
Safira terkejut ketika Bintang memarkirkan mobilnya di pelataran parkir club malam yang sangat dia kenal, club malam milik Wisnu.
" Ke-kenapa kesini, bukannya kita akan bertemu klien ?" Gugup Safira.
" Mereka meminta bertemu disini, ayo cepat turun ! Apa nyali mu tiba tiba ciut nona ?" Bintang turun dari mobil dan memutarinya, lalu membukakan pintu untuk Safira.
" Hmmhhh..." Hanya helaan nafas panjang dan berat yang keluar dari mulut Safira, dia mencoba mengumpulkan kekuatan hatinya, bagai mana pun tempat ini menyimpan banyak kisah untuknya, tersimpan banyak cerita di bangunan itu, bukan karena belum bisa melupakan, tapi tempat ini juga pernah menjadi tempat yang sangat menyakitkan untuk nya, tempat dimana mantan suaminya dulu menghianatinya.
Bintang berjalan berdampingan dengan Safira, mereka terlihat sangat serasi, pasangan yang sempurna, mereka terlihat bersinar di antara pengunjung yang lain, tak aneh mereka menjadi pusat perhatian setiap orang yang mereka lewati.
Termasuk saat mereka berjalan melewati meja bar yang panjang disana, Arya tak lepas menatap mantan istri bosnya itu, tak lama dia meraih ponselnya lalu terlihat menghubungi seseorang. Matanya masih mengikuti kemana langkah Safira.
Mereka masuk ke ruangan VVIP, disana sudah ada Alan dan tiga orang pria yang duduk bersamanya sambil menikmati minuman beralkohol rendah.
Begitu masuk ruangan itu dan menutup pintu, suara musik yang tadinya menggema memekakan telinga, kini hanya terdengar sayup sayup saja. sehingga tak akan mengganggu pertemuan dan perbincangan bisnis mereka.
Bintang sengaja memilih mengadakan pertemuan di club milik Wisnu, karena klien meminta bertemu di tempat yang santai, mereka tak ingin bertemu di tempat yang terlalu formal, mau tak mau Bintang menjatuhakan pilihan di club milik Wisnu, karena hanya club itu yang paling besar dan mewah disana, Bintang tak pernah main main dalam menjamu rekan bisnisnya, dia pasti memberikan yang terbaik buat mereka, mungkin itu salah satu kunci suksesnya, klien merasa puas dan sangat di hargai.
***
" Mas, kamu harus lihat sesuatu !" Oceh Mia yang tiba tiba masuk ke ruangan Wisnu.
" Kenapa kamu disini ? Ini bukan tempat yang baik untuk wanita hamil, banyak asap rokok disini, !" Wisnu terkejut dengan kedatangan Mia, dia tak habis pikir kenapa Mia malah menyusulnya ke tempat kerja, apa dia tak tau betapa bahayanya tempat ini untuk wanita hamil sepertinya.
" Ada yang bilang padaku kalau mantan istrimu sekarang sedang berada di ruang VVIP menemani para lelaki hidung belang, Pantas saja dia bisa menyewa rumah elit, ternyata dia menjual diri.!" Cicit Mia.
" Tutup mulut mu ! dia tak mungkin melakukan itu.!" Wisnu mulai murka, amarah seketika memenuhi ubun ubunnya mendengar ucapan Mia yang menjelekan Safira wanita yang masih sangat dia sayangi.
" Ayo kita lihat dan buktikan sekarang juga !" Mia menarik tangan Wisnu agar mengikuti langkahnya.
Brakk....
__ADS_1
Pintu ruangan VVIP itu di buka dengan kasar dari luar, kilatan amarah menyala nyala di mata Wisnu, ternyata apa yang di katakan Mia benar,
Safira, mantan istrinya sedang menemani lima pria di ruangan itu.
" Fira ! apa yang sedang kamu lakukan disini ?" Bentak Wisnu, suaranya menggema di ruangan itu mengagetkan semua orang yang berada disana.
" Tentu saja dia sedang melac**r Mas, dari mana lagi dia mendapatkan uang kalau bukan dari hasil menjual diri, " Cibir Mia semakin memanaskan suasana hati Wisnu.
" Fira...! kenapa kamu berubah jadi wanita murahan seperti ini ?" Wisnu tak kuasa menahan buncahan kemarahan di dadanya.
" Siapa yang anda panggil wanita murahan itu ?" Tatap Bintang tajam, masih dari tempat duduknya.
" Begini cara anda memperlakukan tamu VVIP ? Anda sudah mengganggu privasi kami !" Sambung Bintang, mengeraskan rahangnya.
" Kau Jangan ikut campur urusan ku, Aku bisa menendang siapa saja yang tak aku sukai dari tempat ini, urusan ku hanya dengan wanita itu !" Wisnu menunjukkan tangannya ke arah Safira yang tak kalah geram menahan emosinya.
Safira sudah berdiri dari tempat duduknya, tapi dengan gerakan cepat Bintang juga berdiri merangkul bahu Safira,
" Urusan dia berarti urusan ku !" Bintang mempererat pelukannya di bahu Safira.
" Kenapa saya harus menuruti perkataan anda?" Bintang masih berdiri di tempatnya.Alan dan yang lain sudah mulai berdiri mengapit Bintang dan Safira.
" Ka-karena..." Wisnu bingung harus menjawab apa.
" Anda sudah mengganggu pertemuan bisnis saya, dan yang paling penting anda sudah menghina CALON ISTRI saya, saya bisa saja menuntut anda." Bintang menekankan kata calon istri.
Wisnu membelo, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut laki laki asing itu.
" Ca- calon istri ?" Wisnu dan Mia bersamaan.
" Hehe... kompak sekali kalian, pantas saja berjodoh, kenalkan, ini calon suami aku, namanya Bintang Atmaja." Safira bersuara setelah dari tadi hanya diam menahan amarah karena tak ingin membuat keributan di depan para klien bosnya.
__ADS_1
" Bintang Atmaja ?" Wisnu seperti tak asing dengan nama itu.
" Dan anda Nyonya ! Jangan samakan saya dengan Anda, saya tak mungkin menjual diri saya hanya karena demi uang, apa lagi calon suami saya ini pengusaha properti terkenal se Asia, tentu saja tak akan pernah membiarkan saya kekurangan uang !" Safira menatap angkuh Mia yang masih memasang wajah tak tahu malunya.
" Saya akan segera mengurus masalah tuntutan perihal penghinaan terhadap calon istri anda bos," Ucap Alan yang ikut merasa geram atas penghinaan Wisnu dan Mia terhadap Safira.
" Tak perlu ! aku yakin dia tak tau sedang berurusan dengan siapa saat ini, aku memberinya kesempatan kepada mereka untuk meminta maaf terhadap calon istriku, kalau mereka menolak, segera ajukan laporan.!" Titah Bintang.
" Sudah lah sayang, jangan buang waktu mengurusi mereka, maaf mereka tak ada gunanya buatku !" Safira memeluk lengan Bintang mesra.
" Alan ! Selesaikan urusan bisnis kita, aku akan pulang, aku kehilangan selera di tempat ini." Bintang pamit pada kliennya, tak lupa meminta maaf pada mereka atas kejadian barusan, lalu pergi meninggalkan Wisnu yang tiba tiba membatu.
' SAYANG ? Safira memanggil laki laki asing itu dengan sebutan sayang, bahkan aku yang selama bertahun tahun hidup bersamanya tak pernah dia panggil aku sayang sekalipun,' Batin Wisnu serasa teriris saat mendengar Safira memanggil Bintang dengan sebutan sayang.
***
" Terimakasih," Lirih Safira saat Bintang mulai melajukan kendaraannya keluar dari parkiran club.
" Untuk?"
" Untuk aktingmu yang hebat tadi."
" Terima kasih juga," Balas Bintang,
" Untuk ?" Tanya Safira bingung
" Memeluk tanganku dan memanggilku sayang." Ucap Bintang datar sambil tangan kirinya menggenggam tangan Safira, sementara tangan kanannya di kemudi.
" Hei... itu aku hanya mengimbangi aktingmu saja, bukankah kita aktor dan aktris yang hebat?" Safira coba menyamarkan degupan jantungnya yang bertalu talu karena tangannya masih berada di genggaman Bintang, rasanya seperti ada ribuan kupu kupu menari nari di dadanya.
" Aku tidak sedang ber akting apapun tadi, itu semua harapanku, menjadi suamimu, semoga suatu hari nanti Tuhan mengabulkannya, kita menjadi pasangan yang sesungguhnya bukan pura pura." Bintang mengecup punggung tangan Safira yang masih belum lepas dari genggamannya.
__ADS_1
" Amiin...! eh- ups...!" Tanpa sadar Safira mengamini do'a dan harapan yang Bintang ucapkan barusan. Tangan kirinya segera menutup mulutnya yang lancang berkata tanpa persetujuannya.
Senyuman pun tergambar jelas di bibir Bintang, sementara Safira, wajahnya merona merah sungguh dia merasa sangat malu keceplosan mengamini barusan, kata itu meluncur begitu saja tanpa komando.