
Lintang
Aku memandang dua bayi yang terlelap di dalam boxnya. Bayi dengan wajah yang sangat mirip, hanya saja baby Nair tak semancung baby Nath. Baby Nath adalah gambaran nyata sosok mas Akhtar, tak ada sedikitpun yang tak menyerupainya.
Aku teringat bagaimana perjuangan untuk melahirkan mereka. Kemarin pagi aku memang merasakan kontraksi palsu beberapa kali. Dan aku tau itu hal biasa terjadi pada kehamilan yang memasuki bulan ke sembilan.
Tapi saat siang hari, ketika membantu bunda menyiapkan makan siang untuk anak BL Shop tiba-tiba aku merasakan basah di daerah kewanitaanku. Dan benar saja, air ketuban bahkan juga membasahi gamisku.
"Itu pecah ketuban, Lin." Bunda segera mencuci tangan saat ku katakan gamisku basah karena air yang keluar dari kewanitaanku. "Jangan panik. Sakit gak?"
Aku menggeleng, "enggak bun."
"Kita kerumah sakit sekarang." Bunda mendudukkanku di kursi makan. "Benar-benar gak ada perasaan mulas atau sakit?"
Aku menggeleng.
"Kamu duduk disini. Bunda panggil mang Joko sama sekalian ambil perlengkapan yang harus dibawa ke rumah sakit."
"Sudah ku siapkan bun. Tasnya warna hitam, di pojokan kamar. Sekalian gamis untuk ganti, bun."
Dan diperjalanan ku sempatkan menelpon suamiku. Sesampainya di rumah sakit, dokter langsung memeriksaku. Dan berakhir dengan keputusan operasi caesar yang harus segera dilakukan demi keselamatanku dan si kembar.
Di ruang operasi aku terus berdoa. Tapi, dokter malah mengajakku bercerita. Dan ternyata ini berhasil membuatku sedikit tenang.
Suara tangis bayi terdengar, Ya Allah, anak-anakku.
Tak lama, dokter meletakkan satu bayi di dadaku. "Keduanya baby boy, bu." Lalu meletakkan satu bayi lagi.
Alhamdulillah. Air mataku menetes dengan sendirinya.
Di ruang rawat, aku juga melihat bagaimana keluargaku dan keluarga mas Akhtar begitu bahagia dengan hadirnya si kembar.
"Fix, aku ajarin main gitar. Biar kalau udah gede pandai nge-gombal." Ucap Langit padaku, saat keluarga menceritakan ketampanan bayi kembarku yang saat ini masih di ruang bayi. "Ganteng-ganteng banget anak kakak. Jelas *G*rade A. Bukan produk gagal." sambungnya lagi.
Aku hanya bisa senyum menanggapinya. Karena tak mungkin tertawa dengan luka bekas operasi yang masih basah.
"Senyum terus nih mama muda." Mas Akhtar baru saja keluar dari kamar mandi. Sejak pagi kami hanya berdua, -salah, tapi berempat bersama si kembar. Subuh tadi, bunda dan ayah pulang kerumah.
Mama Riana dan papa Rendra sengaja tak menginap. Karena siang ini giliran mereka yang akan menemaiku. Tapi mereka belum bisa datang karena urusan minimarket. Untung saja baby Nath dan Nair tidak rewel sama sekali.
"Fotocopyan kamu banget, mas. Aku yang hamil cuma kebagian nyumbang hidungnya baby Nair. Itupun sekilas masih kelihatan seperti hidung kamu." Ucapanku berhasil membuat mas Akhtar tertawa.
"Jelas dong! Lah kan kebanyakan aku yang kerja." Ucapnya sambil memandangi si kembar.
"Kerja? Ya kan memang kewajiban kamu, mas."
__ADS_1
Ck.. Mas Akhtar berdecak. "Bukan kerja yang sebenarnya, Lin. Tapi ngerjain kamu."
Aku memukul lengannya. "Isi kepala kamu gak jauh-jauh, Mas."
"Heheheh..." Dia tertawa. "Aku beneran puasa nih?" Dia duduk di kursi di sebelah ranjangku.
"Heem... Dua bulan mas." jawabku. Aku juga tak tau pasti. Sepertinya kami harus berkonsultasi pada dokter soal ini.
"Yang dibilang, Sora? Beneran dua tahun?" Arah pembicaraannya mengenai dua benda kembar yang sudah mutlak menjadi milik putra kami.
Aku mengangguk. "Kenapa? Kamu mau ASI juga?"
Matanya berbinar. "Beneran boleh?"
Aku mengangkat bahu. "Gak kasihan sama anak-anak, Mas? Kamu masih punya banyak kesempatan setelah mereka besar nanti."
Mas Akhtar menggenggam tanganku, dan meletakkan dipipinya. "Aku coba ngalah, ya sama anak-anak." Lalu mencium tanganku. "Tapi kelihatan makin gede loh, Sayang." Dia masih belum rela.
"Aku cuma mau bersikap adil sama anak kamu, Sayang." Dia menatapku. Tertarik mendengarkanku.
"Dulu, Bintang ku beri ASI selama dua tahun. Bahkan Zoya yang terlahir bukan dari rahimku, aku juga memberinya ASI sampai hampir dua tahun. Dan sekarang giliran putra-putra kamu, anak-anak kita. Aku bisa saja menggantinya dengan susu formula. Tapi aku akan berdosa jika melakukannya."
"Kamu mau anak kamu mendapat asupan nutrisi yang terbaik kan, Mas? Dan itu adalah ASI."
Dia diam, lalu berdiri dan mencium keningku. "Terima kasih mau berkorban sejauh ini sayang. Terima kasih sudah bersedia melahirkan, dan menyusui anak-anakku. Semoga kelak mereka bisa menjadi pelindungmu."
Mas Akhtar membenamkan bibirnya di bibirku, menyentuh dan menyatukan kami dengan penuh kelembutan.
Ceklek...
Suara pintu di buka. Dan kami cepat-cepat menjauhkan diri.
"Astagfirullah. Siang-siang pada mesum!" Dan terlambat. Langit menyaksikan adegan itu. Wajahku sontak memanas. Ku pastikan pipiku semerah tomat.
"Baby Nath sama Nair masih merah. Ini bapak sama emaknya malah udah mau proses buat adik lagi." Langit masuk disusul Rara, Anna dan mas Ishaq, Siska, Wilya.
"Puasa woy... empat puluh hari." Langit menunjukkan empat jari tangannya.
"Wiiih... lama ya!" Langit menaik-turunkan alisnya menggoda suamiku.
"Butuh sabun?" lanjutnya. "Aduuuh..." Rara mencubit pinggang Langit. Syukurin!
"Sakit, Ra!"
"Makanya ngomong sama abang ipar itu yang sopan. Kayak kamu gak bakal ngerasain aja."
__ADS_1
"Yuuk."
"Apaan?" Rara menatapnya tajam.
"Buat dedek, terus lahirin. Biar aku ngerasain puasa empat puluh hari."
"Modus kamu basi!" Siska memukul lengan Langit.
"Tau. Kamu diem aja sana di pojokan. Jangan berisik. Entar baby nya pada bangun." Rara menunjuk sofa.
Akhirnya Langit, Mas Akhtar dan mas Ishaq duduk di sofa. Sementara para wanita mengerubungi si kembar.
"Iiih, lucu banget babynya mbak." Mata Rara berbinar. Jari telunjuknya berusaha menyentuh pipi baby Nath.
"Eh Ra." Anna mencegahnya. "Kamu cuci tangan dulu. Jangan sembarangan menyentuh bayi. Kulit mereka sangat sensitif, loh."
"Heheheh... Iya mbak." Rara langsung melesat ke kamar mandi. Lalu tak lama Rara kembali, bertepatan dengan baby Nath membuka mata.
"Ya ampun, ganteng banget sih nak." Rara berusaha mengendong baby Nath. Gadis itu terlihat luwes dan tak kaku saat menggendong bayi. Mungkin karena ia sering melakukannya pada anak tetangga atau saudara.
"Besar nanti pacaran yuk sama kak Rara." Ucapannya berhasil membuat Langit terpancing untuk berbicara.
"Diih, iya kali aku ditikung keponakan sendiri, Ra."
"Abisnya keponakan kamu lebih ganteng, sih." Ucap Rara dengan melirik Langit. Tapi yang dilirik justru kembali bercerita dengan suamiku dan mas Ishaq.
"Toko tutup, An?"
"Gak Lin. Kita cuma sebentar kok ini. Ada Bayu sama Asep yang jaga." Hari ini memang hari Sabtu. Maka dari itu mas Akhtar dan Langit tidak bekerja.
"Rara gak kuliah, Ra?"
"Sabtu gak ada jadwal, mbak."
"Wilya betah?" Aku beralih menanyai Wilya.
"Betah mbak. Alhamdulillah."
"Gimana gak betah, si Bayu jadi moodbosternya." Celetukan Anna membuat wajah Wilya memerah.
"Gak apa-apa. Yang penting bisa profesional dalam bekerja. Jangan mentang mentang punya pacar, kerjanya pacaran terus. Contoh Siska sama Asep. Pacaran tapi gak mengganggu pekerjaan. Ya kan Sis?"
"Heem. Iya kak." Siska sedari tadi tak bersuara. Karena sibuk memandangi kedua putraku.
"Kamu udah pantas banget, sayang." Langit berbicara pada Rara.
__ADS_1
"Kamu yang belum pantas, Mas. Cara bicara kamu belum pantas untuk dijadikan contoh sama anak-anak."
Skak-mat! Langit mati kutu.