
Akhtar
Pagi ini aku dan Satya pergi ke Semarang dengan penerbangan pertama. Untuk apa? Untuk menemui pria yang menemui Bintang dan Zoya di sekolah.
Pria yang sudah ditangkap dan disekap oleh orang-orang Satya. Pria yang berani mengusik putri-putri kami.
Kami tiba di sebuah gudang kosong. Entah milik siapa. Aku tak tau karena semuanya orang-orang Satya yang mengatur.
Pria yang ku kenal duduk di kursi dengan posisi tangan dan kaki yang diikat. Pria yang baru beberapa minggu bebas dari penjara.
Pria yang tak terluka sedikitpun itu menatap tajam kearahku. "Apa kabar, Ilham?" tanyaku.
Anak buah Satya membuka lakban yang dipakai untuk menutup mulutnya. "Lepaskan aku!" Dia memberontak.
"Akan! Tapi setelah aku memberi pelajaran!" Satya mengkode anak buahnya untuk menghajar Ilham.
Aku tau Satya tak tega melakukan dengan tangannya sendiri. Walaupun jika dia sudah marah, tak ada lagi kata tak tega. Tak ada lagi kata kasihan.
"Tunggu, Sat! Ini dendam masa lalu." Aku mengangkat sebelah tanganku, tanda agar anak buah Satya tak bertindak.
Ilham tersenyum masam. "Sekarang mau kalian apa?"
"Kami yang harusnya tanya!" Bentak Satya. Ini gawat, kalau dia sudah marah. Maka kepala pria ini bisa putus seketika.
"Tenang Sat!" Aku menahan dadanya yang bergemuruh naik turun.
"Apa maumu Ilham?"
"Seperti katamu. Dendam masa lalu!"
"Itu salahmu!" Aku membentak dan menuding tepat di wajahnya.
"Kamu yang mulai mengusik kehidupan Lintang!"
"Tapi mamaku sudah memohon padanya untuk mencabut tuntutan!" Bentaknya ke arahku. Matanya memerah! Tikus ini menangis?
"Cih!!"
"Memohon? Memohon yang bagaimana? Memohon dengan memakinya, menunjuk-nunjuk wajahnya. Menghinanya lalu melemparkan bergepok-gepok uang di hadapannya? Itu yang kau maksud memohon." Aku naik darah. Kutarik kerah bajunya.
Satya menarikku mundur. Apa-apaan ini? Kenapa jadi aku yang tak bisa menahan emosi.
"Akhtar!" Satya membentakku.
Aku melepaskannya. "Ingat Ilham! Tidak akan ada asap jika tidak ada api."
"Masalah kamu di tolak ayah. Ayolah Ham. Kamu tampan, kaya. Banyak janda bahkan gadis yang mau menjadi pendampingmu. Anggap saja Lintang bukan jodohmu." Aku menasehatinya.
"Ini bukan lagi soal Lintang!" Bentaknya. "Ini soal anak-anakku! Kau tau! Karena aku di penjara. Mamaku stres dan ketiga anakku malu dan memilih tinggal bersama mantan mertuaku!"
"Dan tahun lalu. Rumah mereka kerampokan." Ilham menangis.
"Anakku di perk*sa! Putriku yang baru berusia 16 tahun!" Dia meraung-raung.
"Aku memang bajingan tapi aku juga tak ingin hal buruk terjadi pada anak-anakku. Dan semua karena aku di penjara! Karena kalian tidak mencabut tuntutan itu!" Dia berusaha berdiri dari kursi. Namun, gagal.
Aku lemas mendengar pengakuannya. Apa aku sudah menghancurkan kehidupan anak yang tidak berdosa? Tapi bukankan semua ini takdir yang sudah tertulis jauh sebelum seseorang dilahirkan?
"Putriku sudah dua kali mencoba bunuh diri. Untuk itu aku membawanya kesini bersama dua putraku yang lain."
__ADS_1
"Kami akan tinggal di sebuah pondok pesantren."
"Tapi aku tidak bisa membiarkan kalian bahagia di atas penderitaanku. Aku ingin memberitahu kalian, bagaimana rasanya melihat anak sendiri hancur."
"Aku ingin kalian merasakan apa yang ku rasakan walaupun dengan cara berbeda." Jeritnya.
"Aku tahu masalalu Lintang dan itu menjadi ideku untuk menghancurkan keluarga kalian."
Dia tersenyum miring. "Tapi sepertinya aku gagal lagi."
"Tentu! Karena kamu salah. Kamu berbuat jahat, dan kejahatan itu akan kembali kepadamu!" Satya menunjuk Ilham.
Aku masih terpaku. Bagaimana ini?
"Sekarang kamu mau apa?"
"Lepaskan aku! Aku ingin hidup tenang bersama anak-anakku!" ucapnya lirih.
"Aku lepaskan!"
"Tar!" Bentak Satya.
"Dengan syarat!"
"Apa?" Wajah Ilham terangkat. Dia menatapku.
"Hidup dengan baik dan jangan usik lagi kehidupan kami!"
"Kalau sekali saja kamu mendekat, maka aku akan melakukan hal buruk padamu!"
"Aku janji, sekarang lepaskan aku!"
"Sekarang berjanjilah." Satya mengarahkan kamera kearahnya.
Ilham tau maksudnya. "Aku Ilham Hermawan berjanji tidak akan mengusik dan mengganggu kehidupan keluarga Lintang dan Akhtar."
"Jika aku melanggar aku siap di proses secara hukum."
Satya menghentikan rekamannya. "Aku punya bukti saat kamu sengaja menemui putri-putriku."
"Dan satu lagi. Aku ingin hitam di atas putih."
Satya bersandar di dinding sedangkan aku duduk di kursi usang yang ada disini.
Sekitar sepuluh menit, anak buah Satya datang dengan selembar kertas bermaterai. Sebuah surat pernyataan bahwa Ilham tidak akan mengganggu kehidupan kami lagi.
Saat menandatangani surat itu, Satya merekamnya kembali.
Ilham sudah tak di ikat lagi. "Aku sebenarnya tidak ingin memaafkanmu." Ucapku.
"Apa lagi aku." Sambar Satya sinis.
"Tapi, ini adalah pesan Lintang. Jika masalah bisa diselesaikan dengan damai, maka itu yang harus kami pilih."
"Maaf membuatmu dan keluargamu susah. Tapi percayalah ada takdir lebih baik yang menanti kalian semua." Aku menepuk bahunya.
"Terima kasih dan maafkan aku." ucapnya sambil menuduk.
Aku dan Satya segera kembali ke Jakarta. Ilham kami bebaskan, biar bagaimanapun ada tiga anak yang membutuhkannya. Dan Ibunya juga butuh kehadirannya.
__ADS_1
"Semoga ini jalan yang benar, Tar!" Ucapnya saat di pesawat. Dia memejamkan mata dan bersandar dikursi pesawat.
"Aku juga gak tau, Sat! Tanya pilotnya aja. Ini jalannya udah benar apa belum!" ucapku asal. Kejadian tadi sudah berlalu hampir dua jam. Dan dia baru mempertanyakan jalan yang kami pilih benar atau salah?
Satya... Satya...
***
Jakarta
Lintang
Kepergian mas Akhtar dan Kak Satya ke Semarang membuatku sedikit tak tenang. Tapi panggilan video beberapa menit lalu yang menampakan keberadaan mereka di bandara membuatku bernafas lega.
"Bagaimana, mas?"
"Seperti keinginan kamu, sayang. Jalan damai."
"Bucin-bucinanya nanti aja. Pesawat udah mau berangkat, Lin." Ucap Kak Satya yang duduk di sebelah suamiku.
Aku tertawa melihat mas Akhtar malah mencebikkan bibirnya.
"Maaaa." Rengekan manja seorang Bintang menyita perhatianku yang tengah melamun memandang tv yang tidak menyala.
"Ada apa, sayang!"
"Mama gak ada rencana punya anak lagi?" Dia merebahkan kepala di pangkuanku.
Kenapa tiba-tiba Bi?
"Anak mama kenapa tanya begitu." Aku mengelus kepalanya.
"Rumah sepi, ma!" Dia duduk menghadapku.
"Zoya sibuk tidur siang. Nair sama Nath malah milih ikut ke butik kak Rara!" Dia mencebik.
Bintang benar, terkadang aku kesepian saat anak-anak tak ada di rumah. Tapi untung saja aku punya banyak kegiatan seperti ke toko atau ke butik Rara. Atau bahkan berkeliling melihat kondisi kost-an dan kontrakan.
"Kalau ada, berantem melulu. Kalau gak ada kesepian." Cibirku.
"Mama hamil lagi ya, ma!" Aku menaikkan alisku.
"Biar Bi yang bilang sama papa." Ucapnya semangat.
Dan mas Akhtar tidak akan setuju. Dia benar-benar tak ingin aku hamil lagi. Bahkan ia rela memakai pengaman di seumur hidupnya jika kami sedang beriya-iya.
"Bi, dengar mama sayang. Sebentar lagi om Langit dan kak Rara akan punya bayi."
"Bi bisa kok ke rumah om Langit setiap hari kalau Bi merasa sepi."
"Sebentar lagi Bi juga sudah remaja. Bi akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman."
Bintang bersandar di lenganku. "Ma, kalau Bi menikah nanti. Bi gak mau menikah sama laki-laki yang rumahnya jauh, terus Bi dibawa pergi dan gak bisa sering-sering jumpa sama mama dan yang lain."
Aku terbahak. Aku meletakkan telapak tanganku di pipinya. "Bi, kita bicara saat kamu remaja, Nak!"
"Malah mikirin nikah. Kejauhan sayang." Aku mengecup bibirnya sekilas lalu memeluknya.
Dan jika saat itu tiba, apa mama bisa melepas kamu, Bi.
__ADS_1