Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 39 Perang batin


__ADS_3

Lintang


Aku melepas kepergian mas Akhtar dengan berat hati. Mengingat kondisinya yang kurang sehat. Entah mengapa tiba-tiba ia muntah dan merasa mual. Apa karena salad buah yang ia makan tadi malam? Aku sedikit merasa bersalah karena telah menyuapinya.


Aku hanya memasak sekedarnya untuk sarapan anak-anak. "Papa sudah pergi ma?" tanya Bintang padaku.


"Sudah sayang." Dan anak-anak marah karena tidak membangunkan mereka. "Sebelum pergi, papa cium Bintang di sini, di sini dan di sini." Aku menunjuk kening dan kedua pipinya. "Zoya juga sama, dapat tiga ciuman dari papa." Aku mengelus kepalanya.


Mata keduanya berbinar. "Benar ma?" Dan aku mengangguk pasti. Sebelum berangkat mas Akhtar memang menyempatkan diri mencium anak-anak yang masih tidur nyenyak.


Aku mengantar anak-anak kesekolah. Aku membawa beberapa pasang pakaian anak-anak dan segala keperluan mereka. Rencananya aku akan menitipkan mereka pada Sora. Dan aku akan kesana pada sore hari setelah aku menyelesaikan pekerjaanku di toko.


"Jadi benar, kakak mau menginap?" Sora berbinar saat aku meminta Sora membawa anak-anak kerumah mama Riana. Mas Akhtar pasti sudah menghubungi mama Riana.


"Sip kak. Serahkan anak-anak padaku! Anak-anak sudah tau kan kalau pulang sama aku?"


"Tau dong, Bintang tuh yang paling semangat!" Ucapku. Aku memasukkan keperluan anak-anak ke dalam mobil Sora. "Susu anak-anak juga ada di dalam Ra, yang soya untuk Zoya Ra. Jangan sampai salah. Okey?" Aku mengingatkan Sora.


Sepulang mengantar anak-anak aku segera ke toko dan mendudukkan diri di meja kerjaku. Mulai memeriksa laporan penjualan minggu lalu. Mas Akhtar sempat mengirimku pesan. Aku sudah sampai sejam lalu sayang, istirahat sebentar di hotel dan ini sedang on the way ke tempat acara.


Aku menanyakan kondisinya. Masih mual tapi masih bisa kutahan. Balasnya.


Hati-hati mas. Miss you dan cepat pulang. Balasku.


Aku senyum-senyum sendiri saat mengirim pesan itu. Dan mas Akhtar membalas dalam hitungan detik setelah pesan itu terbaca. I miss you more.


"Cie pangantin baru senyum mulu bawaanya." Anna selalu jadi biang kerok setelah Rara.

__ADS_1


"Udah sih mbak An, jangan diganggu. Lagi rindu... setengah mati kepadamu." Rara menyanyikan lagu band D'masiv. "Sungguh ku ingin kau tau... aku rindu... setengah mati." Lanjutnya.


Aku tertawa mendengar Rara bernyanyi. "Merdu banget sih suara kamu? Cocok jadi artis kamar mandi." Dia cemberut menatapku. "Mbak Lintang kok pucat. Gak pakai lipstick pula!" Dia menelisik wajahku. Anna dan Siska juga mendekat.


"Iya, ku kira kamu ganti lipstick." Anna menatapku lekat-lekat. Aku mendoroang wajah mereka bertiga. "Ih... apaan sih. Jangan deket-deket bisa gak sih."


"Tadinya aku pakai lipstick, terus di jalan ku hapus karena rasa sama baunya agak aneh. Mungkin hampir kadaluarsa." Aku mengangkat bahu dan kembali fokus pada layar komputerku.


"Tapi ini pucatnya kelihatan loh mbak." Siska masih menelisik.


Anna menarik mereka berdua. Dan memberi kode untuk kembali bekerja. "Udah, kalian anak kecil gak akan faham soal beginian. Dia pucat karena kecapekan. Kurang tidur nih mah." Anna melirikku sambil tersenyum. Ini anak, kalau nyindir suka bener kadang-kadang.


Sedangkan Siska dan Rara hanya mencibir. "Jagan panggil kami anak kecil tante!" Kekompakan mereka membuatku dan Anna tertawa.


"Udah muncul belum tanda-tanda datangnya keponakan buat kita Lin?" Pertanyaan Anna membuatku terpaku.


Mereka memang tidak tahu tentang Mas Akhtar. Jika mereka tau, pasti mereka tak akan menanyakan hal sesensitif ini. Dan aku, mengapa aku hanya diam dan terpaku mendengar pertanyaan ini? Bukankah aku harusnya sudah tau bahwa hal ini akan terjadi? Dan harusnya aku sudah mempersiapakan diriku.


"Kalau belum jangan sedih mbak. Silahkan coba lagi." Ucap Siska. "Kayak kupon yang digosok ya Sis?" Ucapan Anna membuat Siska terkekeh.


"Tapi kan kamu belum datang bulan kan ya? Kamu nikah udah hampir satu setengah bulan loh Lin" Ucapan Anna lagi-lagi seolah menamparku. Iya, aku sudah menikah sebulan lebih.


"Iya, terakhir aku yang belikan pembalut di minimarket di pertigaan depan. Yang mbak Lintang baru pulang dari rumah sakit. Ya kan mbak?" Rara membuatku tersadar. Ya, benar. Haidku memang sudah terlambat hampir dua minggu.


Anna langsung bangkit. "Ayo di cek Lin. Ku belikan testpack ya." Ucapnya semangat.


"Aku aja yang beli." Ucap Rara semangat.

__ADS_1


"Kamu masih gadis. Nanti orang-orang pada curiga Raraaa." Sembur Anna.


"Lah mbak Anna kan janda. Malah lebih parah!" Gerutu Rara dan berhasil memancing senyumku. Sementara Siska sudah terbahak.


"Jangan berdebat! Aku aja yang beli nanti sore. Sekalian jalan ke rumah orang tua Mas Akhtar." Akhirnya aku bisa menghentikan kehebohan mereka.


Anna semakin mendekat. Tangannya terulur menyentuh perutku. "Semoga dede sudah ada disini sayang. Membawa kebahagiaan untuk mama papa." Anna memelukku. "Selalu bahagia Lin. Kamu berhak bahagia. Kamu harus bahagia." Bisiknya di telingaku.


Anna adalah satu-satunya sahabatku yang mengetahui segala keterpurukanku. Karena disaat yang sama, Anna juga sedang berusaha bangkit dari keterpurukannya. Dulu, kami saling menguatkan. Maka dari itu Elsa dan Bintang bisa sangat akrab walau umur mereka berbeda setahun.


Anna adalah orang yang membantuku membuka usaha ini. Dialah orang yang berjuang dari titik nol bersamaku. Aku menyayanginya lebih dari sahabat. Dia kakakku, dia saudaraku.


Sore hari aku bersiap ke rumah mama Riana. Mang Joko yang mengantarku. Diperjalanan aku berfikir keras. Apakah aku harus membeli testpack atau tidak? Tapi haidku yang terlewat hampir dua minggu dan ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


Aku takut ada masalah dengan diriku apakah sejenis kista atau penyakit lain yang menyebabkan haidku terlambat. Bahkan aku sempat mencari informasi dari mesin pencarian, bahwa penyakit kista juga akan membuat hasil positif pada testpack.


Aku mulai berandai-andai. Seandainya hasilnya positif dan menandakan ada penyakit dalam rahimku, setidaknya aku bisa segera mengambil tindakan. Aku harus tetap sehat demi anak-anak. Tekadku dalam hati.


Akhirnya setelah perang batin selama dalam perjalanan, aku meminta mang Joko untuk berhenti di sebuah apotek yang jaraknya tak jauh dari rumah orang tua mas Akhtar. Ku beli testpack sebanyak 4 buah dengan merk berbeda.


Setibanya disana aku disambut pelukan anak-anak. Mereka tengah bermain dihalaman belakang bersama mama dan papa.


Malamnya aku tidur dikamar mas Akhtar. Panggilan video selama setengah jam nyatanya tak mengurangi rasa rindu pada sosok yang selalu ku peluk saat tidur. Ku buka lemari pakaiannya dan menemukan kemeja yang pernah dipakainya saat pertemuan pertama kami. Kemeja itu langsung ku pakai dan ku semprotkan parfumnya. Ku baringkan tubuhku disamping anak-anak. Nyaman, seperti memeluknya.


Dan pagi harinya, sebelum sholat subuh. Aku menampung urine dan menggunakan keempat alat yang kubeli kemarin. Kubaca petunjuknya dengan teliti.


Aku berdebar, jika hasilnya positif aku akan segera kedokter. Tekadku dalam hati.

__ADS_1


Dari pada gelisah menunggu hasilnya. Kuletakkan keempat alat tes itu di pinggir wastafel. Aku memilih berwudhu dan sholat terlebih dahulu. Berdoa semoga semua baik baik saja.


Selesai sholat aku mengambil keempat testpack itu. Hasil yang sama, dengan dua garis sebagai hasilnya. Aku terduduk lemas dilantai kamar mandi. Dan setelahnya pandanganku buram dan gelap.


__ADS_2