Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
No More Drama


__ADS_3

Hati ini merupakan hari yang cukup melelahkan buat Bintang, setelah di tinggal selama satu minggu, kerjaan di kantor menggunung, begitupun Safira, dari pagi dia sudah tenggelam di tumpukan berkas dan dokumen yang menjulang di mejanya.


" Safira, istirahat lah kalau kamu lelah. Setelah makan siang nanti di lanjutkan lagi,!" Ucap Bintang datar, dengan mata yang masih tertuju pada kertas kertas dokumen di hadapannya.


" Baik pak, tapi apa tidak sebaiknya Bapak juga istirahat dulu." Safira selalu menggunakan bahasa formal saat berbicara dengan Bintang apabila mereka sedang berada di kantor atau saat pertemuan bisnis di luar kantor. Mereka berusaha tetap profesional meski orang kantor dan rekan rekan bisnis Bintang sebagian besar mengenal Safira sebagai calon istri Bintang.


" Kamu duluan saja, oh iya,,, aku di bungkuskan makanan saja, kalau kamu tak keberatan." Bintang orang sangat serius dalam pekerjaan, dia akan melupakan apapun apa bila sedang mengerjakan pekerjaannya.


Ini juga mungkin yang membuat dia sukses dalam dunia bisnisnya meski umurnya masih sangat muda.


" Baik Pak, " Safira meninggalkan Bintang di ruangan kerjanya.


Safira sudah hafal makanan apa saja yang Bintang suka dan tidak di sukai, apa lagi Bintang bukan tipe orang yang pemilih dalam hal makanan, jadi apapun yang di sodorkan Safira pasti dia makan.


Jam 7 malam Bintang dan Safira baru menyelesaikan semua pekerjaannya, itu pun tadi sempat di bantu Widodo yang selalu setia menemani mereka lembur, tentu saja itu karena besarnya bonus lemburan dari Bintang setiap kali dia mengerjakan tugas di luar jam kerjanya.


" Kita makan malam dulu ya, !" Ajak Bintang sesaat setelah dia berhenti di parkiran sebuah resto mewah.


Safira hanya mengangguk, karena menolak pun tak mungkin, seorang Bintang Atmaja adalah sosok mahluk yang tak menerima penolakan.


" Bintang, apa ini ?" Tanya Safira bingung, saat dia di tuntun Bintang menuju sebuah meja yang berada di taman restoran itu, dengan lilin dan bunga mawar bertebaran di mana mana.


" Ayo !" Bintang mengulurkan tangannya membawa Safira yang terdiam mematung menuju ke meja yang dia sulap sedemikian rupa menjadi tempat yang sangat romantis.


Ragu ragu Safira berjalan dan mendudukan dirinya pada kursi berhadapan dengan Bintang.


Hatinya gelisah, jantungnya berdegup sangat kencang seperti habis lari maraton.


" Safira, aku menyukaimu, aku jatuh cinta padamu sejak pertama aku melihat wajahmu di layar laptop saat rapat, aku ingin kita jadi pasangan yang sebenarnya, bukan cuma akting saat di depan mantan suamimu, aku juga tak ingin lagi ada drama calon istri di kantor, aku ingin kita menjadi pasangan yang sesungguhnya." Bintang menggenggam tangan Safira yang tiba tiba dingin, dan salah tingkah karena di tatap mesra seorang Bintang yang sangat tampan malam itu.


Sungguh Safira bingung harus menjawab apa, di satu sisi dia memang sudah menaruh hati pada bos nya itu, tapi di sisi lain dia merasa tidak percaya diri dengan statusnya yang merupakan seorang janda, sementara Bintang seorang bos muda yang tampan, sukses, dan di gilai banyak wanita di luar sana.


" Maaf, sepertinya..." Safira tidak kuasa melanjutkan kata katanya, dia hanya menarik halus tangannya yang di genggam Bintang.


" Kenapa ? Kamu menolak ku ? Kamu tidak menyukai ku ?" Tersirat kekecewaan di wajah Bintang sangat jelas.


" Bu- bukan seperti itu, masih banyak wanita lain yang lebih pantas untuk mendampingi kamu," Safira tertunduk, dia tak tega menatap guratan kekecewaan di mata Bintang.


" Tapi aku mau kamu, bukan wanita lain, apa aku tak pantas mendampingi kamu?" Lirih Bintang, kecewa.

__ADS_1


" Bukan kamu,! Tapi aku,,,, aku yang tak pantas mendampingi kamu, aku hanya seorang janda,, sedangkan kamu-"


" Safira ! Tolong jangan rendahkan statusmu, apa yang salah dari seorang janda ? aku mencintaimu, menyayangimu, menerima apapun keadaan mu, " Bintang menyambar ucapan Safira yang menyinggung soal status nya yang seorang janda.


" Tapi, aku juga wanita mandul." Safira tak dapat menahan bendungan air matanya, mereka menetes seakan berlomba menjatuhkan diri di pipi mulus Safira.


" Safira, tidak ada fakta yang membuktikan kamu mandul, hanya karena kamu berumah tangga selama 2 tahun belum di beri keturunan, bahkan kamu sendiri aku yakin belum pernah memeriksakan diri ke dokter,,," Bintang berdiri dari tempat duduknya dan bersimpuh di sebelah kanan kursi yang Safira duduki.


" Apapun yang terjadi, sepahit dan seburuk apapun itu, aku pasti bisa menerimanya, asalkan itu kamu, asalkan itu Safira wanita yang membuat aku jatuh cinta sejak pada pandangan pertama." Sambung Bintang seraya menghapus lembut air mata di pipi Safira dengan ibu jarinya.


Safira memeluk Bintang yang kini berada di sampingnya, dia semakin menangis dalam pelukan laki laki yang mendekap erat tubuhnya penuh sayang dan perlindungan itu,


Tentu saja ini tangisan bahagia, betapa tidak, Safira merasa dirinya seperti mimpi, seolah tak percaya ternyata masih ada laki laki yang tulus menerima dia dengan segala kekurangannya.


Jujur saja setelah dirinya menyandang status sebagai janda, kepercayaan dirinya seperti hilang begitu saja, meski dirinya tak pernah trauma dengan suatu hubungan.


" Jadi, kamu mau kan, terima aku ?" Bintang mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cincin berlian dari sakunya.


Safira terpaku, sungguh Bintang telah mempersiapkan semuanya, laki laki ini benar benar penuh kejutan, pikirnya.


Setelah berpikir beberapa saat mempertimbangkan segala sesuatunya, Safira menganggukan kepalanya.


" Terimakasih, aku janji akan membahagiakan, menjaga dan melindungi kamu semampuku." Bintang mengecup bibir Safira mesra.


" Hei... kita belum muhrim.!" Safira menjauhkan diri dari dekapan Bintang.


" Ayo besok kita sah kan, agar cepat menjadi muhrim." Bintang terkekeh mengacak rambut atas Safira gemas.


" Pacaran belum ada satu jam, udah ngajakin nikah." cebik Safira merotasi matanya malas.


" Tapi sayang, kayanya kita mending langsung cepet cepet nikah deh, masa kita pacaran satu rumah, ntar kalau terjadi hal hal yang di inginkan gimana?" Bujuk Bintang yang malah tiba tiba mengajak Safira menikah.


" Ish,,,, kamu itu ngelunjak ya emang ! tadi minta di terima jadi pacar, sekarang minta jadi suami.!" Safira geleng geleng kepala.


" Ya,,, sayang,, kita nikah aja ya...! Aku telpon Mama sama Papa nih, sekarang." Bintang mengeluarkan ponselnya.


" Eh,,, mau ngapain?" Safira panik sendiri.


" Mau ku suruh mereka datang ke rumah orang tua mu untuk ngelamar kamu, sayang." Dan benar saja Bintang menelpon orangtuanya lalu meminta mereka melamar Safira.

__ADS_1


Safira yang mendengar percakapan Bintang dengan orang tuanya karena Bintang sengaja menyalakan load speaker, hanya bisa pasrah, dia tak bisa melawan kehendak Bintang sang bos arogan dan otoriternya.


Setelah selesai berbicara dengan orang tuanya lewat telepon, wajah Bintang berseri seri, senyum terpatri di raut bahagianya.


Orang tua Bintang sudah tau tentang Safira semenjak lama,Bintang pernah bercerita pada mamanya dulu saat pertama kali dia menaruh perasaan suka pada Safira.


Bintang yang merupakan anak satu satunya itu, dia sangat dekat dengan kedua orang tuannya, masalah apapun Bintang terbiasa bercerita pada mereka, termasuk masalah pribadinya.


Kedua orang tua Bintang juga sangat terbuka, mereka tak mempermasalahkan status, harta, dan lain sebagainya, buat mereka, selama anaknya bahagia mereka akan mendukung apapun yang menjadi keputusan anak kesayangan mereka satu satunya itu.


" Bintang, apa orang tua mu tau statusku ? apa mereka mau menerimaku ?" Ucap Safira ragu ragu.


" Mereka tau semua tentang kamu sayang, mereka juga yang selalu memberi aku semangat untuk berjuang mendapatkan kamu, cintanya aku.!" Gombal Bintang.


" Hmm,, sukurlah kalau begitu, semoga aku gak ngecewain mereka." Timpal Safira.


" Sayang, aku mau tanya, tapi kamu jangan kesinggung dan jawab jujur ya," Bintang teringat sesuatu hal yang membuat dia penasaran ingin dia tanyakan pada Safira.


" Emh... Apa benar selama ini kamu gak pernah panggil mantan suami kamu dengan sebutan sayang?" Ucap bintang hati hati.


" Oh, itu... Iya !" Safira datar.


" Tapi kenapa ? kalian pacaran kan lama, terus menikah juga lumayan lama, apa gak pernah sekalipun manggil dia sayang?" Bintang semakin merasa penasaran.


" Gak pernah ! Alesannya karena aku gak mau aja, aku gak biasa manggil sayang atau apa, rasanya geli gimana gitu,!" Safira nyengir geli.


" Tapi waktu itu kamu manggil aku sayang beberapa kali !" Bintang menyipitkan matanya mencari jawaban.


" Lhaa,,, itu kan akting ! kita lagi main drama dramaan.!" Sangkal Safira yang baru menyadari kalau dirinya tanpa canggung selalu manggil Bintang dengan sebutan sayang, saat di depan Wisnu.


Bintang laki laki pertama yang Safira panggil sayang, karena Safira orang yang paling anti dengan panggilan panggilan kesayangan apapun, mau itu bebi, ayang, cinta, buat dia itu menggelikan.


" Tapi aku suka kamu manggil aku sayang, pokoknya mulai sekarang kamu harus panggil aku sayang, titik ! tidak ada tawar menawar." Rajuk Bintang dengan segala ke otoriterannya.


" Anda memang luaaarrrr biyasah, Bapak Bintang Atmaja.! Tiba tiba nembak, lalu tiba tiba ngajak nikah, nyuruh orang tua ngelamar, sekarang harus manggil dengan sebutan sayang,, setelah ini apa lagi, hmmmh ?" Safira membuang nafasnya kasar.


" Ayo cepat, coba panggil aku sayang sekarang !" Rengek Bintang, merajuk dan merayu Safira yang masih enggan memanggilnya dengan sebutan sayang.


Hilang sudah wibawa seorang Bintang yang dikenal sebagai seorang bos dingin, arogan,kejam dan cool selama ini.

__ADS_1


__ADS_2