
Hari ke tiga bagi Safira dan Bintang menjadi suami istri, hari ini mereka akan pulang ke rumah setelah menghabiskan waktu berdua saja selama tiga hari di hotel tanpa di ganggu dengan masalah pekerjaan dan masalah lain apapun, hanya ada mereka berdua, dengan segala cinta dan bahagia menemani mereka.
" Sayang, apa kamu yakin kita pulang ke rumah itu, kalau kamu mau kita menempati rumahku yang lain." Bintang merasa tak yakin harus bertetangga lebih lama dengan Wisnu dan Mia.
" Aku udah terlanjur suka sama suasana di sana dari semenjak pertama, sayang, kalau yang kamu hawatirkan itu pasangan suami istri yang berada di seberang rumah kita, tenang saja aku pasti bisa mengatasinya." Ucap Safira di sela sela sarapan paginya bersama Bintang, masih di kamar hotel.
" Baiklah kalau itu mau kamu, tapi kalau sampai mereka bertindak keterlaluan, aku akan paksa kamu pindah dari tempat itu." Bintang memberi ultimatum.
" Siap suami ku !" Safira mengecup sekilas pipi Bintang.
" Sayang, tolong ini masih pagi, kenapa kamu menggodaku, kalau begini aku jadi pengen sarapan yang lain." Bintang berbalik dan memeluk Safira dari belakang yang baru saja berdiri hendak pergi ke kamar mandi.
" Eh, siapa yang menggoda, aku cuma cium pipi kamu aja." Elak Safira.
" Tapi kamu membangkitkan sesuatu yang lain di sana, sayang." Bintang semakin memper erat pelukannya dan mulai mencumbu istrinya yang di matanya selalu menggoda.
" Itu mah kamu aja yang selalu berpikiran mesum ! sudah lah aku mau mandi dulu, sayang." Safira melepaskan tangan Bintang yang melingkar di perutnya lalu lari ke kamar mandi.
" Sayang...ikut..!" Bintang setengah berlari mengekor Safira ke kamar mandi.
***
Ini malam pertama bagi Bintang dan Safira menempati rumah itu sebagai sepasang suami istri, semua keluarga Bintang sudah kembali ke rumah mereka masing masing kemarin, bahkan hari ini Dara pun rencananya akan ikut pulang ke Batam bersama orang tuanya karena ada beberapa hal yang harus di urus di sana, sekalian memberi kesempatan untuk pengantin baru sebenarnya.
" Dara, beberan kamu mau ikut pulang ke Batam ?" Tanya Safira saat melihat Dara yang sudah siap dengan beberapa koper.
" Iya, nanti kalau urusan ku disana udah selesai aku balik sini, lagian aku kan adik yang baik dan pengertian, ga mau ganggu pengantin baru." Ledek Dara yang di amini oleh mama dan papanya yang juga sudah bersiap.
__ADS_1
" Bilang aja takut ngiri, terus pengen, tapi belum di lamar lamar juga sama Beni kan?" Bintang balik meledek Dara.
" Iih,,, ketinggalan berita nih abang, bulan depan bang Beni mau nyusul ke Batam bawa orang tuanya mau ngelamar, ya bang?" Dara melirik ke arah Beni yang mengangguk sambil tersenyum.
" Wah... senengnya selamat ya ! akhirnya kalian nyusul juga." Safira memeluk Dara haru.
" Pelakor.... Janda gatel.... keluar kamu !" Tiba tiba terdengar suara ribut dari luar rumah.
Safira, Dara dan Beni keluar untuk melihat apa yang terjadi, sementara Bintang sedang berbincang dengan mama dan papanya Dara di atas untuk membicarakan sesuatu, jadi mereka tak begitu mendengar suara ribut di luar.
" Ada apa ini? Siapa pelakor dan janda gatel yang di maksud ibu ibu semua?" Tanya Beni mendekat ke arah kerumunan ibu ibu yang berkumpul di luar pagar dengan memasang wajah yang murka.
" Safira,,, ya,, namanya Safira ! dia jadi wanita simpanan pengontrak rumah ini, kita tidak mau ada wanita seperti itu di kawasan ini, kita ingin dia oergi dari sini !" Ucap salah satu ibu ibu yang berada di sebelah wanita yang sedang hamil besar, menunjuk ke arah Safira berdiri,siapa lagi kalau bukan sang dalang di balik semua ini, ya, dia Mia yang kini sedang tersenyum puas karena bisa menghasut ibu ibu di kawasan elit itu, dengan segala upayanya.
" Saya Safira, tapi saya bukan wanita simpanan, apa lagi pelakor, status saya juga saat ini bukan janda." Safira tak takut sedikitpun menghadapi ibu ibu yang seperti ingin menerkamnya.
Keamanan perumahan datang bersama bapak bapak yang baru tau kalau istri mereka sedang berbuat onar, sungguh memalukan, entah apa yang di lakukan Mia sehingga berhasil menghasut ibu ibu yang rata rata berpendidikan tinggi dan dari kalangan atas itu sehingga menjadi pembuat onar.
Bintang keluar rumah karena mendengar di luar rumah ribut sekali, dia kaget melihat banyak ibu ibu berkerumun di halaman rumahnya, belum lagi bapak bapak yang terlihat berjalan mendekat bersama seorang keamanan perumahan.
" Ada apa ini ?" Bentak laki laki yang ketampanannya di atas rata rata itu.
" Kalian harus pergi dari sini, kami tak ingin ada pasangan kumpul kebo di perumahan ini. Janda gatal ini harus enyah dari tempat ini !" Teriak Mia, sontak saja langsung mendapat pelototan dari Wisnu yang baru saja sampai di halaman rumah Bintang bersama bapak bapak yang lain.
" Aku sudah bilang jangan berbuat yang aneh aneh !" Wisnu menggeram tertahan menncengkram tangan Mia.
Dia sangat yakin pasti dalang dari semua ini adalah istri sirinya.
__ADS_1
" Wanita ini istri sah saya, tak ada satu pun yang bisa membuatnya pergi, dan tak ada juga yang bisa mengusir kamu dari rumah kami sendiri. Saya bisa membawa ini ke jalur hukum!" Tegas Bintang, seraya memeluk pinggang wanita yang belum seminggu ini di nikahinya.
" Cih,,, pengontrak ngaku ngaku pemilik rumah, sok bawa bawa hukum segala, suami saya pengacara terkenal di kota ini, haloo.!" Ucap ibu ibu yang terlihat sombong menimpali pembicaraan Bintang, dengan gayanya yang menghina.
" Maaf, saya yang akan menjelaskan disini, Tuan Bintang dan Nyonya Safira memang sudah menikah sah secara agama maupun negara, " Ujar Pak Amin sang keamanan perumahan memberikan penjelasan.
Beberapa bapak bapak yang mengenal sosok siapa Bintang yang seorang pengusaha terkenal langsung membawa istrinya pergi dari sana karena tak ingin perusahaannya dalam masalah karena kelakuan istrinya yang menyinggung keluarga Atmaja.
" Kita juga tidak bisa mengusir beliau beserta istrinya dari sini, karena beliau pemilik dan pengembang perumahan ini." Sambung Pak Amin.
Seketika orang orang yang ada disana berbisik bisik lalu meninggalkan halaman rumah Bintang karena merasa malu dan merasa bersalah telah menghina pasasangan suami istri yang pasti bukan orang sembarangan, karena perumahan elit ini pun dia pemiliknya.
" Heh... Kau ! Pelakor sesungguhnya, jangan coba coba lagi mengusik keluarga ku atau ku hancurkan hidup mu !" Geram Dara saat mendekat ke arah Mia yang akan pergi karena di seret Wisnu.
" Aku tak mengenalmu, jangan asal, bicaramu jala*g !" Mia menunjukan jarinya ke muka Dara.
" Hei... Kau berani beraninya mengatai anak ku sekotor itu, kamu lupa apa yang kamu lakukan dengan ku, heh ?" Tiba tiba papanya Dara mendekat ke arah mereka.
" He- Heru...! Kamu ?" Mia ketakutan dan terbata bata melihat laki laki yang pernah menjadi salah satu korbannya. Korban rayuan dan janji busuknya yang seolah manis demi menguras harta para lelaki incarannya, termasuk Heru papahnya Dara.
" Ya,,, belum puas kamu menghancurkan keluargaku, menguras hartaku, sekarang mau menyakiti anak ku dengan perkataan kotormu, lalu memfitnah keponakanku ?" Wajah Heru memerah menahan amarah yang membucah di dadanya.
Bagai mana tidak, wanita itu telah membuat dirinya hancur se hancur hancurnya, menghianati istri, anak,kehilangan materi, bahkan sampai hampir kehilangan jabatannya.
" Mia ! Jelaskan pada ku, apa maksud ini semuanya?" Wisnu menatap tajam Mia.
" Ah,,, aduh.....!" Mia meringis memegangi perutnya, darah mengalir di sela sela paha dan kakinya
__ADS_1