
Akhtar
"Ma," Zoya menyentuh pipi Lintang yang tengah tiduran miring disebelahnya.
"Ada apa sayang?" Lintang balas menyentuh pipi Zoya.
"Mama kenal mama Arum? Mamanya Zoya." Aku menatap Lintang, saat mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Zoya.
Sekarang kami tengah berada di kamar anak-anak. Selepas sholat Isya anak-anak minta ditemani tidur. Aku dan Lintang mengapit keduanya. Zoya memang belum tidur, sementara Bintang sudah terlelap dalam dekapanku.
Lintang mengangguk. "Kenal dong?" Ucapnya dengan wajah ceria.
"Kalau papa Zoya, mama pasti juga kenal?" Tanyanya antusias.
Lintang tampak bingung harus menjawab apa. Karena Lintang pernah bercerita bahwa selama ini mama Hana dan papa Bram tidak pernah memberi tahu Zoya siapa papa kandungnya. Hal ini mereka lakukan demi menghindari kebingungan anak-anak. Karena akan sangat membingungkan bagi mereka jika keduanya tau bahwa papa mereka adalah orang yang sama.
Lintang akhirnya mengangguk walau terlihat ragu-ragu.
Wajah Zoya langsung ceria, "Mama punya fotonya dong?"
Lintang menggeleng, dan wajah Zoya berubah muram. Membuat Lintang merasa bersalah, terlihat dari caranya menatap gadis kecil itu.
"Zoya, dengarkan mama nak. Sekarang papa dan mama Zoya ada disini. Mama Lintang dan papa Akhtar. Zoya jangan sedih ya, nanti mama Arum juga ikut sedih." Lintang mengelus rambut Zoya dan menyelipkan anak rambutnya ketelinga.
"Kata Oma, mama sudah di Surga ma. Surga itu apa ma?"
Lintang diam sejenak dan menatapku. "Surga itu tempat untuk orang baik yang sudah meninggal sayang. Orang yang rajin sholat, orang yang tidak melawan orang tua, yang suka menolong orang lain. Dan masih banyak lagi." Aku tersenyum mendengar jawaban Lintang.
"Papanya Bintang juga disana ma?" Lintang membelai wajah Zoya. Dan mengangguk.
"Ayo, sekarang Zoya tidur ya, jangan lupa berdoa dan doakan mama Arum juga. Semoga mama Arum bahagia di surga." Aku mengelus pucuk kepalanya. Zoya mengangguk dan berdoa. Tak butuh waktu lama, gadis kecil itu langsung terlelap.
Masih jam 8.30 malam, akhirnya kami memutuskan untuk menonton tv. Lintang datang dari arah dapur dengan membawa nampan dan meletakkannya di atas meja.
"Minum teh mas?" Dia meletakkan secangkir teh yang masih panas di atas meja. Kemudian duduk di sampingku dan membuka cup berisi salad buah.
__ADS_1
Lintang begitu menikmati, sudah entah berapa suapan potongan buah yang masuk dalam mulutnya. Aku bahkan tak mengalihkan pandanganku. Aku terus menatapnya.
"Mau mas?" Dia menawariku saat sadar aku sedang memandanginya.
Aku membuka mulut dan Lintang menyuapiku. Aku mulai mengunyah, rasa segar, manis dan asam menyatu dalam rongga mulutku. "Enak sayang. Bikin sendiri atau beli?"
"Aku beli mas. Siang tadi, waktu pulang dari kantor kamu." Lintang kembali menyuapkan ke dalam mulutnya. Dia juga membaginya denganku hingga isi cup itu habis.
"Besok aku berangkat habis subuh Lin, karena acaranya dimulai sekitar jam sembilan pagi." Ucapku padanya. Saat ini ia tengah menyadarakan kepalanya di bahuku. Dan satu tangannya ada di perutku.
"Malamnya aku menginap di hotel. Dan Pagi berikutnya langsung ke lokasi proyek." Lanjutku lagi.
"Berarti cuma dua hari mas? Gak jadi tiga hari?" tanyanya. Kini jemari kurus itu tengah menusuk-nusuk perutku. Entah apa maksudnya tapi aku menyukai tingkahnya. Aku menyukai dirinya yang manja dan bergantung padaku.
"Kalau ada masalah di proyek, aku menginap lagi. Kalau gak ada masalah serius aku langsung pulang." Aku menggenggam tangannya dan menciumnya berkali-kali.
"Ini pertama kalinya aku keluar kota setelah kita menikah. Apa aku bisa tidur tanpa kamu Lin?"
Dia menatap wajahku dan aku juga menatap wajahnya. "Aku juga merasa begitu mas?" Dia memelukku. "Belum pergi aja aku udah rindu." Dia menenggelamkan wajahnya di dadaku. Aku membiarkannya, tanganku mengelus kepalanya yang masih memakai hijab. Tapi aku merasa ada yang aneh di dadaku.
Aku menangkup pipinya dengan tangaku dan menatap wajahnya. Aku terkejut setengah mati, matanya basah hidungnya memerah. "Hei... kenapa sayang?" tanyaku panik.
"Lin? Aku ada salah sama kamu?" Aku makin panik saat air mata itu kembali menetes. "Sayang..." Aku menghapus air matanya.
"Aku ikut ya mas?" Permintaannya membuatku terkejut. Tidak biasanya dia seperti ini. Apa karena ini pertama kalinya aku meninggalkannya ke luar kota setelah menikah?
"Sayang, aku disana kerja. Kamu bisa saja ikut. Tapi kamu akan merasa bosan karena ku tinggal di hotel. Anak- anak juga harus sekolah sayang." Aku berusaha membuatnya mengerti.
"Aku usahakan hanya dua hari. Itu artinya hanya satu malam aku menginap." Dia masih bergeming.
"Kamu boleh menginap di rumah ayah. Atau minta temani Bunga, Rara juga boleh. Atau semua karyawan kamu, kecuali Asep sama Bayu." Dia masih bergeming. Tapi aku masih setia menunggu jawabannya.
Tiba-tiba dia tersenyum. "Aku mau nginap di rumah mama Riana. Di kamar kamu." Aku makin terkejut. Mengapa Lintang semakin aneh begini?
Selama menikah, kami memang tidak pernah menginap di rumah orang tuaku. Kami biasanya pergi pagi dan pulang pada malam hari.
__ADS_1
"Boleh ya?" Tanyanya. Aku mengangguk. "Tapi pergi diantar Ayah, Mang Gugun atau Mang Joko. Jangan nyetir sendiri." Ucapku padanya. Aku terkadang merasa khawatir saat ia mengendarai mobil sendiri.
Mang Joko dan Bi Imah adalah suami istri yang bekerja dirumah kami. Bi Imah adalah adik Bi Inah, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah ayah.
"Siap Bos!" Dia memberi hormat. Aku mengecup keningnya. Moodnya bisa berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam hitungan menit. Dan ini membuatku terheran.
***
Aku terbangun, kulihat jam di nakas. "Masih jam tiga pagi," gumamku. Aku memejamkan mata lagi namun rasa mual menderaku. Perutku terasa diaduk aduk. Aku langsung berlari ke kamar mandi. Dan memuntahkan isi perutku di wastafel. Namun tak ada apa-pun yang keluar.
"Hoekk... hoekk." Aku berusaha mengeluarkan isi perutku. Namun tak bisa.
"Mas!" Lintang dengan wajah panik sudah berada di sebelahku. Memijat tengkukku. "Kamu kenapa mas?"
Aku kembali merasa mual. "Hoekk... hoekk." Aku berkumur dan membasuh wajahku. "Masuk angin kayaknya." Aku lemas, dan langsung bersandar di dinding.
Lintang memapahku sampai ke tempat tidur. "Aku buatkan teh sebentar." Dia segera keluar dari kamar.
Tak lama, dia sudah kembali dengan secangkir teh di tangannya. "Minum dulu mas."
Aku meminum teh buatannya. Rasa hangat langsung memenuhi rongga perutku. Aku kembali berbaring dan Lintang membalurkan minyak kayu putih di perutku.
Setelah subuh, pak Khrisna dan supir pribadinya menjemputku. Aku tetap pergi, karena sudah merasa lebih baik. "Kalau masih sakit, jangan di paksa mas?" Ucap Lintang saat aku sedang bersiap.
"Aku sudah baikan kok sayang." Aku mencium keningnya. "Hati-hati dirumah sayang, jangan terlambat makan. Nanti ku telpon mama kalau kamu dan anak-anak akan menginap." Lintang mencium punggung tanganku.
"Hati-hati mas!" Ucapnya saat aku masuk ke mobil pak Khrisna. Demi mengejar waktu, pak Khrisna sengaja tak turun. Hanya menyapa Lintang dari dalam mobilnya. Kami segera pergi ke tempat tujuan. Di dalam mobil aku hanya memejamkan mata, demi mengurangi rasa mual dan pusing.
"Kamu sakit," Pak Khrisna bertanya padaku.
Aku menegakkan duduk. "Maaf ya pak. Saya sedang kurang sehat." Ucapku merasa tak enak.
"Tidak apa-apa Tar. Istirahat dulu, perjalanan kita masih panjang." Syukurlah pak Khrisna mengerti kondisiku.
Aku kembali menyandarkan kepalaku dan memejamkan mata. Aku juga terus menghirup aroma minyak kayu putih yang Lintang bawakan. Dan ini berhasil sedikit mengurangi rasa mual.
__ADS_1