AKU DAN CINTA SAUDARIKU

AKU DAN CINTA SAUDARIKU
BAB 48


__ADS_3

Aretha yang bersiul riang terdiam saat membuka pintu kamarnya. Dan begitu pintu kamarnya terbuka, keningnya seketika berkerut, matanya membelalak tajam ke arah atas ranjangnya.


Mengucek matanya beberapa kali dan wajahnya tampak kebingungan. Di atas ranjangnya, sesosok laki-laki muda tampak terlelap pulas. Perlahan ia mendekat ke ranjang,


" Ryu ? "


Gumamnya.


Dengan sangat berhati-hati, Aretha duduk di sisi ranjang. Diperhatikannya dengan serius wajah Ryuzaki.


Empat bulan pergi begitu saja...


Nggak pamitan dan menghilang.


Sekarang tau-tau pules banget tidur dikamarku.


Gumam Aretha, kali ini dari dalam hati.


Dengan sangat tenang, ia duduk di tepi ranjang. Mulai menatap tajam sosok sang suami yang benar-benar sangat nyenyak dalam tidurnya.


Lihat ini.... kulitnya kecoklatan sekarang.


Apa dia berlibur di Bali ?


Bersenang-senang di pantai ?


Kamu tau, tiap malam aku nyesel bilang cerai ke kamu waktu itu...


Setiap hari aku jalani hidupku penuh dengan rasa kangen padamu.


Kata Aretha dalam hati.


Aretha mendekatkan wajahnya, menatap lekat-lekat setiap lekuk wajah suaminya. Jarak wajahnya dengan wajah Ryuzaki hanya beberapa sentimeter sekarang.


Masih ganteng, hihihi...


Dan cool...


Tapi kenapa kayaknya keliatan capek banget ya ???


Tiba-tiba Ryuzaki terbangun dan spontan kening mereka langsung beradu.


" Auww ! "


" Aduhh !! "


Seru mereka bersamaan.


Serempak pula keduanya saling menyentuh kening masing-masing.


" Maaf... "


Kata Ryuzaki menyesal.


" Kenapa tiba-tiba bangun begitu ? Bikin kaget aja ! "


Keluh Aretha.


Ryuzaki menatap wajah Aretha.


" Ah, kamu ya.... Rere. "


Kata Ryuzaki dengan ramah.


Aretha merasa nada bicara Ryuzaki terdengar aneh dan kaku.


" Kamu... Kok nada suaramu kayak baru tau ini aku... Hei !! Kamu itu baru empat bulan ya ninggalin aku, jangan bilang kamu udah lupa sama istrimu ini ! Kamu ngerjain aku ?! "


Nada suara Aretha mulai kesal.


" Eh, maaf ya... Nggak, aku nggak ngerjain kamu kok. Aku emang beneran lu... "


" Tau nggak, hari ini bayi kita caper banget. Terlalu banyak nendang. Bikin aku nggak konsen nonton bioskop. "


Aretha memotong ucapan Ryuzaki.


Dan dengan cepat menarik tangan suaminya, meletakkan telapak tangan Ryuzaki ke perutnya yang sudah terlihat membesar itu.

__ADS_1


Dan tanpa disangka, ada sebuah gerakan mengejutkan dari dalam perut. Ryuzaki sempat tersentak. Dan spontan menarik tangannya.


" Hahaha.... Kamu kaget ya ? Itu bayi kita, dia mengenalmu ternyata... Dia pasti kangen sama ayahnya. Hehehe.... "


" Ya, syukurlah dia mengenalku, dan semoga dia selalu sehat di dalam sini... "


Kata Ryuzaki takjub.


Kembali tangannya menyentuh perut Aretha. Kali ini mengelusnya dengan lembut. Kembali ada yang bergerak dari dalam perut Aretha.


" Dia bergerak lagi.... "


Kata Ryuzaki dengan bersemangat.


Ryuzaki menundukkan kepalanya, mendekatkan telinganya ke perut Aretha.


" Apa dia bisa bersuara ya.... "


Kata Ryuzaki.


Aretha tersenyum kecil.


" Mana ada begitu.... Belum bisalah. "


Sahutnya.


Aretha menyentuh rambut Ryuzaki. Membelainya. Ryuzaki mengangkat kembali kepalanya.


" Rambutmu.... tambah panjang. Kamu kemana aja ? Apa yang kamu lakuin selama empat bulanan ini ? "


Kata Aretha yang masih terus membelai dan menyisir rambut Ryuzaki dengan jari-jarinya. Ryuzaki menatap Aretha dan kemudian menangkap jari jemarinya.


" Maaf.... Aku nggak ada selama ini. Aku... "


" Aku yang seharusnya minta maaf sama kamu, sayang.... Aku menyesal, aku minta cerai begitu saja tanpa berpikir panjang. Maafin aku ya.... "


Kembali untuk kedua kalinya, Aretha memotong kalimat Ryuzaki. Dan ia melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya. Memeluk dengan kencang.


Ryuzaki merasa bingung dengan kalimat terakhir Aretha. Tapi ia membalas pelukan Aretha dengan memeluknya hangat dan membelai rambut Aretha.


Dia pernah minta cerai padaku ?


Kenapa ?


Apa dia selingkuh ?


Atau aku yang selingkuh ?


" Apa kamu masih ingin bercerai dariku ? "


Tanya Ryuzaki pelan.


Dalam dekapannya, Aretha menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menengadah ke atas. Menatap wajah suaminya.


" Nggak... apapun yang terjadi nantinya, aku akan ikuti apa katamu mulai saat ini. Aku janji ! "


Jawab Aretha dengan yakin.


Ryuzaki menunduk, mencium kening istrinya.


" Baiklah... Aku pegang janjimu sekarang. Nggak boleh ingkar janji ya... "


Kata Ryuzaki lembut.


Padahal di dalam hatinya berkecamuk banyak pertanyaan. Tapi ia berusaha menahan diri. Ia tak ingin Aretha mengetahui bahwa ia mengalami amnesia. Ia ingin mendapatkan sendiri setiap kepingan memorinya tanpa merasa dikasihani sang istri.


" Dari kapan kamu sampai ? "


Tanya Aretha masih memeluk sang suami. Kali ini ia menyandarkan kepalanya di dada Ryuzaki. Ryuzaki kembali membelai lembut kepala istrinya.


" Tadi siang. Kata bunda, kamu dan Sara sedang kontrol kandungan mu. "


" Ooh.... Kamu sudah makan ? "


" Belum.... setelah mandi, sempat telpon mami papi dulu lalu aku tiduran nungguin kamu pulang. Ternyata malah tidur beneran.... Hmmm, bau keringat. Mandi sana... "


Katanya saat mendekatkan hidungnya ke kening Aretha, berniat ingin mencium kening sang istri.

__ADS_1


" Sejak hamil tiga bulan, badanku gampang banget bau. Kata bunda sih, bawaan bayinya. Kalo entar udah lahir, hilang sendiri kok... "


Sahut Aretha sambil melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Ryuzaki.


" Aku kangen.... "


Ucap Aretha manja, sambil mengalungkan kedua lengannya ke arah leher Ryuzaki.


" Keliatan banget dari matamu.... "


Sahut Ryuzaki sambil menyentil pelan hidung sang istri.


" Tapi ... kenapa aku ngerasa, kamu nggak kangen sama aku ya ? Apa rasa kangen ini cuma milikku seorang, hemm ?! "


Ryuzaki agak tersentak dengan ucapan yang keluar dari mulut Aretha. Menutupi hal itu, Ryuzaki mencoba tersenyum.


" Apa rasa kangen itu harus keliatan ya ? Baiklah ... Aku kasih liat kangen ku padamu. "


Tanpa aba-aba, Ryuzaki menarik leher Aretha dan mencium bibir Aretha dengan tiba-tiba.


Aretha tersentak, tak menyangkanya. Tapi dengan hitungan detik, ia mulai membalas ciuman hangat sang suami.


" Re, apa ka.... "


Mendadak Sara muncul dan masuk begitu saja ke dalam kamar Aretha. Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Sara memutar tubuhnya kembali, keluar kamar. Raut wajahnya terlihat kesal.


Aretha dan Ryuzaki yang sempat terkejut dengan masuknya Sara ke kamar langsung saling melepaskan ciuman mereka.


" Itu .... Sara ? "


Tanya Ryuzaki setengah berbisik.


Aretha mengangguk perlahan sambil memperhatikan sosok Sara yang menjauh dari kamarnya.


" Ahh .... Aku lupa nutup pintu kamar. Pasti dia kesal. "


" Kenapa dia harus kesal ? Kita kan suami istri, wajar kan kita ciuman .... "


Aretha menatap ke arah Ryuzaki kembali.


Aneh .... kenapa Ryu bisa bilang kayak gitu ?


Dia kan tau banget siapa Sara.


Melihat Aretha menatap dengan penuh tanda tanya, Ryuzaki merasa dirinya mengatakan sesuatu yang tak seharusnya.


Kalimatku.... salah ?


Harusnya tutup mulut dan nggak banyak komentar apa-apa mulai dari sekarang.


" Oh iya... Kamu, mmm bukannya ingin mandi ? Badanmu berkeringat, buruan bersihin sana, biar berasa segar nantinya.... Hemm ? "


" Ahh ...... Badanku beneran bau ya .... "


" He em ..... Bau asem, bau kepanasan gitu, paham kan ...? "


" Okey ..... take a bath ! "


" Setelah mandi, mau kan jalan-jalan dengan ku di lingkungan sini ? "


" Mau ngapain ? "


" Agar kamu gampang lahiran, kan katanya kalo wanita hamil tua, harus rajin jalan, biar cepet prose melahirkannya. "


" Oh gitu .... oke ! "


Dan penuh semangat, Aretha bergegas melangkah ke kamar mandi.


" Huuufftthhh...... "


Begitu Aretha masuk kamar mandi yang berada tepat di sudut kamar tersebut, Ryuzaki tampak lega.


Ciuman tadi .....


Kayaknya aku emang beneran cinta sama istriku ini.


Ciuman itu bikin aku deg-degan ....

__ADS_1


__ADS_2