Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Pengumuman Novel Baru


__ADS_3

Hai... hai.... readers semuaaaaa 😍😍😍😍😍


Author mau promo novel baru nih 😚😚


Semoga suka yaaa...


Silahkan di intip dan di Fav 💜 dulu, karena sampai akhir bulan hanya akan up 1 episode sehari...


Dan awal bulan depan, insyaallah akan up 1-2 episode sehari, sesuai target 60 bab sebulan 🤗🤗 Doakan emak sanggup yaaaa 😊


Ini nih cuplikannya...




Cuplikan Bab 1 😚


Seorang gadis berlari sambil menangis di halaman sebuah rumah sakit ternama di kota itu. Sebuah panggilan masuk beberapa menit lalu saat ia tengah berada di kantor membuatnya terburu-buru menuju rumah sakit.


Dialah Alova Bratadikara, seorang gadis yang baru 3 bulan diangkat sebagai CEO di perusahaan ayahnya sendiri. Ia ditemani oleh mantan asisten pribadi ayahnya yang kini menjadi asisten pribadinya di perusahaan.


"Ken, kita kemana?" Tanyanya panik pada Asisten pribadi yang berjalan tak kalah cepat darinya.


"Tenanglah, Bu!" Ken menarik tangan Lova dan membawanya menuju sebuah kursi untuk menunggunya mencari informasi ke meja resepsionis.


"Tunggu disini, saya akan mencari informasi mengenai Pak Brata." Lantas secepat kilat pria berjas rapi itu meninggalkan Lova yang terus menangis senggugukan.


Ia mendapat kabar dari salah satu pekerja di rumahnya bahwa Brata, ayahnya tak sadarkan diri diduga karena keracunan.


Beberapa bulan belakangan, kondisi ayahnya memang semakin memburuk. Tekanan darah yang selalu diatas normal, hingga kaki yang sulit di gunakan untuk berjalan. Setiap hari Brata harus mengkonsumsi obat-obatan resep dari dokter pribadi. Alova bahkan mempekerjakan seorang perawat pribadi untuk mengurus ayahnya.

__ADS_1


Kondisi kesehatan yang semakin menurun membuat Brata menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan pada putrinya.


"Bu, Bapak sedang di tangani dokter Nugroho, dokter pribadinya." Ken duduk di sebelah Lova dan berusaha menenangkan bosnya.


"Ken, bisakah kamu pulang dan cari tau kenapa Ayah sampai mengalami keracunan." Pinta Lova pada Ken yang usianya 5 tahun lebih tua darinya.


Ken lumayan bisa diandalkan. Pria itu sudah bekerja dengan ayahnya hampir tujuh tahun. Ken juga sudah terbiasa keluar-masuk rumah besar Bratadikara. Ken orang ke dua yang di hormati di rumah itu setelah Pak Brata.


"Baiklah. Saya akan segera pulang." Ken bersiap berdiri. "Saya akan minta Nur untuk menemani anda disini. Nur sedang mondar-mandir di IGD karena panik."


Ken berjalan menjauh dari Lova. "Ken...!" Lova memanggil Ken saat pria itu sudah berjalan beberapa langkah. Pria itu berbalik.


"Aku mengandalkanmu!" Lova menghapus air matanya. Harapannya hanya Ken. Pria yang bisa mengungkap dugaan bahwa seseorang telah berusaha meracuni ayahnya.


"Saya akan melakukan yang terbaik, Bu!"


****


Bundanya sudah meninggal puluhan tahun lalu karena kecelakaan. Kakak laki-lakinya juga meninggal di saat yang sama. Sementara Lova selamat dari kecelakaan itu.


"Ayah, jangan tinggalkan Lova sendirian, Yah. Lova sendirian, Yah. Lova tidak punya siapa-siapa lagi."


Puas menumpahkan tangisnya, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan sepi yang hanya di terdengar suara alat-alat medis yang terpasang di tubuh ayahnya.


"Ayah cepat bangun, Yah. Lova menunggu ayah membuka mata." Ia mencium kening penuh kerutan itu. Ia keluar dari ruang ICU dengan langkah lemah.


Ia menghela nafas berat. "Nur, kamu pulanglah." Perintahnya pada perawat ayahnya yang setia menemaninya. Wajah wanita 24 tahun itu tampak pucat, ia menangis dan ketakutan karena dialah yang mengurus semua makanan dan minuman Pak Brata.


"Non..." Nur berlutut di kaki Lova. "Demi Tuhan, Non, bukan saya yang memasukkan racun ke makanan dan minuman Bapak." Gadis itu terisak. "Saya... sendiri yang memasak makanan itu dan memastikan semuanya aman, Non." Ini kali entah keberapa Nur memohon pengampunan pada Lova.


"Bangun lah, Nur!" Lova memintanya untuk bangun. Ia dan Nur duduk bersebelahan. "Saya tidak bisa menghukum kamu ataupun memaafkanmu karena saya belum mengetahui kebenarannya."

__ADS_1


"Kelak, kalau saya sudah punya bukti, saya akan menghukum orang tersebut."


"Tapi... tuduhan akan mengarah pada saya, Non?" Tangannya bergetar, ia ketakutan karena kalau sampai ada bukti yang mengarah padanya ia akan di hukum oleh Lova.


"Kalau kamu tidak salah, kamu tidak perlu takut."


"Sekarang, pulanglah!"


Sepulangnya Nur, Lova menunduk lemas. Mengapa ia bisa kecolongan begini? Kenapa Ayahnya sampai bisa menjadi bahan percobaan pembun*uhan?


Dokter mengatakan memang ada racun yang masuk ke tubuh Ayahnya. Tidak mematikan, hanya saja kemungkinan besar membuat ayahnya lumpuh dan ingatannya melemah.


Tuhan, ku mohon petunjuk-Mu!


Lova menengadahkan kepala saat melihat sepatu mengkilap ada di depannya. "Ken?"


Benar saja. Pria berwajah dingin itu berdiri dihadapannya. "Bagaimana, Ken?" Lova segera berdiri berharap Ken membawa kabar baik.


"Duduk dulu, Bu."


Ken dan Lova duduk di kursi tunggu. Ken melihat kanan dan kiri. Ia mencoba melihat situasi. Ia takut ada orang yang mendengar obrolan keduanya.


"Saya sudah menyelidiki bahkan mengambil sample makanan dan minuman di rumah."


"Semua aman!"


Love menghela nafas. "Tidak ada jejak sedikitpun, Ken?" tanyanya dengan nada lemah.


Ken menggeleng. Lova memijat keningnya. Bagaimana mungkin bisa semulus ini.


Selengkapnya, cuss kesana yuk 😚 emak tunggu yaaa 😚😚😚

__ADS_1


__ADS_2