
Akhtar
Mama dan papa baru saja tiba. Mama langsung membawaku dalam pelukannya. "Lintang pasti baik-baik saja, Tar."
"Aku takut ma." Sungguh aku memang tengah ketakutan. Otakku memikirkan segala kemungkinan terburuk. Merasa sebagai manusia paling tak berguna karena hanya bisa berdiam diri di depan ruangan dimana istriku tengah bertaruh nyawa di dalam sana.
"Maafkan kesalahan Akhtar, ma." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutku. "Perjuangan mama melahirkanku pasti juga semenegangkan ini. Maaf belum bisa menjadi anak kebanggaan mama."
Perlahan potongan kejadian dimana aku terkadang membuat mama kecewa, membuat mama marah, membuat mama kesal berputar putar di otakku.
Mama mengurai pelukanku, menghapus air mataku yang menganak sungai. "Kamu putra kebanggaan mama. Setelah ini berjanjilah, sayangi istrimu, hormati dan hargai dia karena dia telah berkorban begitu besar hanya demi melahirkan keturunanmu. Kamu, pria yang bahkan baru dia kenal setahun ini."
Deg...
Ucapan mama menghujam tepat di jantungku. Bagaimana aku melupakan itu. Bagaimana aku baru menyadari bahwa aku dulunya hanya pria asing yang kini beruntung memilikinya. Dan setelah ku miliki, aku malah membawanya dalam situasi seperti ini.
Aku mundur selangkah, beralih menatap bunda yang duduk dengan tegang sambil memejamkan mata. Jemari tangannya terus bergerak, menandakan wanita tua itu tengah berzikir.
Aku duduk bersimpuh di hadapannya. Mata sayu itu terbuka dan menatapku. "Maafkan segala kesalahanku dan Lintang, bun." Aku menggenggam jemarinya. "Maafkan aku telah membuat putri kesayangan bunda mengalami hal seperti ini. Doakan Lintang bisa melewati ini, bun."
Bunda mengelus kepalaku. "Melahirkan adalah kodratnya seorang wanita. Terkadang seorang wanita baru merasa sempurna setelah ia melahirkan dan menjadi seorang ibu."
"Bunda ridho, anak bunda mengandung dan melahirkan keturunanmu. Tapi berjanjilah, jangan pernah menyia-nyiakan dia."
Bertepatan dengan suara tangis bayi yang terdengar dari arah dalam. "Alhamdulillah." Ucap kami bersamaan.
Kami semua bisa bernafas lega, saat Lintang dan dua bayi kami sudah keluar dari ruang operasi. Lintang di bawa ke ruang rawat, sedangkan dua bayiku di bawa ke ruangan khusus bayi. Disana aku berkesempatan mengazankan mereka.
Tanganku menggendong salah satu bayi mungil itu. Air mataku menetes tanpa ku minta. Terima kasih ya Allah, telah menghadirkan mereka dalam hidup kami.
"Selamat datang ke dunia Al Nair Alvarendra dan El Nath Alvarendra." Aku berbisik pada kedua putraku.
****
Setelah beberapa jam, bayi kami bisa di bawa ke ruangan yang sama dengan Lintang. Al yang lahir dengan bobot 2500 gram dan El 2400 gram itu tampak sehat.
Aku duduk di sebelah ranjang Lintang, melihat mama dan bunda yang duduk di sofa sambil menggendong baby Al dan El.
Sora datang bersama anak-anak. Sepulang sekolah tadi, anak-anak ikut Sora ke rumah mama. Dan baru saja mereka datang. Anak-anak langsung mengerubungi si kembar.
"Dedeknya udah keluar, Zoy."
"Iya Bi," mata Zoya berbinar. "Mama hebat ya, pa. Bisa ngeluarin dedek yang lucu-lucu."
Aku tersenyum. "Zoya sama Bintang senang gak?"
"Senang dong pa."
"Caraka mau adik juga ma." Aku tertawa pelan mendengar ucapan Caraka.
"Di kodein itu, Ra. Gas kan!" Aku menggoda Sora.
__ADS_1
"Caraka mau adik perempuan atau laki-laki?" tanya Bunda.
"Perempuan uti. Kayak kakak Bi sama Zoya." Bunda tertawa mendengar jawaban Caraka.
Tapi kelucuan tingkah anak-anak harus berakhir saat ayah dan papa mengajak mereka pergi ke minimarket. Karena jika terus di dalam, khawatir akan mengganggu tidur si kembar.
Mama dan bunda meletakkan Al dan El di box mereka. "Ihh yang ini kok mirip Langit sih Kak." Ucap Sora saat menunjuk baby Al.
"Dih, apanya mirip Langit. Mirip aku begini kok." Ucapku tak terima. Enak aja mengatakan anakku mirip Langit. Untung saja Langit sedang pulang ke rumah. Jadi, aku tak melihat wajah tengilnya.
"Ih, beneran. Ya kan ma?" Sora masih ngeyel. "Hidungnya agak mirip."
"Hidungnya Lintang ini, Ra." Aku tetap pada pendirianku. Memang benar, baby Al memiliki bentuk hidung seperti Lintang.
"Lintang dan Langit kan mirip, Ra. Wajar aja kalau Al sekilas mirip sama Langit." Mama menengahi.
"Hehehe... Ku pikir karena kakak sering berantem sama Langit."
Ucapan Sora membuatku bersungut-sungut karena kesal. Aku memang sering bertengkar dengan Langit, saling mengejek, bahkan aku juga sering merepotkannya jika mengidam sesuatu. Tapi aku tetap tak terima jika ada yang mengatakan salah satu anakku mirip dia. Karena saat ngadon, tak sekalipun aku mikirin dia.
"Si kembar sudah bisa menyusu kak?" Sora bertanya pada Lintang.
"Sudah Ra. Pinter banget malah. Kayaknya si kembar kuat nyusu nih."
"Waah... kalian pinter banget ya nak." Sora kembali melihat kedua putraku.
"Kayak papanya kan, sayang?" Ucapku pada Lintang.
"Nyusunya."
Dan telingaku di tarik oleh Sora. "Aduuh, adik durjana!" Aku memegang telingaku yang terasa panas.
"Ada Bunda juga, ih. Omongan gak dijaga!" Omelnya padaku.
"Hehehe... Maaf bun." Aku garuk-garuk kepala melihat kearah bunda. Kenapa aku bisa lupa ada bunda disini.
Bunda dan mama tertawa tanpa suara. Keduanya sedang duduk di sofa.
"Kak, Al Nair sama El Nath itu artinya apa sih." Jarang banget aku dengar nama anak begitu." Sora kini juga duduk di sofa.
"Al Nair dan El Nath itu nama rasi bintang, Ra."
"Tapi jangan panggil baby Al sama El dong, mas. Pasaran banget."
"Iya kak. Biasa banget."
"Kita panggil Baby Nair sama Baby Nath aja." Lintang memberi usul.
"Terserah kalian enaknya gimana. Aku tetap manggil Al dan El."
"Dih, gak kompak." Sindir Sora.
__ADS_1
"Biarin. Anak ku ini!" Aku menjulurkan lidah.
Aku melihat ponsel yang sedari tadi bergetar karena notifikasi pesan masuk.
72 pesan dari grup kantor. Aku memilih mengabaikan ini.
30 pesan dari grup Manusia sibuk. Aku membuka isinya. Hanya beberapa pesan baru, karena sebagian adalah pesan lama yang belum sempat ku buka.
Ray : Selamat jadi bapak broo!
Sania : Welcome to the world baby Al and baby El
Sania pasti melihat storyku.
Josep : The next generation Manusia Sibuk, member udah nambah dua lagi.
Dion : Bulan depan, giliran gue yang lounching baby D. Deg-degan parah.
Josep : Satu aja gue gak selera makan-minum. Gimana mantan duda high class kita nih, duaaa bro!
Akhtar : Susah napas.
Dion : Buat gue makin down aja lu pada!
Ray : Bawa santai aja Yon.
Dion : Lu mah enak. Bini lu bidan. Pengalamannya gak di ragukan.
Sania : Bidan sih bidan. Tapi kan ini juga kehamilan pertama gue, Yon. Tetap deg-degan.
Ray : Dari pada ribut. Kuy kita nengokin baby Al, El.
Akhtar : Tunggu sampai pulang ke rumah aja bro! Biar Josep bisa bawa baby-nya.
Josep : Ide bagus, Tar.
"Oeek... oeek... oeekk." Si kembar menangis saling bersahutan. Seketika ruangan yang tadinya hening kini menjadi ramai.
Aku meletakkan ponselku, dan memperhatikan bagaimana mama dan bunda menangani si kembar agar berhenti menangis.
"Nath dulu aja yang nen, bun." Ucap Lintang berusah menerima Baby El di dadanya. Dan bayi tampan itu langsung mencari sumber kehidupannya.
"Baby Al, sabar ya sayang." Ucapku sambil mengelus pipi bayi yang masih menangis itu.
"Sekarang gantian Nair ya nak," Lintang menerima baby Al setelah baby El kenyang.
"Kamu harus belajar menyusui dua bayi sekaligus, Lin." Ucap mama.
"Iya ma, nanti setelah kondisiku membaik, aku akan belajar mencari posisi nyaman untuk dua bayi sekaligus."
Aku menatap mama dan Lintang bergantian. Tanpa ku sadari ternyata Sora memperhatikanku. "Gak usah mupeng. Puasa dua tahun!" Ucapnya di depan wajahku.
__ADS_1
Kenapa adik cerdasku selalu tau isi otakku sih!