Aku Dan Bintang

Aku Dan Bintang
Terjerat Pesona Janda Muda


__ADS_3

Panjang lebar Bintang menceritakan awal dirinya bertemu dengan Safira, sampai cerita bagaimana dia menemukan surat lamaran pekerjaan Safira karena keteledoran Widodo.


"Oh, berarti kamu memutuskan untuk menjadi pengagum rahasia ku setelah melihat penampakan aku saat kalian rapat online?" Kepala Safira mengangguk angguk coba memahami dan mensingkronkan cerita Bintang dengan kejadian beberapa bulan yang lalu di rumah ini.


"Apa aku cantik banget saat itu? Padahal kan waktu itu kayanya aku baru bangun tidur,," Ingatan Safira kembali ke waktu kejadian itu.


"Cantik, tapi ya ga pake banget juga !" Bintang berdiri dan menuju bagasi mobilnya, menurunkan sebuah koper dan membawanya kedalam.


"Kenapa nurunin koper? kamu mau nginep disini ?" Panik Safira, dia tak membayangkan kalau harus satu atap dengan bos menyebalkanya itu.


"Bukan nginep, tapi tinggal disini ! lagi pula ini rumah ku, apa salahnya ?" Bintang membawa barang bawaanya menuju kamar pojok yang selalu terkunci itu.


Safira hanya memandang lesu punggung Bosnya, sambil menghela nafas panjang.


Tak dapat di bayangkan akan semenderita apa dia satu rumah dengan Bos otoriternya itu.


Tentu saja tak akan ada kata libur kerja, setelah pekerjaan di kantor, di rumahpun pasti bos nya tak akan berhenti memberinya perintah.


' Semangat Safira...! kamu pasti bisa...! ' Safira menyemangati dirinya sendiri.


***


Seharian, Safira yang tak jadi menemani Bintang ke kantor, hanya menghabiskan waktunya di kamar yang dulu ditempatinya bersama Dara. Tanpa di sadari dia tertidur, dan saat dia bangun, jendela kamar yang terbuka lebar memperlihatkan langit yang sudah menghitam.


' Ah, sudah malam ternyata, lama sekali aku tertidur ' Bisik Safira.


Safira berjalan menuju jendela kamar yang terbuka lebar, dia ingin menutupnya, tapi, segera dia urungkan niatnya, karena jendela yang menghadap ke arah sebrang rumah itu menampakan pemandangan dimana saat itu Wisnu sedang menutup gerbang rumahnya, terlihat sebelum masuk ke dalam mobilnya, dia menatap sayu ke arah rumah dimana dirinya berada.


' Oh,, Tuhan... kuatkan hamba,, di dalam rumah aku harus menghadapi bos arogan, dan di luar rumah harus menghadapi mantan suami dan pasangannya yang menyebalkan ! '


Safira segera turun ke lantai bawah, karena perutnya sudah berbunyi minta di isi.


Begitu sampai di meja makan, matanya berbinar melihat banyak makanan tersusun rapi di sana, tak ketinggalan Bintang yang juga sedang duduk dengan rapi di sana.


" Kemari, temani aku makan !" Ajak Bintang yang lebih terdengar seperti sebuah perintah.


" Emh... silahkan duluan saja, aku makan nanti, nunggu Dara pulang." Safira mencoba menolak karena dia masih merasa canggung, walaupun perutnya sangat lapar saat ini.


Entah mengapa Safira masih saja merasa canggung meski ini bukan pertama kalinya mereka makan berdua, padahal mereka bahkan sudah sering makan berdua.

__ADS_1


" Aku tidak mau di bantah ! lagi pula Dara sedang menemani pacarnya lembur, mungkin baru pulang tengah malam, tadi dia mengabari ku, katanya beberapa kali menelpon kamu, tapi tak di angkat." Bintang dengan wajah datarnya.


" Mungkin tak terdengar, karena tadi aku ketiduran." Safira duduk berhadapan dengan Bintang.


" Aku harap kamu jangan bersikap kaku seperti itu, kita akan tinggal di satu rumah selama pengerjaan proyek, dan satu lagi,,, jangan lupa kamu calon istriku, !" Bintang tersenyum smirk.


Hampir saja Safira melupakan hal itu, dia harus berperan sebagai calon istrinya Bintang gara gara ucapan cerobohnya waktu itu.


"Hmmm calon istri pura pura" Cicit Safira sangat pelan, takut bosnya mendengar apa yang dia katakan.


***


Pagi itu, hari pertama Safira kerja sebagai asisten pribadi Bintang menggantikan tugas Alan, sedikit banyak Safira sudah menguasai apa saja yang harus di lakukan dalam mendampingi bosnya, tentu saja itu berkat Alan yang hebat mengajarinya dalam waktu yang singkat.


Jangan di kira Pekerjaan Alan sekarang berkurang karena tak harus menemani dan membantu pekerjaan Bintang di kantor cabang karena sudah di gantikan Safira, sekarang dia malah sedang kelimpungan karena harus menggantikan semua tugas Bintang di kantor pusat.


Bintang yang sudah terjerat pesona Safira si janda muda itu dengan seenaknya meninggalkan tugas tugasnya di ibukota lalu melimpahkannya pada sang asisten yaitu Alan,


itu semua Bintang lakukan demi agar dia bisa dekat dengan Safira, yang masa trainingnya sudah selesai dan harus kembali ke kantor cabang. Kebetulan pembangunan apartemen disana juga bisa di jadikan alasan untuk semakin dekat dengan Safira.


Walaupun sebenarnya bisa saja dia mempertahankan Safira tetap bekerja di kantor pusat.


Bintang hanya mengangguk sekilas dengan wajah tanpa ekspresinya, beberapa karyawan terlihat penasaran dengan sosok Safira, wanita cantik yang mengekor di belakang Bos besarnya.


" Aku tak suka kamu mengumbar senyum tadi !" Ketus Bintang saat mereka sampai di ruangan kerjanya,


" M-mengumbar senyum ? maksud Anda?" Safira tak mengerti apa yang di maksud bosnya.


" Iya, tadi kamu mengumbar senyum mu pada seluruh karyawan yang kita temui, termasuk karyawan karyawan pria, aku tak suka kamu bersikap genit seperti itu.!" Bintang uring uringan karena menurutnya Safira kecentilan tersenyum pada beberapa karyawan pria yang di lewatinya, sukses membuat mood Bintang langsung buruk pagi itu.


" Genit ? Oh, Astaga, bos,,, aku cuma bersikap ramah, itu saja ! sebagai karyawan baru disini..." Safira membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang di pikirkan Bintang.


" Tak perlu beramah tamah ! Kamu bukan cuma asisten pribadiku saja disini tapi juga calon istriku, ingat itu. Jadi jangan coba coba tebar pesona dengan karyawan pria disini."


Safira hanya menghela nafas dalam dan panjang seraya berkata pada dirinya,


' Sabar,,,, Safira, sabar,,, ' sambil menepuk nepuk dadanya sendiri.


Tok,,, tok,,, tok,,,

__ADS_1


Setelah bunyi ketukan pintu, munculah beberapa orang karyawan yang membawa satu set meja dan kursi kantor ke dalam ruangan.


" Letakan disana !" Perintah Bintang, menunjuk tempat yang tak jauh dari meja kerjanya.


Meja dan kursi yang baru di masukan selesai di tata dengan rapi, letaknya tak jauh dari meja kerja Bintang.


" Ini...?" Tanya Safira.


" Meja kerja mu,!" Singkat Bintang masih dengan nada ketusnya.


Safira yang malas berdebat dan meladeni bosnya yang moodnya sedang jelek itu, hanya menuruti saja apa yang di perintahkan Bintang padanya, dia duduk di tempat yang itu tanpa bantahan dan memulai pekerjaannya, mengatur jadwal Bintang, membantu memeriksa dokumen, menemani meeting, termasuk membuatkan Bintang kopi, dan menemaninya makan siang.


Seminggu berlalu, Bintang dan Safira sibuk dengan pekerjaan yang seakan tak ada habisnya, hari harinya hanya di habiskan untuk meninjau proyek pembangunan apartemen, meeting dwngan klien, dan masih harus memantau pekerjaan kantor pusat juga kantor kantor cabang di kota lain. Tapi kabar baiknya Bintang dan Safira kini semakin akrab tak ada kecanggungan lagi,


Safira hampir tidak pernah berinteraksi dengan karyawan lain di kantor saking sibuknya dia, bahkan tak jarang makan siang pun dia lakukan di ruangan Bintang sambil memeriksa dokumen.


Bisa di pastikan Safira tak punya teman di kantor, kecuali Widodo yang terkadang di percaya Bintang untuk ikut menemani dan membantu mereka lembur apabila pekerjaan sedang banyak banyaknya.


****


Mia merasa bahagia karena seminggu ini Wisnu tak pernah meninggalkannya lagi, dia pergi hanya untuk bekerja, selebihnya Wisnu kini kebih betah menghabiskan waktunya di rumah.


Malam itu di ruang kerja Wisnu, dia di temani dua orang wanita pekerja malamnya yang sengaja dia panggil keruangannya untuk memuaskan hasratnya.


Semenjak berpisah dari Safira kehidupan Wisnu seakan semakin kacau, apa lagi seminggu ini dia sangat frustasi karena beberapa kali melihat Safira di temani seorang pria dan sepertinya mereka tinggal satu atap.


sungguh hatinya masih merasa cemburu, tak rela melihat Safira bersama pria lain.


Saat melirik jam yang melingkar di tangannya, waktu masih menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, karena pikirannya yang sedang kacau, Wisnu memutuskan untuk keluar dan berkeliling kota, setelah sebelumnya menitipkan pekerjaan club pada Panji. Dua wanita yang menemaninya tadi di suruh kembali bekerja.


Oh iya, Arya sekarang sudah kembali menjadi bartender karena di anggap tak becus melaksanakan tugasnya, dan sekarang Panji yang menjadi orang kepercayaannya.


Wisnu membelah jalanan di balik kemudi, tanpa tujuan, hanya ingin menenangkan pikirannya saja.


Tapi,,, pucuk di cinta ulam pun tiba, saat melewati warung tenda ayam bakar langganannya dulu kalau makan bersama Safira, senyum Wisnu langsung mengembang menggantikan raut wajahnya yang tadi seolah tak punya gairah hidup.


Wisnu menghentikan mobilnya, dia melihat Safira yang baru saja keluar dari warung tenda itu dengan membawa bungkusan yang sepertinya berisi ayam bakar yang baru saja di nelinya disana.


" Fira...!" Panggilnya, mendekati Safira yang sedang berdiri di pinggir jalan sendirian.

__ADS_1


__ADS_2