AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 43


__ADS_3

Apa yang kulakukan ??


Apa aku begitu bodoh ?....


Seharusnya, aku bisa bilang nggak...


Seharusnya, aku bisa menolak...


Tapi kenapa aku selalu lemah pada airmata Sara ?


Aku nggak pernah bisa tahan dengan kesedihannya.


Apa karena aku tau betul kisah hidupnya yang tragis ?


Apa karena sebelumnya akulah yang membuatnya selalu bergantung padaku ?


Apa karena aku selalu menguasainya sebelumnya ?


Ya... aku selalu merasa dialah milikku !


Ayah bunda yang jarang dirumah, aku merasa cuma Sara yang aku miliki...


Bahkan aku nggak suka kalo ngeliat seorang pu inin dekat dengannya.


Aku yang selalu bilang padanya,


" Akulah yang pantas buatmu, Sara !! "


Aku .... selalu mengintimidasinya....


Ya... aku !


Sekarang.... aku kena batunya !


Aku kena karmaku sendiri....


Aku ngerasain apa yang pasti Sara rasain dulu....


Akulah penyebabnya !


Akulah yang membuatnya kayak gitu !


Akulah.... yang harus bertanggung jawab bukan ?


Aretha menyeruput kopi hitamnya. Setelah meminumnya hingga hampir setengah cangkir tersisa, diletakkannya kembali ke atas meja.


Memalingkan muka ke arah kanan, dimana Sara masih terbaring lemas. Terjadi pendarahan lagi, kata dokter. Lukanya terbuka dan mengeluarkan darah lebih banyak, karena sayatan pada pergelangannya yang dalam.


Pasti karena dia kemarin ini terus merasa shock dan histeris.


Nasi sudah jadi bubur... ucapanku tentang perceraian tak bisa terelakkan.


Ayah melotot dan menamparku sangat keras saat aku bahas masalah perceraian semalam.


Bunda ? Menangis dan meratapiku.


Hahh.... akhirnya, akulah anak yang tak tau diri saat ini.


Ryu ?.... Dia nggak terlihat sama sekali sampai hari ini sejak pertemuan terakhir di rumah sakit ini.


Aretha mengambil handphone di atas meja. Da menghidupkan kembali handphonenya.


Nggak ada chat, nggak ada telepon.


Sudah tiga hari....


Apa dia beneran setuju akhirnya buat cerai denganku ?


Pandangan Aretha menerawang, satu tangannya mengusap lembut perutnya.


Perut ini akan membesar...


Sara akan tau aku hamil.


Aku cuma pingin menjalani kehamilanku dengan baik-baik saja


Bisakah Sara menerimanya ?


Aku takut, kalo aku terus bersama Ryu dan terlihat bahagia, Sara bisa berbahaya buat Ryu dan bayiku...


Kayak sebelumnya, aku akan kehilangan yang aku sayangi...


" Re... "


Panggil suara Sara lirih.


Aretha segera bangun dan mendekat ke ranjang.

__ADS_1


" Ya, ada apa ? Need something ? "


Tanya Aretha penuh perhatian.


" Ah, nggak... aku pikir kamu nggak ada disini. "


Sahut Sara masih dengan keadaannya yang lemas.


" Nggak usah kuatir, aku ada disini terus kok... "


Aretha menenangkan Sara, mengusap lembut kepalanya. Sara menangkap tangannya, kemudian menciumnya. Dan meletakkannya di pipinya.


" Aku sayang kamu, Re.... Aku butuh kamu lebih dari siapapun di dunia ini... "


" Aku tau, aku tau.... "


Ada nada sedih dalam ucapan Aretha. Melihat kondisi Sara dan raut wajahnya yang penuh harap, membuat Aretha semakin tak kuasa untuk bilang tidak padanya.


" Kamu harus rileks.... Biar bisa secepatnya pulang... "


Kata Aretha menyemangati Sara.


" Pulang kemana, Re ? Apa ayah bunda nggak marah padaku ? Apalagi semalem, kamu bilang kalo kamu mau bercerai... Aku yakin, ayah dan bunda sudah tau kayak apa aku sebenarnya..... Apa mereka masih bisa menerimaku ? "


Sara tampak sedih. Matanya menerawang menatap ke depan.


" Kenapa punya pikiran negatif kayak gitu ? Tentu saja ayah bunda masih menerimamu. Mereka kan juga sayang kamu. "


" Tapi aku udah bikin mereka kecewa, Re... Terutama bunda, aku melihat jelas, bunda sekarang berbeda. "


" Itu hanya perasaanmu saja... "


Aretha mencoba membuat Sara nyaman. Sara menatapnya. Berusaha mencari kebenaran ucapan Aretha.


" Kamu nggak bohong kan ? "


" Kalo ayah bunda sampai nggak menerimamu, kita akan mencari tempat tinggal buat kita berdua, okey ? "


Kata-kata Aretha membuat wajah Sara bersinar. Matanya yang tadi redup tampak berbinar terang.


" Beneran, Re ? Cuma aku dan kamu ? "


" Ya, cuma kamu dan aku.... "


" Makasih, Re.... "


Ucapan Sara membuat Aretha termenung.


Bodohnya kamu, Re....


Batin Aretha sedih.


" Pagi, sayang..... "


Sebuah sapaan hangat terdengar dari arah pintu kamar rawat inap tersebut. Aretha dan Sara melihat ke arah suara.


" Bunda... "


Gumam Sara dengan nada takut.


Benar, bundalah yang datang menyapa dan membawa sekeranjang buah dan satu rantang komplit makanan.


" Gimana Sara ? Kamu mendingan pagi ini, sayang ? "


Kata Bunda sembari mencium kening Sara.


Sara termangu. Aretha merasa keheranan.


Kemarin jelas-jelas bunda tampak dingin dan nggak negur Sara sama sekali, cuma basa-basi udah makan apa belum, itu juga nggak keliatan kuatir sedikitpun saat Sara pendarahan lagi...


Sekarang bunda benar-benar berbeda...


Sikapnya sama kayak sebelum kejadian kemarin....


Apa ini artinya aku nggak perlu cari tempat buat aku dan Sara ?


Alhamdulillah sih...


" Re... kamu ini... pagi-pagi ngelamun. Ini suapi Sara, dan kamu juga jangan lupa, makan... "


Bunda menepuk bahu Aretha, membuatnya tersadar dari lamunannya. Aretha menatap bunda, bunda membalasnya dengan senyuman dan menyodorkan semangkuk bubur. Aretha mengambilnya.


" Sara, makan buburmu sampai habis. Dan, ada kabar baik... Kamu bisa pulang besok. Hemm ? "


Kata bunda dengan tampak senang.


Sara dan Aretha ikut senang mendengarnya.

__ADS_1


" Kamar Sara hari ini juga mau dirapihin, dan Aretha, kamu kembali ke kamarmu yang lama. Dan... "


" Apa, bunda ? Rere pulang ke rumah ? "


Aretha memotong ucapan bunda.


" Iya, emangnya kamu mau pulang kemana lagi ? "


Sahut bunda dengan santai.


Sara dan Aretha saling menatap.


" Maksud bunda, Rere tinggal bareng kita lagi ? "


Sara mencari kepastian.


" Iya, Sara sayang.... Rere pulang kerumah kita lagi, di kamar lamanya. Kan nggak mungkin, Rere tinggal diluar sendirian... "


Jawab bunda sambil menepuk lembut punggung tangan Sara.


Aku pulang ke rumah ?


Kata bunda, nggak mungkin aku tinggal diluar sendirian ???


Maksudnya.... ?


Aretha masih menatap ke arah sang bunda. Mencoba mencari penjelasan lebih detil lagi. Bunda seperti paham apa maksud Aretha.


" Ryu pulang ke Jepang subuh tadi... Dia... "


" Apa ?! "


Seru Aretha memotong kalimat sang bunda dan terperanjat dengan ucapan bunda. Begitu pula Sara.


" Ryu pulang ke Jepang ? Nggak pamitan sama Rere ? "


Tanya Rere dengan suara yang tercekat.


" Kamu minta bercerai, Ryu menyetujuinya. Dan Ryu juga kasih tau bunda, kamu hamil... "


" Re... ? "


Kali ini Sara yang terperanjat.


Aduh, kenapa bunda bicara soal kehamilanku di depan Sara ?


Aretha menoleh ke arah Sara dan menganggukkan kepalanya.


" Dengerin bunda, Rere hamil, jadi kita semua harus bantu Rere jaga kandungannya. Ryu sudah nggak disini lagi. Bunda kecewa sebenarnya dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini... Tapi, life must go on. Ada sebuah kehidupan di perut Rere yang lebih memerlukan kasih sayang kita sebagai satu keluarga. Bunda nggak akan bahas apapun tentang sebelumnya, bunda minta, kalian fokus buat masa depan yang lebih baik buat kalian. Kalian kesayangan bunda, jangan lagi ada konflik atau masalah yang bisa bikin keluarga kita hancur. Paham ? "


Bunda memberikan penjelasan panjang lebar. Kemudian menggenggam tangan Aretha dan Sara bersamaan.


" Tutup semua yang dibelakang. Kita akan punya seseorang lagi dalam keluarga kita. "


Sambung bunda seraya menatap ke arah perut Aretha.


Sara mengikuti pandangan bunda.


Ada sesuatu yang hidup di perut Rere ?...


Apa itu akan jadi ancaman buatku ?


Apa aku juga harus menyayanginya ?


" Sara sayang... Kamu akan jadi aunty... Pasti akan lucu banget ya kan, menggendong bayi yang imut dan menggemaskan... Bisa jadi mainan baru buat kita dirumah, mengingat kalian sudah nggak ada lucu-lucunya, hehehe.... "


Bunda mencoba bercanda, agar memecah ketegangan di dalam kamar tersebut. Dan berhasil, Aretha dan Sara tampak tersenyum dan ikut terkekeh.


" Bunda bisa aja... Iya, ya... jadi punya mainan baru nanti. Sara akan coba jadi aunty yang baik deh... "


Sahut Sara dengan wajah yang kembali ceria.


Alhamdulillah... satu rencanaku berhasil.


Batin bunda meliha reaksi positif dari Sara.


Apa ada yang direncanain bunda ?


Bunda keliatan hepi dengan jawaban Sara.


Dan Sara.... apa wajah senangnya itu beneran tulus atau cuma akting ?


Tapi apapun itu, paling nggak, aku nggak perlu lagi sembunyiin kehamilanku sekarang.


Ryu....


Jadi dia beneran setuju buat bercerai....

__ADS_1


Harusnya aku bersyukur karena dia akhirnya mengikuti keinginanku ?


Tapi kenapa hatiku malah sakit ?!


__ADS_2