
Akhtar
Setibanya di kantor, aku menuntunya berjalan menuju lobby. Tanpa ragu ku rangkul bahunya. Berjalan dengan bangga dan cenderung pamer. Seolah wajahku ini mengatakan pada khalayak ramai. "Hei lihat nih, hasil karya ku! Isinya duuuaaaa." Tapi aku masih waras untuk tak mengatakan itu.
"Selamat pagi, Pak, Bu?" Sapa Susi. Orang yang mengantar Lintang ke ruanganku.
Aku mengangguk. "Selamat pagi, Susi." Balas Istriku.
Kami berjalan menuju lift dan sesampainya di depan ruanganku, Langit dengan wajah terkejut menyambut kami
"Ikut kak?" Sapanya.
"Heem." Tanpa basa basi Lintang langsung masuk ke ruanganku.
"Dia masih marah sama kamu." Ucapku pada Langit.
Kami berhenti di depan ruangan dan membiarkan Lintang di dalam.
"Siaga satu pak?" Ucap Langit padaku.
"Kamu fikir istriku bencana banjir." Ucapku sinis.
"Bukan begitu pak. Tidak ada yang bisa menjamin, yang mulia ratu Lintang Alvarendra tidak membuat ulah." Lebay sekali iparku ini.
"Aku dengar Lang!" Suara Lintang terdengar, kami menatap kearah pintu dan dia sedang berdiri disana dengan pintu yang terbuka setengah.
"Mau masuk atau tidak?" lanjutnya. Pintu langsung tertutup.
"Dan sebentar lagi bencana benar-benar datang." Aku menepuk bahu Langit.
Kami masuk ke dalam. Langit langsung menyalakan tv. "Nonton tv dulu kak. Sambil nyantai. Sebentar lagi OB datang, bawa teh sama cemilan. Kami harus ke ruang meeting sepuluh menit lagi." Aku dan Langit sibuk mempersiapkan berkas yang akan dibawa saat meeting nanti.
OB masuk bertepatan saat kami akan meninggalkannya. "Disini sebentar ya sayang. Meetingnya sedikit lama." Dia mengangguk.
"Terima kasih pak," ucapku pada OB yang baru saja mengantar teh untuk Lintang.
Aku dan Langit segera ke ruang meeting. Di dalam sudah berkumpul para manager dan staff serta pak Khrisna direktur perusahaan.
Meeting selama dua jam itu berjalan lancar. "Ayo Pak, kita harus segera ke ruangan sebelum singa betina mengamuk."
"Kemarin badut ulang tahun. Sekarang singa betina. Besok apa lagi Lang?"
"Dugong, may be?" Jawabnya sambil terus berjalan meninggalkanku.
Begitu memasuki ruangan, kami kompak menghembuskan nafas lega. Lintang tengah tertidur di sofa. "Syukurlah," gumam Langit. Lalu ia mendekat kearahku dan berkata, "mirip dugong kan?"
"Ipar kurang ajar!" Enak saja dia mengatakan istriku dugong. Secara tak langsung dia menyebut Lintang tengah mengandung bayi dugong. Dan aku bapaknya dugong.
"Aku belum tidur Lang?" Bibirnya bergerak walau mata indah itu tengah terpejam.
"Mampus!" Ucapku tanpa suara tepat di depan wajah Langit.
Langit menepok jidat. "Huuh. Kakakku kenapa jadi sakti gini sih. Dia hamil anak manusia atau boneka Chucky," gumamku.
"Anakku Lang! Anakku!" Ucapku geram.
__ADS_1
"Ehm pantesan. Lah bapaknya aja Jocker!" Sialan. Batinku.
"Aku dengar loh Lang!" Lintang sudah duduk di sofa. Dan suara sexy itu terdengar seperti suara petir menyambar di telinga kami.
"Maaf kak. Aku cuma bercanda."
"Ehm." Cuma Ehm. Oke tanda bahaya.
"Dimaafin gak nih?" Ucap Langit agak memaksa.
"Dimaafin, tapi ada syaratnya."
Bersiaplah Langit.
"Aku mau duduk di kursi kerja pak Khrisna!"
Langit lemas tak berdaya. Dan aku senang melihatnya seperti itu. Tapi ada kekhawatiran karena yang meminta adalah istriku. Seandainya itu permintaan orang lain, pasti aku sudah terbahak menertawakan ipar sangklekku yang satu ini.
"Gak ada yang lain kak?"
"Berani nawar?"
"Bukan gitu kak. Nanti kalau tiba-tiba ada tuduhan kalau kakak mencuri berkas atau membeberkan rahasia perusahaan gimana?" Langit ingin berdebat rupanya. Aku menyaksikan keseruan ini dengan duduk bersandar di kursi kerjaku.
"Memangnya apa yang bisa kucuri? Rahasia apa pula yang akan ku beberkan? Pada siapa akan ku beberkan." Lintang bersungut-sungut. "Berkas yang cuma kertas begitu palingan gak lebih dari seribu perak kalau dijual di pasar loak, Dek!"
"Astaga kak. Tapi bagi perusahaan itu cuan, alias duit kak."
"Anakku pasti ngences nih." Ucap Lintang lirih.
Keadaan hening, "Janji cuma duduk ya." Langit mengalah.
"Lima menit." Ucap Langit.
"Enam menit."
"Oke... Oke... Aku izin pak Khrisna dulu." Langit keluar ruangan.
Aku duduk disebelah Lintang. "Benar kamu ngidam itu, sayang?"
"Ya gak lah, duduk di kursi itu apa enaknya. Enakan juga rebahan di sofa ini." Ucapnya sambil memencet remot tv.
"Jadi yang tadi itu?"
"Biar aja Mas."
"Kamu kalau mau pulang biar dijemput supir Sayang." Sebelum kamu berulah dan merepotkan seisi kantor. Lanjutku dalam hati.
"Nanti aja. Aku belum bosan kok Mas."
Aku kerja dulu. Ku kecup keningnya dan segera berjalan ke meja kerjaku.
"Oke kak. Kata pak Khrisna sepuluh menit sebelum makan siang kita bisa kesana." Ucap Langit yang baru saja masuk.
"Thank you tamvan." Ucap Lintang penuh kelembutan.
__ADS_1
"Dih, gak usah sok manis. Gak pantes kak!"
Lintang mengangkat bahunya acuh dan bibirnya mencebik.
Sesuai janji Langit. Dia mengajak Lintang ke ruangan pak Khrisna sepuluh menit sebelum jam istirahat. "Ayo kak. Kita ke ruangan pak Khrisna." Ucapnya Langit.
Lintang diam sejenak. "Gak jadi deh."
"Lah! Kenapa?"
"Gak apa-apa. Aku kan pengennya tadi. Sekarang udah gak lagi."
Langit menepuk keningnya.
Aku mengulum senyum menyaksikan bagaimana istriku mengerjai adiknya sendiri.
Sorenya kami langsung menjemput anak-anak ke rumah orang tuaku. Tidak ada orang di dalam rumah. Dan dapat dipastikan mereka ada di halaman belakang.
Kami menyalami kedua orang tuaku. Lintang duduk diatas kursi bersama mama. Karena jika duduk dibawah, dia akan kesulitan untuk berdiri.
Papa sedang bermain bola bersama anak-anak. Aku hanya memperhatikan mereka bersama Sora.
"Sudah belanja perlengkapan bayi, Lin?" Aku mendengar mama bertanya pada Lintang.
"Belum ma," jawabnya.
"Mama temani ya," mama menawarkan diri.
"Boleh ma. Bunda juga mau ikut."
"Weeked ini yuk." Sora ikut dalam obrolan mereka.
"Kamu ikut juga Tar?"
Aku mengangguk. "Tentu, Ma."
Anak-anak berlari kearah kami dengan peluh membasahi kening mereka. "Papaaa." Aku mendapatkan pelukan hangat dari putri-putriku.
Lalu keduanya beralih mencium pipi Lintang. Dan terakhir mengecup bertubi-tubi perut besarnya.
"Dedek, lagi apa? Bobok ya." Bisik Bintang pada perut Lintang.
"Enggak Bi, dedeknya main bola." Ucap Zoya saat ia merasakan janin di perut Lintang bergerak.
"Waah, dedeknya hebat ya Zoy." Zoya mengangguk setuju.
"Nanti kalau dedeknya udah keluar, kita ajak main bola ya kek." Ucap Bintang.
"Harus dong!" Sahut papa dengan semangat empat lima.
Kami tersenyum menyaksikan itu. Bagaimana keduanya begitu kelihatan tak sabar menentikan kelahiran sikembar.
"Ma, kalau dedeknya udah keluar. Nanti perut mama diisi lagi ya ma sama dua, eh bukan dua, tapi empat dedek bayi." Bintang menunjukkan empat jarinya ke arah Lintang.
Lintang tersenyum masam. Tapi anak-anak terlalu kecil untuk memahami arti senyum itu. Senyum yang seolah mengatakan, yang ini aja belum lahir Bi.
__ADS_1
"Yeee... punya banyak adik bayi..." Kompak Zoya dan Bintang berteriak melompat lompat.
Dan kami semua tertawa melihat tingkah mereka.