AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 44


__ADS_3

Aretha diam tak bergerak di bangkunya. Kopi hitamnya masih tampak panas, masih di dalam genggaman kedua tangannya. Bunda menatapnya penuh pengertian.


" Ryu nggak ingin bercerai, Re. Dia sayang dan cinta padamu. Tapi kamu yang kayak batu ini, membuatnya mengambil keputusan ini. Dia memilih kembali ke Jepang dan membiarkanmu dengan rasa bersalahmu yang begitu besar pada Sara. Dia memberimu kesempatan, apa yang pingin kamu lakuin, lakuin aja. Ini pilihan yang sulit buat dia dan keluarganya. Karena mereka tau, kamu sedang hamil. "


" Sengaja, bunda menyebut kehamilanmu di depan Sara, agar kita semua nggak ada lagi yang menyembunyikan sesuatu yang akhirnya, bakal jadi bumerang buat kita semua. Kita akan berusaha bikin Sara bisa menerima dan menyayangi anakmu. Kita harus bisa bikin Sara, anakmu bukanlah sebuah ancaman buat merebut cintamu dari nya. "


Bunda menghela nafasnya sesaat. Menepuk punggung tangan Aretha dengan penuh kasih sayang.


" Ayah dan bunda mengambil keputusan, akan berusaha menerima Sara dengan kekurangannya, dan ayah punya rencana, perlahan akan membawa Sara ke psikiater. Kayaknya Sara jadi paranoid karena trauma masa lalunya dan akhirnya jadi punya cinta yang salah padamu. Semoga saja, perkiraan kami benar, dan Sara masih bisa kembali normal. "


" Jadi, Ayah bunda tau, ada yang salah sama Sara ? "


" Ya, kami tau. "


" Itu alasannya, aku balik kerumah lagi ? "


" Ya, bunda nggak mau kamu tinggal berdua dengan Sara di luar sana. Lebih aman buatmu, dan kami juga merasa tenang, kalo kalian tinggal dengan kami. "


Mendengar kalimat bunda, Aretha merasa lega.


" Berhentilah minum kopi hitam... "


Bunda menasehatinya, saat Aretha berniat ingin menyeruput kopinya.


" Inshaallah.... Rere coba, Bun. "


Jawab Aretha, tapi tetap menyeruput kopinya perlahan.


Bunda mengambil cangkir tehnya. Meminumnya pula dengan perlahan.


" Bunda nggak menyangka, ini bisa terjadi di keluarga kita... Melihat Sara menatapmu, mengingatkan bunda betapa sakitnya Irma saat mengalami masa-masa sulitnya. Irma mengalami Stockholm syndrome, mencintai biarpun tersakiti. Ayah Sara yang memiliki riwayat sadomasokis, dan tak bisa setia, membuatnya makin hancur dan memilih jalan hidup yang berat. Bayangin aja, Re.... Mama nya Sara, dia itu idola di sekolahan kami. Cantik, cerdas dan populer. Bunda nggak nyangka, dia punya kehidupan yang berantakan. "


" Sebelumnya, bunda beneran kecewa berat padamu dan Sara. Bunda nggak bisa menerima, kenapa kalian bisa jadi kayak gini, bahkan pernikahanmu jadi taruhannya. Tapi ayah menyadarkan bunda, melihat lagi masa lalu Sara dan kedua orangtuanya. Ya... ya, ayahmu benar. Nggak akan ada akibat tanpa sebab bukan ? "


" Sara... dengan umur yang masih begitu kecil, melihat sendiri ayahnya dibunuh mamanya, dan di hadapannya pula mamanya bunuh diri. Dan mama yakin, Sara pasti selalu melihat perbuatan ayahnya ke mamanya yang nggak normal. Ayahmu pikir, mungkin itulah kenapa Sara nggak nyaman dengan laki-laki, karena dalam alam bawah sadarnya, dia membenci ayahnya. Kemudian, saat tinggal dirumah kita, kamu membuatnya nyaman, membuatnya merasa disayang, dicintai dan diutamakan. Jadilah, cintanya yang salah kepadamu... "


Iya... aku selalu berada di depannya, menghalau semua yang membuatnya sedih.


Aku selalu menjadi pahlawannya, apapun yang terjadi, aku selalu berada disisinya....


Alasanku cuma satu, aku suka dengan ucapan terimakasihnya, aku suka saat dia memelukku dan bergantung padaku, membuatku menjadi orang yang sangat terpenting dalam hidupnya.


Aku yang selalu sendiri, setelah adanya Sara, aku merasa aku bisa menjadi seseorang yang hebat bagi hidup orang lain...


Sebuah kebanggaan pada diri sendiri yang salah...


Sekarang, malah jadi senjata makan tuan bagiku.


Kacau....


" Semua sudah terjadi, mau gimana lagi.... Kita bersyukur aja, kita semua terus sehat ya. Kita akan bersama-sama menghadapinya sampai tuntas. Apapun yang terjadi, jangan diam dan menahannya sendiri, terbukalah pada ayah bunda, Re.... "


" Iya, Bun.... "


" Baiklah, ayo kembali ke kamar... Siapa tau Sara mencari kita, butuh sesuatu. "


Ajak bunda, dan mendahului bangun beranjak dari bangku. Aretha mengikutinya. Bersama, keduanya melangkah berjalan keluar kantin rumah sakit menuju ruang rawat inap, dimana Sara dirawat.


EMPAT BULAN BERLALU


" Dimana sih, Re.... Aduh, kamu ini... kenapa nggak dicari dari semalem sih ? "


Sara tampak cemas sembari mengacak-acak lemari baju Aretha. Aretha yang juga sibuk bongkar isi kamarnya cuma bisa menggelengkan kepala.

__ADS_1


" Aku juga nggak tau dimananya, aku lupa. Pikirku ya masih ada di tas terakhir aku cek ke bidan. "


" Isshh... kamu emang pelupa. Tau gitu, aku aja yang simpen buku cek kandunganmu itu... "


" Iya, iya... ntar kamu aja deh yang simpen. "


Kata Aretha masih sibuk mencari.


" Kalian sedang ngapain ? "


Tanya bunda, yang saat masuk ke kamar menemukan Aretha dan Sara sedang sibuk mengacak-acak isi kamar.


" Rere nih Bun, pelupa banget. Buku cek kandungannya lupa disimpen dimana... "


" Ini ? "


Kata bunda sembari menunjukkan sebuah buku.


Keduanya menoleh dan bersamaan tersenyum lebar.


" Aahh.... ada di bunda ternyata. "


" Kenapa bunda nggak kasih dari tadi sih ? Rere udah pusing nih nyariin. "


" Lho koq nyalahin bunda ? Bukannya say thankyou ? "


" Hehehe.... Iya iya.... tararatengkyu ya bundaku ! "


Kata Aretha terkekeh, dan segera memeluk sang bunda. Sara tersenyum dan menghampiri Aretha.


" Ayo berangkat sekarang ! "


Ajak Sara dengan penuh semangat.


Kata bunda sembari mengelus perut Aretha yang mulai terlihat sedikit besar sekarang.


" Iya, Oma.... "


Sara yang menjawab dengan meniru suara anak kecil. Dan alhasil, Aretha juga bunda tertawa geli mendengarnya.


" Sudah sana... "


Kata bunda sembari mendorong Aretha dan Sara keluar kamar.


" Jalan dulu ya bunda... "


Kata Sara sambil menggandeng Aretha.


Bunda membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.


Sambil bercanda kecil, keduanya pun keluar rumah menuju klinik, untuk cek kandungan Aretha.


Kandungannya sudah mulai kelihatan.


Sara juga kayaknya bisa menerimanya, dia yang paling semangat setiap datang tanggal cek kandungan Rere.


Semoga, Sara beneran sayang sampai anak itu lahir nanti.


Harus pinter-pinter nantinya ngejaga perasaan Sara saat anak itu lahir.


Kadang capek ngejalaninnya... tapi demi kebaikan semua, emang harus dijalani bukan ??


Batin bunda saat menatap Sara dan Aretha yang mulai menghilang dari pandangan. Kemudian sambil berjalan santai, bunda menuju taman di samping rumah.

__ADS_1


Seperti biasa, kegiatan sore hari bunda, menyirami tanaman-tanaman di taman sambil menikmati secangkir teh di sore hari. Menghabiskan waktu menunggu ayah pulang kerja.


" Mmm... ini sepertinya udah harus dipindahin, udah mulai banyak bibit barunya. "


Kata bunda kepada diri sendiri, saat mendapati tanaman aglonemanya memang mulai tumbuh bibit-bibit baru.


" Bi...! Bi Siti.... !!! "


Panggil bunda, ingin meminta bantuan Bi Siti.


Tak lama, Bi Siti datang dengan tergopoh-gopoh.


" Iya, buuu.... "


" Tolong bawain sendok taman dan beberapa polibag kecil ya, ada di gudang garasi. "


Kata bunda.


" Baik buuu.... "


Dan Bi Sitipun segera mengikuti instruksi bunda.


Sepeninggal Bi Siti, bunda menarik pot yang ia maksud sebelumnya. Menuangkan isi dalam pot ke lantai terdekatnya dan dengan menggunakan sarung tangan. karet yang tergeletak di bawah meja taman, bunda memilah bibit-bibit baru tanaman aglonema tersebut.


" Ada kan Bi ?.... "


Kata bunda tanpa menoleh saat mendengar ada suara langkah mendekat ke arahnya.


" Bunda... "


Bunda terkejut mendengar suara yang memanggilnya. Dan dengan cepat menoleh ke arah belakangnya. Mengenali sosok yang sedang berdiri di belakangnya, bunda segera beranjak bangun.


" R-ryu ??!! "


Sebut bunda dengan tak percaya.


Benar, Ryuzakilah yang saat ini berdiri di hadapan bunda. Dia tersenyum simpul.


" Maaf, Ryu baru datang sekarang... "


Kata Ryu dengan sopan.


Bunda masih tak percaya dengan pandangan matanya.


Setelah empat bulan....


Dia baru datang sekarang ?


Tanpa kabar apapun sebelumnya....


Menghilang begitu saja, katanya pulang ke Jepang.


Tapi mami papinya bilang, Ryu nggak pernah pulang ke Jepang.


Kemana dia selama ini ?


Apartemennya pun kosong.


Aku beberapa kali ke sana buat bersihin.... nggak ada tanda-tanda dia pulang ke apartemennya.


Teman-temannya juga nggak tau dia dimana.


Hari dan Hanako yang masih suka telepon dan nanyain Rere, selalu nanyain anaknya juga.

__ADS_1


Dia benar-benar nggak pulang....


__ADS_2