
*Siapkan diri. Ini bukan kisah panasss yang kalian tunggu. Tapi cuma sekelumit adegan hangat-hangat kuku 😅😅
*Harap tinggalkan jejak kalian guys. 😚😚*
Lintang
Sekitar jam enam sore kami tiba di tempat resepsi pernikahan Langit dan Rara. Siapa sangka lahan kosong ini berubah menjadi ruangan yang didominasi bunga berwarna putih dan soft pink.
Jika ditanya mengapa tidak di rumah atau hotel atau taman? Jawabannya simple. Karena Langit juga ingin mengundang penghuni kost-an dan kontrakan. Lahan kosong ini di pilih sebab jaraknya dekat, agar tak sulit untuk sampai disini.
Jam 8 malam acara di mulai.
Semua berjalan lancar, tak ada kendala apapun. Aku bahagia melihat Langit akhirnya naik plaminan bersama gadis yang kuanggap seperti adikku sendiri.
"Cantik banget tante Rara, ma." Pujian itu datang dari Bintang. Aku sengaja menyuruhnya mengubah panggilan kakak menjadi tante. Karena sekarang Rara sudah sah menjadi istri Langit.
"Iya, kayak princess ya kan Bi?" Zoya ikut menanggapi.
Ya, Rara memang terlihat seperti princess dengan gaun pernikahan model ball gown berwarna soft blue. Gaun rancangannya sendiri.
Dan semua keindahan dan kebahagiaan yang ku lihat di malam ini menjadi seperti mimpi saat mas Akhtar yang duduk sangat dekat denganku membisikan kalimat yang membuatku kaget setengah mati.
"Kita program satu baby lagi, ya." Aku langsung menoleh untuk menatapnya. Aku tak percaya atas apa yang ku dengar. Ini... ini seperti keajaiban. Apa yang membuat tembok kokoh itu runtuh?
Dia mengangguk dan menatap ke arah plaminan. Aku mengikuti arah pandangannya. Disana keempat anakku tengah berfoto bersama Langit dan Rara.
Dia kesepian? Ku tatap wajah sendunya yang membuatku jatuh cinta, bahkan berkali-kali jatuh. "Maaas..." Aku menyentuh rahangnya.
"Kita bulan madu ke Maldives dua minggu lagi." Dia mengerling.
Aku masih terpaku di tempat. Tak peduli tengah ada diresepsi pernikahan adikku. Aku terpesona pada pria yang sudah 6 tahun hidup bersamaku.
Mas Akhtar membuka telapak tangannya di depanku. Aku segera tersadar dan menatap wajahnya. "Kita foto dulu, sayang. Terpesonanya nanti aja, ya." Dia tersenyum simpul.
Meja kami memang sudah kosong. Karena ayah bunda dan anak-anak sudah lebih dulu naik ke plaminan. Aku meraih tangannya dan mengikuti langkah kakinya menaiki plaminan.
"Kamu serius, mas?"
"Serius sayang, lusa kita lepas IUDnya ya."
Dia berucap penuh kelembutan. IUD yang kupasang sejak 3 tahun lalu.
Semoga Allah masih mempercayakan kita untuk mendapatkan titipannya, Mas.
****
__ADS_1
Langit
Resepsi berjalan lancar. Aku bahagia bisa turut merayakan kebahagian bersama semuanya termasuk penghuni kots-an dan kontrakan. Mereka seperti saudara. Aku sering mengunjungi mereka walaupun bukan untuk menagih uang sewa.
Tapi ada sedikit kekhawatiran yang ku rasa. Rara, gadis bak princess itu mengeluh kakinya terasa pegal sebab high heels yang ia pakai.
Malam pertamaku!!! Jeritku dalam hati. Akankah malam panjang ini berubah menjadi malam lelap karena sepasang pengantin yang tertidur pulas?
Resepsi selesai, kami langsung pulang ke rumah orang tuaku. Bukan hotel yang kami pilih untuk merayakan cinta. Teringat ucapan Rara beberapa minggu lalu saat kami berdiskusi untuk acara pernikahan kami.
"Aku akan melepas apa yang ku jaga selama ini, Mas."
"Aku gak rela melepasnya di kasur bekas orang lain." Senyum tipis itu masih ingin kulihat sampai aku menutup mata kelak.
"Hotel itu, hanya sekali kita datangi dan setelahnya kita akan pergi."
"Kita di rumah aja ya setelah resepsi. Kita bisa lakukan di kamar kamu, atau di kamarku."
"Kalau kedengaran orang lain gimana, sayang."
Dia memukul bahuku. "Memangnya aku mau diapain? Dicambuk? Disetrum? Atau disiram air panas?" Enteng sekali dia berucap.
Awas aja kalau kami jerit-jerit sampai tetangga pada datang, Ra.
Aku senyum-senyum sendiri mengingat perdebatan kecil kami. Aku tengah duduk di pinggir kasur dengan kaki menjuntai kebawah. Menunggu Rara yang masih bersih-bersih di dalam kamar mandi.
Suaranya menyadarkanku. "Astagfirullah." Aku meraih pingangnya, menarik tubuhnya agar menempel padaku. Aku mengecup bibirnya. "Su'udzon aja nih bibir. Dosa nuduh suami yang enggak-enggak."
Dia terkekeh. "Becanda, Mas!" Dia terus bergerak minta di lepaskan.
"Capek gak, Ra?"
Keningnya berkerut. "Pertanyaan apa itu, Mas?"
"Pertanyaan yang berisi kode rahasia."
Dia terbahak. Tapi aku segera membungkam mulutnya. Bukan dengan tangan, tapi dengan-. Ah, you know lah.
Rara menarik diri. "Jangan nyerang tiba-tiba, Mas."
"Kamu ketawanya jangan keras-keras, sayang." Bisikku.
Bukan apa-apa. Aku takut penghuni rumah mengira kami sedang main PS ditengah malam begini. Bukan main yang lain.
"Gimana?" tanyaku. Dia mengangguk.
__ADS_1
Aku mendudukkannya di pangkuanku, memulainya dengan perlahan. Tak ingin terburu-buru. Malam juga masih sangat panjang. Terlebih rintik hujan mulai membasahi bumi. Dan semakin lama hujan turun semakin deras.
Aku menuruti kemana naluri membawaku. Menyalurkan hasrat terpendam selama bertahun-tahun.
Entah mengapa ini begitu mendebarkan. Aku berhenti setelah tali piyamanya sudah terlepas. Dada putih mengintip malu di balik piyama berwarna marun itu. Sangat kontras dengan warna kulitnya.
Rara menatapku dengan mata sendunya. "Aku gugup," ucapku. Aku tertawa pelan. Menjatuhkan keningku pada tulang selangkanya.
Dia mengusap lembut kepalaku. Menekan pelan agar menempel dilehernya. Aku tahu dia juga sudah on fire dan siap bertarung.
Baiklah kita lakukan apa yang sudah kita mulai.
Aku mengubah posisi, meng*kungnya dibawah kendaliku. Membawanya ke nirwana dan kembali terhempas ke bumi.
Cengkraman kuku tajam di punggungku semakin dalam. Padahal aku belum sepenuhnya berhasil menerobos pertahanannya.
Aku berhenti dan menatap wajah berpeluh itu. Aku tahu dia menahan sakit. Bagaimana ini? Putus atau terus! Astaga! Itu judul lagu milik penyanyi terkenal dari Medan. Langit, fokus!!
"Ra..." Dia menatapku lalu mengangguk.
Baiklah. Hajar saja! Toh pemilik rumah mengizinkan.
Semakin malam bukan semakin dingin, melainkan semakin panas. Sudah entah berapa lama aku berpacu namun belum juga sampai diujung jalan. Padahal wanita yang tak gadis lagi yang kini berada didekapanku, sudah entah berapa kali melambung hingga ke titik teratas.
Setelah perjuangan panjang, akhirnya kami berhasil meledak bersama.
"Terima kasih sayang." Aku mengecup seluruh wajahnya. Menyeka peluh di kening dan pelipisnya.
Dia tertawa pelan. "Udah gak sakit lagi, hem?" tanyaku.
"Pertanyaan kode lagi, Mas?" Bisiknya.
Aku menggeleng. "Nafas aja masih naik turun, Ra! Akibat ngejar kamu." Dia pasti tau maksudku.
Rara mengecup kening, mata, pipi, hidung dan bibirku. "Terima kasih sudah menemaniku berjuang sejauh ini. Terima kasih sudah menjadi saksi bagaimana aku merangkak dan mulai berjalan dalam karierku, mas."
"Aku mencintaimu, sangat." Ini pertama kalinya Rara mengungkapkan cinta. Selama ini, dia hanya mengatakan sebuah komitmen untuk terus bersama. Mengatakan bahwa akan setia dan berusah segera lulus agar aku tak terlalu lama menunggunya.
"I love you, more." Aku berbaring di sebelahnya.
"Dua minggu lagi kita ke Maldives. Pastikan bukan tanggal kamu datang bulan." Ucapku pelan.
"Berdua?"
"Gak sayang. Rame-rame."
__ADS_1
"Laaah. Kalau rame-rame, mau datang bulan atau gak juga gak ngaruh, mas." Dia menggesekkan hidung kami.
"Kita curi waktu." Aku mengec*pnya sekilas. Lalu turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.