
Kantor Ryuzaki, 11.00 WIB.
Bosen banget !
Udah 3 jam kayak gini.
Nggak ngapa-ngapain, cuma pelototin itu orang yang lagi sibuk kerja.
Tuk... Tuk tuk... Tuk... Tuk tuk... Tuk... Tuk...
Aretha mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja sambil menopang dagunya.
Ryuzaki sesekali melirik ke arahnya. Terlihat jelas, istrinya sedang merasa bosan.
Ia pun menghentikan pekerjaannya mengetik sesuatu di laptopnya. Dilihatnya dengan terang-terangan, sang istri yang sekarang mulai bersiul kecil, menyanyikan sebuah lagu.
" Mau makan ? "
Aretha menoleh, begitu Ryuzaki bersuara. Menghentikan siulan. Menghentikan ketukan jarinya.
" Kenyang ! "
Sahutnya sambil melirik ke arah samping mejanya, dimana sebuah tempat sampah yang berisi dengan beberapa bekas bungkus snack dan kue kering.
" Minum kopi ? "
" Mau bikin aku kembung ?? "
Katanya sembari menunjuk 3 gelas kopi susu yang sudah kosong di mejanya.
" Aku mau pulang ! "
" Nggak boleh ! Kamu ngapain mau pulang ? "
" Aku bisa lakuin apa aja dirumah, nggak bosen kayak gini. Lagi ngapain sih aku harus ikut ke kantormu ? "
" Kan kamu nyonya GM sekarang, wajarlah kamu ikut aku ke kantorku, biar kamu tau apa kerjaan suami mu. "
" Cih, suami ! "
Aretha melengos. Membuang muka. Ryuzaki melanjutkan kembali pekerjaannya dengan laptopnya.
Bukan suami pilihan sendiri, apa bagusnya bangga ?
Jadi GM kan juga karena kamu emang bakal jadi penerus perusahaan papi mu.
" Aku ke ruangan Nano ya ? Boleh ? "
Tiba-tiba Aretha mendapat ide. Ryuzaki meliriknya sekilas, tapi tak menghiraukannya. Merasa diacuhkan, Aretha beranjak dari duduknya dan menghampiri meja Ryuzaki. Tepat berdiri di samping sang suami yang masih sibuk bekerja, Aretha menunduk, menyejajarkan wajahnya tepat di sebelah wajah Ryuzaki.
" Boleh ya ? ..... Ya ? Ya ? "
Katanya memohon. Ryuzaki masih acuh tak acuh. Fokus dengan apa yang sedang dikerjakannya. Sesaat Aretha memperhatikan wajah suaminya yang sangat serius.
Dari samping pun keliatan enak diliat...
" Mau ngapain ka... "
Ryuzaki menghentikan kalimatnya saat menoleh mendapati wajahnya hanya berjarak sekian cm dari wajah Aretha.
CUPPP !!!
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat diciumnya bibir Aretha. Aretha tersentak dan segera bangun, berdiri, dan melangkah menjauh.
" Aku ke ruangan Nano ! "
Pamitnya, dan tanpa menunggu jawaban sang suami, ia segera keluar ruangan. Wajahnya bersemu kemerahan. Berasa panas. Ryuzaki melihatnya keluar ruangan dengan senyum kecil di sudut bibirnya.
Nggak pernah bisa menahan diri buat nggak cium dia.
Setiap ada kesempatan, selalu aja...
Semakin lama semakin penasaran semakin serakah....
Tapi nggak salah kan ?
__ADS_1
Biar mau gimana juga, dia emang udah milikku.
Kantor Nandhito Sukmajaya.
TOKK... TOKK... TOKK....
Aretha mengetuk pintu ruangan Nano.
" Masuk ! "
Terdengar suara Nano menjawab ketukan pintu Aretha. Aretha pun mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam. Ia merasa takjub begitu melihat ruangan Nano. Kantor Nano lebih beragam isinya. Ada ring basket lengkap dengan bolanya di sudut ruangan. Ada papan catur yang tergeletak di permadani dengan motif papan catur pula tepat di tengah ruangan. Di dinding, terdapat lemari yang berisi buku bacaan.
" Eh, kamu.... Tumben ikut ke kantor. "
Nano tersenyum menyambut Aretha masuk. Dan bangun dari kursinya, menuju kulkas kecil di sebelah lemari bacanya. Aretha mengambil bola basket, dan mencoba memasukkannya ke dalam ring.
" Wah, jago main basket juga ya ! "
Puji Nano melihat betapa gesit dan cekatannya Aretha mendribel dan memasukkan bola ke ring basket. Aretha tersenyum sembari mengangkat bahu.
" Nggak salah kan aku terpilih sebagai tim inti basket dari SMP sampai SMA dulu.... "
Bangganya pada diri sendiri.
" Pantes kamu tinggi ya, waktu liat kamu pertama kali, kupikir kamu cowok lho... "
Kata Nano, kemudian menyodorkan sebotol minuman bersoda yang diambilnya dari kulkas. Aretha menerimanya.
" Kantor Ryu bikin boring... Kayak orang nya ! "
Aretha berkeluh kesah. Setelah menenggak minumannya hingga tinggal setengah isinya, dia pun duduk di permadani. Nano mengikutinya.
" Ryu type orang yang sederhana dan simpel. Segala hal yang ada di dirinya, nggak pernah macem-macem. Kalo kata jalan raya nih, dia itu jalanan yang lempeng lurus nggak ada tikungannya. Udah sebulan serumah sama dia, masih nggak tau dia kayak apa ? "
Kata Nano memberikan penjelasan. Aretha menggoyang-goyangkan botol minumannya.
Iya sih....
Diliat dari kondisi dan isi apartemennya juga kayaknya sesuai dengan yang dibilang Nano.
Kayak udah dibikin jadwal gitu.
Jam makannya juga tetap.
Tapi....
Buatku itu bikin boring !
" Hei ! Ngelamun... "
" Ah, enggak kok ! "
" Sara, gimana kabarnya ? "
Pertanyaan Nano membuat Aretha menelan ludah. Kemudian segera menghabiskan sisa minumannya. Melihat reaksi Aretha yang tampak tak senang, Nano merasa tidak enak hati.
" Eh, sorry sorry.... Aku nggak.... "
" Dah ah ! Sana kamu kerja lagi deh.... Aku numpang main disini ya. "
" Oh, okey ! "
Dan Nano pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda saat Aretha bertamu ke ruangannya.
Kantor Ryuzaki, 14.00
Kok nggak balik-balik kesini sih ?
Dari pagi tadi ke ruangan Nano nggak balik lagi kesini.
Jam makan siang udah lewat.
Dia udah makan belum ya ?
Aku sendiri lupa....
__ADS_1
Ryuzaki merapikan semua map-map yang memenuhi meja kerjanya.
Coba kulihat ke kantor Nano dulu deh.
Segera meninggalkan ruangannya, Ryuzaki menuju kantor Nano. Dari jauh, terlihat pintu kantor Nano tak tertutup rapat. Ryuzaki mengintip sebentar.
Nggak ada suara apapun....
Penasaran, ia mendorong pintu dan membukanya lebar-lebar. Nano yang sedang membaca beberapa berkas yang ada dihadapannya, mengangkat kepala dan melihatnya. Tanpa bersuara, Nano mengarahkan jari telunjuknya ke sudut ruangan.
Ryuzaki mengikuti ke arah mana telunjuk Nano. Aretha tampak tertidur pulas di sofa panjang, di sudut ruangan, tepat di sebelah lemari baca. Dan di atas dadanya, sebuah buku terbuka dengan keadaan tertelungkup dalam dekapannya.
Baca novel dan tertidur ?....
" Dia udah makan ? "
Tanya Ryuzaki setengah berbisik. Nano mengangguk. Kali ini telunjuknya mengarah ke permadani, tepat di tengah ruangan. Disitu terlihat, beberapa air minum kemasan yang sudah habis, dan sekotak pizza berukuran besar, yang tinggal tersisa 3 potong pizza.
Ryuzaki melangkah menghampiri Aretha. Dengan perlahan diambilnya novel di dekapan istrinya. Sangat hati-hati mengangkat tubuh Aretha, menggendongnya keluar ruangan. Nano memperhatikan tingkah laku Ryuzaki sambil tersenyum kecil.
Seumur-umur kenal sama dia, belum pernah segitu peduli nya sama cewek.
Padahal, dari masih di SMP sampai bangku kuliah, nggak keitung yang naksir sampai menawarkan diri buat dia.
Hampir-hampir q bilang, dia bakal jomblo seumur hidup.
Nggak nyangka, malah bisa suka sama cewek tomboy model Rere gitu...
Kantor Ryuzaki.
" Emmm...... "
Aretha menggeliat sesaat begitu Ryuzaki membaringkannya di sofa dengan hati-hati.
Ku perhatiin, setiap abis makan tidur...
Tapi kok nggak gendut ya ?
Biasanya kalo abis makan terus tidur kan bikin gendut.
Apa karena dia doyan minum ?
Atau suka begadang malam ?
Makanya badannya nggak gendut.
Ryuzaki duduk di bawah, menatap wajah Aretha dengan serius.
Dia cantik.
Sayangnya, dia terlalu manly gitu....
Waktu dia pake gaun di acara makan malam pertama dulu kumpul keluarga, baru dia keliatan anggun.
Tapi tetep aja, gayanya nggak berubah.
Ryuzaki menyentuh bibir Aretha dengan ujung jarinya. Kemudian beralih menyentuh hidungnya. Sesaat menatap wajah istrinya, ia beralih membelai punggung tangan istrinya yang tergeletak di atas perut.
Nggak tau apa yang bikin suka sama dia...
Tapi akhir-akhir ini, aku ngerasa dia semakin menarik.
Sampai nggak rela dia lepas dari pandanganku.
Setiap malam, aku selalu bangun cuma buat keluar kamar, dan melihat gimana dia tidur di sofa.
Entah karena terbiasa tinggal di kontrakan kecil atau emang terpaksa harus tidur di sofa, tapi dia tampak nyaman dalam posisi tidurnya.
Suka mengeluh tapi masih bisa menikmati semua yang ada, suka tidak suka.
Suka ngajak ribut, tapi ujung-ujungnya bomat dengan apa yang terjadi pada akhirnya.
Suka komen yang nggak enak didengar, tapi bisa bikin aku ketawa gimana lucunya dia.
Apa yang ada di dia, bikin aku ngerasa dia harus jadi milikku, seutuhnya.
__ADS_1
" Hallo, Ryuu...... "