AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 40


__ADS_3

" Sekali lagi... Maaf, maafin aku, Dit... "


Sara terlihat memohon dengan tulus kepada Ditto.


" Kalo saat pertama aku langsung deketin kamu, nggak deketin Rere dulu, semua ini nggak akan terjadi ya... Kayaknya akulah yang harusnya minta maaf sama kamu, sama Rere. "


" Buatku, ini bukan masalah kok... Apalagi aku juga udah punya suami, nggak jadi beban apa-apa ke depannya. Kita disini cuma kurang komunikasi dan nggak saling terbuka dari awal. Thanks buat kamu, Ryu... "


" Aku nggak lakuin apa-apa kok... "


" Kamu... udah banyak banget lakuin hal buat ku. Sekali lagi... Makasih. "


Aretha menggenggam tangan suaminya dengan erat. Entah kenapa, untuk pertama kalinya, hatinya bergetar menatap sang suami yang tersenyum padanya. Sara memperhatikan mereka. Ada rasa tidak suka dengan pandangan Aretha terhadap Ryuzaki.


" Sara... Kamu mau pertimbangkan perasaan ku kah ? "


Ditto menyentuh punggung tangan Sara dengan lembut. Perhatian Sara teralihkan. Aretha dan Ryuzaki menatap Ditto dan Sara bergantian.


" A-aku... "


Sara tampak bingung. Perasaannya bimbang. Matanya beradu pandang dengan Aretha. Seolah-olah meminta bantuan Aretha memberi keputusan. Aretha paham.


" Dit, kataku sih, jalanin ajalah dengan santuy. Saat ini Sara kayaknya butuh waktu karena beberapa kejadian masa lalu dan akhir-akhir ini. Kupikir, kamu bisa jadi tempat dia belajar dan share saat dia butuh pendapat. Tau sendiri kaaaannn... mmmm, aku juga harus mulai kehidupan ku yang baru juga. "


" Ah....iya, okey... sebagai teman juga sudah lebih baik.... "


Ditto mengangguk sembari melontarkan senyum. Sara tampak canggung menerima senyum Ditto untuknya. Aretha dan Ryuzaki berharap, ini awal yang baru untuk Sara menjadi bahagia.


Sepakat, ke empatnya meninggalkan atap dengan senyum. Hanya saja, Sara satu-satunya yang tersenyum dengan terpaksa.


2 minggu kemudian...


" Hari ini jadwal ke bidan ? "


Ryuzaki bertanya sambil menyodorkan segelas susu coklat hangat kepada Aretha. Aretha menerimanya tanpa mengalihkan pandangan dari acara televisi pagi ini. Sebuah acara reality show.


" Ya, kamu jadi temani aku ? "


Jawabnya dan kemudian menyeruput susu coklatnya. Ryuzaki duduk di samping istrinya. Ikut menikmati acara televisi.


" Okey... Kayaknya emang aku harus nemenin jadwal pertama mu ke bidan ya. "


" Kalo sibuk ga usah juga gapapa, kok. Aku cuma mau ulang test kehamilan doang. Test pack kemarin pagi juga sama aja, tapi lebih yakin aja test lagi ke bidan. "


" Gapapa aku temenin aja. Demi istri tercinta... "


CUP !!!


Sebuah kecupan lembut mendarat di pipi Aretha.


" Kebiasaan... "


Kata Aretha sambil melirik sang suami. Yang dilirik membalas dengan senyuman.


TING TONG !!! TING TONG !!!


Suara bel pintu berbunyi.


" Pagi-pagi begini, siapa yang dateng... "


Gumam Ryuzaki seraya beranjak dari sofa, melangkah ke arah pintu.


" Pagiiiiiiiiii..... !!!!! "


Jerit Zoya begitu pintu terbuka oleh Ryuzaki. Di belakang Zoya ada Ella dan juga Nasya yang langsung menyerbu masuk ke dalam dengan sangat girang. Ryuzaki menggelengkan kepala melihat tingkah seru para sahabat istrinya.


Saat hendak menutup pintu, tiba-tiba matanya menemukan sesuatu di bawah tepat di depan kakinya. Sebuah amplop.


Ryuzaki berjongkok, mengamati sebuah amplop putih di hadapannya dan beberapa detik kemudian memungutnya.


" Dear Rere... "


Bacanya pada tulisan di sudut kiri amplop sebelah atas.


Buat Rere ?


Surat ?


Dari siapa ?


Ryuzaki membalik amplop tersebut. Kosong. Tak ada nama pengirim.


" Re, ada surat... "


Kata Ryuzaki setelah menutup pintu dan menghampiri sang istri yang mulai sibuk mengobrol dengan para sahabatnya.


Mendengar kata-kata Ryuzaki, ke empatnya terdiam dan menoleh. Menatap ke sebuah amplop di tangan Ryuzaki.


" Surat ? Dari siapa ? "


Tanya Aretha penasaran sambil mengambil amplop tersebut.


" Ga ada pengirimnya. Ada di pintu, di lantai. "


Jawab Ryuzaki. Ke tiga sahabat Aretha saling berpandangan.


" Tadi kita di depan pintu mu, ga ada tu surat. "


Kata Ella, diikuti anggukan kepala Zoya.

__ADS_1


" Ah, mungkin diselipin di bawah pintu kali ya... Di luar ga terlihat, dan pas kita masuk tadi, Ryu baru ngeh... "


Kata Nasya menebak.


" Bisa jadi. "


Sahut Ryuzaki. Aretha melihat tulisan di amplop tersebut. Matanya membelalak.


Tulisan Sara !!!


Segera dirobeknya pinggir amplop. Ada selembar kertas di dalamnya. Aretha mengeluarkannya.


" Siapa, Re ? "


Hampir bersamaan, Ryuzaki, Ella, Nasya, dan Zoya bertanya. Tapi Aretha tidak menjawab. Matanya tertuju pada isi surat.


Re... maafin aku.


Aku nggak bisa ngeliat kamu bahagia tanpa aku.


Aku udah coba buat bahagia tanpa kamu, tapi aku ga bisa, Re.


Mataku perih liat kamu yang selalu tersenyum buat suamimu.


Hatiku sakit liat kamu yang selalu bahagia sama suamimu.


Maafin aku, Re.


Aku selalu sayang kamu, hanya kamu.


Ternyata aku tetap nggak bisa berbagi kamu dengan yang lain.


Sara.


Selesai membaca, Aretha tampak lemas. Ryuzaki mengambil surat dari tangan Aretha. Ikut membacanya bersama yang lain.


" Sara ! "


Mendadak Aretha berteriak dan tanpa bicara sepatah kata lagi, langsung beranjak dari sofa, berniat pergi. Ryuzaki dengan cekatan menangkap tangannya.


" Ada apa ? Apa arti surat ini ? "


" Ryu, cepet ! Cepetan ke rumah Bunda sekarang !!! "


" Tapi jelasin du... "


" NGGAK ADA WAKTU !!! "


" Okey ! Okey ! '


Aretha tidak menunggu lama, menyambar kunci motor kesayangannya yang tergantung tepat di samping pintu kamarnya. Dan segera keluar dari apartemennya bergegas menuju lantai basement. Dimana motor kesayangannya terparkir sekian lama.


Dalam sepersekian detik, Aretha melaju meninggalkan Ryuzaki dan ke-3 sahabatnya yang tergopoh-gopoh mengejarnya.


" Ayo, cepat ! Mobil mu mana, Ryu ? "


Kata Zoya cepat menyadarkan yang lain untuk segera mengejar Aretha. Ryuzaki berlari ke arah mobilnya terparkir, tidak jauh dari motor Aretha.


Kediaman Danu Sutedjo


" Mba Rere ? "


Mang Kasdi lumayan terkejut melihat kedatangan Aretha.


" Mana Sara, Mang ? Bunda ? Ayah ? "


Aretha yang turun dari motor langsung memberondong pertanyaan kepada Mang Kasdi yang langsung menghentikan kegiatannya mencuci mobil.


" Ayah Bunda mba tadi ada di meja belakang, sarapan. Mba Sara masih di kamar kayaknya. "


Jawab Mang Kasdi. Aretha setengah berlari masuk ke dalam rumah. Dan semakin mempercepat larinya ke arah kamar Sara.


" Rere ? "


Bunda yang baru saja masuk ke dalam dapur, melihat sosok Aretha yang berlari. Dan dengan penasaran mengikutinya.


" Sara !!! "


Teriak Aretha sembari membuka pintu kamar di hadapannya. Terkunci.


" Saraa !!!! Buka pintuuu !!!! "


Jerit Aretha mulai terlihat cemas.


" Rere, ada apa ? Pagi-pagi jejeritan kayak gitu... "


Tegur Bunda yang sudah berdiri tepat di belakang Aretha.


BRRUUKKK !!! BRUUKKK !!!


" Re !! "


Bunda terkejut melihat Aretha yang tiba-tiba berusaha mendobrak pintu kamar Sara.


" SARAAAA !!! "


Aretha seperti tak menghiraukan teguran Bunda.


" Hei, ada apa ini ? Rere ? Bunda ? "

__ADS_1


Kali ini Ayah datang dengan wajah penuh tanda tanya. Mang Kasdi yang baru saja datang juga penasaran.


" Buruan, Yah ! Dobrak pintu !! Cepet !! Ntar Rere jelasin !!! "


Tarik Aretha kepada sang Ayah. Melihat wajah cemas Aretha, Ayah mengikuti permintaan sang anak. Bersama Mang Kasdi, mendobrak pintu kamar Sara.


BRRUUKK !!! BBRRUUKKK !!!


" Sara belum keluar kamar, Bun ? "


Tanya Aretha yang memilih berdiri di sebelah Bunda, dan memeluk Bunda.


BBRRUUKKK !!!! BRRUUKKKK !!!


" Apa yang terjadi ? Kamu bikin Bunda cemas.... "


GGUUBBBRRAAAKKKK !!!!!


Pintu kamar terbuka. Ayah dan Mang Kasdi menyerosok jatuh ke dalam kamar.


" Sara... "


Gumam Aretha sembari masuk ke dalam, melewati Ayah dan Mang Kasdi.


Mata Aretha membelalak. Tepat di ranjang, tampak Sara yang diam tak bergerak bagai tertidur pulas. Di pergelangan tangan kirinya, terlihat beberapa luka sayat yang dalam. Tepat di bawah tangannya, di lantai, genangan darah yang sebagian mulai mengering.


" Sara !!! Nggak !!! Nggaaakkkkk !!!!! "


Jerit Aretha histeris. Bunda segera menariknya ke dalam pelukan, menahan Aretha agar tidak mendekat.


" Re.... Rere.... "


Lirih Bunda berusaha sekuat tenaga memeluk Aretha yang masih memberontak.


" Nggak, Bun.... Nggaakkk.... Ini salah Rere, ini gara-gara Rere... "


Kata Aretha yang semakin lama semakin lemas dan jatuh terduduk di lantai.


Ayah menghampiri Sara yang masih diam tak bergerak. Menempelkan 2 jari ke lubang hidung Sara. Kening Ayah berkerut.


" Mang, tolong telpon rumah sakit terdekat... "


Kata Ayah. Mang Kasdi bergegas keluar kamar.


" Ayaaahhh..... "


Suara Aretha begitu menyedihkan. Bunda menatap Ayah dengan penasaran. Ayah menggelengkan kepala. Sedetik kemudian, airmata Bunda jatuh.


" Sara, Ayah... Sara... Bangunin Sara, Yaahhh... "


Aretha memeluk kaki sang ayah, menggoyangkannya untuk berbalik ke arah Sara terbaring. Ayah hanya diam membisu, tak bisa mengucapkan sepatah kata pun.


" Re, sudah... sudah... "


" Nggak, Bun... Nggak ! "


" Re... "


Ryuzaki datang, menatap keadaan sekeliling. Melihat Aretha yang meratap, mertuanya yang terisak.


" Re, Rere... "


" Pergi !!! Nggak !!! Kalo aku nggak nikah sama kamu, Sara nggak akan pergi !!! Sara nggak akan pergi.... "


Aretha menolak pelukan dari sang suami. Ella, Zoya dan Nasya ikut merasakan kesedihan sang sahabat.


Ryuzaki terus memaksa untuk memeluk Aretha.


" Maafin aku.... Maaf.... Maaf... "


Entah kenapa, hanya kata-kata itu yang terucap dari bibir Ryuzaki. Aretha melemah, menangis begitu keras dalam pelukan sang suami.


Kamu selalu tersenyum kalo main ke tempatku.


Kamu ikut tertawa waktu kita bercanda bersama Ryu dan yang lainnya.


Kamu berubah, sangat berubah.


Kamu keliatan selalu hepi, Sara.


Kamu bilang, kamu mau belajar menerima Ditto.


Kamu bilang, kamu mau merasakan pernikahan.


Kamu... Kamu...


Kenapa kamu bohong ???


Kamu bukan artis yang harus berakting !


Kenapa kamu tahan semua sakit mu sendiri ???


Kenapa kamu senekad ini ????


Aretha terus menangis. Banyak tanya, banyak cerita, tapi hanya bisa diungkapkan dalam hati. Cinta Sara benar-benar cinta mati. Hanya saja, cinta mati itu salah tempat. Aretha merasa kehilangan yang sangat. Seorang teman dan juga saudara.


Bye, Sara...


Aku menyayangimu.

__ADS_1


__ADS_2