
Ryu mau pulang ke Jepang ?
Menyerah pada ku ?
Setuju buat cerai juga kah ?
Baguslah !!
Jadi aku nggak perlu lagi ngeliat dia.
Aku bisa lupain semua rasa kehilanganku atas bayiku.
Bagus, itu keputusan yang terbaik buat dia dan aku !
Berpisah dan saling menjauh, itu yang aku mau !
Batin Aretha dengan senyum yang mengembang disudut bibirnya.
Bunda memperhatikan raut wajah Aretha, mencoba mencari tahu apa yang sedang dirasakan putrinya tersebut.
" Besok dia berangkat, kamu... nggak ingin ketemu Ryu sebelum dia pergi ? "
Tanya Bunda dengan nada suara yang berhati-hati.
" Kenapa harus ketemu dia lagi ? Lebih baik begini, biarin aja dia pergi. Rere benci dia, Bun. Gara-gara dia, Rere kehilangan ... "
Aretha tak melanjutkan kalimatnya.
Tenggorokannya terasa tercekik saat ia mengingat apa yang telah hilang darinya. Aretha mengalihkan pandangannya dari Bunda ke arah jendela, menatap taman belakang.
" Ya sudah... Bunda nggak akan memaksa kamu. Besok Ayah dan Bunda mau menemani Ryu di bandara. Nggak papa kan ? "
Kata Bunda yang melihat raut wajah Aretha berubah menjadi sendu.
Dalam diam, Aretha menganggukkan kepala dengan pelan. Bunda menggenggam jari jemari Aretha yang ada di atas meja. Menepuk punggung tangan Aretha dengan lembut.
" Bunda berharap, kamu, Ryu, tetap bisa bahagia meskipun kalian telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ini sudah takdir, sudah jalannya harus begini. Belajar menerima kenyataan, mencoba memulai dari awal, dan berusaha untuk saling melengkapi, bukan sesuatu yang buruk bukan ? Rasa sakit kehilangan itu memang tak terhindarkan, tapi paling nggak itu bisa dijadikan pengingat agar menjadi lebih baik lagi. Hidup ini nggak selalu tentang diri sendiri, nggak bisa kita selalu menyalahkan satu sama lain, karena manusia digariskan hidup berdampingan, nggak bisa hidup sendiri... Ayah, Bunda membuatmu begitu cepat untuk mandiri, tapi nggak pingin melihatmu memilih hidup sendiri, sayang... "
Panjang lebar Bunda memberikan nasehat untuk Aretha, diselingi sesekali mengusap pipi Aretha dan membelai dengan hangat rambut Aretha yang telah memanjang hingga ke pinggang tersebut.
" Kamu nggak sendiri kok, ada Ayah, ada Bunda di sisimu, yang siap kapan saja saat kamu butuh. Berbagilah, apapun itu pada kami. Jangan dipendam sendiri lagi kayak sebelumnya. "
" Bunda.. "
Aretha yang mulai berkaca-kaca dengan semua kata-kata Bunda, langsung memeluk dan merebahkan kepalanya di bahu sang Bunda.
" Aku yakin, Ryu pun sangat kehilangan... "
Kata Bunda yang membalas pelukan Aretha dengan hangat.
Hanya Isak tangis yang terdengar dari Aretha saat berada dalam pelukan ibunya. Bunda masih terus memeluknya dengan penuh kehangatan, membuat Aretha mengeluarkan semua airmatanya yang berhari-hari berusaha untuk ditahannya.
Jadi inget saat kecil, kalo sedih pasti dipeluk kayak gini.
Aroma tubuh Bunda, pelukan hangat Bunda, selalu bikin aku cepat merasa tenang dan nyaman.
" Keluarkan semua tangismu, biar plong. "
Bisik Bunda di telinga Aretha.
Aretha pun sesenggukan di pelukan Bunda. Memeluk ibunya semakin erat. Pertahanan egonya yang terus berusaha untuk kuat dan tegar beberapa hari terakhir luntur juga.
Kamu yang selalu tampak kuat...
Kamu yang nggak pernah mau curhat apa-apa, selalu dipendam sendiri...
Kamu yang udah banyak melewati saat-saat sepi mu di luar sana...
Tetap kamu itu anak ku yang rapuh, yang bisa sangat lemah nggak berdaya, yang butuh banyak dukungan, anakku sayang...
Batin Bunda yang merasakan kepedihan Aretha.
" Makasih, Bun... "
Ucap Aretha lirih setelah puas menumpahkan rasa sedih dan Isak tangisnya dalam pelukan sang ibu.
Perlahan, Aretha melepaskan pelukannya dari Bunda. Mengusap pipinya yang basah dengan airmata dan menyeka sisa airmata dari kedua matanya yang sembab dan kemerahan.
" Istirahatlah... Tenangkan pikiranmu. Seminggu sudah kamu di rumah sakit, pasti lelah dan bosan. Hari ini hari pertama kamu pulang, Bunda bikinin kamu puding kesukaan mu ya. "
" Iya, Bun.... Rere istirahat disini saja. Capek kalo harus tiduran terus. "
__ADS_1
" Ya udah, dimana kamu suka saja... "
Kata Bunda yang kemudian bangun dari duduknya dan meninggalkan Aretha, menuju dapur.
APARTEMEN RYUZAKI
Akhirnya...
Setelah mencoba buat bertahan, berpisah juga.
Bercerai ?
Entahlah...
Sekarang ini cuma pingin sendiri, pulang ke Jepang, kumpul dengan mami papi.
Ryuzaki bangun dan berjalan ke arah balkon. Angin sore membuatnya merasa lebih segar daripada saat ia berada di dalam tadi.
Ia menatap jauh ke langit senja yang tampak indah. Dadanya terasa sakit. Ia menghela nafas panjangnya, mencoba untuk lega. Kemudian dengan perlahan, menghembuskannya perlahan.
Langit aja keliatan indah sore ini, tapi hatiku malah berasa sakit...
Batinnya sedih.
KLIIKK...
Siapa itu ?
Kata Ryuzaki dalam hati begitu mendengar suara pintu apartemennya terbuka.
Ia segera bersembunyi di balik pintu balkon, dari pantulan kaca pintu, Ryuzaki melihat sosok Aretha melangkah masuk ke dalam apartemen sambil membawa sesuatu.
Ryuzaki pun melangkah keluar dari persembunyiannya. Ia masuk ke dalam ruangan. Aretha melihatnya dengan agak terkejut. Tak menyangka, ada yang muncul tiba-tiba dari arah luar balkon.
" Aku pikir, kamu nggak ada. "
Kata Aretha.
" Ada apa ? Nggak nyangka, kamu masih mau ketemu aku. "
Sahut Ryuzaki.
" Apa ini ? "
" Dokumen perceraian yang akan aku ajukan besok Senin. Buka, baca, dan tandatangani. Semakin cepat diproses, semakin baik buat kita. "
Jawab Aretha datar dan tampak tenang.
" Kita ? Aku nggak merasa ini hak yang baik buatku... "
Timpal Ryuzaki sembari menyerahkan kembali map yang belum dibukanya itu.
" Aku tinggalkan itu disini, besok aku akan ambil. "
Kata Aretha yang menerima map tersebut dan meletakkannya di atas meja di dekatnya.
" Besok aku pulang ke Jepang. "
Kata Ryuzaki saat melihat Aretha memutar tubuhnya, hendak melangkah menuju pintu keluar.
" Aku sudah tau. Aku punya kunci cadangan ini, aku akan ambil setelah kamu pergi. "
Sahut Aretha yang menghentikan langkah kakinya dan terdiam di tempat.
" Lihat aku. "
Kata Ryuzaki sambil menarik lengan Aretha dan membuat Aretha kembali memutar tubuhnya.
Aretha mendongak, melihat ke arah Ryuzaki.
Ryuzaki menatap tajam ke mata Aretha.
" Lihat aku dan bilang, kamu nggak cinta lagi padaku. Baru aku bisa tenang tinggalin kamu. "
Kata Ryuzaki tegas.
Aretha menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. Hatinya terasa kacau balau. Aretha dilema. Tapi ia berusaha untuk tetap kuat.
" Aku... membencimu ! "
Ucapnya dengan bibir bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Kamu bohong !
Batin Ryuzaki.
Dan dengan cepat, Ryuzaki menarik tubuh Aretha merapat ke tubuhnya. Dan mendaratkan bibirnya ke bibir Aretha. Aretha yang tidak menyangka apa yang dilakukan Ryuzaki, segera melotot dan berusaha melepaskan diri.
Ryuzaki tak peduli dengan beberapa pukulan tangan Aretha di dadanya. Ia terus mencium Aretha. Satu tangannya memeluk Aretha dengan erat, dan satunya lagi menahan kepala Aretha agar tetap diam dan tak bisa menghindari ciumannya.
Airmata Aretha mengalir perlahan. Akhirnya, ia hanya bisa membiarkan Ryuzaki terus mencium dan memeluknya.
Aku mencintainya...
Aku nggak ingin melepasnya.
Aku nggak mau dia pergi ke Jepang.
Aku nggak mau dia tinggalin aku disini.
Tapi kalo dia masih terus disini, yang ada cuma bisa saling menyakiti.
Sara pun nggak akan pernah lepasin aku dan biarin aku bahagia bersama Ryu...
Maafin aku, Ryu...
Maaf...
Batin Aretha benar-benar sedih.
Selang beberapa saat, secara perlahan, Ryuzaki menghentikan tindakannya. Ia melepaskan pelukan dan ciumannya pada Aretha. Ditatapnya Aretha.
" Bilang padaku, jangan pergi, aku akan lakukan apapun demi kamu. Jangan bohongi diri sendiri... Aku tau, kamu mencintaiku, Re... "
Kata Ryuzaki sembari mengusap airmata Aretha dengan jari-jarinya.
" Kayak yang aku bilang tadi, besok aku ambil dokumennya. Aku pulang... "
Aretha menghempaskan tangan Ryuzaki dengan perlahan.
Dan tak ingin membuang waktu lebih lama, Aretha dengan cepat memutar tubuhnya dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
" Kumohon, Re... Kenapa kita nggak bisa bersama ? "
Ryuzaki mengejar Aretha dan menghadangnya tepat di depan pintu.
" Apa karena Sara ? "
Kembali Ryuzaki bertanya.
" Kumohon, jangan kayak gini... Minggir lah. "
Kata Aretha dengan penuh harap.
Aku punya banyak segudang rencana, Ryu...
Tapi kalo kamu masih tetap disini, semua rencana ku akan berantakan.
Batin Aretha.
Ryuzaki pun menyerah melihat kesungguhan dalam wajah Aretha. Tak ada lagi kompromi biarpun tampak jelas raut wajah Aretha sangat sedih. Tak bisa lagi dirayu biarpun pipi dan mata Aretha masih basah oleh airmata.
" Aku mencintaimu... Selamanya aku mencintaimu. "
Kata Ryuzaki setelah membiarkan Aretha melewati tubuhnya dan berjalan keluar apartemen.
Aretha sama sekali tak bergeming. Dia terus berjalan semakin jauh dari pintu dan menghilang ke dalam lift.
Ryuzaki menyandarkan tubuhnya ke pintu dan merosot ke bawah dengan lemas. Kepalanya tertunduk lemah, terdengar suara isakan yang menyayat hati darinya.
Aku cinta kamu, Re...
Kenapa takdir sangat kejam padaku... ?
Begitu semua ingatanku kembali, aku kehilangan kamu...
Bodoh ! Bodoh !
Kalo harus kehilanganmu kayak gini, aku lebih memilih tetap amnesia seumur hidupku !
" AAAAARRRGGGGHHHHHHHH !!!!! '
Jerit Ryuzaki sekencang-kencangnya.
__ADS_1