
Aretha menajamkan pandangannya ke depan. Keningnya berkerut. Nafasnya mulai tampak berat. Wajahnya kemerahan bak pakai blush on dengan tebal.
" Ini berapa ? Ayo, cepet... Jangan dipelototin doang. "
Tanya Ella mengacungkan telunjuknya dan merasa lucu melihat Aretha.
Aretha mulai mendekatkan wajahnya ke arah telunjuk Ella. Keningnya semakin berkerut.
" Satu. Itu satu, La... "
Jawab Aretha akhirnya.
" Haaa... Dia belum mabuk. Buruan kasih lagi... "
Kata Ella merasa kalah.
Kemudian spontan, terdengar gelak tawa Zoya dan Nasya. Ella langsung mengambil sloki di hadapan Arerha. Diisinya sloki tersebut dengan minuman beralkohol yang ada di atas meja.
" Nih... Minum lagi... "
Kata Ella sembari menyodorkan sloki tersebut ke hadapan Aretha.
" Denger, dia bilang dia satu kamar... Bayangin, satu kamar. Coba kalian pikir... Cowok cewek sekamar ? Apa yang bisa terjadi, coba ?... Apa ? Apa ? Hihh, Parah ! "
Kata Aretha dengan nada suara yang kadang tinggi kadang rendah.
" Siapa sih yang mulai duluan ngajakin dia minum sampai mabuk gini ? Dia ini kan paling nggak kuat minum dibandingin kita. "
Keluh Nasya sambil geleng-geleng kepala.
Aretha mengambil slokinya dan langsung menenggak isinya hingga habis. Kemudian dengan suara yang tak jelas, ia mulai mengoceh sembarangan.
" Hehehe... Ya gini nih, kalo cinta tapi bilang nggak. Kamu ini, kenapa nggak mau jujur sama perasaanmu sendiri sih ? "
Kata Zoya yang langsung merangkul bahu Aretha.
" Zooyy... Lepaasiinn... Aku gerah. "
Aretha menolak dan menjauhkan tangan Zoya darinya.
" Udah lah, jangan minum lagi. "
Kata Nasya.
Sayangnya Ella tak sependapat dengan Nasya, ia kembali mengisi kembali gelas sloki yang telah kosong di hadapan Aretha.
" Biarinlah... Dengan dia minum sampai puas, dia bakalan plong. Ntar kalo dia udah mabuk berat, kita telepon aja si Ryuzaki itu. Biar dia tanggungjawab tuh, bikin Rere galau begini. "
Sahut Ella.
" Bisa ngamuk Rere ntar, tau ! Jangan deh. Aku aja yang anter ke apartemen dia. "
Sambung Zoya.
" Lagian, Rere kan lagi kesel sama si Ryu, kalo kita manggil Ryuzaki kesini, dan dia denger ocehan Rere soal dia, bisa malu Rere ntar. Bener Zoya, biar Zoya aja yang antar. Arah mereka kan sama. "
Tambah Nasya.
" Seharusnya, kamu tuh yang tanggungjawab. Kamu kan yang ngusulin buat minum. "
Timpal Zoya menunjuk ke arah Ella.
" Yups, betul banget ! "
Sambung Nasya sembari tersenyum.
" Iya, iya, iya... Oke deh, aku yang anter dia pulang. Hem ? "
Kata Ella kalah.
" Biar aku saja... "
Mendengar suara berat mendekat, ketiganya menoleh.
" Panjang umur... "
" Baru juga diomong ya... "
" Heemm... "
Komentar ketiganya setengah bergumam.
Ryuzaki duduk di sisi Aretha. Diambilnya sloki di tangan Aretha dan diminumnya sendiri dengan sekali teguk.
" Hei ! Itu jatahku... Tunggu dulu... Kenapa kamu jadi keliatan kayak cowok nggak tau diri itu, La... Cowok maniak yang bisa-bisanya ti... Mmmpptthh ! "
Nasya segera membekap mulut Aretha.
" Bawa pulang, gih ! Sebelum mabuk parah. "
__ADS_1
Kata Nasya.
" Iya... Aku juga udah hampir-hampir mabuk nih. '
Sambung Ella.
" Rere paling payah di antara kita kalo urusan minum. "
Imbuh Zoya.
" Tapi... Ryu, kamu koq bisa ada disini sih ? "
Tanya Zoya penasaran secara tiba-tiba.
" Ah, tadi waktu main di rumah Nano. Aku denger, Nasya sempet telepon Nano minta dijemput. Nano cerita, kalian pada minum disini. Dari situ aku tau, Rere disini. "
Jawab Ryuzaki.
" Oh. "
Ucap Zoya.
" Niatnya emang mau ketemu Rere. Ada yang mau aku omongin. "
" Woi ! Aku ditinggalin gitu aja. Kataku kan bareng. "
Nano datang dan langsung menegur Ryuzaki.
" Kamunya, nyari parkiran ngapain lama banget gitu. "
Sahut Ryuzaki.
" Mas, kamu dateng bareng Ryu ? "
Tanya Nasya yang melihat sang kakak datang.
" Hooh, ayo pulang sekarang ! Mami besok pagi pulang, kalo kamu nggak bisa bangun pagi, abis kamu ! "
Kata Nano memarahi Nasya.
" Iya, iya ! Aku juga nggak mabuk kayak tuh ! Kasih ngomel mulu... "
Sahut Nasya yang langsung meraih tasnya di atas meja.
" Gengs, aku balik duluan ya. Bye bye... "
" Kalian juga, pulang sana ! Udah tengah malem. Kurangin apa, nongkrong-nongkrong dan minum di diskotik begini. Bukannya udah pada dapet kerjaan ? Jangan mentang-mentang udah bisa nyari duit sendiri, gaya hidup jadi makin bebas. Lagipula, apa sih untungnya pada ngelayap kayak gini ? "
" Maass !!! Buruan ! "
Masih ingin menasehati tapi sang adik sudah memanggilnya, Nanopun berhenti bicara.
" Ya, iya ! "
Sahut Nano yang segera melangkah mengejar sang adik.
" Huufftthhh... Panjang deh, kalo si Nano ngeliat kita kayak gini... "
Keluh Zoya.
" Tapi Nano bener. Kalian kan perempuan, udah se... "
" Oke ! Oke ! Aku pulang duluan yaaaa... ! "
Ella langsung meraih tas kecilnya di atas meja dan berlari meninggalkan yang lainnya.
" Aku juga ! Jangan lupa, bawa pulang Rere ya. Kunci motor nya di dalam kantong celananya. "
Dan menyusul pula Zoya yang juga bergegas pergi.
Ryuzaki hanya tersenyum kecil melihat ulah dua gadis sahabat istrinya itu.
" Kamu... Kenapa minum sampai semabuk ini... Angkat kepalamu aja sampai nggak kuat begini. "
Kata Ryuzaki yang melihat ke arah Aretha.
Aretha tak bergerak. Kepalanya tergeletak di atas meja. Sesekali ia seperti bergumam, namun tak jelas mengucapkan apa.
Ryuzaki melihat ke atas meja, meraih sebuah handphone dan memasukkannya ke kantong jaketnya. Barulah ia mencoba merangkul Aretha, hendak memapahnya untuk berdiri.
" Eemmm.... "
Aretha kembali bersuara tak jelas. Lalu tiba-tiba lengan Aretha memeluk bahu Ryuzaki. Kepalanya bersandar di dada Ryuzaki. Terlihat seperti mereka sedang berpelukan.
" Ayo, aku antar kamu pulang. "
Bisik Ryuzaki di telinga Aretha.
" Mmm... Nggaakk... Aku... Mana... Mmm... La... La... "
__ADS_1
Gumam Aretha.
Ryuzaki yang merasa kerepotan karena pelukan Aretha, akhirnya memilih membopong Aretha. Diiringi tatapan pengunjung yang lain, Ryuzaki membawa Aretha keluar diskotik.
Perlahan, Ryuzaki membantu Aretha masuk ke dalam mobilnya. Aretha masih sesekali menggumam tak jelas. Terkadang tangannya menunjuk, sesaat kemudian jatuh terkulai begitu saja.
Setelah memasangkan sabuk pengaman pada tubuh Aretha, Ryuzaki menutup pintu mobil.
" Mmm, La... La... Pasta, nyammm... nyaamm... Pas... ta... "
Kata Aretha tiba-tiba.
Ryuzaki menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Aretha. Dilihat olehnya, kepala Aretha yang sudah berada di sebelah luar jendela mobil yang memang terbuka.
Tangan Aretha melambai kemana saja. Sedangkan kedua matanya terpejam. Wajahnya kemerahan saking mabuknya.
Ryuzaki mendekat. Diraihnya tangan Aretha yang melambai kemana saja, seolah sedang memanggil.
" Jangan keluarin tangan dan kepala seperti ini, bahaya. "
Kata Ryuzaki yang memasukkan tangan dan kepala Aretha ke dalam.
" Nyyamm... Pas... ta... "
Gumam Aretha kembali.
Ryuzaki menyandarkan kepala Aretha dengan hati-hati. Setelah merasa yakin, Aretha sudah aman, ia menaikkan kaca jendela setengahnya.
Kemudian dengan langkah cepat, Ryuzaki menuju sisi kemudi. Ryuzaki langsung menekan tombol untuk menutup kaca mobil seluruhnya agar Aretha lebih aman.
" Ellaaa... Pasta... "
Gumam Aretha.
" Kamu mau makan pasta ? "
Tanya Ryuzaki menoleh ke arah Aretha sebelum menghidupkan mobilnya.
" Pas... ta... nyammm... mmm... "
Aretha kembali bergerak, sayangnya tubuhnya telah terpasang sabuk pengaman, sehingga membuatnya tak bebas. Kepalanya kadang tertunduk, lalu menggeleng sesaat, baru terkulai lemas.
Ryuzaki mendekat ke arah Aretha, berniat merapikan posisi duduk Aretha. Saat begitu dekat dengan wajah Aretha, bau minuman begitu mengusik hidungnya.
Ryuzaki menekan tombol di sisi bangku mobil, membuat posisi Aretha tak lagi duduk, tapi rebahan. Saat Ryuzaki ingin menarik tubuhnya untuk menjauh, ia menatap wajah Aretha yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.
Apa yang membuatmu semabuk ini ?
Bodoh, merusak diri sendiri cuma karena ada masalah ?
Batinnya tampak sedih.
" Mmm... Eemmm... "
Aretha menggumam.
Dengan hati-hati, Ryuzaki menyentuh wajah Aretha. Membelai pipinya yang terasa hangat di telapak tangannya. Menyentuh bibir Aretha dengan ibu jarinya secara perlahan.
Ryuzaki semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Aretha. Nafas berbau alkohol sangat menyengat keluar dari mulut Aretha yang masih terus menggumam tak jelas.
Ryuzaki memejamkan kedua matanya saat bibirnya menyentuh bibir Aretha yang hangat. Ia mulai mencium Aretha dengan lembut dan hati-hati. Tak peduli dengan rasa alkohol yang tertinggal di mulut Aretha. Menikmati setiap detik ciuman tak berbalas itu.
Seharusnya, inilah yang pingin kulakuin sejak awal kita ketemu kemarin...
Aku kangen padamu, Re...
Sangat, sangat kangen...
Batin Ryuzaki.
Setelah beberapa saat kemudian, Ryuzaki melepaskan ciumannya. Detak jantungnya terasa makin cepat. Wajahnya kemerahan. Tubuhnya menuntut lebih dari efek ciumannya tadi.
Ryuzaki seketika kembali ke bangku kemudinya dan mencoba untuk fokus menyalakan mobilnya.
" Huuufftthhh... Harus buru-buru berendam nih, biar nggak konslet otakku ! "
Katanya pada diri sendiri.
" Pas... ta... ku, La... Nyaamm mmm... "
Aretha terdengar menggumam kembali.
" Besok, kubeliin pasta yang banyak. "
Kata Ryuzaki segera menyalakan mobilnya dan bersiap melaju, meninggalkan area parkir.
" Eemmm... mmm... "
Dan Aretha terus menggumam.
__ADS_1