
Aretha berjalan menyusuri koridor kampus dengan acuh tak acuh. Pikirannya melayang entah kemana, karena dilihat dari wajahnya, ia tampak tak peduli dengan sekitarnya.
Beberapa kali ditegur satu dua orang yang mengenalnya, tak sekalipun menjawab. Terus saja berjalan dalam diamnya.
Sara...
Bahkan Dittopun nggak bisa bikin dia sadar !
Apa sih yang ada di otaknya ?!
Cantik tapi paranoid.
Kalo udah apa katanya ya udah, benar-benar batu !
Mau sampai kapan punya perasaan yang nggak pada tempatnya itu ?
Oke, sebelumnya aku tomboi, kelakuanku kayak cowok tapi, tetep aku suka cowok, aku nggak suka cewek.
Aku emang nggak pernah pacaran sebelumnya, tapi aku pernah naksir cowok !
Saking aja, Sara kayak gitu...
Aku harus mikir seribu kali kalo mau pacaran serius sama cowok.
Oke, aku emang hampir-hampir mati rasa sama cowok dan total aku cuma mikir, Sara butuh aku, jadi aku harus ada buat dia tapi... Ryu datang dalam hidupku dan itu mengubahku.
Aku kan juga pingin jalani hari-hariku tanpa takut ada seseorang yang terus mengawasiku...
Aku pingin punya sebuah hubungan yang bahagia tanpa harus sembunyi-sembunyi.
Aku...
" Re ! Rere !! "
Sebuah tepukan lumayan keras pada punggung Aretha dari arah belakang, membuat lamunan Aretha buyar.
" Pagi-pagi bengong... Ngelamunin apa ? "
Nasya melempar senyumnya begitu Aretha menoleh ke arah belakang.
" Kamu... pagi-pagi bikin aku jantungan aja... Lagian siapa juga yang ngelamun ? "
Kata Aretha menyanggah.
" Cih, nggak ngaku ! Mukamu itu keliatan banget ! "
Sahut Nasya sembari menjajari langkah Aretha yang santai.
" Kepikiran soal Sara ya ? "
Tebak Nasya sambil terkekeh.
" Sok tau ! "
Jawab Aretha setengah kesal.
" Aku bukannya sok tau, aku emang tau banget, say... Kamu, kalo sampai cemberut dan ngelamun, itu cuma satu alasannya. Sara. Nggak lain nggak bukan. Soalnya ka... "
" Sara ? "
Aretha menghentikan kalimat Nasya sembari memicingkan matanya ke depan.
" Iya kan ? Sara. "
Tambah Nasya dengan senyum sumringah.
Namun senyum sumringah Nasya seketika menghilang saat mendapati raut wajah Aretha yang mendadak pucat pasi saat menatap ke depan.
Nasya mengikuti arah pandangan kedua mata Aretha. Ia penasaran akan apa yang dilihat Aretha hingga dapat membuat Aretha sepucat itu.
" Sara ?... Beneran itu Sara ! Gawat, Re ! "
Kali ini, wajah Nasya juga langsung berubah pucat, sama halnya dengan Aretha.
Kira-kira dengan jarak 15 meter dari keduanya, tampak sosok Sara sedang celingukan ke sana ke sini dan beberapa saat kemudian menegur siapapun yang melewatinya. Terlihat sedang menanyakan sesuatu.
" Aku tau, emang gawat. Gimana nih ? Mumpung dia belum liat aku, aku kabur duluan deh ! "
Dan Aretha pun balik badan, setengah berlari kembali menyusuri koridor yang telah ia lewati sebelumnya. Nasya mengikutinya.
" Re, kemana kita ? Kamu bakalan ketinggalan jam kuliahmu sekarang. "
Kata Nasya.
" Mau gimana lagi ? Aku lagi nggak pingin ketemu dia. "
" Tapi kalo kabur-kaburan terus dari dia, masalah kalian nggak akan pernah selesai. Dan mau sampai kapan kamu menghindar ? "
" Nggak tau ah ! Yang penting sekarang, cabut duluan. "
" Paling Sara cuma mau nanyain, soal dia kamu kasih afrodisiak. "
" Ssssttt... Jangan bahas itu disini. Takut ada yang denger, bisa jadi masalah buatku. "
" Sorry... Tapi Ditto kan mau nikahi Sara. Kenapa Sara masih nolak ya ? Padahal sudah dipake sama Ditto... "
__ADS_1
" Sssstt ! Gila kamu ih, apaan sih ngomong dipake dipake gitu ?! "
Aretha menghentikan langkahnya dan langsung membekap mulut Nasya.
" Aku tuh terpaksa, jangan bikin aku makin ngerasa bersalah pada Sara. "
Sambungnya dengan raut wajah yang sedih.
Nasya menganggukkan kepalanya dan menarik tangan Aretha dari mulutnya.
" Iya iya, sorry... Aku cuma bilang gitu aja kok. Tanpa ada niatan bikin kamu makin bersalah. Oke, sekarang aku nggak akan bahas lagi kalo nggak kamu duluan yang bahas. "
Jelas Nasya yang merasa Aretha saat ini memang butuh dukungan dan semangat.
" Sini, biar nggak keliatan Sara... "
Ajak Aretha sembari menarik lengan Nasya dan membawanya duduk di antara beberapa mahasiswi yang sedang bercanda di bawah pohon.
Aretha mengeluarkan handphone nya, mengecek beberapa notifikasi pesan yang masuk. Begitu pula Nasya.
" Eehh, aku lupa. "
Tiba-tiba Aretha menepuk keningnya.
" Apaan ? "
Tanya Nasya penasaran.
" Kamu ! Kok kamu tau-tau ada di kampus ? Bukannya kamu bilang, kamu udah dapat kerjaan dan harusnya udah mulai kerja ? "
Jawab Aretha sembari menatap Nasya dengan tatapan menyelidik.
" Ah iya... Kenapa aku ada disini ya ? "
Aku kan mau kasih tau kalo Ryu udah balik ke sini...
Dan Ryu nggak sendiri, ada cewek Jepang itu juga.
Aku nggak sengaja ngeliat mereka waktu berhenti di lampu merah tadi pagi pas mau berangkat kerja.
Aku yakin itu Ryu dan cewek Jepang itu, mobilku tepat sebelahan sama mobil mereka, dan cewek Jepang itu kebetulan lagi buka jendela mobil.
Cewek Jepang itu sempet ngeliat aku, tau deh dia inget aku apa nggak, dan untungnya Ryu fokus ke arah depan, jadi nggak ngeliat aku.
Tapi...
Rere lagi banyak pikiran soal Sara.
Baiknya aku kasih tau apa nggak ya ?
Aretha mencubit lengan kanan Nasya, membuat Nasya tersadar.
" Eehh... mmm, itu iya... Aku kesini pagi ini, mauu... mauu... mau ketemu kamu aja, hehehe... Aku kangen sama kamu, tau ! "
Sahut Nasya setengah gelagapan.
Aretha mengerutkan dahi, memicingkan mata, dan penuh curiga, menatap tajam kepada Nasya.
" Nggak percaya... Dan sejak kapan kamu bisa kangen sama aku ? Kamu itu pernah 2 minggu nggak ketemu aku, nggak pernah bilang kangen. Lucunya lagi, baru kemarin siang kita ketemu nongkrong di basecamp. "
Kata Aretha.
" Ah iya ya, baru kemarin kita ketemu ya... Tapi Re, emang iya aku nggak pernah kangen sama kamu, kenapa ya ? Padahal kita sohiban udah lama ya... "
Timpal Nasya dengan wajah yang tampak kebingungan.
" Jangan ganti topik pembicaraan. Ngapain kamu kesini ? "
" Yaelah Re... Emang kenapa sih kalo aku sesekali main kesini ? Curiga amat. "
" Jelas lah aku curiga, kamu kan buka Zoya yang suka iseng, tau-tau nongol di tempat orang karena bete. Pasti ada alasannya kalo kamu tau-tau nongol. "
" Iya sih, aku akuin, aku nggak kayak Zoya, nggak kayak kamu, yang kapan aja tanpa punya kepentingan bisa tau-tau nongol, udah kayak pocong... "
" Iisssshhh, malah ngatain... "
" Hehehe... "
" Bomatlah ! "
Kata Aretha akhirnya.
Kemudian dengan waspada, Aretha bangun dari duduknya. Untuk sejenak, ia celingukan ke kanan ke kiri.
" Aman ? Nggak keliatan kan si Sara ? "
Tanya Nasya seraya mendongakkan kepalanya.
" Kayaknya sih aman... Nggak keliatan sama sekali tuh. "
" Syukur deh... "
Sahut Nasya lega dan mengikuti jejak Aretha, bangun dari duduknya.
" Sarapan soto yuk ! "
__ADS_1
Ajak Aretha sambil memasukkan kembali handphone nya di saku celana jeansnya.
" Wah, pas tuh ! Pagi-pagi gini emang cucok sarapan soto. "
Kata Nasya dengan mata yang bersinar.
" Kamu yang bayar lho ! "
Sambung Aretha sembari berjalan santai.
" Lah kok ?! "
Protes Nasya, namun tak dihiraukan oleh Aretha.
Dengan wajah cemberut, Nasya pun mengikutinya. Dalam diam keduanya berjalan menuju kantin kampus.
Tiba di kantin, mereka langsung memesan dua mangkok soto ayam dan dua gelas jeruk hangat. Kemudian mereka memilih tempat duduk paling sudut.
Kantin lumayan rame. Sesekali Aretha melihat ke beberapa pengunjung kantin yang masuk setelah dirinya duduk. Berniat waspada, kalau saja Sara datang mencarinya ke kantin juga.
" Sara masih nggak keliatan ya ? Aneh... "
Ucap Nasya yang ikut waspada juga.
" Dia belok kemana ya ? "
Tanya Aretha.
" Kamu nanya ke aku, lah aku nanya ke siapa dong ? "
Imbuh Nasya balik bertanya.
" Tembok ! "
Sahut Aretha setengah gondok.
" Mbak, ini pesenannya. Totalnya empat puluh ribu ya. "
Seorang perempuan muda meletakkan baki berisi pesanan Aretha dan Nasya di atas meja mereka.
" Nas, bayar tuh ! "
Kata Aretha sambil mengambil bagiannya dari atas baki.
Mau tak mau, Nasya pun membuka tas ransel kecilnya dan mengeluarkan dompet panjang berwarna coklat muda.
" Ini mbak, makasih ya... "
Ucap Nasya sembari mengulurkan dua lembar uang dua puluh ribu kepada sang pengantar makanan tersebut.
" Makasih, silahkan. "
Balas sang pengantar makanan tersebut setelah menerima uang dari Nasya dan segera berlalu membawa bakinya yang telah kosong.
" Ih, mana lagi tanggal tua, bisa puasa nih ntar minggu terakhir bulan ini.
Celoteh Nasya dengan manyun.
" Hihihi... Cuma empat puluh ribu ini. Pelit amat ! Gajimu kan udah UMR. "
" Iya, emang udah UMR, tapiiii itu juga kan bulan depan aku gajian, sayang... "
" Udah ah, jangan manyun gitu. Mulut udah monyong kok masih dimonyong-monyongin mulu, mau kayak bebek, hah ? "
" Enak aja... "
" Makan, makan, deh ! "
Dan pembicaraan merekan pun berhenti. Kini yang terdengar tinggal suara mulut mereka yang mulai menikmati soto ayam di pagi hari ini.
" Nyam nyam... Tau nggak ? Nyam nyam... Ella kan mau lanjut kuliah lagi ke Australia, nyam nyam... Ambil S satu, mm nyam... "
" Kebiasaan... masih aja makan sambil ngobrol... "
Di saat Aretha berbicara sambil mengunyah makanannya, tanpa disadari, sudah berdiri seseorang di belakangnya dan mengomentarinya.
Aretha menoleh ke belakang, penasaran siapa yang datang.
" Ka... Gleekk !! Uhuukk ! Uhhuukk !! "
Aretha langsung tersedak.
" Aduh, jadi keselek deh ! "
Kata Nasya sembari menepuk-nepuk punggung Aretha.
" Kan udah dibilangin berkali-kali... Jangan makan sambil ngobrol. "
" Ryu, kamu ! Kamu yang bikin aku keselek ! "
Kata Aretha setelah dadanya terasa lega sembari melotot ke arah tamu yang tak diundangnya tersebut, dan tak lain tak bukan adalah Ryuzaki Tora Wijaya.
" Kan sudah aku bilang, kamu sia-sia cari dia. Lihat ! Dia nggak suka ketemu kamu. "
Kali ini, di belakang Ryuzaki, muncul sosok gadis berkulit putih dengan matanya yang sipit.
__ADS_1
Aretha melotot untuk kedua kalinya.