Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 69 Kejutan gagal


__ADS_3

Akhtar


Hidup kami terasa tenang semenjak masalah Satya dan Bunga sudah beres. Tinggal menunggu hari H pernikahan yang akan dilaksanakan sebulan lagi.


Kemarin kami melakukan lamaran resmi kekeluarga om Darma. Aku ikut mengantarkannya sebagai perwakilan keluarga.


Aku berharap dengan menyatunya Bunga dan Satya menjadi awal mula yang baik untuk menjalani masa depan. Tak ada lagi rasa bersalah, tak ada lagi rasa tak enak hati. Dan yang terpenting adalah tak ada yang membahas hal itu lagi.


Bagaimana pun semua itu akan dikaitkan dengan kami, aku dan Lintang. Padahal kehidupan kami sudah sangat bahagia. Lintang sendiri tak pernah sekalipun mengungkit masalalu kami.


Dia benar-benar menatap ke depan dan tak pernah ingin menoleh lagi. Dia adalah wanita yang mengerti bagaimana memposisikan diri. Dia sekarang adalah istriku, maka aku adalah dunianya.


Aku duduk di kursi kerjaku. Melihat jadwal yang Langit berikan. Dan apa-apaan ini?


"Astaga!" Aku berdiri.


Langit sampai terkejut. "Astagfirullah," teriaknya tak kalah keras dariku. "Bikin kaget aja sih, Pak!" bentaknya.


Pak-nya udah bener, tapi gak pakai bentak juga Lang!


Aku hanya membatin. Bukan itu yang penting, tapi ada hal lain. "Besok tanggal 1 Lang!"


"Iya, gajian." Dia kembali fokus pada berkas-berkasnya.


"Bukan itu!" bentakku.


"Lintang ulang tahun! Kenapa aku gak inget sih." Gerutuku.


"Masih besok, Pak!" sahutnya santai.


"Ini ulang tahun pertamanya bersamaku. Ini harus istimewa."


"Ck..." Dia berdecak.


"Jangan repotkan aku," gumamnya, tapi sayang aku dengar.


Ah, aku jadi punya ide.


Malam harinya, kami berkumpul di kamar utama. Aku, istriku dan empat anakku. Lintang memangku baby Nair melakukan aktivitas kesukaan para bayi yaitu menyusu. Dulu aku juga suka sebelum bayi-bayi rakus itu merebutnya dariku.


"Pa, mama besok ulang tahun." Bintang berbisik padaku. Aku heran, mengapa dia ingat?


"Uti sama kakung yang kasih tau." Bisiknya lagi. Oh, ternyata bunda dan ayah yang memberi tahu.


Lintang yang sedang menyusui Nair, menatap kami penuh kecurigaan. "Kalian bisik-bisik apa?"


Kami saling pandang. "Mama cantik," ucapku.


"Minta cat baru." ucap Bintang bersamaan denganku.


Aku menenggelamkan wajahku di bantal. Kita gak kompak, Bi!


Zoya sudah terkikik menutup mulutnya, gadis kecil itu menertawakan aku dan Bintang. Gadis yang tengah bermain dengan Nath.


"Kelihatan banget bohongnya!" gumam Lintang.


"He..he..he..." aku menggaruk tengkukku.

__ADS_1


"Dih, malah ketawa." cibirnya.


Aku memeluknya perutnya dari arah samping. "Udah dong, jangan marah. Yang benar, yang dibilang Bintang. Cat baru sayang."


"Sana sedikit mas. Ini baby Nair masih nyusu." Dia bergerak menggeliat, menolak ku peluk.


"I love you." Aku mengecup pelipisnya dan turun dari tempat tidur.


"Mau kemana, mas?"


"Ke mobil sebentar, mau ambil berkas kantor." Lalu aku berjalan keluar kamar.


Tengah malam...


Aku sedang di lantai bawah, mengatur beberapa orang yang ku repotkan. Ada Langit dan Rara. Mereka yang bertugas mengambil cake ulang tahun yang sudah ku pesan sebelumnya. Sekalian Langit menjemput Rara di minimarket.


Mbak Dini masih membangunkan anak-anak di kamar mereka. Anak-anak juga ingin ikut serta, terlebih Bintang yang tiap tahunnya selalu memberi kejutan.


Ada juga Asep, Bayu, Wilya dan Siska. Anna jangan ditanya, dia mungkin sekarang sedang ngadon baby dengan suaminya. Mantan rivalku. Ah, ngomong-ngomong ngadon, puasaku kapan berakhir ya? Akan ku cek-ricek lagi di kalender.


"Sudah siap semua?" Aku menatap Langit dan Rara yang sudah berlagak kelelahan mendekor ruangan. Dan dua pasangan lainnya baru saja selesai menyusun beberapa box hadiah di atas meja.


"Hooam." Langit menguap. "Beres." Dia mengacungkan jempolnya.


"Ck!" Aku berdecak.


"Ngantuk, Mas. Cepat suruh kak Lintang turun!" Perintahnya. Siapa dia berani memerintahku? Ah, ya dia adik ipar l*knat.


"Jam dua belas masih sepuluh menit lagi." ucapku sambil melihat jam dinding.


Langit mematikan lampu. "Persiapan. Jangan protes." Hanya tersisa lampu temaram di meja kecil di sebelahnya.


"Rara, kalau malam minggu sampai jam berapa?"


"Kadang sampai jam satu, Mas!" Asep dan Bayu sudah terkekeh pelan.


Aku meleparnya dengan bantal sofa. "Giliran pacaran aja, gak ngeluh ngatuk. Dasar Buaya!" Aku mendengus kesal.


"Lah, situ nikah sama kakaknya buaya!" Katanya ngantuk, tapi masih sanggup berdebat.


"Buaya cantik, ini!" Aku membela istriku dong. Kalau ada buaya secantik dia, abang rela adek makan tiap hari. Wkwkwkw.


Kenapa aku jadi buaya darat begini.


"Siapa yang buaya, Mas!"


Deg. Suara Lintang!


"Mamp*s!" desis Langit yang langsung menunduk agar tak terlihat Lintang.


Aku melihat kearah tangga yang jaraknya lumayan jauh dari ruang tamu. Lintang sedang berjalan menuruni anak tangga, aku segera berlari menyusulnya. Untung saja saklar lampu tak ada di dekatnya.


"Sa-sayang mau kemana?" Aku sedikit tergagap.


"Aku nyariin kamu. Kamu ngobrol sama siapa? Langit, ya? Aku dengar suaranya tadi." Lintang terus berjalan sampai di anak tangga terakhir. Untung saja sofa yang diduduki Langit membelakangi Lintang.


"Bu-bukan siapa-siapa, Lin."

__ADS_1


Aduh, udah belum sih jam dua belasnya!


Lampu menyala...


"Happy birthdaaay!" Mereka berdiri dan berteriak.


Lintang membelalak tak percaya. Lalu segera berlari menaiki anak tangga.


"Lin, kenapa sayang?"


"Jilbabku kelupaan, mas." teriaknya.


Astaga! Aku menepuk keningku. Disini ada Bayu dan Asep.


"Makanya sudah ku bilang jemput kak Lintang, Mas!" Langit mengomel sambil kembali duduk di sofa.


"Begini kan jadinya." Langit menggerutu.


Langit benar, seandainya aku tadi segera naik, aku bisa menyuruhnya memakai jilbab instan yang selalu tersedia tergantung apik di dekat pintu kamar.


Lintang memang jarang memakai hijab jika sudah lewat tengah malam meskipun ia sedang turun ke dapur. Karena mang Joko sudah dipastikan tidak akan masuk lagi ke dalam rumah utama.


"Ya mana aku tau dia bakalan bangun, Lang!"


"Gagal deh!" Ucap Siska.


"Kita kan gak tau bakal gini kejadiannya." Ucap Asep.


"Kita ulang aja, nanti!"


"Ada-ada aja kamu, Lang!" Ucapku.


Lintang turun bersama anak-anak. Mbak Dini pasti diperintahkan untuk menjaga si kembar.


Aku menyambutnya dengan pelukan. Tapi Bintang menghalangiku. Dia berdiri di depanku. Lalu berbalik ke belakang memeluk Lintang. "Happy birthday mama."


Lintang berjongkok, Bintang mengecup pipinya. Zoya juga melakukan hal yang sama.


"Sabar, Mas. Tahun-tahun sebelumnya memang Bintang yang pertama kali peluk cium." Ucap Langit pelan.


Setelah selesai, Lintang baru beralih pada kami. Aku memeluknya dan mencium keningnya. "Selamat ulang tahun, sayang. Panjang umur dan sehat selalu. Dampingi aku terus dan kita didik anak-anak bersama." Bisikku.


"Terima kasih, Mas! Insya Allah, aku akan selalu berada di samping kamu."


"Harus!" bisikku. Aku mengurai pelukan. "Hadiahnya pilih jaring ikan victor*a atau nginap di hotel berbintang." ucapku dengan mengerling.


"Semua bikin aku gak aman." Ucapnya meninggalkan aku.


Aku menggaruk tengkuk. Dia selalu tau kemauanku.


Semuanya mengucapkan selamat secara bergantian.


Langit memeluk Lintang. "Tahun lalu masih single, tahun ini udah couple tambah empat buntut di belakang. Selamat kak, doaku tahun lalu sudah terkabul. Dan doaku tahun ini, semoga kost-an bisa nambah unit."


"Nitip doa nambah anak, Lang!" gurauku.


"Puasa dikelarin dulu!!" Dia menyeringai.

__ADS_1


Sialan! Tepat sasaran! Menembus jantung!


__ADS_2