AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 68


__ADS_3

Aretha menatap tumpukan dokumen di hadapannya. Matanya tampak lesu. Wajahnya terlihat kesal. Dan tubuhnya melemas.


Setiap hari begini...


Padahal baru juga lima hari ini kerja.


Apa ntar-ntar bakalan begini terus ?


Tega banget Ryu yaaa...


Bosen bangeeeeetttt...


Batin Aretha.


" Aaaarrggghhhh !!! '


Jeritnya sekencang-kencangnya.


" Uuppss ! Aku lupa... "


Dan dalam sedetik kemudian, ia menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya.


Aretha mengangkat wajahnya, mengintip dari atas tumpukan dokumennya. Melihat ke arah meja kerja Ryuzaki. Dan saat kedua matanya tertangkap basah oleh pandangan Ryuzaki, ia langsung menurunkan kepalanya kembali.


Tuuhh kaann...


Pasti dipelototin sama dia.


Aku lupa, aku kan satu ruangan sama dia.


Kata Aretha dalam hati.


Salah dia, siapa suruh kasih aku tugas segini banyak.


Bener-bener niat mau balas dendam karena aku tolak ya ??!


Dih, pikirannya sempit banget.


Harusnya dia itu bisa bedain, antara urusan pribadi dan urusan pekerjaan.


Nggak bijaksana betul itu orang...


Sementara Aretha masih sibuk menatap dokumen-dokumen tersebut dengan pikirannya yang lain, Ryuzaki dengan santai sudah mendekat di sisi kursi kerja Aretha.


Ryuzaki menundukkan kepalanya, melihat dengan dekat mempelajari raut wajah Aretha.


Dia ini...


Mata ke dokumen, tapi pikirannya kemana sih ?!


Batin Ryuzaki.


" Ehemm !! Kamu i... "


CUUPPP !!!


Aretha yang begitu mendengar suara seseorang berdehem di sisinya seketika menoleh dan tanpa sengaja bibirnya menyentuh bibir Ryuzaki, membuat Ryuzaki berhenti bicara.


Sejenak keduanya saling membelalak karena terkejut dan dalam hitungan detik, bersamaan saling menarik diri.


Ryuzaki langsung berjalan kembali ke mejanya. Sedangkan Aretha segera mengambil satu dokumen dari tumpukan dan mempelajarinya.


Suasana pun kembali tenang dan kini terasa canggung. Keduanya menyibukkan diri dengan pekerjaannya masing-masing.


Beberapa jam kemudian, Ryuzaki menghentikan pekerjaannya. Ia melihat ke arah meja Aretha yang terletak kurang lebih lima meter dari sebelah kanan meja kerjanya.


Tampak olehnya, Aretha masih sibuk mempelajari dokumen di atas mejanya dan sesekali mencatat di sebuah buku.


Melihat dia yang tampak khusyuk bekerja rasanya aneh juga.


Biasa urakan, kasar dan suka nongkrong, sekarang harus serius, kayak bukan dirinya sendiri.


Ide Ayah bagus juga, nyuruh dia kerja disini, aku jadi bisa liat dia tiap hari, biarpun aku tau, dia pasti terpaksa.


Demi motornya, dia mau ngelakuin apa pun.


Apa aku ini bener-bener udah nggak penting lagi buat dia ?


Aku kalah dari motornya...


Parah...


Batin Ryuzaki yang masih menatap Aretha tanpa berkedip.


Setelah sejenak kemudian, Ryuzaki mengalihkan pandangannya dari sosok Aretha dan melirik ke arah tangan kanannya.


Jam... wah, udah jam dua belas lebih...


Katanya dalam hati, dengan tatapan yang sedikit terkejut saat melihat jam tangannya.


" Re, udah jam dua belas lebih lima menit. Kamu nggak keluar buat makan ? "


Kata Ryuzaki sembari melihat ke arah Aretha kembali.


Ternyata Aretha sudah mengeluarkan sebuah kotak bekal makan. Mendengar ucapan Ryuzaki, Aretha melihat sekilas ke arahnya sembari tersenyum.


" Bunda bawain bekal hari ini. "


Sahut Aretha sembari mulai membuka kotak bekal makannya.


"Oohh... "


Timpal Ryuzaki singkat.


Padahal hari ini pingin ngajak dia makan siang...


Kemarin-kemarin dia selalu kabur duluan begitu jam dua belas tepat, nggak pernah kasih aku kesempatan ngomong sedikitpun.


Ucap Ryuzaki dalam benaknya dengan kecewa.

__ADS_1


" Kamu ma... "


" Ryuuuu... Aku bawa bento nih ! "


Belum selesai Aretha bicara, Ayako membuka begitu saja pintu ruangan sembari menenteng tas jinjing berbentuk kotak.


Aretha yang berniat menyerahkan satu kotak bekal makannya kepada Ryuzaki, mengurungkan niatnya.


Kan udah aku bilangin, Ryu itu selalu dibawain makan sama Ayako.


Bunda ngeyel...


Maksa harus bawain sekotak lagl buat Ryu, sekarang malah nggak akan kemakan ini makanan...


Batin Aretha.


" Kamu mau yang mana ? "


Tanya Ayako seraya meletakkan tas kotaknya dan mengeluarkan isinya.


" Ryu, ayo ke kantin ! "


Tiba-tiba muncul Nano yang juga masuk tanpa mengetuk pintu yang memang sudah dibuka sebelumnya oleh Ayako.


" Yaaahhh... Ayako bawain makan lagi ? "


Kata Nano yang tampak kecewa melihat beberapa kotak makanan di atas meja Ryuzaki.


" Kalo mau, ayo makan bareng aja... "


" Nggak, ini buat Ryu semua. "


Ayako memotong kalimat Ryuzaki sembari melotot ke arah Nano.


" Kalo mau, ini aku punya satu kotak bekal lagi. Nih... "


Aretha segera menyodorkan satu kotak bekal yang seharusnya untuk Ryuzaki.


" Kamu bawa lebih ? "


Tanya Nano sembari berjalan menuju meja Aretha.


Ryuzaki melihat ke arah meja Aretha, dan menatap satu kotak yang disodorkan Aretha tersebut. Ayako tampak kesal melihat Ryuzaki.


" Waahh... Wangin banget. Ini nasi liwet ya ? Wuih... Pasti enak nih, bunda mu kan terkenal jago masak ya. "


Puji Nano begitu membuka kotak bekal tersebut dan menghirup wangi yang keluar dari kotak tersebut.


Nasi liwet ?!


Itu kan masakan kesukaanku sejak jadi suaminya.


Dulu setiap seminggu sekali, bunda pasti masakin itu buat aku.


Aduh, jadi pingin...


" Iya, sebenarnya sih itu buat Ryu. Kata bunda, Ryu udah lama nggak dimasakin nasi liwet. "


Jawab Aretha dengan santai dan lahap menyuap makanannya.


" Ma... "


" Itu punyaku ! "


Mendadak Ryuzaki langsung bangun dari duduknya dan berjalan cepat ke arah meja Aretha.


" Rere kasih ke aku kan... "


Kata Nano.


" Kata Rere, itu bunda bikinin buat aku. Jadi jangan dimakan ! Tuh, makan aja yang dibawa Ayako. "


Sahut Ryuzaki yang langsung merebut kotak bekal di tangan Nano.


Ayako merasa semakin kesal dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Ryuzaki


" Kan kamu yang dibawain Ayako. "


Protes Nano, ingin merebut kembali kotak bekal itu.


" Jangan protes ! Udah sana makan. "


Sahut Ryuzaki menghindar.


" Re... Kamu kasih ke aku kan ? "


Sambung Nano yang melihat ke arah Aretha.


" Iya, terserah sih siapa yang mau makan. Yang penting, aku pulang nanti, kotak itu udah kosong. "


Sahut Aretha acuh tak acuh sembari tetap menikmati makan siangnya.


Ryuzaki menyunggingkan senyuman meledek ke arah Nano. Nano menanggapinya dengan wajah yang masam.


BBRRAAKKK !!!


Aretha, Ryuzaki dan Nano tersentak kaget. Ternyata Ayako keluar ruangan sembari menutup pintu dengan keras.


Aretha tak peduli, ia melanjutkan makannya. Ryuzaki memilih duduk di sofa tamu di tengah ruangan. Sementara itu, Nano menghampiri meja Ryuzaki.


" Karena Ayako udah bawa banyak makanan, dan kamu milih itu. Ini aku yang makan aja lah... "


" Abisin aja. "


Sahut Ryuzaki sambil membuka kotak bekal milik Aretha.


Dan Nano pun segera duduk di kursi Ryuzaki, bersiap menghabiskan makanan yang dibawa Ayako.


Aretha melirik sekilas ke arah Ryuzaki. Yang dilirik, terlihat sangat menikmati isi kotak bekalnya.

__ADS_1


Dia bener-bener menyukai masakan bunda...


Syukur deh !


Kirain bakalan kebuang deh itu makanan.


Nggak sia-sia bunda masakin buat dia.


Kata Aretha dalam hati.


" Masakan Ayako emang khas ya... Khas Jepang. Kecap asin, daging ikan mentah... Yang begini sih, kesukaan si Eza, kan. Eza nggak seberuntung aku hari ini. Bisa makan bento gratis tis tis ! "


Kata Nano dengan mulut sibuk mengunyah.


" Ah iya, mana Eza ? "


Seperti diingatkan, Ryuzaki bertanya.


" Ngapain nyariin Eza ? Tuh, pikiran si Ayako. Bisa-bisa ntar di depan pintu hotel mu bakalan ada koper bajumu terkapar. "


" Biarin aja. Ntar juga dia bakalan baik sendiri. "


" Jangan gitu, Ryu. Biar gimana juga, dia itu jadi tanggungjawabmu selama dia disini. "


" Lho, aku kan nggak bikin salah. Kenapa juga aku harus pikirin sikap dia yang kekanakkan gitu. "


" Jangan sampai, kamu ditendang dari kamar hotelmu. "


" Ya, sewa hotel lagi... "


" Aneh, kalian bukan suami istri tapi kenapa cuma sewa satu kamar hotel buat berdua ? "


" Uuhhuuukk !!! Uuhhuukk !!! "


Tiba-tiba Aretha tersedak. Ryuzaki dan Nano menoleh ke arahnya. Aretha segera menyambar segelas air putih di mejanya. Meminumnya hingga tersisa setengah gelas isinya..


" Kayak anak kecil aja, makan sampai keselek begitu... "


Komentar Nano.


Aretha hanya diam, tak berniat menanggapi komentar Nano. Kemudian dengan perlahan, kembali menghabiskan makan siangnya.


Mereka satu kamar hotel ???


Sejak kapan ?


Jangan-jangan sejak mereka balik ke Indonesia ???


Yang bener ajaaaa...


Batin Aretha setengah gondok.


Pas banget keselek waktu Nano ngomongin aku dan Ayako satu kamar hotel...


Apa dia cemburu ?


Perlu nggak ya aku jelasin ?


Tapi kalo dia bener cemburu, itu artinya, dia masih punya perasaan dong ke aku...


Apa biarin aja dia salah paham ?


Buat mastiin perasaan dia yang sesungguhnya...


Batin Ryuzaki sambil melihat ke arah Aretha dengan cermat.


" Emangnya ada masalah kalo aku sekamar dengan Ayako ? "


Sahut Ryuzaki yang masih tetap melihat ke arah Aretha.


Aretha tampak tenang dan acuh tak acuh menikmati makan siangnya.


" Ya, nggak masalah sih. Malah kamu untung banyak dong. Bisa ehem ehem sa... "


" Uuhhuukk !! Uuhhuukk !! Uuhhuukk !! "


Lagi, untuk kedua kalinya Aretha tersedak hingga terbatuk-batuk memotong ucapan Nano.


" Kamu kenapa sih, Re ?! "


Tegur Nano keheranan.


" Nggak, nggak papa. Aku ke toilet dulu deh ! "


Jawab Aretha, setelah dengan cepat menghabiskan sisa air putihnya.


Dan iapun bergegas ke arah toilet yang terletak tak jauh dari mejanya.


Kayaknya beneran dia cemburu.


Hehehe...


Batin Ryuzaki, seraya menyunggingkan senyum di sudut bibirnya.


Nano melihat ke arah Ryuzaki, dan makin keheranan saat mendapati Ryuzaki yang tersenyum sendiri sambil melihat Aretha yang memasuki toilet.


" Kamu ini kenapa senyam-senyum sendirian ? "


Tanya Nano.


Ryuzaki menoleh ke arah Nano dan menghentikan senyumnya.


" Nggak papa... "


Sahut Ryuzaki singkat.


" Kalian berdua itu aneh. Nggak saling tegur, nggak ngobrol, yang satu dikit-dikit keselek, yang satu senyum-senyum sendirian. Parah... "


Ujar Nano sembari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2