AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 57


__ADS_3

Bunda terperangah menatap Aretha. Diperhatikannya putrinya itu dari atas hingga ke bawah dengan mulut berdecak kagum. Perlahan, Bunda mendekati Aretha dengan tatapan takjubnya.


" Bunda... Rere jadi merasa risih kan... "


Kata Aretha merajuk.


" Coba lihat ini... Kamu cantik sekali, Re. Jauh beda. Bunda nggak nyangka, anak Bunda bisa secantik ini. "


Puji Bunda tanpa henti.


Kalo Ryu tau perubahan Rere, dia pasti akan langsung terbang balik ke sini.


Batin Bunda sambil tersenyum.


" Bunda foto ya... "


Kata Bunda yang langsung merogoh kantong daster nya.


" Rere gayanya gimana ? "


Tanya Aretha.


" Nggak usah bergaya juga nggak apa-apa. "


Sahut Bunda yang tak sabar mengabadikan penampilan perdana Aretha yang feminim.


Aretha tampak sangat berbeda hari ini. Dengan awal tanktop polos berwarna coklat muda sepanjang panggul dimasukkan ke dalam rok plisket panjang bermotif bunga sakura, ditutup Hoodie panjang sebatas perut berwarna merah muda dengan sedikit corak di ujung lengan menimpa tanktopnya.


Rambutnya yang sepanjang pinggang diikat ekor kuda dan di kepang, membuat bentuk wajah bulat Aretha terlihat manis dan imut. Sedikit riasan natural di wajahnya menambahnya terlihat benar-benar seorang gadis feminim.


Sepatu yang dikenakannya selaras dengan warna hoodie yang dipakainya, sepatu kets dengan sol tebal berwarna merah muda dengan garis putih.


Aretha yang selalu tampak manly, kini menjelma menjadi sosok gadis feminim yang manis dan menggemaskan.


" Nah, sudah... Bunda mau cetak dan dipajang ah... "


Kata Bunda dengan riang sembari memandang hasil jepretan kamera dari handphone nya.


" Pagi, sa... Rere ? "


Ayah yang baru saja datang masuk ke dalam kamar Aretha tampak takjub dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


" Hari pertama kuliah lagi, dengan penampilan barunya. Gimana, yah ? Cantik yaaa... "


Kata Bunda yang menyambut ayah dengan senang.


" Cantik... sangat cantik... Hari pertama mu ini pasti bakal jadi hari dimana cowok-cowok di tempat kuliah barumu terpesona. "


Puji Ayah sembari mengecup kening Aretha.


" Ayah... Rere kan cuma mau masuk kuliah lagi, kenapa juga segala cowok-cowok di tempat kuliah dibawa-bawa... Rere nggak minat jadi cewek populer apalagi status Rere yang ngegantung begini. Percuma juga banyak yang deketin kan.... "


Kata Aretha merasa sedikit kesal.


" Sayang... Kata siapa statusmu nggak jelas ? "


" Lha kan emangnya ? "


" Kamu ini masih sah dan resmi satu-satunya istri Ryuzaki Tora Wijaya, satu-satunya menantu Tuan Hari Wijaya dan Nyonya Hanako Yuki yang terhormat. Apa itu nggak cukup jelas, hemm ? "


Sahut ayah dengan nada suara yang begitu bangga.


" Peluk ayah dulu.... Sudah berapa lama ayah nggak peluk kamu ya... "


Sambung ayah sembari menarik bahu Aretha dan memeluknya erat.


Aretha merasa terharu, namun ia berusaha untuk tak mengeluarkan airmata. Bunda pun demikian. Hanya saja, Bunda sudah tampak berkaca-kaca.


" Rere sayang ayah... "


Ucap Rere dengan suara yang bergetar.


" Ayah tau... Ayah juga sayang kamu. Mulai sekarang, apapun yang ingin kamu lakukan, ayah akan selalu mendukungmu. Ayah akan terus berada disisimu. Berjanjilah, mulai hari ini, kamu akan terus bahagia ya... "


" Iya yah... Ada ayah dan bunda, Rere akan terus bahagia. "


" Bagus ... Baguslah .... "


Dan ayahpun melepaskan pelukannya. Untuk kedua kalinya, ayah mengecup kening Aretha. Kali ini, penuh dengan kasih sayang dan lumayan lama.


" Ayo... Siap berangkat ? "


Kata ayah sembari menawarkan lengan untuk Aretha.


Sambil tersenyum dan menyelipkan tangannya ke lengan sang ayah, Aretha menganggukkan kepalanya.


" Siap, Pak Danu... "


Sahut Aretha diiringi dengan tawa kecil.


" Dasar.... "


Kata bunda sembari menepuk bahu Aretha pelan.


" Re ! Ayo, berangkat ! "


Tiba-tiba Sara datang tepat saat Aretha, ayah dan bunda keluar kamar. Sara menatapnya dengan raut wajah yang aneh.


" Ka... mu ? "


Tanya Sara sembari melihat Aretha secara keseluruhan dengan pandangan tak percaya.


" Kamu suka ? "


Kata Aretha dengan senyum senang.


Berbeda dengan ayah dan bunda, senyum mereka sebelumnya menghilang perlahan berganti dengan kecemasan.


" Suka... "


Ucap Sara lirih.


" Ayo, keburu telat... Sara sudah siap ? Hari ini hari pertama mu kerja. Kamu harus semangat ya... Re, kamu juga harus giat kuliahmu, biar bisa bekerja di perusahaan Ayah sama dengan Sara. "


Bunda mengalihkan pembicaraan dan menggandeng tangan Sara.


" Pasti, Sara tunggu aku ya, aku akan kerja secepatnya juga. "


Kata Aretha penuh semangat.

__ADS_1


Sara yang masih tampak bingung dengan penampilan baru Aretha hanya bisa mengangguk dan tersenyum dengan canggung.


Akhirnya, dalam diam dan termenung dengan pikiran masing-masing, melangkah bersama menuju halaman depan, dimana Mang Kasdi sudah menunggu di dalam mobil siap mengantar.


KANTOR DANU SUTEDJO


Sara terdiam menatap layar komputer di hadapannya. Pikirannya melayang kembali dimana ia mendapati penampilan Aretha yang berubah drastis.


Apa yang dipikirkan Rere ?


Kenapa dia bisa berubah begitu...


Apa yang membuatnya pingin berubah ?


Apa karena Ryu ?


Tapi bukankan sia-sia berubah karena seseorang yang jauh dan dibencinya ?


Lalu karena apa ?


Aku bilang, membuka lembaran baru, maksudku, aku ingin dia kembali bersamaku kayak dulu lagi...


Cuma ada aku dan dia.


Cintaku lebih besar dari Ryu.


Aku akan lakukan apapun demi Rere.


Apa yang kurang ?


Tentang aku yang sama jenis dengannya ?


Rere paham banget soal itu dan sebelumnya dia nggak pernah menolak ku.


Tapi penampilan barunya...


Aku merasa melihat penampilan ku sendiri pada diri Rere.


Nggak masuk akal kalo Rere mengikuti penampilan ku...


Aku tau banget karakternya.


Dia nggak pernah mau menjadi orang lain.


Aneh ...


Sara mengernyitkan keningnya. Beberapa jarinya mengetuk-ngetuk meja satu persatu secara bergantian. Raut wajahnya penuh tanda tanya. Setumpuk berkas yang seharusnya dia baca dan pelajari sebagai tugas utamanya di hari pertama ia bekerja, masih tertumpuk rapi dan belum disentuhnya.


Beberapa rekan kerja di sekitar yang melihat Sara sibuk dengan lamunannya mulai bergunjing.


" Anak direktur, baru masuk juga santuy... "


" Iya, mau gimana juga, aman. "


" Kalo cuma pingin ngelamun, ngapain juga kerja ya... "


" Padahal baru masuk sudah langsung dapet jabatan sebagai manajer operasional... Tapi operasionalnya cuma ngelamun aja. "


" Taruhan itu berkas juga nggak akan kelar hari ini... "


" Bla... Bla... Bla... "


Kalo ada Rere, mereka nggak akan bisa bergosip sebebas itu tentangku...


Re... aku butuh kamu disini.


Apa aku bisa lalui semua ini tanpa kamu disisiku ?


Batin Sara, kemudian ia menggigit bibir bagian bawahnya, mencoba menahan tangis yang hampir meledak.


Telinganya terasa panas, wajahnya mulai tampak memerah. Sara menundukkan wajahnya dan menutupinya dengan berkas-berkas di mejanya. Dan akhirnya, ia melanjutkan memeriksa berkas-berkas tersebut tanpa mengangkat wajahnya sekalipun diiringi kasak kusuk dan pandangan tak suka karyawan lain.


Berbeda hal yang dialami Aretha di tempat kuliahnya. Setelah mengikuti mata kuliah di kelas, Aretha memilih menunggu mata kuliah selanjutnya di kantin. Dengan santai, ia mengambil tempat duduk di meja di sudut kantin.


Tempat yang strategis menurutnya. Dari sudut tempatnya duduk, ia bisa melihat seluruh pengunjung kantin yang keluar masuk dan beberapa meja yang penuh dengan mahasiswa lain dengan canda dan tawa mereka.


Aretha menyedot jus buahnya yang tadi sempat dibelinya di market waralaba di dalam kampus.


Berapa lama ya nggak ke kampus ?


Banyak yang berbeda...


Ibu kantin masih sama, tapi karyawan kantinnya sudah ganti semua.


Yang disini bisa disebut adik kelas ya...


Tapi sekarang jadi satu angkatan.


Angkatan ku sendiri sudah pada kelar kuliah tahun lalu, dimana aku lagi hamil...


Tanpa disadarinya, Aretha mengelus perutnya perlahan.


Ah, sudahlah...


Bukankah aku pingin move on ?


Oh iya... Gimana hari pertama Sara kerja di kantor ayah ya...


Ntar jam istirahat, aku telpon dia deh...


Kata Aretha penasaran dari dalam hati.


Aretha mengambil tas ransel dipangkuannya, dan ia mengeluarkan handphone nya.


Tadi di kelas, hape ku bergetar terus.


Siapa ya...


Dan Aretha membuka kunci layar handphone nya.


Walah...


Notif chat dari Nasya dan Ella.


Panggilan tak terjawab dari Zoya, Bunda dan Ditto ?


Ditto ?!


" Hai, Re ! "

__ADS_1


Sebuah sapaan ramah dan terdengar suara yang tak asing membuat Aretha mengangkat kepalanya. Aretha langsung sumringah begitu mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.


" Ditto ? "


Panjang umur ni orang...


Baru juga aku lagi pikirin.


" Yoyoi... Boleh duduk ? "


Kata Ditto dengan sopan.


" Boleh aja... Silahkan. "


Kata Aretha dengan ramahnya.


" Aku pikir, aku salah orang. Aku perhatiin kamu dari kamu masuk ke kantin, cuma aku takut salah orang. Eh, pas diperhatiin bener-bener, ternyata memang kamu, Re... "


Cerocos Ditto dengan wajah yang berbinar.


" Iya... inilah aku sekarang. Mencoba buat berubah lebih baik lagi dan memang sudah seharusnya sih... Iya nggak ? "


" Hehehe... betul banget ! Tapi jujur, aku pangling lho... "


" Oh iya, baguslah. Itu berarti perubahanku berhasil ya... Hehehe... "


" Sangat-sangat berhasil ! Bagus kok... "


" Trims, Dit... "


" Kuliah lagi ? "


" Iya... Sudah seharusnya mikirin masa depan kan. "


" Masa depan ya ? Bukannya masa depanmu sudah terjamin dengan jadinya kamu sebagai Nyonya Ryuzaki ? "


" Ditto... Ditto... Aku juga butuh pengakuan atas diriku sendiri. "


" Iya juga sih... "


Kata Ditto sembari tersenyum simpul.


" Mmm, Re... "


" Apa ? "


" Gimana kabar Sara ? "


" Aku sudah tebak, itu alasanmu nyamperin aku, bukan ? "


" Ayolah... Aku serius, aku mengenalimu makanya aku nyamperin kesini. Soal Sara, itu urusan yang lain. "


" Ya ya ya... Okey, aku percaya deh. "


Sahut Aretha sedikit meledek.


" Masih sama kayak dulu, bergantung padaku. Tapi hari ini dia mulai kerja di kantor ayah, entahlah, apa dia bisa melewati nya dengan baik. "


" Oh... Apa menurutmu, dia bisa berubah, Re ? "


Pertanyaan Ditto membuat Aretha termenung untuk sesaat.


Aku juga nggak tau...


Ini juga lagi aku usahain buat ngerubah dia, tau bisa apa nggak...


" Menurutmu ? "


Aretha balik bertanya.


" Sayang ya, dia cantik, lembut, tapi pecinta sesama jenis. Kalo saja dia bisa berubah, aku bersedia ngelakuin apapun demi dia, Re. "


" Aku percaya... Tapi, aku lupa mau tanya. Tadi kamu telpon aku ya ? Ada apa ? "


" Oh itu... Cuma mau pastiin apa benar kamu kuliah lagi disini. Tadi pagi, Zoya telpon, dia kasih tau soal kamu kuliah lagi. "


" Oohh... "


" Lalu, pengobatan Sara, apa ada kemajuan ? "


" Dari sudut pandang ku, belum ada kemajuan. Tapi Sara masih berobat dan konsultasi ke dokter secara rutin. Ya mending begitu, jadi dia punya kesibukan yang lain kan, ditambah dia kerja sekarang, dan aku kuliah, waktuku bersamanya akan banyak berkurang. Siapa tau, dia bisa berubah. "


" Oh... Ya, aku sangat berharap... "


Sambung Ditto dengan tatapan sendu.


Aretha memperhatikan sosok Ditto dengan seksama.


Kayaknya... dia bisa aku manfaatin.


Sedikit melakukan sesuatu yang jahat, tapi demi kebaikan banyak orang, bisa dimaklumi kan...


" Dit... Kamu mau deketin Sara lagi ? "


Tanya Aretha.


Ditto menatap Aretha dengan penuh rasa ingin tahu.


" Maksudmu ? "


" Aku cuma mau tau, kalo kamu masih cinta sama Sara, apa kamu mau deketin dia lagi ? "


Aretha memperjelas maksudnya.


" Kamu pasti punya sebuah rencana bukan ? "


" Entahlah... itu tergantung kamu aja. "


Sahut Aretha santai.


Ditto termenung untuk sesaat tanpa melepaskan tatapannya kepada Aretha.


" Ya, aku akui, aku masih berharap Sara bisa menerimaku. "


" Okey... Kita sepakat ! "


Dan Aretha langsung mengambil tangan Ditto yang berada di atas meja dan menjabatnya dengan erat.


Saatnya mulai beraksi...

__ADS_1


Batin Aretha dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.


__ADS_2