
Satya
Sejak subuh aku sudah berangkat dari rumah menuju kediaman sang pujaan hati, bunda Una. Entah mengapa nama itu begitu terdengar istimewa. Sejak Bintang dan Zoya memanggil kami ayah dan bunda rasanya aku ingin segera menikahinya dan memiliki anak sendiri yang terlahir dari rahimnya.
Aku melaju membelah jalan yang masih lengang. Aku tiba di rumahnya dan ternyata dia sudah bersiap menunggu di teras. Om Darma dan tante Citra sedang melakukan gerakan senam di halaman rumah.
"Selamat pagi, om, tante."
"Eh, Satya. Pagi Sat. Masuk aja. Om sama tante mau jogging dulu."
"Waah, berasa masih pacaran ya om."
"Iya dong. Makin tua harus makin mesra." Tante Citra mencubit perut om Darma.
"Duluan, Sat." Keduanya berlari kecil keluar pagar.
Om Darma dan tante Citra tak ingin ikut kami berlibur. Sama seperti ibu, alasan mereka adalah tidak berani naik speedboat. Dan mbak Dini juga tidak ikut. "Saya trauma naik speedboard, Mas. Bisa-bisa saya pingsan dan menyusahkan semua orang," ucapnya kemarin malam saat aku mengantar Bintang dan Zoya.
"Mau sarapan dulu kak?" tanya Bunga saat aku sudah berada di teras rumah.
"Langsung saja, Na. Keburu siang. Sudah siap semua kan? Gak ada yang ketinggalan?"
"Perbekalan aman!" Bunga menepuk ranselnya.
Kami melaju ke rumah Lintang. Mereka semua sudah menunggu di teras rumah. Bahkan Langit dan Rara sudah disini. Aku dan Bunga segera turun dari mobil.
"Bundaaa, ayaaah." Mereka berlari memeluk kami. Entah mengapa ini menjadi kebiasaan mereka.
"Diiih, bunda, ayah? Halalin dulu bang!" Langit si tukang protes.
"Tunggu aja undangannya." Sahutku enteng.
"Tamu VVIV yak?"
"Pasti lah."
"Asyik, souvenirnya se-truk batu bara."
"Iya, buat nimbun mulut kamu yang ember."
"Buahaha... hahaha..." Akhtar tertawa lepas. "Aku bantu, Sat."
Pastilah dia mau bantu. Dia dan Langit kan musuh bebuyutan. Tapi aku heran, bagaimana mereka bisa menjalani perkerjaan sebagai atasan dan bawahan. Apakah tidak mengganggu pekerjaan? Mungkin karena mereka bersikap profesional. Totalitas dalam bekerja tanpa mencampur adukkan urusan pribadi.
"Wah, anak-anak mama couplean ya sama ayah-bundanya?" Lintang baru memperhatikan sweater yang aku dan Bunga pakai sama seperti yang Bintang dan Zoya pakai. Sweater yang kemarin Bunga pilihkan untuk kami.
Bunga tersenyum malu. "Iya kak, bagus kan kalau di foto?"
Lintang mengangguk.
"Nanti aku kirim foto keseruan kami kak."
"Harus dong."
"Semua perlengkapan mereka ada disini." Lintang menunjuk tas berukuran sedang.
Kami langsung berangkat. Aku dan Bunga duduk di depan. Bintang dan Zoya di kursi penumpang baris kedua. Dan yang paling belakang di isi oleh Langit dan Rara.
__ADS_1
Kami tiba di dermaga sekitar jam tujuh. Sesuai jadwal kami akan menyebrang ke pulau Tidung dengan menggunakan speedboat jam delapan pagi. Dan waktu satu jam kami gunakan untuk mengisi perut.
"Ini amaaaaziing." Bunga merasa takjub dengan apa yang ia lihat. Bentangan laut biru dan pasir putih tersaji dengan apiknya. Ya, kami baru tiba di pulau Tidung setelah perjalanan satu jam lebih.
"Airnya biru Zoy." Bintang tak kalah takjub.
"Om, ada ikan Nemo disini?" Bintang tanpa ragu bertanya pada tourguide kami. Aku memang memilih paket wisata satu hari pada liburan kali ini. Tak ingin repot mencari resort atau menginapan sebagai tempat bilas, ganti dan istirahat kami.
"Yaaah, sayang sekali. Disini gak ada ikan nemo." Sontak wajah Bintang berubah cemberut.
"Loh, disini gak ada nemo, mas?" Aku memang tak mencari tau apakah disini ada ikan nemo atau tidak. Aku hanya mencari tahu di sini bisa snorkeling dan melihat ikan kecil secara langsung.
"Adanya di pulau Pramuka, mas. Sebaiknya menginap kalau pergi kesana. Karena perjalanan menyebrang sekitar dua jam lebih." Aku mengangguk faham.
"Bi, maaf ya, ayah gak tau kalau nemo gak ada di sini. Kalau si kembar udah besar, kita cari tempat yang ada ikan nemonya ya. Kita ajak dedek berenang sekalian."
Bintang mengangguk lemah.
"Tapi ada banyak ikan kecil warna lainnya loh. Kalian juga bisa kasih makan ikan. Adik mau berenang sama ikan-ikan kecil?"
Bintang dan Zoya mengangguk antusias. "Oke. Nanti kita berenang sama ikan, ya."
Untung saja tourguide kami tergolong ramah dan sabar menghadapi kami semua.
Kami menyimpan barang-barang dipenginapan. Istirahat sebentar menikmati welcome drink yang termasuk dalam paket liburan.
Setelah itu kami jalan-jalan ke beberapa tempat, termasuk pantai dan jembatan cinta.
Kami sempat berfoto diatas jembatan. Hasilnya begitu bagus. Bunga, Rara dan anak-anak memakai hot pants jeans berwarna biru muda, dan tanktop serta long cardigan berwarna putih.
Aku dan langit memakai jeans selutut dan kemeja putih. Jangan tanya mengapa kami bisa kompak begini. Yeah, nyonya Una dan Rara punya kerja!
Aku tersenyum menanggapinya. "Kita coba?" Aku membuka telapak tanganku di hadapannya. Mempersilahkannya untuk menggenggam tanganku.
Dia menyambutnya sambil tertawa. Kami berjalan bergandengan. Langit dan Rara melakukan hal yang sama. Sementara Bintang digandeng Bunga, dan aku menggandeng Zoya.
Jam sebelas siang kami kembali ke penginapan, menikmati makan siang dan setelahnya lanjut ke water spot yaitu banana boat dan snorkeling, tujuan utama kami kesini.
Kami menaiki kapal untuk sampai di spot snorkeling. Semua peralatan termasuk dalam paket wisata. Jadi kami tak perlu membawanya dari rumah.
Aku dan Bunga mengawasi Zoya. Sementara Langit dan Rara memgawasi Bintang. Kami juga di pandu oleh seorang tourguide.
Kami menceburkan diri ke Laut. Anak-anak berteriak kegirangan saat ikan kecil mengerubungi mereka.
"Om, Bi boleh ambil dan bawa pulang?" tanyanya polos.
"No, gak boleh Bi. Nanti ikannya berkurang dan kasihan ikannya terpisah dari teman-temannya." Langit mencoba menjelaskan dengan cara yang mudah di fahami Bintang. Sebenarnya alasannya adalah agar tak mengurangi jumlah ikan dan agar populasinya tetap terjaga.
Kami kembali ke penginapan sekitar jam dua. Istirahat satu jam sebelum kembali ke menyebrang.
Setelah berganti pakaian. Aku, Bunga dan anak-anak membaringkan diri di atas ranjang sambil melihat foto-foto yang ku abadikan di ponselku. Langit dan Rara memilih jalan-jalan ke luar.
"Kak, anak-anak tidur." Bisik bunga.
Dan benar, anak-anak malah tertidur padahal waktu untuk kembali dua puluh menit lagi.
"Kasihan kak, mereka berdua pasti capek." Bunga mengelus rambut Bintang. Aku setuju dengan ucapannya.
__ADS_1
Bunga bangun dan berdiri di depan jendela. Menatap kearah luar. Aku juga ikut bangun, tak menyianyiakan kesempatan.
"Terima kasih telah membantu menepati janjiku pada anak-anak." Aku memeluk perut langsingnya, meletakkan daguku di kepalanya.
"Sama-sama kak."
"Terima kasih, mau memberi kesempatan pada hubungan kita." Ucapku.
"Dari dulu kak. Seharusnya dari dulu aku melakukan ini. Memberi kesempatan pada hubungan kita."
"Aku merasa kosong selama bertahun-tahun kak. Dan baru kemarin aku merasa hidupku terasa berarti."
"Kak Lintang menyadarkanku kak. Dia wanita yang disakiti saja bisa melupakan masalalu. Dia bahkan membina rumah tangga dengan kak Akhtar. Bukan kah mereka terlihat seperti bertukar pasangan?" Bunga menatapku sekarang.
Jadi semua ini karena Lintang? Terima kasih Lin.
"Sekarang kisah kita akan benar-benar dimulai kak. Meminta restu adalah tantangan terberat kita."
"Aku harap kita bisa memalui ini semua."
Aku memeluknya. "Sekali aku memelukmu maka tak ada seorang pun yang bisa memisahkan."
"Aku bahkan akan bersujud dikaki om Darma jika perlu."
Bunga, mencubit perutku. "Jangan sampai segitunya kak."
Aku tak menanggapinya lagi. Lebih memilih menghirup rambut dengan aroma sampoh yang menyegarkan.
"Bayar kamar sebelah yuk." Aku berbisik padanya.
Dia mengurai pelukan kami. Menatapku dengan alis berkerut.
"Eh tunggu," aku melupakan sesuatu. "Still virgin, kan Na?" tanyaku lembut.
Dia mencubit perutku. Sumpah! Sakit!
"Iyalah!!! Kakak fikir aku perempuan apaan ngasih begi-" Aku segera memeluknya. "Bukan begitu maksudku, Na."
"Terus???" Bisa ku pastikan bibirnya maju setengah meter.
"Waktu kita cuma sebentar, kalau masih pertama kali biasanya butuh waktu lama untuk..." belum selesai aku bicara dia kembali mengurai pelukan. Matanya memicing. Apa? Apa aku salah bicara?
"Tau dari mana bakalan lama? Ha? Kakak tau dari mana?" Dia berkacak pinggang.
Aku mengusap tengkuk. Mau jawab apa aku? "Ya, kata orang begitu, Na" jawabku agak ragu.
"Kata orang atau pengalaman kakak?" Dia sedikit berteriak. Aku melirik Zoya dan Bintang yang tak terusik sedikit pun. Anak-anak ayo bangun. Selamatkan ayah dari bunda!
"Kata orang, Na!"
"Yakin?"
"Iya!" Aku mengangkat dua jariku. "Suwer."
"Perlu aku pasang spy cam di itu kamu kak?"
"Gak perlu, Na!" Aku menggerakkan tanganku ke kanan dan ke kiri tanda penolakan.
__ADS_1
"Pasang aja, Nga! Pasang rantai kalau perlu." Teriak Langit dari arah luar.
Dasar kompor!!!