Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 83 Bukan Akhir kisah


__ADS_3

Akhtar


Kabar kehamilan Rara juga disusul dengan kabar kehamilan Bunga. Membuatku merasa jauh tertinggal di belakang.


Dan candaan mereka terkadang membuat harga diriku terluka. Tapi Lintang selalu membuatku tenang, "Belum giliran kita, mas! Tetap Sabar dan berdoa."


Dan sebulan lalu, aku berteriak kegiragan karena hasil testpack Lintang menunjukkan dua garis merah. "Allah jawab doa kita sayang."


Tapi saat kami mengumumkannya pada anak-anak. Nath mengamuk tak bisa di bujuk. "Nath gak mau punya adik!!! Cuma Nath yang jadi adik. Huu... huu... huu..." Dia menangis dan berlari membanting pintu kamarnya.


Kami hanya bisa menghela nafas. Nath marah pada kami dan dia selalu memasang wajah cemberut. Ya Allah, dia gak bahagia.


Dan sepertinya Allah mendukung Nath. Karena dua hari lalu Lintang mengelami pendarahan dan janinnya tak dapat di pertahankan.


Semua sedih. Dan yang paling menyesal adalah aku. Karena lagi-lagi Lintang harus merasakan sakit. Lintang harus melakukan proses kuretase (kuret) untuk mengeluarkan janin yang tak bisa di pertahankan itu.


"Lin, maaf sayang. Seharusnya keputusanku untuk tidak memiliki anak lagi sudah tepat." Ucapku setelah ia di bawa pulang dan beristirahat di kamar.


"Maaf karena keinginanku, kamu mengalami kesakitan seperti ini." Aku memegang tangan istriku yang tengah terlelap dengan wajah pucatnya.


Kamar luas ini terasa menyesakkan. Seolah semua tembok bergerak maju dan akan menghimpitku.


Hingga tangan kecil menyentuh bahuku. Aku melihat kebelakang dan Bintang sudah terisak di punggungku. "Maafkan Bintang, pa. Bintang menyesal minta mama untuk punya anak lagi."


"Ini juga salah, Bi." Aku meraihnya dan memeluk erat tubuh mungil itu.


Jadi, Bi juga minta supaya Lintang hamil lagi. Dan dia sedang merasa bersalah sekarang? Ya Allah Bi, ini bukan salah kamu, Nak.


"Bi..." Suara lembut itu membuat kami menoleh. "Sini sayang." Lintang mengulurkan tangannya. Bintang langsung mengambil posisi disebelah Lintang. Gadis kecil itu ikut berbaring.


"Ini bukan salah Bintang, sayang. Ini keputusan mama sama papa. Dan soal musibah ini, ini kehendak Allah, Nak."


"Bi sayang mama. Mama jangan sakit-sakit lagi ma."


Dan malam ini, semua keluarga datang ke rumahku. Ruang tamu dan ruang keluarga penuh dengan kerabat yang datang. Ada Om Darma, tante Citra, Ayah, Bunda, mama papa, dan mama Hana. Mereka duduk di sofa. Sementara keluarga kecil Satya, Langit, dan Sora juga ada disini. Kami duduk di karpet kecuali Lintang yang duduk di sofa karena kondisinya belum membaik sepenuhnya.


Anak-anak? Mereka sedang bermain di ruang bermain ditemani pengasuh yang dibawa Satya dan Sora.


"Masih ingin punya anak lagi, Tar?" tanya papa padaku.


Aku menggeleng. "Cukup, Pa. Cukup menyesal kemarin." Bukan hanya karena Lintang hamil lalu keguguran. Tapi juga karena Nath yang terlihat murung. Dan dia bahkan lebih sering bersama Langit atau Sora. Karena Nath juga lebih dekat dengan Caraka.

__ADS_1


"Papa cuma punya dua anak. Dan sekarang papa punya 6 cucu." Papa tertawa. Benar, cucu papa ada 6. 4 dariku dan 2 dari Sora.


"Kamu sudah bahagia, Tar. Sekarang besarkan anak-anak dengan baik."


"Jangan terlalu menuntut lebih dari Allah. Hidupmu sekarang jauh lebih baik di banding tujuh tahun lalu. Ini sudah lebih dari yang papa minta untukmu." Papa membuatku tersadar. Apa aku kurang bersyukur dengan adanya keempat anakku?


"Papa kamu benar, Tar. Ayah juga sudah tenang. Langit sudah menikah. Bintang dan Lintang juga sudah bahagia. Ayah rasa tugas ayah sudah selesai."


"Ayah!! Ayah bicara apa sih, yah!" Lintang tampak tak suka ayah berbicara seperti itu.


"Tau nih. Ayah harus sehat. Ayah gak pengen lihat anakku yang jumlahnya sepuluh!" Langit membuat Rara mendaratkan cubitan di perutnya.


"Ini aja belum kelar, mas!" gerutunya.


"Benar, Lin. Sebagai orang tua, kami hanya ingin melihat anak-anak bahagia. Dan jika saat-saat terakhir telah tiba, setidaknya kami sempat menyaksikan kebahagaiaan kalian," ucap mama Hana.


"Ibu..." Satya berlutut di depan mama Hana.


"Satya. Ibu titip Zoya. Dia adalah Arumi kita. Lin, terima kasih. Akhtar, terima kasih."


Kenapa jadi pada nangis gini?


"Satya," Om Darma membuat Satya menoleh kearahnya.


Bunga dan tante Citra memeluk dan menenangkannya.


Bintang dan Zoya ikut memeluk Om Darma, opa mereka secara biologis. Entah sejak kapan mereka ada disini.


"Opa, jangan sedih ya. Opa tau gak?" Bi sengaja menggantung kalimatnya.


Om Darma mengurai pelukan dan menghapus air matanya. "Tau apa, sayang?"


"Bi mau jadi guru seperti opa sama oma. Seperti kakung dan nenek. Eh, nenek bukan guru. Tapi nenek yang punya sekolah." Tunjuk Bi pada mama. Bi tertawa menutup mulutnya.


Ucapan Bintang membuat kami tercengang. Ini sangat jauh dari hobinya yaitu melukis dan fotografi.


"Wah, cucu opa hebat!"


"Kalau Zoya mau jadi apa, Nak?" tanya om Darma.


Zoya menatapku lalu menunduk. Jemarinya bertautan. Zoya jangan takut, Nak. Katakan Zoya mau apa?

__ADS_1


"Kata ayah Satya... Arumi Resto itu... dibuat opa untuk mengenang mama Arum." Ucapnya gugup.


Satya mengangguk. "Pa, boleh Zoya yang jaga Arumi Resto kalau Zoya sudah besar nanti."


Aku berdiri, Satya, mama Hana juga. Kami meraih putri kecil penuh luka itu dalam pelukan. "Boleh sayang. Boleh. Boleh. Papa bangga sama Zoy." Aku terisak memeluknya. Cita-citanya mulia. Semoga kamu bisa menjaga amanah opa Bram, Nak.


Satya dan mama Hana bergantian memeluknya. "Zoya. Zoya anak hebat. Mama Arum bangga punya Zoya." Ucap Satya mencium pucuk kepalanya.


"Opa Bram juga bangga punya Zoya. Terima kasih sayang. Terima kasih." Mama Hana memeluk Zoya dan menghujaninya dengan ciuman.


Lintang memelukku. "Anak-anak sudah menentukan pilihan, Mas. Tugas kita adalah membimbing mereka sampai mewujudkan impian itu."


Lintang benar, tugas kami adalah membimbing anak-anak untuk mewujudkan impian mereka.


Semua yang terjadi selama bertahun-tahun ini mengajarkanku banyak hal. Terutama tentang takdir.


Dulu aku tak pernah menyangka akan ada diposisi ini. Akan bahagia seperti ini. Dulu aku tak berharap hadirnya buah hati tapi Allah menitipkan Nair dan Nath. Allah juga membawa Zoya pada kami. Kehidupan kami sudah sangat sempurna.


Bintang dan Zoya sudah mengetahui siapa papa kandung mereka. Dan keduanya tetap akur menerima kenyataan yang untuk saat ini pasti sangat membingungkan.


Langit-Rara sedang menanti hadirnya anak pertama mereka. Satya-Bunga sedang menanti kehadiran anak kedua. Nath, dia perlahan memahami bahwa tidak akan ada adik di rumah ini selain dirinya.


Ini bukan akhir kisah kami. Kisah berliku antara mantan Single mother berhati malaikat, Lintang Alkhaleena dengan mantan duda high class Akhtar Alvarendra.


Ini adalah gerbang menuju kisah cinta dua putri tercinta kami, Bintang Alkhaleena dan Zoya Khairumi Bramantyo.


...~Tamat~...


***


Hai semuanya 😍😍😍


Akhirnya aku bisa menyelesaikan karya pertamaku. Masih banyak kekurangan di dalamnya. Mulai dari jalan cerita, karakter tokoh dan bertebarannya typo.


Terima kasih untuk kalian yang sudah setia mengikuti kisah ini hingga akhir 😙😙


I love you, all ❤❤❤❤


Thor, Bi-Zoya mau di lanjut dimana?


*Masih di NT. tapi masih bimbang mau disini atau buat judul baru 😂 (othor labil guys)

__ADS_1


Pokonya pantengin terus. Ntar othor kasih pengumuman disini 😅


Jangan hapus dari Fav ya. Siapa tau khilaf kasih bonus chapter pov Bi sama Zoya 😂


__ADS_2