AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 59


__ADS_3

Aretha menatap sosok gadis cantik nan anggun di hadapannya. Memperhatikannya dengan sangat teliti. Cara gadis itu mengaduk susu karamelnya dengan anggun. Cara gadis itu memperhatikan orang-orang di sekitar mereka. Cara gadis itu tersenyum saat mata mereka beradu pandang.


Aretha hampir-hampir tak berkedip menatap gadis berusia lebih muda beberapa tahun darinya. Bahkan ia juga melupakan kopi manisnya yang sebelumnya panas, kini mulai menghangat.


Ia hanya tertarik menikmati pemandangan di hadapannya. Seorang gadis yang selalu menempel padanya dari kecil hingga mereka kini dewasa. Ya, gadis itu adalah Sara Vristhi.


" Kopi mu, Re... "


Ucap Sara mengingatkan dengan suara lembutnya.


" Aahh iya... "


Dan Aretha pun tersadar, menundukkan wajahnya, menatap kopinya, mengambil cangkir di atas meja, kemudian menyeruputnya perlahan.


" Aku kecewa. Kamu pindah begitu saja, Re. Bunda juga nggak cerita apa-apa kalo aku nggak nanyain. Aku pikir, kita baik-baik saja. Kita nggak ada masalah apapun. Tapi kamu pindah tanpa kasih tau aku. "


Sara memulai obrolan untuk pertama kalinya setelah hampir setengah jam mereka berdua duduk di sudut ruangan coffe beans tersebut.


Aretha meletakkan cangkir kopinya dengan perlahan. Melihat ke sekelilingnya untuk sesaat. Barulah ia menatap kembali ke arah Sara yang rupanya juga sedang menatapnya.


" Aku cuma butuh waktu sebentar buat sendiri. Merenung. Mikirin semuanya dengan otak dan hati yang dingin. Dan tentu saja, pingin fokus pada kuliahku lagi. "


Sahut Aretha dengan nada datar.


" Lalu apa susahnya kamu bilang ke aku, kalo kamu mau pindah ? Aku kan jadi nggak bingung, mikirin apa kamu kenapa-napa, kok pindah diem-diem begitu ? Aku bukan orang lain. Aku bukan teman mu. Kita dekat sejak kecil, kenapa kamu nggak mau jujur padaku ? "


Cerocos Sara tanpa henti dan wajah yang tampak kecewa.


" Sara... "


" Apa kamu takut padaku, Re ? "


" Bukan, aku nggak... "


" Apa kamu nggak percaya padaku ? "


" Please, jangan berfikir... "


" Aku ini peduli padamu, lebih dari pada diriku sendiri. Aku sayang sama kamu, lebih dari sayangku pada diriku sendiri. Apa kamu masih nggak paham soal itu ? Apa kamu... "


" Sara, stop ! Aku nggak mau bahas soal perasaan apapun itu disini ! "


Aretha mulai geram dengan ucapannya yang terus dipotong begitu saja oleh Sara.


" Aku cinta Ryu. Apapun yang terjadi saat ini, nggak akan ngerubah perasaanku padanya. Aku harap, kamu nggak lupa soal itu. Apapun perasaan mu padaku, aku nggak masalah, selama nggak mengganggu kehidupanku. Tapi satu yang perlu kamu ingat, dan yang selalu aku katakan berulangkali padamu, aku sayang padamu karena kamu adikku, saudaraku. Titik. "


Kata Aretha menegaskan.


Sara masih menutup mulutnya rapat-rapat. Ia terus menatap Aretha dengan wajah sendunya. Ada setitik penyesalan dari dalam hati Aretha saat menatap mata Sara yang sedih.


Apa aku terlalu jelas ya ?


Tapi ini emang yang pingin aku lakuin saat ini...


Membuat semuanya jelas buat Sara.


Tapi wajah nya itu... bikin aku ngerasa bersalah jadinya.


Batin Aretha sedikit dilema.


Untuk sejenak kemudian, keduanya terdiam. Menikmati minumannya masing-masing yang juga ditemani sepiring kentang goreng dan beberapa kue seperti pie susu dan pastry isi buah.


" Cobain deh, pastry isi buahnya enak. Mirip dengan bikinan Bunda. Buahnya kayak dijus gitu lalu mmm.... di mix sama susu, nyam nyam... rasa susunya kuat juga, jadi enak, yummy gitu... Mmm, ini rasa buah blueberry apa anggur ya ? Enak deh... Pastry nya garing berlapis, gurih juga, isinya, manis asem gitu... Pas banget ! "


Aretha benar-benar sangat menikmati pastry buah yang dipesannya. Bahkan dia mulai menghabiskan pastry yang ke dua sekarang.


" Jangan mengalihkan pembicaraan, Re. "


Kata Sara.


" Enggak kok... Aku bener-bener ngerasa, pastry ini enak banget. Tau sendiri kan, aku paling suka pastry. Cobain deh... "


Elak Aretha.

__ADS_1


Kemudian, dengan satu tangannya, ia mendorong piring berisi kue pastry lebih mendekat di hadapan Sara. Sara menurut. Ia mengambil satu kue pastry dari piring yang disodorkan Aretha.


" Gimana ? Enak kan ? "


Tanya Aretha bersemangat saat Sara mulai menggigit kue tersebut.


" Iya... mmmm, bener mirip bikinan Bunda. "


" Apa kubilang... "


" Kamu sering ke kafe ini ? "


" Dulu, pas masih tinggal di apartemen bareng Ryu... "


Ucapan Aretha mengambang.


Ingatannya mendadak kembali di masa-masa lampau, dimana dirinya dan Ryuzaki masih tinggal bersama di apartemen.


" Hai, Re... Hai, Sara... "


Sebuah sapaan santai terdengar, membuat Aretha kembali dari lamunannya. Dan bersamaan dengan Sara, keduanya menoleh ke arah asal suara.


" Ditto ?! Hei... Gimana kabarmu ? "


Dengan wajah sumringah, Aretha bangun dari duduknya dan menjabat tangan Ditto yang tampak senang pula.


" Alhamdulillah, baik... Boleh duduk disini ? "


Sahut Ditto sambil menerima jabat tangan Aretha lalu menunjuk satu bangku kosong di antara Aretha dan Sara.


" Kenapa nggak boleh ?... Udah pesen minum ? Aku pesenin ya, sekalian kita ngobrol bareng ! "


Aretha sangat bersemangat.


" Udah kok, tenang saja. Tinggal tunggu dianter. Tadi pas abis pesen, nyari tempat kosong, eh ngeliat kamu, Re... Makanya aku samperin aja, itung-itung nyari temen ngopi, hehehe... "


Sahut Ditto yang segera meletakkan pantatnya ke bangku yang ia tunjuk sebelumnya.


Tiba-tiba Sara bersuara dengan wajah yang tampak kebingungan.


" Iya emang aku sekampus, tapi kan aku beda jurusan sama Ditto dan gedung kita jaraknya jauh. Jadi sama aja jarang ketemu... Iya kan, Dit ? "


Sahut Aretha seraya melirik ke arah Ditto.


Ditto tersenyum menanggapi apa yang dilakukan Aretha, dan melempar senyum pula ke arah Sara. Sara mencoba membalas senyum Ditto, tapi terlihat jelas, tampak kaku.


" Gimana kabarmu, Sara ? "


Tanya Ditto.


" Kayak yang kamu liat... Aku baik, sehat dan nggak kurang apapun. "


Sahut Sara tanpa basa-basi.


" Iya, syukurlah... Masih terapi ? "


Tanya Ditto kembali, mulai mencoba bersikap lebih akrab.


" Masih... "


Sara menjawabnya dengan singkat.


Untuk sesaat, ketiganya diam seribu bahasa. Ditto sesekali melirik ke arah tempat pemesanan, berharap apa yang dipesannya segera datang.


Sara mengaduk minumannya dengan acuh tak acuh. Sementara Aretha mengamati Sara dan Ditto secara bergantian.


" Dit, kenapa nggak pernah main kerumah ? Bunda suka nanyain lho... "


Aretha memecah keheningan diantara mereka.


" Oh ya... Jadi kangen puding mangga buatan Bundamu. Kapan-kapan deh, secepatnya pasti main ke rumahmu. "


Kata Ditto sembari membayangkan puding mangga buatan Bunda.

__ADS_1


" Silahkan kak, kopi dan wafelnya... "


Seorang pramusaji tiba-tiba sudah berdiri di samping Ditto dan meletakkan nampan berisi pesanan Ditto di atas meja.


" Makasih mba... "


Jawab Ditto ramah.


Dan sang pramusajipun segera pergi. Aretha melirik ke arah Sara. Tampak olehnya, Sara masih saja mengaduk minumannya dengan acuh tak acuh.


" Jangan diaduk doang, minumlah... "


Kata Aretha menegur.


Mendengar teguran Aretha, Sara menghentikan tindakannya dan mengambil sebuah kue pastry dari meja.


" Pastry disini enak ya... Tapi aku lebih suka wafel keringnya ini, dengan isian coklat crunchy nya, pas dengan kopi hitam ku... "


Kata Ditto mencoba lebih akrab.


" Ya, pastry nya enak. Aku suka banget. Tapi wafelnya, aku nggak begitu suka wafel kering. Aku lebih suka wafel tebalnya dengan taburan keju, almond dan krim coklatnya. "


Jawab Aretha.


" Sara, kamu... "


" Kepalaku kok tiba-tiba berat ya... Rasanya aku ngantuk banget... "


Sara meletakkan sisa kue pastry di tangannya ke atas meja.


" Kamu kecapekan kali... "


Sambung Aretha.


" Bisa jadi... Hari ini banyak juga aktifitas ku. Apa aku boleh menginap di apartemen mu, Re ? "


Kata Sara sembari mencoba fokus menatap Aretha.


" Boleh aku antar pulang ? "


Tanya Ditto menawarkan bantuan.


" Aku ma... "


" Ya, tolong antar Sara pulang deh, Dit... "


Aretha langsung memotong ucapan Sara.


" Re... "


Sara tampak merajuk dengan tatapan nya yang mulai kabur.


" Sudah, pulang aja diantar Ditto... Aku nggak mau Bunda kuatir kalo kamu nggak pulang. "


Jawab Aretha yang lalu beranjak bangun dan menghampiri Sara, membantunya berdiri.


Ditto pun ikut bangun dari duduknya dan mulai membantu Sara untuk berjalan keluar.


" Aku duluan deh... "


Kata Ditto tanpa basa-basi lagi membawa Sara pergi meninggalkan Aretha.


Aretha hanya tersenyum simpul sembari mengedipkan satu matanya. Seperti paham apa maksud kedipan mata Aretha, Ditto tersenyum kecil.


Okey...


Dimulai dari sini, tugasku udah selesai.


Sekarang giliran mu, Dit...


Good luck aja deh !


Batin Aretha seraya menatap Ditto dan Sara yang semakin menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2