
" Sayang, jangan bercanda, ini gak lucu sama sekali !" Wajah Bintang memerah karena menahan amarah pada sang istri Safira, padahal saat itu mereka tengah berada di pesta pernikahan Wisnu dan Bella.
" Kamu Jahat,,! kamu udah berani bentak aku, hiks,,,hiks,,," Safira menangis tanpa memperdulikan beberapa orang tamu yang ada di sana menontonnya.
" Astaga, Safira,,, kamu boleh meminta apapun padaku, tapi tidak dengan itu." Bintang menurunkan volume suaranya dan memeluk Safira yang masih terisak.
" Ada apa sih Bang, kok berantem,? malu tau di liatin orang.Istri lagi hamil bukanya di sayang sayang malah di bikin nangis !" Dara yang juga hadir disana karena mendampingi Beni merasa kesal dengan Bintang.
Ya, Safira kini sedang hamil, usia kandungannya sudah menginjak enam minggu, Tentu saja hal itu membuat kebahagian Safira dan Bintang semakin bertambah, Bintang pun selalu menjadi suami siaga dan lebih perhatian semenjak dirinya mengetahui akan menjadi seorang ayah.
" Aku gak berantem," sangkal Bintang, tak terima dengan tuduhan Dara.
" Lalu, kenapa Fira sampai nangis gitu ?" selidik Dara.
" Emh,,, dia ngidam, pengen foto di pelaminan !" sungut Bintang
" Ya elah Bang, timbang foto doang, kirain apa. udah sini, aku aja yang anterin kesana, paling juga pengantennya gak keberatan, heran deh, gitu aja ga boleh !" Dara menarik Safira yang masih dalam pelukan Bintang.
" Gak se simpel itu,! dia pengen foto di pelaminan sambil di elus perutnya oleh Wisnu, dan yang fotoin harus aku !" Ujar Bintang kesal, di susul tawa Dara dan Beni secara bersamaan.
" Turutin aja kali Bang, ntar anaknya ileran loo..!" Ledek Dara di sela sela tawanya.
" Gak akan pernah ! cukup kemarin saja aku makan hati, gara gara ngidam aneh dia." cebik Bintang tambah kesal saat mengingat permintaan istrinya kemarin malam, Safira yang saat itu muntah muntah seharian, baru bisa makan saat dia meminta makan malam di restoran tempat dulu Bintang melamarnya.
Tentu saja bukan hanya makan malam biasa saja, dia minta makan malam di sana sambil di temani Alan dan Widodo saja, sedangkan Bintang tidak di ijinkan bergabung di satu meja dengan mereka.
__ADS_1
" Memang anak yang luar biasa,,, dari dalam kandungan saja sudah berani menindas ayahnya, lanjutkan dek,,, onty mendukung mu !" Dara mengelus perut Safira yang masih rata, dan langsung mendapat pelototan dari Bintang.
" Aku gak mau pulang, kalau kamu belum fotoin aku di sana !" dengus Safira
" Ayolah sayang, minta yang lain ya, mobil baru ? rumah baru? perhiasan?" Bujuk Bintang, tapi semua penawarannya di jawab dengan gelengan kepala Safira dengan tegas.
Semenjak hamil, Safira sudah tak bekerja di kantor Bintang lagi, Widodo menggantikan tugasnya untuk sementara, dan Alan mengurus perusahaan pusat walau setiap saat harus siap mondar mandir ke perusahaan cabang saat Bintang membutuhkannya.
Setelah proyek pembangunan apartemen selesai, Bintang akan kembali ke pusat dan memboyong Safira pindah ke ibukota, bagaimanapun jauh di lubuk hatinya dia sangat keberatan bila harus bertetangga dengan Wisnu, meski dia sekarang telah mempunyai Bella, tapi hatinya masih selalu merasa terbakar kalau harus melihat Safira masih ber interaksi dengan mantan suaminya, meski itu hanya sekedar ngobrol biasa saja.
Bukannya Bintang tak percaya dengan Safira, tapi itu lah Bintang dengan segala kecemburuannya, mungkin karena dia terlalu mencintai dan takut kehilangan istri cantiknya itu.
Tak lama Wisnu datang bersama Bella, sepertinya Beni tadi memberitahu perihal permintaan ngidamnya Safira pada Wisnu dan Bella, karena tadi Beni sempat pergi sebentar dan kembali bersama sepasang pengantin yang terlihat sangat berbahagia.
Bintang langsung menatap tajam Beni sang tersangka yang senyum senyum.
" Selamat ya Fir, akhirnya kamu bakal jadi ibu." Wisnu tersenyum tulus, meski tak munafik hatinya sedikit perih, menerima kenyataan mantan istrinya yang akan melahirkan anak yang bukan dari benihnya.
Bahkan Tuhan tak mengizinkan benihnya tumbuh di rahim Safira selama dua tahun pernikahannya, sedangkan Bintang yang menikahi Safira dalam hitungan beberapa bulan saja sudah bisa membuahinya.
Mungkin Tuhan tau, Bintang akan lebih membahagiakan Safira di banding dirinya, yang saat itu masih saja di bayang bayangi masa lalunya bersama Rena, dan sudah menorehkan luka yang cukup dalam buat Safira karena perselingkuhannya dengan Mia, tapi menyesalpun percuma, sudah tak berguna, Safira sudah Bahagia dengan kehidupan barunya, kini tinggal dia menciptakan bahagia untuk dirinya sendiri dan Bella sang istri, tentunya.
"makasih,,,, tapi sekarang aku udah gak pengen foto bareng Wisnu, aku cuma pengen ngambil foto Wisnu di pelaminan, boleh kan sayang ?" Safira menggoyang goyangkan lengan Bintang merajuk.
" Nah, kalau itu boleh sayang, ayo kesana lalu kita pulang, aku lelah." Bintang menggiring Safira menuju pelaminan Wisnu.
__ADS_1
" Tapi,,, Wisnu fotonya sambil duduk di pelaminan, ya !" oceh Safira.
" Iya, boleh, dia gak akan keberatan, iya kan bro ?" Tanya Bintang yang di amini Wisnu dengan anggukan kepala.
" Sambil pelukan, boleh ?" Tanya Safira lagi girang.
" Boleh, Bella pasti mau kok, iya kan Bel ?" Pertanyaan Bintang mendapat anggukan kepala juga dari Bella.
" Bukan sama Bella,,,,! tapi pelukannya sama kamu, sayang." polos Safira.
" Safira....!" Bintang kembali menaikan volume suaranya.
Sementara Safira mengerucutkan mulutnya.
" Kamu sih nak, ada ada aja permintaannya, tuh kan,, ayah jadi marah..!" Safira mengelus perutnya seraya melimpahkan kesalahan pada bayi yang di kandungnya.
Sikap Safira membuat hati Bintang luluh, dan mencium pipi istrinya gemas.
" Baiklah, apapun buat anak dan istri ku tercinta, aku siap melakukan apapun. Hidupku milik kalian berdua,,,!" Bintang tersenyum sambil mengelus perut rata Safira dan mencium keningnya sangat dalam dan lembut.
*Hai Kakak kakak semuanya, Terimakasih sudah mampir di cerita othor yang amatiran ini...
semoga rejeki anda semua berlimpah dan di beri kesehatan juga kesuksesan....
sampai jumpa di cerita otor yang lain....*
__ADS_1