
"Haiii uncle Satya...." Keduanya melambaikan tangan ke pada Satya. "Terima kasih uncle." Zoya mengambil ponsel dari tanganku. Lalu keduanya duduk di sofa sambil mengarahkan layar ponsel kearah mereka.
"Kalian mau kado apa?" tanya Satya.
"Alphard." Ucapku asal. Dan Lintang mencubit perutku.
"Hahah... itu sih maunya kamu, Tar." Sahutnya.
"Jangan didengarkan, Kak." Ucap Lintang.
"Kalian mau kado apa? Mau liburan sama uncle? Kita kemana? Renang di waterpark? Atau mau beli cat lukis yang baru?" Satya memberondong keduanya dengan banyak pertanyaan.
Zoya dan Bintang tampak berfikir. "Ke aquarium raksasa...!" Zoya berteriak semangat.
"Berenang sama ikan nemo..." Bintang juga berteriak.
"Iih... itukan di film Bi, mana ada ikan nemo yang bisa diajak berenang."
"Ada Zoy. Di tv, orang berenang sama nemo. Kasih makan ikan dilaut juga bisa Zoy." Bintang dan Zoya berdebat.
Terdengar tawa Satya. Aku dan Lintang saling pandang saat mendengar perdebatan mereka.
"Kita ke aquarium raksasa dulu, Bi. Disana ada ikan hiu juga loh."
"Tapi gak bisa di pegang Zoy. Gak bisa berenang bareng." Bintang masih keukeh dengan keinginannya.
"Jangan berantem sayang." Lintang berusaha melerai keduanya.
"Oke... oke... minggu depan kalau uncle pulang, kita ke aquarium raksasa ya..."
"Yeee... terima kasih uncle." Zoya berteriak semangat, tapi Bintang memberenggut.
"Terus, minggu depannya lagi, kalau ada libur panjang, kita berenang di laut sama nemo."
Wajah Bintang mulai ceria, tapi belum sepenuhnya. "Uncle janji?" tanyanya. Oke Satya, setelah ini Bintang akan selalu menagih janjimu.
"Janji! Oh ya, Oma Hana lagi di jalan nih, mau ke rumah kalian. Nanti ajak oma main ya..."
"Iya uncle... iya." keduanya berteriak kegirangan.
Aku membawa Lintang dan si kembar ke kamar kami. Kami belum membuat kamar sendiri untuk si kembar. Kami hanya membeli dua box bayi yang kami letakkan di sebelah ranjang. Untung saja kamar ini cukup luas untuk menampung dua box bayi, satu lemari pakaian Al dan El.
__ADS_1
"Baby Nath bobok ya," ucap mama sambil meletakkannya di box bayi.
Berbeda dengan Al yang sudah terusik tidurnya. Bunda langsung menyerahkannya pada Lintang untuk disusui. "Bunda tinggal ya, Lin. Mau menyiapkan makan siang bersama mama Riana."
"Iya bun."
"Baby Nair haus banget, ya." Ucap Lintang. Bayi itu sangat kuat menyusu. Bahkan ia terus menghisap sumber kehidupannya tanpa ampun.
Aku ikut duduk disebelah Lintang. "Rakus banget sih, Nak. Papa gak minta. Semua buat kamu sama dedek Nath." Lintang tersenyum ke padaku. Entah karena ku katakan aku takkan minta atau karena aku menyebut kata dedek Nath. Sesuai penjelasan dokter, Nair memang lahir lebih dulu 30 detik dari pada Nath.
Nair terbatuk, "Tuh kan, pelan-pelan bang. Papa aja gak gitu-gitu banget." Lintang melirik sebal kearahku.
"Heheh... mama kamu garang banget sih nak." Aku membelai pipi Nair yang mulai tenang.
"Oek... oek... oek..." suara tangis baby Nath.
"Wah, dedek Nath mau susu juga ya, nak?" Aku mengangkat Nath dari dalam box.
Lintang meletakkan Nair di ranjang, lalu menerima Nath dalam gendongannya. Lintang kembali menyusui satu bayi lagi. Dan Nath jauh lebih rakus dari pada Nair. Aku tidur miring di sebelah Nair yang sedang memandang lurus kelangit-langit kamar dengan mulut yang terus bergerak.
"Masih kurang, ya? Gantian sama adek ya bang." Ucapku mengelus pipi putihnya.
Lintang meletakkan Nath di sebelah Nair. Keduanya menggerakkan tangan di udara. "Waah... kalian latihan buat ninju om Langit ya. Papa dukung." Ucapku pada si kembar.
Lintang berusaha untuk berbaring, "kamu ngajarin anak-anak yang enggak-enggak, mas."
Aku menatapnya, "Jelas dong, karena yang iya-iya cuma sama mamanya." Aku mengerling.
"Maass..." suaranya lembut. Tapi itu tanda peringatan.
"Iya sayang, iya. Sabar ya, belum boleh." Aku makin menggodanya.
"Maas! Apaan sih!" Dia cemberut.
"Jangan marah dong, Lin. Kata dokter tunggu sampai 6 minggu, sayang."
"Iya... iya. Terserah kamu." Lintang memejamkan matanya. Aku tahu dia sangat lelah. Bahkan sedari pulang dari rumah sakit, Lintang belum sempat beristirahat.
"Kamu tidur aja, Lin. Anak-anak biar aku yang jaga."
Lintang membuka mata dan menatapku. "Nah, ini baru suamiku. Terima kasih sayang." Senyumnya mengembang. Lalu ia kembali memejamkan mata.
Sama-sama sayang. Ini tak ada apa-apanya dibanding dengan perjuanganmu.
__ADS_1