
3 Tahun Lalu...
Kantin Kampus, 13.46 WIB.
Aretha menyantap nasi gorengnya dengan lahap. Pagi tadi ia belum sempat sarapan, karena bangun kesiangan. Sara yang sedang sakit juga tidak membangunkannya seperti biasanya. Alhasil, roti oles margarin kesukaannya yang selalu disiapkan Bunda sebagai sarapan pagi nya, terpaksa dilewat kannya.
" Hei, anak gadis nggak boleh makan buru-buru... Ntar keselek lho ! "
Tegur Zoya yang baru saja datang dan duduk di sebelahnya. Aretha seperti tidak menghiraukan kedatangan Zoya. Masih sibuk dengan nasi goreng nya.
" Pesen dari kapan itu, udah bisa langsung makan begitu ? "
" Tadi jam kuliah kurang 15 menit, aku udah chat mba Sri, begitu kuliah bubar, nasgorku udah matang deh... "
Sahut Aretha sambil menyeka mulutnya setelah selesai menghabiskan nasi goreng nya.
" Lihat itu... Kamu itu kan dah mahasiswa, apa iya masih pantes makan pada belepotan begitu ? Baju putihmu itu.... "
Aretha melihat ke bawah, dan benar saja. Apa yang dikatakan Zoya benar adanya. Beberapa butir nasi goreng nya memang berjatuhan di kerah baju depan dan di celana jeans biru mudanya..
" Oh iya, beberapa hari ini kulihat kamu selalu datang sendiri aja. Sara masih sakit ? "
" Masih... Mau nengokin ? "
" Ah, nggak deket... Ngapain ! "
" Ya deketinlah.... "
" Nggak ah ! Takut ! "
" Takut kenapa ? "
" Takut di sukai sama dia ! Hehehe... Kayak kamu tuh ! "
" Kamu tuh ga tau apa-apa, jangan suka ngaco kalo ngomong ! "
" Liat apa kamu sendiri ! "
Aretha terdiam. Memikirkan apa yang dikatakan Zoya.
" Aku jadi temen mu udah dari SD, Re... Aku paham banget kayak apa Sara ke kamu. Sara nggak normal, Re ! Harusnya kamu lebih jaga jarak dari dia. "
" Dia normal kok, nggak ada yang aneh dari dia. Kamu nggak tau dia aja ! "
" Isshhh... Kamu itu jangan selalu tutup mata atas apa yang dilakuin Sara. Sara ngerubahmu jadi kayak gini... "
" Sara itu... dia, mmm... ah, sudahlah ! Ngapain juga aku cerita, kamu nggak akan ngerti. "
" Terserahlah... atur kamu aja. Kamu mau cerita apa nggak. Tapi aku perlu ingetin kamu ya, say ! Jauh-jauhlah dari Sara, jadi dirimu sendiri. "
" Okey... thanks to your attention. "
" Re, Hilman bilang dia mau nembak kamu hari ini... "
" Hilman siapa ? "
" Ya Allah, Re... Hilman anak Hukum, dia kan salah satu idola kampus ini. "
" Nggak kenal ! Bilang sama dia, nggak usah repot-repot nembak aku segala. Aku nggak butuh pacar. Temen cowok dah banyak kok ! "
" Karena Sara ? "
" Apaan sih, selalu nyalahin Sara ! "
__ADS_1
" Inget Ditto ? "
" Jangan bahas ini, Zoy ! Nggak ada bukti buat nyalahin Sara atas kejadian yang menimpa Ditto. "
" Kamu yakin ? Kamu yang paling tau Sara salah apa nggak, Re. "
Aretha membisu. Pandangannya jauh ke depan. Kosong.
" Dan Re... aku bener-bener bingung, apa sih yang terjadi antara kamu dan Sara ? Kenapa kalian begitu dekat, padahal kalian bukan sodara kandung ? "
" Ah, aku ngantuk ! Bilang sama dosen Siska, aku sakit. "
Aretha beranjak dari bangkunya dan meninggalkan Zoya tanpa jawaban apa-apa. Zoya menghela nafas panjang. Menatap punggung Aretha yang makin lama menghilang dari pandangannya.
Kediaman Danu Sutedjo, 19.00 WIB.
" Sara, nih minum obatmu. "
Aretha menyodorkan beberapa butir pil dan segelas air. Sara mengambilnya. Tanpa menunggu lama, segera diminumnya obat yang diberikan oleh Aretha.
" Okey, time to bedrest again. "
Kata Aretha sambil merapikan selimut untuk Sara.
" Re, hari ini jadi ketemuan sama Hilman kah ? "
Tanya Sara. Aretha menoleh ke arahnya, dan tersenyum.
" Hilman ? Siapa ? "
Sahut Aretha sembari mengernyitkan dahinya. Pura-pura, berbohong.
" Oh... nggak kok, nggak.... Bukan siapa-siapa. "
" Gimana kalo aku jadian sama Hilman ? Dia idola di kampus ku. Semua cewek suka sama dia, jadi a... "
" Tapi kamu bilang, kamu nggak kenal ! "
" Nggak perlu aku kenal kan, asal dia suka sama aku, aku bisa mengenal dia lewat pacaran. Dia punya prestasi juga di fakultasnya. Dia... "
" Nggak ! Jangan !!! Dia nggak baik buat kamu ! "
" Nggak baik buat aku ? Darimana kamu tau ? Kamu kan nggak kenal dia... Apa... Kamu kenal dia ? "
" Dia itu playboy, Re ! Ceweknya banyak ! "
" Tapi yang aku dengar, dia belum pernah pacaran. Gimana bisa kamu tau dia playboy ? "
" A-aku... Aku... "
" Kamu selalu ngawasin aku dan orang-orang di sekitar ku ? "
" Nggak, nggak kayak gitu, Re ! A-aku... "
Kali ini Aretha tampak marah. Sara memegang tangannya. Berharap Aretha tetap di tempat agar mendengarkan penjelasannya.
" Sara, aku tanya sama kamu. Jawab jujur ! Apa kamu selalu ngawasin aku dan orang-orang sekitarku selama ini ? "
Sara membisu. Tatapan mata Aretha membuatnya serba salah.
" Jawab aku, Sara !!! "
Aretha setengah berteriak dan menghentakkan tangan Sara. Sara berusaha memeluk Aretha.
__ADS_1
" Nggak, Sara !!! "
" Jangan kayak gini, Re... Kumohon... "
" Kamu yang buat kayak gini ! "
" Nggak, nggak, Re... "
Sara terus berusaha memeluk Aretha untuk menenangkan nya. Tapi Aretha semakin marah.
" Aku juga pingin pacaran, aku juga pingin jalan sama cowok, aku pingin jalan sama temen-temen ku ! Aku juga pingin bebas, Sara ! "
" Maksud kamu ? Kamu pingin ninggalin aku ? Kamu pingin jauhin aku ? "
Sara tampak melemah. Usahanya untuk memeluk Aretha memang tak berhasil, tapi kata-kata Arethalah yang membuatnya semakin tak berdaya.
" Kamu terlalu jauh mikir ! Aku pingin bebas bukan berarti aku ninggalin kamu, tapi aku juga pingin punya kehidupan normal kayak orang-orang lain, aku ping... "
" Maksudmu, kehidupan mu sekarang nggak normal kah ? "
" Sara, aku tau akulah yang egois. Akulah yang bikin semua ini jadi kayak gini, akulah yang bikin kamu cuma jadi milikku karena aku kesepian sebelumnya. Akulah yang salah, aku lah yang manfaatin kamu. Akulah yang bi... "
" Aku nggak masalah kok, Re. Aku suka dengan semua yang kamu lakuin buat aku. Aku nggak nyesel atas apa yang terjadi sampai kapan juga. Aku menyayangimu lebih dari aku sayang diriku sendiri. Aku berterimakasih atas semua ini. Aku cuma pingin kita sama-sama merasa saling menyayangi dan memiliki. Nggak ada yang lain, nggak ada orang lain. Nggak ada yang... "
" Termasuk nggak ada Ditto ? "
" Re ! Kenapa kamu bahas masalah Ditto lagi ? Kita nggak tau dia itu masih hidup apa udah mati. Ditto nggak pantes buat kamu ! "
" Jadi jawab aku sekarang... Kamukah yang pingin Ditto mati ?? Kamu kan yang nusuk dia ??? Kamu kan yang pingin bunuh dia ??? "
" Re, kenapa kamu bilang kayak gitu ? "
" Waktu aku datang nemuin Ditto, dia udah pingsan. Darah mengalir terus dari pinggangnya. Dan aku nemuin sesuatu yang aku kenal banget itu punya siapa. Pisau lipat itu punya mu, Sara ! Pisau lipat yang kita beli sama-sama waktu kita mau mendaki gunung. Pisau itu milikmu !!! "
Aretha menekan pundak Sara dengan sekuat tenaga. Sara menahan kesakitan. Tapi ada senyum yang tersungging di sudut bibir mungil nya.
" Jadi dari awal kamu tau semua itu ? Kenapa nggak bicara apa-apa waktu itu ? Kenapa kamu bilang nggak tau ? Kenapa pisau itu nggak kamu berikan sebagai barang bukti ? Bukankah itu artinya, kamu juga sayang sama aku, Re ? "
" Kamu gila, Sara !!! KAMU GILA !!! "
Aretha mendorong tubuh Sara. Sara terjatuh, terduduk di lantai.
" Ya, aku gila !!! Aku emang gila !!! Karena aku selalu berpikir, kamu cuma milikku !!! Aku nggak suka kamu dekat sama Ditto ! Aku nggak suka bersaing mainan dengan Oren, Bunny, dan juga Sweetie !! Aku nggak mau mereka merebutmu dari ku ! "
Mata Aretha membelalak.
" Apa ??? Oren, Bunny, dan Sweetie ?... Kamu... Kamu... "
Aretha hampir tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Sara bangun dari jatuhnya. Tersenyum.
" Kamu cuma milikku, Re !!! "
Aretha melangkah menjauh dari Sara. Memilih keluar kamar. Dan tepat di pintu kamar, berdiri Bunda yang menatapnya dengan sedih.
" Re... "
Ucap Bunda lirih. Di mata Bunda, Aretha benar-benar tampak sangat terpukul. Bunda memegang pergelangan tangan Aretha.
" Re, ada Bunda disini... ada... "
" Bun, Rere butuh waktu sendiri... Maaf. "
Dan malam ini lah, Aretha memilih keluar rumah dan berhenti kuliah. Berusaha menjauh dari Sara. Meskipun akhirnya sia-sia.
__ADS_1