
Perlahan, Sara membuka matanya. Mengedip beberapa kali dan begitu matanya terbuka sepenuhnya, ia mengedarkan pandangannya. Ruangan yang serba putih dan bau obat-obatan yang tajam.
" Mmmhh.... "
Sara mencari arah asal suara, dan ia menemukan kepala Aretha yang tertidur di samping lengannya. Ia menatap Aretha dengan seksama.
Aku masih hidup ?
Batinnya sedikit terkejut.
Sejenak Aretha bergerak. Kemudian mata Aretha mulai terbuka. Saat matanya membentur tatapan Sara, seketika langsung membelalak. Aretha mengangkat wajahnya.
" Sara ! Sara ! Kamu udah sadar ? "
Aretha tampak bahagia mendapati Sara yang tersenyum padanya. Meskipun tampak pucat tapi Sara tetap terlihat cantik.
" Mmm, ya.... Kenapa kamu disini ? Mana Ryu ? "
Pertanyaan Sara membuat raut wajah Aretha berubah. Terlihat lesu dan tak suka.
" Kamu yang kenapa... Kenapa kamu selalu tersenyum kalo kamu nggak pingin tersenyu... Kenapa selalu maksain diri buat kebahagiaan orang lain. Harusnya kamu jujur padaku, kamu suka nggak suka. "
Jawab Aretha sembari membelai lembut punggung tangan Sara. Sara terdiam. Ia memalingkan muka.
" Aku... aku nggak normal, Re. Aku nggak pantes hidup di keluarga mu dan di sekitar mu. Aku takut.... Aku akan ganggu hidup barumu... "
" Apa yang kamu bilang ? Ketakutanmu berlebihan, Sara. Kita sodara... Nggak ada siapa yang ganggu siapa. Jangan berpikir yang nggak-nggak ! "
" Re... jangan terlalu peduli padaku. Kamu tau kayak apa perasaanku padamu. Kamu tau dengan jelas. "
Perkataan Sara membuat Aretha terdiam.
Ya... aku tau betul perasaanmu yang salah itu...
Tapi, bunuh diri bukanlah sebuah solusi.
Batin Aretha dalam diamnya. Aretha beranjak bangun. Menuju meja di sudut ruangan, dimana banyak terdapat buah-buahan dan camilan. Aretha mengambil sebuah apel dan pisau. Sambil membelah buah apel tersebut, Aretha kembali duduk di kursi sebelah ranjang Sara, tempatnya tadi.
" Nih... "
Sepotong apel diberikannya kepada Sara. Sara mengambilmya.
" Ditto datang semalem. Baru tadi subuh dia pulang. Ia menemanimu semalaman nggak tidur. Ditto yang paling cemas sama kondisimu. Kami pikir, kamu nggak tertolong, dengan begitu banyak darah yang keluar dan dalamnya lukamu. "
Kata Aretha sembari membelah kembali buah apel tersebut dan menyodorkannya kepada Sara. Sara mengambilbya dan kembali menyuapnya.
" Aku nggak enak sama Ditto... "
Kata Sara dengan suara melemah.
" Sampai kapan kamu mau sia-siain cowok sebaik dia ? "
Tanya Aretha dan kembali menyodorkan potongan apel yang kesekian kepada Sara. Dan Sara memgambilnya lagi. Tersisa setengah apel, dan Aretha menggigitnya langsung tanpa dipotong. Sara masih belum menjawab pertanyaan Aretha. Sejenak yang terdengar hanya suara Aretha sedang mengunyah sisa potongan apel tersebut.
" Re, bisa nggak aku nggak harus oacaran dengan Ditto ? Dia terlalu sempurna buatku. "
" Justru cowok sempurna kayak dia pantes dapetin kamu yang cantik banget... Kalian udah pernah ciuman ? Udah kan ? Dia pencium yang hebat ? Kamu suka ? "
Aretha mulai menggoda Sara. Sara tersenyum kecil.
Aku nggak ngerasain apa-apa saat berciuman dengan Ditto.
Aku justru bergairah saat aku menciummu...
Sentuhan dari Ditto tak bisa membangkitkan nafsuku sama sekali.
Tapi begitu aku berdekatan denganmu, imaji liarku mulai memenuhi otakku.... Re.
" Ayo, katakan.... Kalian udah pernah sampai tahap mana ? "
__ADS_1
Aretha terus menggodanya, dengan harapan Sara perlahan akan merubah perasaannya yang salah selama ini.
" Sudahlah, Re.... Jangan bahas Ditto lagi. Aku pingin putus dari dia. "
Senyum Aretha yang terpampang sebelumnya memudar.
Benar-benar keras kepala...
Baiklah, nggak segampang itu juga ngerubah sebuah perasaan yang sudah terlalu lama melekat.
Kata Alisha dalam hati.
Berusaha untuk bersabar.
" Re... kenapa menolongku ? Aku tau, pasti kamu yang menemukanku terlebih dulu. "
" Nggak ada alasan apa-apa buat itu. "
" Bukan karena kamu masih menyayangiku ? "
" Aku emang menyayangimu, dari dulu sampai sekarang. "
" Bukan itu yang ingin kupastikan.... Kamu tau betul apa maksud pertanyaanku tadi. "
" Sara.... "
" Kamu tau arti suratku, kamu tau arti perasaanku sebenarnya. Aku tau itu salah. Tapi aku nggak bisa membuang perasaan itu begitu saja. Aku nggak sanggup menggantinya juga... "
Aku tau apa yang kamu maksud.
Cintamu yang salah padaku...
Kamu berharap aku pun sama denganmu kayak sebelumnya.
Ya aku hampir-hampir sama denganmu...
Tapi.... Ryu merubahku....
Andai kamu mau membuka hatimu buat Ditto....
" Re, kamu melamun.... "
Teguran Sara membuat Aretha tersadar.
" Ayah dan Bunda, sore ini mau gantiin aku. Semangat lah..... Bunda sangat ketakutan kehilangan mu, sampai-sampai nggak mau makan kemarin ini. Jangan buat mereka sedih, kamuntau kan.... Kamu bukan orang lain, kamu anak mereka juga. "
Aretha mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
" Huh ! Lagi-lagi kamu menghindar, Re... "
Kata Sara dengan nada kecewa.
" Harusnya biarin aku mati, aku nggak mau ngeliat kamu bahagia sama Ryu ! Aku nggak bisa ngaliat senyum mu buat dia ! Aku sakit ! Aku benci !! "
" Sara ! Berhenti.... Tolonglah, kumohon. "
" Ya, harusnya aku berhenti mencintaimu bukan ?! Harusnya aku berhenti berharap, kamu membalas perasaanku ?! Tapi kenapa kamu malah menolongku dan membuatku tetap hidup ?! Harusnya kamu biarin aku mati saja !!! "
Sara mulai histeris. Isak tangisnya pecah. Aretha mendekat.
" Bunuh diri bukan solusi yang terbaik, Sara.... "
" Paling nggak hiks... hiks... aku nggak tersiksa cemburu pada Ryu hiks... hiks... "
" Ryu sama dengan Ditto, berusaha mencintai kekurangan kita. Berusaha membuat kita seperti yang seharusnya. Cobalah buka hatimu, kayak aku ngebuka hatiku buat Ryu.... Kamu akan tau, apa arti cinta yang sebenarnya.... "
" Bener kan... Kamu ngakuin itu juga, kalo cinta kita sebelumnya salah ! Kamu ngerasa kalo cinta kita nggak benar.... "
" Sudah... jangan bahas ini lagi sekarang.... "
__ADS_1
" Nggak, aku nggak mau berhenti bicara tentang ini semua, sebelum kamu benar-benar cuma punya aku ! Kalo kemarin aku nggak mati, aku bisa mati kapan saja ! "
Sara terlihat serius dengan ucapannya.
" Sara ! "
" Bilang padaku, Re.... Siapa yang kamu pilih ?? Aku atau Ryu ?? "
" Pilihan apa itu ?! Itu bukan pilihan, kamu sodaraku ! Ryu suamiku ! Aku nggak bisa memilih ! "
" Kalo begitu, aku mati saja ! "
Dengan cepat, Sara mengambil pisau di meja, pisau yang sebelumnya digunakan Aretha untuk membelah apel.
" Sara ! Lepasin ! "
Sara mengarahkan ujung pisau tersebut ke lehernya. Dia tidak main-main, terbukti ujung pisau itu telah membuat luka dan berdarah. Airmata Sara bercucuran.
" Aku mencintaimu, Re.... Aku nggak pingin Ditto atau cowok yang lain. Aku cuma mau kamu ! Kalo aku nggak bisa dapetin kamu, mendingan aku mati saja !! Jangan mencoba mengujiku, Re... Kamu tau aku seperti apa.... "
Aretha mulai cemas melihat darah yang mengucur perlahan dari luka di ujung pisau tersebut.
Sara benar-benar gila....
Ia menekan pisau itu makin dalam, itu bahaya...
Kalo dia bunuh diri dan mati disini, aku akan merasa bersalah seumur hidupku....
Aku harus menenangkannya...
" Okey, okey.... apa yang kamu mau sekarang ? Aku akan mencobanya. Turunkan pisaunya.... Aku mohon. "
" Benarkah ? Kamu nggak bohong ? "
Ada seberkas cahaya yang berkilat dari kedua mata Sara saat ia mendengar jawaban Aretha.
" Ya, aku akan mencoba kembali bersamamu kayak sebelumnya. Hanya aku dan kamu. Nggak ada Ditto dan Ryu... "
Jawab Aretha memutuskan.
" Janji padaku ? "
Sara meminta kepastian, ia menjatuhkan pisaunya.
" Janji.... "
Begitu mendengar jawaban Aretha, Sara langsung memeluknya.
" Janji ya .... Ceraikan Ryu.... "
Kata Sara dalam pelukan Aretha.
Aretha menelan ludah.
Bercerai ?
Tapi aku ..... hamil...
" Re, ceraiin Ryu ! "
Kembali Sara menekannya.
" Okey.... Aku akan bercerai dengan Ryu.... Aku janji. "
Jawab Aretha dengan berat hati.
" Apa maksudmu ???!! "
Tiba-tiba terdengar suara dengan nada tinggi dari arah pintu. Sara melepaskan pelukannya. Bersamaan keduanya menoleh ke arah pintu. Mengenali siapa yang datang, Sara tersenyum melihatnya. Berbeda dengan Aretha, ia menelan ludah, tenggorokannya tercekat saat mengenali sosok di pintu tersebut.
__ADS_1
Gimana ini....
Apa yang harus ku katakan sekarang...