
Lintang
Pagi ini rumah kami sudah sangat ramai. Karena hari minggu ini akan diadakan acara syukuran tujuh bulan kehamilanku.
Aku sedang berada di dalam kamar. Baru saja selesai memakai make up tipis agar terlihat lebih fresh. Aku mengenakan gamis berwarna putih, selaras dengan kurta putih yang dipakai mas Akhtar.
Ceklek..
Suara handle pintu yang terbuka. "Mbak, sudah siap belum? Tamunya sudah mulai berdatangan." Rara masuk dan mengambil posisi di sebelahku.
Aku menoleh ke arahnya. "Sudah. Baru aja Ra." Aku hendak berdiri tapi Rara menahanku.
"Rara mau kasih kabar gembira mbak." Aku mengernyit.
"Rara di terima kuliah mbak." Aku langsung menariknya dalam pelukan. "Terima kasih mbak. Sudah banyak membantu."
"Selamat Rara. Yang beasiswa?" Dia mengangguk. "Iya mbak."
"Alhamdulillah. Nanti mbak bicara soal pekerjaan kamu ya! Jaga kesehatan karena setelah ini jadwalmu akan padat." Aku akan segera membahas ini dengan papa mertuaku. Aku juga akan memerintahkan Anna untuk mencari karyawan baru untuk menggantikan Rara.
"Sekali lagi terima kasih banyak sudah mendukungku sejauh ini, Mbak."
"Belajar yang rajin. Langit menunggumu. Dan jangan minder lagi ya?" Dia tersenyum malu, wajahnya bersemu.
"Langit mencintaimu, bahkan saat kamu tidak melanjutkan kuliah dia tetap menerimamu. Tapi mbak tahu, kamu ingin memiliki masa depan yang lebih baik."
Rara mengangguk. "Kita gak pernah tau kedepannya akan seperti apa. Rara hanya takut jika suatu saat bernasip sama seperti mbak Lintang atau kak Anna." Nasipku dan Anna memang nyaris sama. Hanya saja mantan suami Anna masih hidup.
"Naudzubillah Ra. Cukup kami yang merasakannya." Ucapku menggenggam tangannya. Aku tak ingin siapapun merasakan kepahitan seperti yang kurasakan dulu.
"Ayo mbak. Kita turun." Rara menggandeng tanganku terlebih saat kami menuruni anak tangga.
Sebelum ke depan aku menyempatkan diri untuk ke dapur. Melihat mama dan bunda mempersiapkan nasi kotak untuk para tamu bersama bi Imah dan yang lainnya.
Lalu berjalan ke depan untuk menyambut tamu yang datang bersama mas Akhtar. Selain kerabat dan sahabat, kami juga mengundang anak yatim dan ustadz untuk mengisi acara.
Acara berjalan lancar, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Quran, ceramah singkat, zikir, do'a dan terakhir berbagi dengan anak yatim.
"Alhamdulillah. Semua berjalan lancar." Ucapku saat acara telah selesai dan hanya menyisakan keluarga terdekat. Aku juga mengucapkan terima kasih pada mereka yang telah banyak membantu.
"Kamu jangan kelelahan Lin. Mulai sekarang, anak-anak akan pulang bersama Sora. Sora akan mengantar mereka kesini." Ucap mama Riana.
"Iya ma, maaf kalau merepotkan Ra."
"It's oke kak. Caraka pasti senang pulang bareng kakak-kakaknya."
"Sudah siapkan nama Tar," tanya papa mertuaku.
__ADS_1
"Sudah ada beberapa nama, pa. Tapi belum kami putuskan karena kami juga tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya," jawab mas Akhtar.
Dan obrolan terus mengalir, membahas dari penting hingga yang tidak penting.
"Loh, Rara belum balik bun?" Aku melihat sekilas, tampak Rara baru saja berjalan dari dapur menuju pintu keluar membawa beberapa gelas minuman.
"Mereka sedang di gazebo sama anak-anak." Jawab Bunda.
"Aku kesana sebentar ya bun, ma." Aku berjalan kearah dapur, lalu keluar dan langsung menuju gazebo.
Rara dan Bintang sedang mewarnai, sedangkan Zoya hanya melihat saja. Di sebelah mereka ada Langit yang sedang tidur telentang sambil bermain game di ponselnya.
"Gambar apa Bi?" Tanyaku.
Ketiganya kompak melihat ke arahku. "Ini ma, tante Rara gambar gaun barbie. Bi cuma bantu mewarnai." Bintang menunjukkan gambar sebuah gaun yang sudah selesai diwarnai.
"Wah, bagus sekali Ra." Gadis itu tersenyum malu.
"Baru belajar mbak."
"Kamu ambil jurusan fashion desain Ra?"
Rara mengangguk. "Iya mbak. Dari kecil aku punya keinginan untuk buka butik."
"Wah... bagus dong! Ayo Lang, dimodalin calon istrimu."
"Butik doang mah gampang. Beresin dulu kuliahnya." Ucap Langit tanpa mengalihkan mata dari layar ponselnya. "Terus nikah sama aku."
Aku mencubit perutnya. "Itu mah maunya kamu Lang!" Aku mencibirnya.
"Laah, kan emang dari awal aku maunya nikahin dia. Mbak malah akal-akalan suruh dia kuliah. Mana pake beasiswa lagi. Nunggu empat tahunan kan jadinya." Ucapnya kesal. "Keburu aku tua."
"Kuliah juga kemauanku mas." Rara ikut berdebat.
"Anak-anak kedalam dulu ya, tunjukin gambarnya ke uti sama nenek." Aku memerintahkan Bintang dan Zoya untuk masuk kedalam. Karena ku yakin perdebatan ini akan panjang.
Langit meletakkan ponselnya, lalu duduk menghadap Rara. "Kan bisa kuliah setelah menikah Ra."
"Kalau aku hamil bagaimana, Mas."
"Kalau kamu gak mau hamil, kita bisa menundanya. Atau kamu hamil dan melahirkan dulu baru setelah itu baru daftar kuliah." Perdebatan semakin sengit.
Rara berkaca-kaca. "Tau ah." Rara mengumpulkan pensil cat kedalam kotaknya. Sepertinya dia enggan berdebat lagi.
Aku menghela nafas. "Kamu cinta sama dia Lang?" Tanyaku sungguh-sungguh.
"Cinta lah, kalau enggak buat apa aku mau nikahin dia."
__ADS_1
Benar juga. Batinku
"Kalau cinta tunggu dia!" Ucapku tegas. "Tunggu sampai dia lulus dan meraih cita-citanya."
"Dia cuma takut bernasip sama sepertiku dan Anna. Dan jika suatu saat dia bernasip seperti kami, setidaknya dia sudah berbekal ilmu untuk bisa melanjutkan hidup," lanjutku.
Aku mencoba membuat Langit mengerti. Karena kadang perempuan berfikir jauh kedepan, bagaimana jika suatu saat ditinggalkan? Bagaimana jika suatu saat suami tidak memiliki pekerjaan?
Ck... Langit berdecak. Entah mengapa kali ini dia sangat keras kepala. "Itu gak akan terjadi kak."
"Harus! Itu memang harusnya tak terjadi pada Rara! Karena kalau sampai itu terjadi siap-siap berhadapan denganku." Ancamku padanya.
Langit mencibir dan kembali mengambil posisi telentang. "Sebenarnya adik kakak siapa? Aku atau Rara!"
"Kalian sama. Keduanya adikku."
Kami diam sesaat.
Langit kembali mengambil posisi duduk. "Kamu boleh kuliah. Tapi kita tunangan dulu, ya." Suaranya melembut sekarang. "Awas kalau kamu kepincut mahasiswa ganteng disana."
Astaga, ternyata Langit cuma takut Rara berpaling. Ah, sweet sekali adikku ini.
"Terima kasih mas!" Rara langsung memeluk Langit.
Aku menjewer telinga keduanya. "Aduuuh... sakit mbak!"
"Sakit kak." Langit memegangi telinganya.
"Bukan muhrim. Jaga jarak aman!"
"I...ya... iya..." Langit bersungut-sungut.
"Ada orang aja berani peluk. Gimana gak ada orang!"
"Beeght... langsung cip*k." Ucapan Langit membuatku melotot.
"Eh... enggak mbak, gak pernah suweer." Rara mengacungkan dua jarinya.
"Sekarang belum, besok-besok gak janji Ra." Langit lagi-lagi membuatku melotot.
"Kamu bikin suasana makin keruh, Mas!" Rara cemberut.
"Buat anak sekalian yuk! Biar langsung nikah." Ketengilannya makin menjadi.
Aku berdiri hendak meninggalkan mereka. "Berani kamu buat begitu. Habis itu kamu kakak kulitin."
Langit bergidik ngeri. "Dih kejam banget badut ulang tahun!" Cibirnya.
__ADS_1