Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 77 Mama


__ADS_3

[Lanjutan Pov Zoya]


Zoya


Dan pagi ini aku melihat om yang kemarin menunggu di dekat gerbang. Bi sudah lari lebih dulu ke kelas. Aku ragu, tapi aku melangkah mendekati om itu.


"Kamu penasaran kan? Sudah dapat bukti?"


Aku diam saja. Om itu memberiku foto. Foto pernikahan mama Lintang dan papa Rezki, papanya Bi. Aku sudah pernah melihatnya. Ada di rumah opa Darma.


"Mereka menikah, dan mama kamu datang merebut papa Bintang."


"Om bohong!" Aku menantangnya. Menatap tajam matanya. Aku sebenarnya takut tapi ku sok berani.


Om itu tersenyum. Dia menunjukkan kertas kecil. Sebuah berita yang di print di kertas dengan judul. Kecelakaan maut. Korban tewas, putra dosen universitas ternama.


"Kamu bisa lihat, ada nama Rezki Putra Darma. Dan Khairumi Bramantyo."


Aku ingin menangis sekarang. Tapi aku harus kuat. Ini belum tentu benar.


"Kamu bisa lihat berita ini di internet. Dan, kamu bisa lihat tangal meninggalnya papa Bintang sama seperti mamamu, Arum."


"Mau om apa? Kasih tau aku hal bohong seperti ini?" ucapku agak pelan, karena takut ada yang mendengar.


"Gak ada maksud apa-apa. Cuma mau memberitahu kamu sebuah kebenaran."


"Om pergi dulu."


Om itu pergi dan aku juga segera pergi. Aku bingung harus kemana. Akhirnya aku mencari tukang ojek setelah memakai sweater yang sengaja ku bawa di tas.


Aku turun di sebuah warnet. Untung saja aku sering berkeliling dan mama selalu memberitahuku setiap daerah yang sering kami lewati.


Aku mencari berita yang ditunjukkan om itu. Dan benar. Ada nama mama Arumi dan papa Bi, kecelakaan terjadi dua hari setelah tanggal lahirku dan Bintang. Pas seperti yag tertulis di nisan mama.


Setelah berfikir lama, aku menumpang ojek, pergi ke makam papa Bi. Aku pernah di ajak kesini. Kebiasaanku selalu membaca apa saja yang bisa ku baca termasuk nama pemakaman umum ini.


Aku kebingungan mencari makam papa Bi. Aku memang sudah lama gak kesini.


"Cari apa dik?"


Seorang bapak-bapak tua mengagetkanku. Dia penjaga makam, mama Lintang sering memberinya makanan setiap kali kesini.


"Kamu sendirian? Dimana mama kamu?'


"Mama nanti menyusul, pak. Aku kangen papa." Lagi-lagi aku bohong. Aku terpaksa.


Maaf ya Allah. Maafkan Zoya karena berbohong.


Padahal mama Lintang gak pernah mengajarkan aku untuk berbohong. Papa Akhtar juga.


"Tau makamnya."


"Tau pak."


Aku berjalan melewati tiap gang makam. Akhirnya aku menemukan makam papa Bintang.

__ADS_1


Aku duduk menghadap batu nisan itu. Aku melihat tanggalnya. Sama. Sebenarnya aku tau tanggal wafat papanya Bintang. Tapi aku cuma mau memastikan.


"Assalamualikum, om?"


"Om atau papa, ya?"


"Papa aja ya..." Aku senyum.


"Hai papanya Bi. Apa kabar?"


"Masih ingat Zoya kan? Zoya pernah kesini loh sama mama Lintang dan Bintang juga."


Aku ingin menangis sekarang. "Apakah papa juga papanya Zoya?"


"Kenapa bisa papa jadi papanya Zoya?"


"Apa papa menikah sama mama Lintang dan mama Arum?"


"Kalau iya, kenapa gak ada yang kasih tau Zoya kalau papa juga papanya Zoya?"


"Selama ini Zoya mau tau siapa papa Zoya." Aku mengelap air mataku dengan lengan baju yang ku pakai.


"Kenapa di berita. Papa meninggal bersama mama Arum?"


"Kenapa mama Arum simpan foto papa?"


"Papa siapanya mama Arum, pa?"


"Apa benar kata om itu, kalau mama Arum merebut papa dari mama Lintang?"


"Jadi, Zoya anaknya orang jahat?"


Aku menangis lumayan lama. Tapi aku tak lupa mendoakan papa Bintang seperti yang mama Lintang ajarkan jika aku akan berdoa untuk mama Arum. "Kirimkan Al-fatihah, dan surah pendek yang kalian bisa."


Sudah hampir siang. Terik matahari juga sudah sangat panas. Aku memutuskan untuk pergi dari makam papa. "Pa, doakan Zoya bisa dapat jawabannya pa."


"Zoya pulang dulu. Kalau papa memang papanya Zoya. Zoya janji akan sering kesini dan mendoakan papa dari rumah."


"Kalau papa bukan papa Zoya. Semoga papa masuk surga dan Zoya bisa segera tau siapa papanya Zoya."


Aku pergi dari pemakaman itu. Aku berjalan agak jauh untuk sampai di taman. Aku duduk sangat lama disana. Otakku berpikir. Seperti menyusun potogan puzzle yang belum terkumpul semua.


Aku kembali teringat bagaimana mama Lintang menyayangiku. Tidak membedakan antara aku dan Bintang. Antara kami dan si kembar. Mama dan papa juga tidak pernah pilih kasih.


Oma juga bercerita, dulu aku meminum susu mama Lintang yang diisi ke botol dot. Dari situlah mama Lintang menganggapku seperti anaknya sendiri.


Papa Akhtar, dia bukan papaku dan Bi. Tapi dia sayang kami. Aku tidak tau mengapa papa Akhtar memanggil oma Hana dengan sebutan mama. Sedangkan mama Lintang manggilnya tante.


Aku semakin bingung. Aku harus bagaimana? Aku harus tau jawabannya sekarang juga.


Aku melihat jam di tanganku. Jam dari bunda Una. Hadiah ulang tahunku ke sepuluh. Sudah lewat satu jam dari jam pulang sekolah. Pasti Bintang mencariku. Aku harus bersembunyi dan pergi dari sini.


Aku tidak ingin bertemu mereka. Aku malu, karena kata om itu mama Arum merebut papa dari mama Lintang.


Aku naik ojek ke makam mama. Kali ini ojeknya tante-tante. "Adik sendirian ke makam?"

__ADS_1


"Ehm, papa sudah nunggu disana tante." Aku bohong lagi.


"Kamu kelas berapa kok keluyuran sendiri."


"Aku kelas 6." Semoga tante ini percaya. Badanku memang seperti kakak-kakak kelas 6 di sekolahku. Aku tinggi, sama seperti Bi. Dan kami agak gemuk. Pasti karena mama Lintang selalu-. Kenapa selalu ingat mama Lintang, sih? Aku kembali bersedih.


Dan tante itu juga tak banyak tanya lagi sampai aku tiba di makam. Aku mencari makam mama Arum. Aku cukup hafal karena sering kesini sama oma Hana.


Aku duduk di sebelah makam mama. Aku diam sangat lama. Aku berdoa dan terus membaca doa yang ku bisa.


Aku mulai tersadar saat langit sudah mulai gelap. Matahari sudah hampir tenggelam.


Aku mulai bicara padanya. Aku mengajukan banyak pertanyaan. Tapi tidak ada yang mama jawab.


Aku merasakan perutku sakit. Aku lapar karena belum makan.


Aku pamit pada mama. Dan saat aku berdiri semua terlihat gelap.


***


Aku membuka mataku. Dan yang pertama ku lihat adalah wajah mama Lintang. Mamaku menangis memangku kepalaku.


"Sayang." Mama memelukku.


"Zoya, sudah bangun, Nak?" Itu suara papa.


Bisa kulihat papa sedang menyetir mobil. "Maaa." ucapku lemah. Kepalaku pusing.


"Iya sayang. Mama disini, Nak. Zoya harus kuat. Kita sebentar lagi sampai rumah sakit sayang." Mama mencium tanganku yang dia genggam.


Maafkan Zoya yang membuat mama sedih. Membuat mama susah. Aku sudah tidak sanggup lagi berbicara.


"Zoya tidur lagi sayang. Mama jagain Zoya."


Aku memejamkan mataku lagi. *Terima kasih mama... Terima kasih mama sudah sangat baik sama Zoya. Zoya sayang mama.


***


Hai semuanya.... 😍😍😍


Curcol 😥


Aku gak tau sih, ini cocok gak Povnya sama karakter dan usia Zoya. Aku coba pakai bahasanya anak-anak. Dan kata-katanya juga seringan mungkin.


Nah, nanti pasti ada pertanyaan nih. Anak kecil kok berani kemakam sendirian? Kok berani kesana kesini sendiri.


Ya, karena mereka sering ke makam. Tau sendirilah ya, Arum anak kesayangan mama Hana. Mama pasti sering ajak cucunya kesana.


Soal pergi sendiri. Kalau sudah nekat. Pasti tidak ada rasa takut.


*Sama kayak othor, kalau udah kebelet pipis tengah malam pas ujan deras dan listrik padam. Terpaksa bawa senter 😂😂😂 Padahal kaki gemeter 😆😆😆 [Maafkan othor yang gaje]


Eh ada yang kelupaan, Bi-Zoya versi dewasa mau dilanjut disini atau ganti judul nih kak?


*Jejak jangan lupa kakak 😊*

__ADS_1


__ADS_2