
Bunda memperhatikan Aretha yang begitu lahapnya menikmati ayam goreng kesukannya. Dengan penuh kasih sayang, Bunda terus menatap putri semata wayangnya itu. Ada rasa sedih dan senang bercampur aduk di dalam hati Bunda.
" Apa kamu baik-baik saja, Re ? "
Tanya Bunda lirih.
" Ayolah, Bun. Jangan bikin Rere sedih ah. Bunda lihat kan, Rere baik-baik saja. Nggak kurang apapun. Kuliah dan kerja Rere juga lancar semua. Bunda jangan kuatir, ya. "
Jawab Aretha sesaat setelah mengunyah habis gigitan ayam di mulutnya.
Dengan memasang wajah ceria dan berbicara panjang lebar, Aretha ingin menenangkan hati Bunda.
" Ya, Bunda bisa lihat... Kamu baik-baik saja, secara fisik. Tapi hatimu ? "
Kata Bunda dengan raut wajah sedikit cemas.
" Baik... Fisik, hati, semuanya baik. Rere hepi koq. Hari-hari Rere nggak menyedihkan. Masa lalu udah bukan lagi mimpi buruk Rere. Semuanya normal sekarang. Ada Ella, Zoya, dan Nasya yang selalu nemenin. Nggak ada lagi waktu buat ngelamun. Nggak ada. "
Jawab Aretha penuh semangat.
Kemudian mengambil sepotong dada ayam dari atas piring di hadapannya, mencocol saos sambal dahulu sebelum menggigitnya.
Mendengar jawaban Aretha, Bunda menyunggingkan senyum kecil di sudut bibirnya.
" Bunda nggak percaya ? "
Ujar Aretha dengan mulut yang penuh, merasa tak dipercaya.
" Percaya... Bunda percaya kamu hepi menjalani hari-harimu. Bunda yakin, kamu sudah bisa move on, lebih bersemangat lagi setiap hari. "
" Nah... Jadi Bunda nggak usah cemas lagi sama Rere. Tenang aja, Rere nggak akan bikin masalah lagi kayak dulu. Nggak bakal nakal lagi, hehehe... "
" Baguslah... Memang harus begitu. Harus belajar dewasa. "
" Iya... "
Jawabnya singkat sembari masih mengunyah makanannya.
" Ryu kembali ke Indonesia dua hari lalu, apa sudah ketemu ? "
" Heemm... sudah. "
" Dia ke kampus apa ke apartemen ? "
" Kampus... Nyam nyam mm... "
" Kapan ? "
" Mmm, nyam... tadi pagi. "
" Oohh... Ngobrol lama ? "
Aretha yang sibuk dengan ayamnya, hanya menggelengkan kepala.
" Lalu ? "
Pertanyaan singkat sang Bunda hanya dijawab dengan mengangkat bahunya.
" Nggak ada pembicaraan yang penting ? "
Lagi, Aretha hanya menggelengkan kepalanya.
" Dia nggak bilang sesuatu apa gitu ? "
Dan untuk kesekian kalinya, Aretha menjawab dengan gelengan kepalanya.
" Dia nggak kasih tau kamu, mulai Senin besok, kamu kan jadi asistennya di kan... "
" Uuhhuukk ! Uuhhuukk !!! "
Belum selesai Bunda bicara, Aretha tersedak.
Segera Bunda menuangkan air putih ke dalam gelas dan menyodorkannya kepada Aretha.
Dengan cepat Aretha menghabiskan segelas air putih tersebut untuk menghentikan tersedaknya.
" Pelan-pelan dong, sayang... Nggak akan ada yang merebut ayam gorengmu itu. "
Kata Bunda seraya menepuk punggung Aretha secara perlahan.
" Tadi Bunda bilang apa ? "
Tanya Aretha begitu tenggorokannya kembali normal.
" Nggak akan yang merebut ayam gorengmu ? "
" Bukan, sebelumnya... "
" Mmm, pelan-pelan ? "
__ADS_1
" Nggak, bukan itu juga. Ryu mau apa tadi ? "
" Mau kasih tau kamu ? "
" Iya, kasih tau apa ? "
" Kamu jadi asisten nya di kantor besok Senin ? "
" Serius, Bun ? "
Aretha melotot tak percaya dengan apa yang didengarnya.
" Serius. "
" Senin ? Besok Senin ?! Itu dua hari lagi, Bun ! "
Ujar Aretha setengah berseru.
" Iya, dua hari lagi. Memangnya kenapa ? "
" Dadakan amat sih. Kenapa dia ganggu hidup Rere lagi ? "
Gerutu Aretha.
" Re, dia itu bukannya mau ganggu hidupmu. Dia cuma gantiin papinya buat ngawasin perusahaan papinya disini. Dia butuh seseorang buat bantu dia. Dan yang pantas membantunya adalah kamu, istrinya. "
" Rere kan udah minta cerai, Bun... "
" Tapi Ryu nggak mau ceraiin kamu tanpa alasan yang tepat. Kalian kan nggak ada masalah apa-apa, kenapa harus bercerai ? "
" Rere punya satu masalah yang besar sama dia, Bun. Rere ma... "
" Soal kehilangan bayi kalian ? Dia juga kehilangan, Re. Dia juga sedih, sama sedihnya dengan kamu. "
" Rere kenyang, Bun... "
Tak ingin berdebat lebih lama dengan sang ibu, Rere menyudahi makannya.
" Bi Siti... Bibi... "
Panggilnya sembari melihat ke arah dapur.
" Ya, mba... "
Sahut Bi Siti sembari berjalan menuju ke arah Aretha dan Bunda duduk di meja makan.
" Ah iya, memangnya mba Rere sudah selesai makan ayamnya ? "
" Sudah, Bi. Aku kenyang banget, abis empat potong, hehehe... "
" Pake nasi atuh, mba... Kan makin kenyang. "
" Ini aja kenyang banget... Tolong ya, Bi. "
" Iya... "
" Makasih, Bi Siti. "
" Sama-sama, mba... "
Dan Bi Sitipun segera melaksanakan tugasnya.
Aretha mengelap kedua tangannya dengan tissue basah yang ada di atas meja, tepat di samping piring yang masih berisi tiga potong ayam lagi.
Bunda menghela nafas panjang. Menyadari Aretha sedang menghindari pembicaraan dengannya.
" Kamu mau kemana ? "
Tanya Bunda.
" Ke taman belakang. Rere pingin sendiri, Bun. "
Jawab Aretha.
Dan tak ingin lebih lama lagi berada di hadapan Bunda, Aretha langsung berjalan ke arah belakang.
" Re... "
Panggil Bunda.
Tapi Aretha tak menjawab, bahkan tak menoleh pula. Bunda menjadi semakin merasa sedih melihat Aretha tak menghiraukannya.
Apa kamu masih semarah itu pada Ryu ?
Aku masih nggak paham dengan jalan pikiran kamu, nak...
Batin Bunda.
" Sabar, bu... mba Rere kan baru saja mencoba awal yang baru. Pasti masih ada ganjelan-ganjelan di hati yang belum sepenuhnya hilang. "
__ADS_1
Bi Siti mencoba menghibur sang majikan.
" Iya, saya tau, bi. Tapi dia juga harus menerima kenyataan. Kalo terus-terusan kayak gitu, kapan dia bisa bahagia ? Ryu kan juga manusia biasa, laki-laki normal, nggak mungkin bisa menunggu Rere terlalu lama. Apalagi Ryu ganteng, cakap dalam urusan kerjaan, mapan, anak tunggal lagi, pasti banyak yang ngantri jadi pengganti Rere. "
Ujar Bunda.
" Saya lihat, mas Ryu tulus koq, bu. Pasti mau menunggu mba Rere sampai kapan juga. "
" Ah, bibi. Kebanyakan nonton sinetron. "
" Ya, kan nggak tau juga, bu. Namanya juga cinta. "
" Entahlah, bi... Aku bingung. "
" Yang sabar sajalah, bu. Berdoa buat mba Rere, semoga mendapatkan yang terbaik ya... "
" Kalo yang terbaik itu saya, saya juga ikut doain, bi... "
Tanpa disadari oleh Bunda dan Bi Siti, yang jadi topik pembicaraan sudah ada di belakang mereka.
" Ryu... Kamu koq kayak jin aja, tau-tau sudah masuk sampai kesini. "
Sambut Bunda dengan sumringah.
" Bunda yang terlalu sibuk ngobrol sama Bi Siti, jadi nggak kedengeran ya suara mobil saya. Saya sempet ngobrol sama Ayah di halaman barusan. "
Kata Ryuzaki sembari mengulurkan tangannya, mencium tangan Bunda dan Bi Siti. Bunda menepuk bahunya dengan pelan.
" Mas Ryu... tambah ganteng aja, ya... "
Puji Bi Siti dengan senyum lebar.
" Ah, bibi bisa aja. Bibi juga, makin cantik dan subur ya... "
Balas Ryuzaki ikut tersenyum.
" Kopi seperti biasa, mas ? "
Bi Siti menawarkan.
" Boleh... "
Jawab Ryuzaki dengan senang.
" Rere ? "
Sambungnya sembari menoleh ke arah Bunda.
" Di taman belakang. Samperin dulu sana, nanti baru ngobrol sama Bunda. "
Jawab Bunda.
" Bi, kopi saya, tolong nanti bawain ke taman belakang ya. "
Pesan Ryuzaki.
" Iya, mas. Siap ! "
Sahut Bi Siti bersemangat.
Dan Ryuzaki pun melangkahkan kakinya ke arah taman belakang, menghampiri Aretha.
Tampak oleh Ryuzaki, Aretha yang sedang melamun, menopang dagunya dengan tangan kanannya di atas pegangan bangku taman.
Ryuzaki terus memperhatikan sosok Aretha yang terlihat semakin jelas saat langkahnya semakin dekat.
Semakin cantik kayaknya...
Rambutnya sekarang lebih panjang.
Sudah berapa lama ya ?
Bener kata Doni, dia sekarang menjadi feminim.
Rok terusan berwarna biru tua itu sangat kontras dengan kulitnya yang lebih putih dari sebelumnya.
Rambutnya
Kaki panjangnya tampak bagus dengan gelang emasnya, sebelumnya dia pake gelang tali pendaki gunung.
Tangannya nggak kelihatan gelang Aretha-nya lagi, tapi berganti dengan emas putih kah ?
Nggak keliatan cincin kawin di jari nya...
Apa dia beneran udah nggak pingin balik sama aku lagi ?
Apa kata cerai itu masih berlaku ?
Apa dia masih marah padaku ?
__ADS_1