
16 tahun lalu
Kediaman Danu Sutedjo.
Aretha sedang sibuk bermain dengan boneka barbie di dalam kamarnya.
" Rere..... Rere...... "
Panggil Bunda, yang baru saja masuk ke dalam rumah. Aretha yang mendengar suara sang Bunda memanggil nama nya, segera berlari keluar kamar. Menuju ruang tengah.
" Bundaaa !!! "
Sahut Aretha penuh semangat. Wajahnya sangat bahagia. Sudah 2 bulan Ayah dan Bunda pergi, Aretha hanya ditemani Mak Ida. Jadi begitu mendengar suara Bundanya, Aretha begitu bersemangat, dan berharap mendapat oleh-oleh, seperti janji Bunda sebelum pergi.
" Buunn..... "
Aretha menghentikan panggilannya begitu sampai di ruang tengah. Di sofa, Bunda sedang duduk dengan seseorang. Aretha yang sebelumnya berlari dengan penuh semangat, kini mendekat perlahan dan tampak ragu. Bunda tersenyum.
" Sini, sayang..... "
Bunda bangun dari sofa dan menggandeng Aretha. Mendekatkan nya dengan seorang yang Aretha tidak kenal. Seorang gadis kecil yang cantik dengan begitu eratnya memeluk sebuah boneka Marsha berwarna merah muda. Wajahnya terlihat takut saat menatap Aretha.
Aretha menatap sang Bunda penuh tanda tanya.
" Namanya Sara Vristhi. Umurnya 6 tahun. Mulai hari ini, Sara akan jadi sodara kamu. Jadi adik. Cantik ya ? "
Kata Bunda memperkenalkannya. Senyum Aretha mengembang. Dan kembali bersemangat, berniat memeluk Sara. Tapi Sara ketakutan. Segera berpegangan dengan erat pada tangan Bunda. Aretha mengurungkan niatnya untuk memeluk Sara.
" Nggak papa, Sara.... Ayo, kenalan dulu sama Rere. "
Kata Bunda mencoba mengatasi rasa takutnya Sara. Sara melepaskan pegangannya pada lengan Bunda. Dengan ragu, mengulurkan tangannya, menjabat Aretha. Tapi Aretha malah memeluknya dengan erat.
" Sekarang Rere punya teman bermain, ya.... "
Kata Bunda tersenyum melihat antusiasnya Aretha.
" Iya, iya ! Rere suka ! Sini, ayo kita main barbie ! "
Dan Aretha pun segera menarik Sara, membawanya ke kamarnya.
" Gimana ? Rere menyukainya ? "
Tiba-tiba Ayah muncul dengan 2 koper besar, dibantu oleh Mang Kasdi. Bunda mengangguk.
__ADS_1
" Sesuai harapan, Rere langsung menyukainya. Dia kan emang pingin punya adik. Dan tau sendiri, aku udah nggak bisa memberinya adik.... "
" Bicara apa kamu, Bun... Sudah, jangan dibahas lagi. Ayah sudah bahagia kok dengan semua ini. Dan semoga Sara betah tinggal disini. "
Ayah memeluk pundak Bunda dengan penuh kelembutan.
" Maaf ya, Yah.... "
Kembali Bunda merajuk. Ayah tersenyum.
" Lebaran masih jauh.... "
Sahut Ayah mencoba bercanda. Kali ini Bunda yang tersenyum.
" Aku nggak menyangka Irma menjalani hidup yang berat. Dia sahabat Bunda dari kecil, sampai saat lulus SMP, dia sekeluarga pindah ke Surabaya. Dan sejak dia pindah, Bunda nggak pernah tau kabarnya lagi. Kalo bukan Ayah ngajak Bunda kali ini ke Surabaya, Bunda nggak akan pernah ketemu lagi sama dia.... "
" Sudah.... Jangan dibahas lagi, ah ! Nanti Bunda sedih lagi deh.... "
" Semoga Sara nggak sama nasibnya ya kayak Mamanya. "
" Kita yang akan membuatnya berbeda dengan mamanya. Kita besarin dia dengan baik, kita akan beri pendidikan yang bagus, kita akan ajari dia yang terbaik, pasti nasibnya beda dengan Mamanya. "
" Iya ya, Yah.... amin. "
Sara bersekolah di sekolah yang sama dengan Aretha, sekolah yang terkenal bagus dalam pendidikan dan fasilitasnya. Mereka satu sekolah, tapi beda kelas. Aretha 2 tingkat di atas Sara.
Tidak ada yang dibedakan antara Aretha dan Sara. Dari pakaian, mainan, dan segalanya. Bunda seperti memiliki anak kembar.
Bedanya hanya satu, Sara sering sakit-sakitan. Kondisi fisiknya lemah. Itu yang membuatnya menjadi bahan candaan teman-teman di sekolah dan di sekitar lingkungan rumah.
Aretha yang benar-benar menganggapnya sebagai adik, menjadi kakak yang baik. Selalu melindunginya. Membelanya dari siapapun yang mencoba mengganggu Sara. Bahkan Aretha sampai meminta kepada Bunda untuk belajar bela diri, dengan niat untuk menjaga Sara.
Apa yang dilakukan Aretha, membuat Sara menjadi bergantung sepenuhnya kepada Aretha. Sara tidak akan pernah mau kemana-mana tanpa Aretha di sisinya. Begitu pula dengan Aretha. Dan semakin lama semakin kuatlah rasa saling memiliki di antara mereka.
Bunda yang memang tidak bisa hamil lagi karena pengangkatan tumor rahim, merasa bersyukur dengan adanya Sara. Aretha tidak lagi menjadi kesepian saat ke dua orangtuanya harus pergi keluar kota untuk perjalanan bisnis.
Semua baik-baik saja, terasa normal dan bahagia. Sampai suatu hari, saat Aretha kelas 5 SD, ia menemukan seekor anak kucing di depan gerbang sekolah nya. Terlihat lemah, dekil dan selalu mengeong seakan mencari sang ibu. Aretha membawanya pulang. Memperlihatkan nya kepada Sara yang saat itu sedang sakit. Ya, karena fisiknya yang lemah, Sara sering sakit dan tidak masuk sekolah.
Aretha mulai menyukai memelihara Boni, kucing yang baru ditemukannya. Dia memberi nama kucing itu. Dan kesibukannya dengan Boni membuat Sara iri, merasa terabaikan.
Saat Sara sakit, Aretha pasti menemaninya selalu di kamar. Makan, mengerjakan tugas sekolah sampai bermain pun dilakukan Aretha di kamar. Tapi setelah hadirnya Boni, Aretha tidak lagi menemaninya. Hanya sesekali menyapanya.
Hingga suatu hari....
__ADS_1
" Boni.... Boni.... Puuusss.... "
Aretha yang baru saja turun dari mobil, setelah pulang sekolah langsung berlari mencari Boni ke dalam rumah.
" Ganti baju dulu, mbak Rere.... "
Mak Ida ikut berlari mengejar Aretha sambil membawa baju ganti untuknya. Tapi Aretha masih sibuk mencari Boni.
" Mak, Boni kok nggak ada dimana-mana ? Boni main keluar rumah nggak hari ini ? "
Aretha terlihat mulai cemas. Biasanya, begitu Aretha memanggil, Boni akan langsung datang sembari mengeong manja.
" Ayo, ganti baju dulu.... Nanti Mak bantu cari Boni. "
Kata Mak Ida. Aretha pun menurut. Dengan wajah yang sedih, membiarkan Mak Ida mengganti seragam sekolahnya dengan baju yang sudah disiapkan.
" Sara, kamu liat Boni ? "
Tanya Aretha saat melihat Sara yang baru saja keluar kamarnya.
" Boni ? Nggak. Kenapa ? Boni nggak ada ?"
" Iya, Boni nggak ada. Aku udah panggil-panggil tapi Boni nggak datang. "
" Kali aja Boni main keluar rumah. "
" Emang iya ? Mak, nanti bener ya, bantu cari Boni. "
" Iya, nanti Mak bantu cari. "
Memang benar, Mak Ida menepati janjinya mencari Boni. Mang Kasdi, sopir setia keluarga Danu Sutedjo, juga ikut mencari. Hasilnya nihil. Aretha sangat bersedih. Sara berusaha menenangkan nya.
Tapi Boni tidak ditemukan. Bahkan setelah berhari-hari, sama sekali tanpa jejak. Aretha sempat sakit karena merindukan kucing kesayangannya yang telah dirawat nya hampir 1 tahun.
Di balik kesedihan Aretha yang kehilangan Boni, Sara merasa bahagia untuk itu. Lambat laun, Aretha mulai melupakan Boni dan kembali dekat dengannya seperti sebelumnya.
Entah dimana Boni berada, tapi aku senang Boni nggak ada dan nggak balik lagi ke sini.
Rere nggak lagi main terus sama Boni.
Aku senang Rere main sama aku lagi, tidur sama aku lagi, dan kemana-mana cuma sama aku.
Nggak ada lagi Boni.
__ADS_1
Hanya ada aku, Re....