
" Bunda... "
Bunda yang terkejut mendapati sosok Ryuzaki di hadapannya, mencoba menenangkan diri sendiri.
" Ryu... Kamu, kemana aja selama ini ?? "
Tanya bunda penasaran dan langsung berdiri dari jongkoknya.
" Aku... "
" Sini, duduk dulu ! "
Belum selesai Ryu bicara, bunda langsung menarik tangan Ryu dan menyuruhnya duduk di bangku taman.
" Bu, ini... lho ? "
Bi Siti yang tergopoh-gopoh membawa apa yang diinginkan sang nyonya, terkejut melihat sosok Ryuzaki.
" Bi, bikinin minum. Kopi hitam tapi nggak terlalu manis ya. "
" Oh, iya bu... "
Dan setelah meletakkan beberapa barang yang dibawanya, Bi Siti langsung bergegas kembali ke dalam rumah.
" Bunda tau ya minuman favorit saya... "
Kata Ryuzaki yang tampak takjub.
" Lah kamu ini gimana sih ? Jelas aja bunda tau lah. Kamu kan menantu bunda satu-satunya saat ini... "
Jawab bunda sambil tertawa geli.
Tapi Ryuzaki malah mengernyitkan keningnya.
" Menantu ? Bukan anak ? Saya pikir.... di potongan ingatan saya, saya merasa akrab dengan bunda, dan saya mengingat anda sebagai bunda... Saya pikir, andalah bunda saya. "
Kata Ryuzaki kebingungan.
Bunda lebih bingung lagi mendengar Ryuzaki berbicara.
" Ryu.... apa yang terjadi ? "
" Saya kecelakaan, dan mengalami amnesia. "
" A-Apaa ?! Kamu... "
Belum selesai bunda bertanya, Ryuzaki menyibakkan rambutnya di bagian kanan, terlihat ada bekas luka jahitan yang mulai mengering dan sepanjang kurang lebih tiga sentimeter.
" Ya Allah....Ryu... "
Bunda membekap mulutnya sendiri saat melihat bekas luka itu.
" Dan ada beberapa luka jahitan juga di paha, bahu, juga dada sebelah kiri. Akibat pecahan kaca yang menusuk. Tapi semuanya sudah sembuh kok, bunda... "
Jelas Ryuzaki yang membuat bunda makin miris mendengarnya.
" Seseorang, pak Abdul namanya. Beliau yang merawat saya selama ini. "
" Kenapa kamu atau pak siapa itu, nggak menghubungi kami ? Kamu ada surat-surat kan... Terakhir kamu keluar rumah ini, kamu pamitan mau kembali ke Jepang. Jadi pasti kamu bawa KTP dan yang lainnya. "
" Entahlah... Saat itu, meski sudah tau data diri sendiri, saya merasa nggak ingin buru-buru kembali. Saya juga nggak tau kenapa. Saya merasa saya ingin menenangkan diri dari semua yang terjadi, meskipun saya juga nggak tau, apa itu yang sudah terjadi. "
Jelas Ryuzaki.
Ah, betul....
Dia waktu pamitan bilang ingin menenangkan diri.
Jadi itu hal yang terikat kuat dalam ingatannya.
Batin bunda membenarkan.
" Tapi.... kamu ingat memanggilku sebagai bunda ? Apalagi yang kamu ingat ? Rere ? Calon bayimu ? Teman-temanmu ? Kamu ingatkah ? "
Bunda memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
" Rere ? Calon bayi ? "
" Ya, Rere anakku, dia istrimu. Dia sedang hamil, sekarang sudah enam bulan. Dia sedang cek kandungan bersama Sara. "
" Sara ? "
" Sodara Rere, anakku juga. "
__ADS_1
" Ah... "
" Kamu panggil aku bunda. Apa yang kamu ingat tentang itu ? "
" Jujur, saya sudah tiga hari ini memperhatikan rumah ini. Dan kemarin sore, tiba-tiba sosok anda terbayang dalam ingatan saya, disitu saya memanggil anda, bunda. Makanya saya bertekad buat datang kerumah ini dan pingin nanya lebih banyak lagi. "
Jelas Ryuzaki.
" Hemm, jadi begitu. Kamu sudah ke dokter buat cek ulang kondisimu ? Kapan terakhir kamu ke dokter ? "
" Setelah saya siuman dari koma, itu terakhir saya bertemu dokter. "
" Ada CT scan atau apa aja yang kamu dapetin dari rumah sakit ? Hasil Rontgen atau apa saja ? "
" Ada, ini saya bawa. "
Ryuzaki yang sedari tadi memangku tas ranselnya, membuka tasnya tersebut. Ia mengeluarkan sebuah amplop besar dengan kop surat sebuah nama rumah sakit besar di Tangerang.
" Tangerang ? Kamu kecelakaan di Tangerang ? "
Tanya Bunda saat menerima amplop besar tersebut dan membacanya kop suratnya.
" Ya... "
" Mobilmu ? "
" Sudah diurus oleh pak Abdul. Saat ini ada di bengkel teman beliau. Tapi terlalu parah kerusakannya, jadi masih proses servisnya. "
" Oh gitu.... Kenapa pak Abdul nggak telepon polisi ? Melaporkan kejadian apa yang menimpamu ? "
" Pak Abdul akhirnya mengaku pada saya, anaknya lah yang bertabrakan dengan saya. Sopir truk ekspedisi. Beliau takut akan jadi masalah bagi anaknya, jadi sebelumnya dia merahasiakannya. Dia merawat saya. "
" Bunda paham, tapi tetep, itu adalah kejahatan. Kita... "
" Maaf, Ryu mohon. Cukup sampai disini saja masalah kecelakaan itu. Sekarang saya cuma ingin jalani apa yang seharusnya saya jalani. "
" Baiklah.... Baiklah.... Kamu sudah makan ? "
" Belum, tapi saya belum lapar. "
" Ayo, aku antar kamu ke kamarmu dulu buat istirahat. "
Kata Bunda sembari bangun dari duduknya dan memberi isyarat dengan lambaian tangannya kepada Ryuzaki agar mengikutinya. Ryuzaki pun menurut. Sembari menenteng tas ranselnya, ia mengikuti langkah bunda.
Ryuzaki mengedarkan pandangannya berkeliling. Berharap ada sesuatu yang terlihat yang akan membuatnya mengingat sesuatu tentang rumah ini. Tapi sia-sia. Tak ada satupun yang membuatnya bisa menggali ingatannya.
" Ini kamar Rere, ya tentu saja, kamarmu juga. Istirahatlah sambil menunggu Rere pulang. "
Ryuzaki melangkah masuk ke dalam kamar. Dan melihat ke sekeliling. Keningnya berkerut. Ada sesuatu di ingatannya. Kepalanya berdengung.
" Aarghh... "
Keluhnya sambil memegangi kepalanya.
" Ada apa Ryu ? Apa kepalamu sakit ? "
Bunda yang hendak menutup pintu kamar, membatalkannya dan kembali masuk ke dalam. Beliau memegangi kepala Ryuzaki.
" Iya, kadang suka seperti ini.... "
Sahut Ryuzaki lirih sembari meringis menahan sakit.
" Kamu harus ke dokter sekarang, ayo ! "
" Nanti saja, bunda. Sekarang sudah mendingan kok. Saya ingin istirahat dulu saja. Boleh ? "
Ryuzaki menatap bunda penuh harap.
" Baiklah.... Istirahatlah. Nanti kita ke dokter ya. Aku akan kabari orangtuamu di Jepang. "
" Di Jepang ? "
" Iya, orangtuamu kan masih di Jepang. Mereka sempat cemas saat kamu yang harusnya sudah sampai disana, ternyata nggak sampai juga. Mereka hampir laporin ke pihak polisi soal kehilanganmu. Tapi bunda bilang kalo kamu pingin nenangin diri, siapa tau kamu refreshing di tempat lain. Akhirnya mereka membatalkan laporannya. Jadi bunda rasa, hari ini juga bunda harus kabari orangtuamu. "
" Ya, terserah bunda saja gimana baiknya. "
" Kamu mau bicara sendiri dengan mereka ? "
" Boleh, saya mau. "
" Tunggu disini, bunda ambil hape bunda dulu ya... "
Dan bundapun bergegas keluar kamar.
__ADS_1
Ryuzaki meletakkan tas ranselnya di atas meja rias. Ada beberapa foto yang terpajang di meja rias tersebut. Ryuzaki melihatnya satu persatu.
Dia....
Ah jadi dia istriku ?
Siapa tadi bunda bilang, Rere ?
Ya, dia cantik... tapi, kayaknya dia tomboy ya.
Gaya fotonya gaya macho gitu.
Cuma ini yang beda... ini foto pengantin.
Dia bisa imut juga dengan pose feminim denganku.
Apa kami semesra ini selanjutnya ?
Tapi apa yang tadi aku liat di ingatanku ?
Aku berkelahi dengannya....
Di kamar ini, iya... kayaknya di kamar ini, aku berkelahi dengannya.
Tepatnya, di ranjang itu...
Kamar ini nggak berubah, ini sama dengan yang tadi kuliat.
Kenapa ?
Apa yang terjadi ?
Ryuzaki melepas sweaternya. Dibuka sebuah lemari di dekatnya. Ada beberapa pakaian laki-laki di dalamnya. Ryuzaki mengambil sebuah kaos berwarna hitam dan celana joget selutut.
" Ini sesuai dengan ukuranku.... Oh iya, ini kan kamar istriku. Pastilah ada baju-bajuku..... "
Katanya pada diri sendiri saat melihat ukuran pakaian yang diambilnya. Dan tanpa menunggu lama, Ryuzaki melangkah ke arah kamar mandi di sudut kamar tersebut.
TIGA JAM KEMUDIAN
" Darimana saja kalian ? Apa cek kandungan bisa selama ini ? "
Tanya bunda dengan memasang wajah masam saat melihat kedatangan Aretha dan Sara.
" Rere ngajak nonton film dulu, Bun.... "
Sahut Sara sambil mengalihkan pandangannya ke arah Aretha. Aretha menanggapinya dengan tertawa kecil.
" Kata Nasya, ada film seru hari ini. Jadi sayang kan kalo dilewatin, Bun... Kita juga nonton rame-rame. Bareng Ella, Zoya, Nasya. "
" Kamu ini kan lagi hamil.... Kalo mereka ketauan emang masih single. "
" Loh emang ada larangan kalo orang hamil nggak boleh nonton bioskop ? "
" Sudah, jangan berdebat. Mandi sana. "
Kata bunda tanpa menjawab pertanyaan dari Aretha.
" Baiklah, bundaaa..... "
Sahut Aretha sambil mencium pipi bundanya. Dan sebelum bundanya protes dengan tubuhnya yang berkeringat, Aretha segera mempercepat langkahnya menuju kamar.
" Sara, gimana dengan terapi mu ? Dokter Vani bilang apa hari ini ? "
Tanya bunda yang membuat Sara menghentikan langkahnya mengikuti jejak Aretha. Sara memutar tubuhnya kembali dan mendekat ke arah bunda. Bunda menepuk tempat duduk tepat disisinya, dengan maksud agar Sara duduk disitu. Sara pun menurut.
" Kata Dokter Vani, Sara harus lebih banyak beradaptasi lagi dengan lingkungan luar. Itu tu yang terus dijadiin alasan Rere buat nonton tadi. Kata Rere, ayo ikut nonton aja, biar sesuai saran Dokter Vani. Hehehe... "
Cerita Sara dengan wajah berseri-seri.
Bunda memperhatikannya.
Sara sudah lebih banyak tersenyum dan tertawa sekarang....
Terapi yang dilakukannya sejak empat bulan lalu kayaknya mulai ada hasilnya.
Meskipun kadang dia suka berdiam diri di kamar dalam waktu berjam-jam.
Tapi ini udah mendingan...
Kata Dokter Vani, memang harus sabar...
Sekarang Ryu pulang, apa Sara masih akan anggap dia sebagai saingan ?
__ADS_1
Gimana ini... apa akan baik-baik saja ?
Aku sangat cemas....