Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Bab 46 Umpan besar


__ADS_3

Akhtar


Aku duduk tertunduk di lantai dingin di ruangan berukuran 3 × 2,5 meter. Aku sedang di tahan pihak kepolisian karena menjadi tersangka kasus pembunuhan.


Bagaimana mungkin aku membunuh mereka. Aku menatap kedua tanganku. Aku tak pernah menduga ini. Aku bahkan tak ingat apa yang terjadi padaku malam tadi. Namun, pihak kepolisian memiliki bukti.


Dan aku harus punya bukti yang lebih kuat untuk mematahkan bukti yang polisi temukan. Langit, keluarga dan teman-temanku baru saja pulang. Aku berharap mereka bisa menyelesaikan semua ini.


Huuft! Aku mengembuskan nafas perlahan. *S*emoga semua cepat selesai. Lintang, maafkan aku membuatmu khawatir. Sabar lah sayang aku akan mengakhiri semua ini.


Hal ini berawal dari kejadian aneh malam tadi. Saat baru selesai makan malam, seseorang mengirim pesan singkat padaku.


[Temui aku jam 10 di jalan xxx jika ingin keluargamu aman dari teror]


Oke. Ular itu sedang memancingku sekarang. Orang yang kerap kali meneror rumah bahkan anak-anak juga kena imbasnya. Aku mempersiapkan segala sesuatunya. Menyusun strategi sedetail mungkin. Agar tak kalah dari pecund*ng itu.


Aku berangkat setelah Lintang tidur. Aku sengaja tak memberi tahunya. Hanya menulis pesan di kertas. [Aku keluar sebentar]


Aku menuju alamat yang dikirim orang tersebut. Namun aku tak menemukan siapapun. Ini jebakan! Pikirku.


Saat hendak membuka pintu mobil, seseorang memukul tengkukku dan aku tak sadarkan diri.


Dan seseorang membangunkanku sekitar jam satu dini hari. Mengetuk kaca mobil berkali-kali. Seketika aku bangun dengan kepala pusing luar biasa. Aku terkejut, melihat kendaraanku menabrak pohon di pinggir jalan yang sepi.


Ya Allah, apa yang terjadi.


Aku segera pulang. Banyak pertanyaan muncul di benakku. Kenapa orang itu tidak membunuhku? Jika dia hanya perampok, mengapa tak ada harta bendaku yang hilang?


Aku akan memeriksanya nanti.


Syukurlah mobilku masih bisa menyala. Aku langsung pulang ke rumah, mendapati Lintang dan anak-anak tengah menangis di ruang tamu.


"Lin. Ada apa sayang!" Aku berlari menghampiri mereka.


"Kamu dari mana mas?" Dia terlihat panik. "Tante Hana dan Om Bram." Dia kembali menangis. "Baru saja Bi Jum menghubungiku." Oke. Bi Jum salah satu asisten rumah tangga di rumah papa Bram.


"Om Bram dan Tante Hana diserang seseorang, dan mereka sedang dibawa kerumah sakit." Lintang terus menangis.


Kepalaku semakin pusing. Aku menghubungi mama, meminta mama untuk datang ke rumah. Saat mereka sudah sampai, aku dan papa segera ke rumah sakit.


Papa Bram dinyatakan meninggal dengan enam luka tusuk di perutnya. Dan mama Hana belum sadarkan diri karena benturan keras di kepala.

__ADS_1


Siang tadi, dari pemakaman aku langsung kembali ke rumah duka. Kami berkumpul ruang keluarga yang sedari malam tadi telah dibentang karpet berwarna hijau tua.


Lintang dan anak-anak sedang ke minimarket membeli es krim. Dia memang harus menghibur Zoya. Anak itu sangat terpukul.


Disini ada Bibi Heni, suaminya-paman Dipo, anak-anaknya- Ferdy dan Sintya. Bibi Heni adalah adik kandung mama Hana. Mereka tiba subuh tadi. Mereka langsung mengambil penerbangan pertama dari Kalimantan.


Dan ada seorang pria yang sedari tadi tak henti meneteskan air mata. Aku sudah menyapanya saat dia baru tiba tadi pagi. Dialah Satya. Anak angkat papa Bram dan mama Hana.


Aku sudah tak pernah bertemu dengannya semenjak perpisahanku dan Arum. Dia berdomisili di Kalimantan, menjadi orang kepercayaan papa Bram untuk mengurus tambang batu bara dan sebuah pabrik kelapa sawit di sana.


Aku duduk termenung, apakah mereka sudah berfirasat ini akan terjadi hingga secara pribadi menitipkan Zoya pada kami? Lalu, siapa pelaku pembunuhan ini? Apa motifnya?


"Sat, mau kemana?" Aku bertanya saat melihat Satya berdiri dan menyambar kunci mobil yang tergeletak di depannya.


"Mau ke ibu sebentar." Dia akan kerumah sakit melihat keadaan mama Hana yang belum sadarkan diri sejak malam tadi.


Aku kembali menghapus air mataku, mengingat setiap kejadian yang berlalu begitu cepat.


Dan tiba-tiba polisi datang meringkusku. Mambawa paksa diriku ke kantor polisi. Mama sampai memegangi tanganku, tak terima melihatku dibawa paksa.


Polisi mengatakan, aku menjadi tersangka atas penyerangan papa Bram dan mama Hana. "Anak saya tidak mungkin melakukan ini Pak!" Mama histeris melihat tanganku di borgol.


Jadi ini jebakannya! Pikirku.


"Maass!" Lintang terlihat bingung melihat tanganku terborgol dan digiring polisi.


"Jaga diri dan anak-anak. Ini gak akan lama sayang." Aku menatap satu persatu orang disana. Seolah berpamitan pada mereka.


"Mas!" Mama menahan Lintang dan memeluknya. "Mas Akhtar kenapa ma?"


"Ma, titip Lintang dan anak-anak."


Lintang terus meronta dan anak-anak histeris. "Papaaa... Kakek tolongin papa... papa..." Bintang menarik-narik tangan papa.


"Papaaa..." teriak Zoya saat tubuh mingilnya di pegangi oleh bik Jum.


Papa tak sanggup melihat ini Bi. Tapi papa lebih tak sanggup lagi melihat hidup kalian penuh ketakutan. Kita harus bebas nak. Bersabarlah sebentar saja. Hatiku tercabik melihat Bintang dan Zoya yang histeris.


Aku langsung masuk ke dalam mobil polisi. Tak kuat melihat tangis mereka.


Aku diijinkan untuk menghubungi pengacara dan orang-orang yang bisa membantuku.

__ADS_1


Aku menghubungi Langit dan Ray.


"Beri pengertian pada Lintang! Jangan sampai ini berpengaruh pada janinnya." ucapku pada Langit saat aku menghubunginya.


"Nekat lo Tar! Udah gue bilang, umpan lo terlalu besar!" Ray merepet tak jelas saat menerima teleponku.


"Kita belum tau, lawan kita kakap atau gurita atau bahkan sekawanan hiu! Sialan! B*go baget sih Tar!" Dia memarahiku habis-habisan.


***


"Kasus apa bang?" Aku tersentak dari lamunan. Seorang tahanan duduk di sebelahku.


Aku menatap pria cungkring itu. Sepertinya dia masih remaja. "Pembunuhan." Jawabku singkat.


Dia bergerak menjaga jarak. Aku menyeringai. Kenapa? takut lo!


"Ya-kin bang? Gak ada tampang pembunuh gini?" Dia menelisik wajahku.


"Kamu kasus apa?" tanyaku tanpa mempedulikan tatapannya.


"Ketangkep lagi antar pesanan." Jawabnya acuh.


"Narkoba?"


Dia mengangguk. "Terpaksa bang, baru dua kali juga. Adikku sedang butuh biaya untuk operasi usus buntu." Dia menekuk lutunya keatas dan duduk bersandar di dinding.


"Sekarang sudah dioperasi?" Aku bersimpati.


"Sudah meninggal bang, tadi siang." Matanya berkaca. Dia menatap ke atas agar air matanya tak luruh.


Ya Allah, Batinku.


"Dijebak?" tanyaku.


Dia mengangkat bahu. "Setelah ini bagaimana?" tanyaku penasaran.


"Biar aja busuk disini. Adikku satu-satunya sudah tiada. Hidup pun percuma."


Aku menatapnya iba. "Siapa nama kamu?"


"Gio bang!"

__ADS_1


Aku mengulurkan tangan agar ia jabat. "Akhtar." Dan dia menjabat tanganku.


__ADS_2