
Kediaman Keluarga Wijaya.
" Wahh.... kamu emang cantik ya, Re ..... "
Puji Mami melihat Aretha saat membuka pintu. Diperhatikannya menantu nya. Dengan rok sepanjang lutut yang lebar, atasan lengan panjang berleher V, memperlihatkan kaki dan leher jenjang yang indah milik Aretha.
" Sore, Mmm.... Mami... "
Dengan sopan Aretha menjabat tangan Mami, hendak menciumnya. Tapi Mami lebih agresif, menariknya dalam pelukan.
" Selamat datang, sayang.... "
Sambut Mami dengan penuh sukacita.
" Ryū, haitte koi. Papi wa mō ribingurūmu de watashitachi o matte iru. "
( Ryu, ayo masuk. Papi udah nungguin di ruang keluarga. )
" Hai, Mi.... "
( Iya, Mi.... )
Aretha merasa berada di tempat asing, saat mendengar suami dan mertua perempuannya saling bicara.
" Hei, nanti ajarin aku ya ... bahasamu. "
Bisik Aretha saat Ryuzaki menggandengnya mengikuti Mami menuju ruang keluarga.
" Tolong, nanti jangan panggil aku hei di depan orangtuaku ! "
" Oohh, sorry .... Lalu aku panggil apa ? "
" Panggil nama nggak papa atau mau panggil sayang ? "
Sahut Ryuzaki masih dengan berbisik sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Aretha. Aretha langsung menanggapinya dengan cemberut.
" Nama aja ! "
Jawabnya ketus. Ryuzaki tertawa kecil.
" Wah, pengantin baru ..... Kalian ini begitu menikmati menjadi pengantin baru sampai-sampai lupa berkunjung ke rumah orang tua, ha ? "
Sambut Papi, begitu melihat Ryuzaki dan Aretha. Ryuzaki langsung memeluk Papinya.
" Selalu sehat ya, Pi .... "
Kata Ryuzaki sambil menepuk punggung Papi.
" Iya iya, pasti Papi akan selalu sehat, biar bisa ngerasain nimang cucu dan melihat kalian banyak anak .... "
Mendengar ucapan Papi, Mami dan Ryuzaki tertawa. Akan tetapi, beda halnya dengan Aretha. Mukanya terasa panas dan bersemu kemerahan.
" Liat itu istrimu, malu... Hahaha !! "
Kata Papi menunjuk ke Aretha dan tertawa terbahak-bahak. Mami pun ikut tertawa. Ryuzaki hanya tersenyum kecil.
" Malam pertama kalian di hotel aja seheboh itu, bagaimana di apartemen mu ? .... Lebih heboh kah ? "
" Papi, sudahlah. Jangan ngeledek lagi .... "
" Anata no yasei no uma wa kai narasa rete imasu ka ? "
( Kuda liarmu ini emang sudah jinak ? )
" Mami ..... "
" Yasei no uma? Waahhh .... Anata-tachi wa hontōni watashi no giri no musuko o sonoyōni yonde imasu. Shikashi, yasei to wa nanidesu ka? "
( Kuda liar ? Wahhh .... Kalian ini bener- bener menyebut menantuku seperti itu. Tapi, apa benar seliar itu ? )
" Papi wa sonotoki sore o jibun de mite imasendeshita. Kare wa hontōni wairudodesu.... Hahaha.... !!! "
( Papi tidak liat sendiri sih waktu itu. Dia benar-benar liar .... Hahaha ..... !!! )
Obrolan berlanjut dengan seru tapi Aretha tidak mengerti.
Seru bener ya pada ngobrol.
Kenapa pake bahasa mereka sendiri ?
Ngomongin aku bukan sih ?
Ah, bukan kali ya... pede bener aku !
Nggak denger nama ku disebut, jadi pasti bukan ngomongin aku kan.
Mereka saling akrab ya, sangat dekat.
Ahhh .... kangen suasana seperti ini di rumah.
Udah berapa tahun ya nggak kumpul kayak gini sama Ayah dan Bunda ....
" Re, sssttt .... "
Ryuzaki menyenggol lengan Aretha. Buyarlah lamunan Aretha.
__ADS_1
" Oh ya .... apa ? "
Aretha bingung mendapati dia sedang menjadi santapan mata orangtua Ryuzaki.
" Gimana sayang ? Malam ini nginep disini ya ? "
Tanya Mami dengan tatapan lembut. Aretha melirik ke arah Ryuzaki. Ryuzaki menganggukkan kepala.
" Iya iya, Mi... Kita nginep deh. "
Jawab Aretha. Terpaksa.
" Baguslah ! Ryu, ajak istrimu berkeliling rumah, biar Mami siapin makan malam. "
" Rere bantu, Mi .... "
" Nggak usah, Mami ada Bi Mirna. Kamu sana liat-liat rumah ini, kan nantinya akan jadi rumah kalian juga. "
Mami menolak bantuan Aretha. Dan segera menuju ke dapur.
" Ayo, sini ! "
Ryuzaki menggandeng tangan Aretha dan membawanya mulai berkeliling dalam rumah menuju taman belakang.
" Kalian hanya bertiga, tapi rumah kalian besar banget .... "
" Papi suka bawa bawahannya rapat dan makan ke rumah, jadi sengaja bikin rumah disini luas. Kalo rumah yang di Jepang sih nggak sebesar ini. Setengah dari rumah ini juga nggak. "
" Oohh .... Kapan terakhir pulang ke Jepang ? "
" Kalo Papi Mami sih tiap bulan pulang ke sana, kan disana keluarga besar Mami. Aku sih kadang ikut kadang enggak. Tergantung kerjaan disini. Kalo emang bisa aku tinggal ya aku ikut pulang ke sana. "
" Kok bisa Papi mu dapet Mami mu ? "
" Kamu nggak tau critanya ? "
" Nggak... Emang crita apaan ? "
" Bunda, Ayah, dan Papi itu dulu teman satu kampus, cuma beda jurusan. Papi dan Bunda mu teman dari SMP. Ayah mu baru berteman saat di kampus.
Bunda kan ikut dalam pertukaran mahasiswa di Jepang, ya entah gimana, Bunda berteman dengan Mami.
Nah pas Bunda mu pulang ke Indonesia, Mami ikut, niatnya main selama liburan semester. Disitulah Mami ketemu Papi. Bunda yang comblangin mereka. "
" Ooohh gitu .... Aku cuma tau, Bunda pernah kuliah di Jepang karena pertukaran mahasiswa gitu. Dari situlah Bunda fasih berbahasa Jepang. "
" Ryu, tadi kalian seru banget ngobrol, kalian ngobrolin apa ? "
" Mm, tadi .... Ah cuma ngobrolin kuda liar ! "
" Lho kenapa bagus ? "
" Baguslah, itu berarti bukan aku kan yang jadi obrolan kalian. "
" Ha ?... Hahaha !!! "
" Kenapa tertawa ??? "
" Hehehe ... nggak kok, nggak papa ! "
Kuda liar itu kamu, Re !!!
Malam harinya.
" Ranjangnya cuma satu .... "
Gumam Aretha melihat kamar Ryuzaki, dimana mereka akan tidur.
Mana di set nya kayak gini lagi....
Serba berwarna merah dan emas.
Kayak kamar pengantin aja....
Eehh, kan emang kamar pengantin ya.
" Nggak usah kuatir, kita nggak seranjang kok ! "
Kata Ryuzaki saat melihat Aretha melamun di depan ranjang, dengan kening berkerut.
" Ahh syukur deh ! "
Kata Aretha lega. Raut wajahnya yang tadi tampak cemas, berubah menjadi senang.
" Ada ranjang lain ? "
" Nggak ada. "
" Terus ? "
Ryuzaki melempar bantal dan bedcover ke arah Aretha. Aretha menangkapnya.
" Karena ini kamar ku, jadi silahkan kamu tidur di lantai, tuh ! "
Kata Ryuzaki sambil menunjuk karpet yang sudah disiapkan di lantai di bawah jendela kamar. Jaraknya agak jauh dari ranjang. Aretha melotot.
__ADS_1
" Aku kan cewek ! Harusnya aku lah yang ada di ranjang ! "
Protes Aretha kesal. Dan langsung naik ke ranjang. Ryuzaki menarik tubuh Aretha turun dari ranjang. Aretha pegangan pinggiran ranjang.
" Nggak mau ! Aku mau tidur di ranjang ! "
Aretha menendang Ryuzaki, tepat di perutnya.
" Uughh !! Dasar cewek kasar !!! Turun !! "
Ryuzaki menangkap pergelangan kaki Aretha.
" Nggak ! Situ aja yang turun, tidur di karpet ! "
" Di apartemen ku, kamu tidur di sofa kamu nggak papa, kenapa di kamarku kamu belagu hah ??? "
" Denger ya, itu apartemen mu, jadi aku bisa ngalah, tapi disini, rumah orangtuamu, dan aku yakin Mami Papi pasti mau mantunya tidur di ranjang ! "
" Jangan bela diri sendiri dengan alasan itu ! Kamu nikah sama aku kan bukan karena mau kamu !! "
" Bomatlah !!! Lepasin kaki ku ! "
" Sini ! Turun kamu !!! "
" Nggak ! Nggak mau !!! "
" Ryu, Rere.... Mami masuk ya ! "
" Hah, Mami ! Hadeeuuhhh !! "
Mendengar suara Mami, Ryuzaki memutar otak. Aretha langsung berhenti menendang.
" Gimana ini ? Gimana kita sekarang ? "
" Cepet sini, tidur berdua ! "
" Hah ?? Apaan sih ? "
" Emang kamu mau liat Mami ku tau kita berebut ranjang ? "
Tanpa menunggu jawaban, Ryuzaki langsung menarik tubuh Aretha dan membuat posisi seolah-olah mereka sedang tidur bersama. Kepala Aretha berada di lengannya. Tangan Aretha memeluk pinggangnya. Dia sendiri memeluk pundak istrinya.
" Merem ! "
Bisik Ryuzaki memerintah. Begitu mendengar pintu kamar yang dibuka dan langkah kaki mendekat. Aretha pun memejamkan mata.
Badannya wangi....
Batin Aretha mencium aroma tubuh Ryuzaki yang saat ini tepat menempel ditubuhnya.
Rambutnya halus ....
Padahal kayak cowok, tapi kayaknya bisa ngurus badannya.
Batin Ryuzaki, saat tangan nya yang sedang memeluk pundak Aretha tak sengaja, menyentuh rambut Aretha yang tergerai.
" Aahhh, kalian sudah tidur ya. Hmm .... Okey, susunya Mami bawa lagi deh. "
Mami yang sudah masuk kamar sembari membawa baki berisi 2 gelas susu, melihat Ryuzaki dan Aretha sedang tidur berpelukan, segera memutar langkah berbalik keluar kamar. Dan terdengar pintu tertutup kembali.
Mukaku panas rasanya.
Kenapa lagi ini, sering banget ngerasa begini tiap deketan sama ni orang.
" Nyaman ya tidur ku peluk ? "
Bisik Ryuzaki sambil mengecup kecil kening Aretha.
" Apaan sih ??!!! "
Aretha langsung menarik tubuhnya sendiri dan menjaga jarak dari tubuh Ryuzaki.
" Muka mu merah .... Kamu nggak pernah pelukan ya ? Apa nggak pernah pacaran ? "
Ryuzaki meledeknya. Aretha memutar badannya. Menarik selimut menutupi tubuhnya. Ryuzaki tersenyum melihatnya.
" Pikir dong !! Kalo muka ku nggak merah pelukan kayak tadi, itu artinya aku nggak punya malu ! "
" Tapi emang seharusnya nggak merah kan, secara ngeliat hubungan kamu dan Sara, kamu kan yang jadi cowoknya ? "
Kata-kata yang dilontarkan Ryuzaki membuat Aretha tersentak.
" Bomat !!! "
Hanya itu yang akhirnya keluar dari mulutnya, karena memang tidak bisa mendebat lagi.
" Pelukan sesama cowok bukankah normal ? Apa kamu masih ngerasa kamu memang sepenuhnya cewek ? "
Kembali untuk kedua kalinya Aretha tersentak. Tapi kedua mulutnya kali ini terkunci rapat. Otaknya tidak bisa berpikir untuk mencari jawaban atas pertanyaan suaminya.
" Silahkan jawab sendiri !!! "
Sahut Aretha dan berusaha menutup mata untuk tidur. Ryuzaki memperhatikan nya sesaat.
Kamu normal .....
__ADS_1
Masih sepenuhnya cewek normal !