
Ryuzaki berinisiatif mendekat. Menghampiri Aretha dan Sara. Dengan lembut, dilepaskannya pelukan Sara terhadap istrinya. Sara yang membenamkan wajahnya ke bahu Aretha, merasa terganggu, melihat siapa yang mengganggunya. Matanya sangat tajam menatap Ryuzaki. Tatapan kebencian.
" Sepertinya udah waktunya aku ikut bicara bukan ? "
Kata Ryuzaki dengan senyum yang mengembang. Berusaha untuk bijak. Sara segera menarik tangannya yang dipegang Ryuzaki.
" Ayo, kita ngobrol sambil duduk... Aku yakin kalian semua juga capek. "
Ryuzaki duduk bersila. Ditariknya tangan Aretha, agar istrinya ikut duduk pula. Aretha menurutinya, dan duduk di hadapan sang suami. Ditto memilih duduk di sebelah Ryuzaki. Melihat semuanya sudah duduk dan menatap ke arahnya, Sara pun akhirnya ikut duduk dibawah. Mengambil tempat di samping Aretha.
" Apapun yang mau kalian omongin, aku nggak peduli. Aku cuma mau Rere. "
Kata Sara keras kepala, dan menyandarkan kepalanya di bahu Aretha.
" Aku tau, aku adalah orang baru di antara kalian. Yah, mungkin buat kamu, Re.... aku bukan orang yang diharapkan sebelumnya. Pernikahan kita karena bisnis orangtua. Tapi buat ku... menuruti keinginan orangtua adalah segalanya. Jadi aku akan jalani pernikahan ini dengan serius. Aku bisa belajar terima kamu apa adanya, Re... Dan aku juga akan belajar mencintaimu setulus hati... "
" Aku nggak setuju, bilang, Re... Nggak ! "
" Sara, tolong... dengerin dulu. Bisa ? "
Ryuzaki bertanya sambil menatap Sara dengan tatapan memohon. Sara melunak.
" Aku cuma mau menegaskan, apapun yang terjadi, aku akan bertahan di pernikahan ini. Apapun yang terjadi ! "
Sara kembali ingin memprotes, tapi Aretha menahannya dengan menggenggam tangan Sara. Sara mengurungkan niatnya.
" Aku akan belajar buat menerima kamu juga, Sara. Sebagai sodara Rere, aku nggak akan halangi kamu buat ketemu, main, kumpul atau apa sajalah yang kalian pingin lakuin bersama asal... dalam hubungan persaudaraan ! "
__ADS_1
" Apa maksudmu ? "
Sara mengangkat kepalanya dari bahu Aretha. Melotot ke arah Ryuzaki.
" Kalian bersodara, jadi tolong perlihatkan hubungan kalian sebagai sodara. Jangan kelewat batas. Nggak ada lagi, pelukan yang gimana gitu... atau apa namanya... Mm, jangan bersikap kalian itu pecinta sesama ! "
Kali ini Ditto bereaksi atas ucapan Ryuzaki. Ditto menganggukkan kepala, tanda setuju.
" A-aku... "
" Kamu cantik, kok... Kamu anggun, pintar. Dan aku yakin, sekali kamu belajar untuk lepas dari bayang-bayang Rere, akan banyak cowok di luar sana yang rela ngelakuin apa saja buatmu, bersedia jadi pelindungmu sampai mati. Salah satunya... Nih ! Yang ada di samping ku. "
Ryuzaki merangkul Ditto, dan tersenyum. Ditto yang sempat terkejut atas tindakan Ryuzaki yang tiba-tiba, ikut membalas senyuman suami Aretha tersebut.
" Ditto nggak dendam atas apa yang terjadi dulu, beberapa hari lalu aku dan Zoya ketemu Ditto di mall. Aku juga kayak kamu, Sara. Aku curiga, setelah ilang gitu aja, tau-tau nongol. Aku pikir, dia akan cari kamu dan balas dendam atau nyakitin kamu lah... Tapi dia cerita semuanya. Makanya aku bilang kan, kita salah paham sama Ditto dulu. "
" Trus kalo kamu emang suka sama aku... Kenapa kamu ngilang gitu aja dan nggak jelasin ke aku ? "
" Setelah bangun dari pingsan 2 hari di rumah sakit, aku minta papa ku buat pulang ke Surabaya. Aku nggak mau akan jadi masalah buat Sara. Alasanku kenapa aku kena tusuk, aku berantem sama beberapa preman yang pingin malak aku. Papa sih emang sempet mau masukkin laporan ke polisi, tapi aku bilang, aku nggak mau nanti malah tambah panjang urusannya. Kami langsung pindah hari itu juga. Urusan pindah sekolah diatur sama Papa dengan cepat. Pihak sekolah juga dipinta papa untuk tidak heboh dengan kejadian yang menimpaku. "
" Ya, pastilah gampang banget papamu beresin ini itu, secara papamu juga punya saham yang lumayan juga atas sekolah kita ya. "
" Ya, Re... pikir ku, aku akan cepat sembuh. Dan setelah sembuh, aku akan temuin kalian dan jelasin perasaan ku yang sesungguhnya. Ternyata, luka tusuk itu dalam juga... Dan dari keterangan dokter, ada 3 tusukan di tempat yang sama, dan 2 tusukan di dekat tusukan sebelumnya. Itu membuatku lumpuh selama 2 tahun. "
Aretha dan Sara secara tidak sadar, bersamaan menatap ke arah pinggang sebelah kiri Ditto. Raut wajah Sara kali ini tidak terlihat galak lagi. Tampak seperti merasa bersalah. Aretha menggigit bibir sebelah bawahnya. Sesaat, seperti kembali melihat Ditto yang ia temukan dalam keadaan pingsan dan bersimbah darah beberapa tahun lalu.
" Maafin aku ya... "
__ADS_1
Ucap Sara terdengar lirih. Ditto menepuk punggung tangannya dengan lembut.
" 2 tahun cuma bisa ngandelin kursi roda dan ke sana kesini dibawa papa mama berobat dengan cara apapun. Yah, alhamdulillah sih, ada perubahan. Aku mulai bisa ngerasain gerakkin jari-jari kakiku. Mmm... ada sekitar 1 taun lebih, baru aku bisa berjalan, ya kayak belajar jalan gitu... pelan-pelan. Lalu aku lanjut sekolah SMU lagi, satu tahun akhir kan, kelarin kelas 3, lulus. Dan seperti sekarang yang kalian liat... Aku udah benar-benar sembuh. Taun lalu aku baru masuk kuliah. "
" Kuliah dimana ? Surabaya atau di Jakarta sini ? "
" Di Jakarta sini. Inget Oom Riki nggak, Re ? "
" Inget... aku pernah kamu ajak main ke sana kan, daerah Lebak Bulus. "
" Ya, aku tinggal sama Oom Riki. Waktu minta kuliah di Jakarta, papa mama nggak kasih ijin sih... Tapi aku maksa. Ya, akhirnya dibolehin, tapi nggak boleh ngekost, suruh tinggal di rumah Oom Riki. "
" Jadi kamu udah tinggal lama dong disini, udah 1 taunan kan... Kenapa nggak ke rumah ku ? Datang kerumahku dan jelasin semuanya. "
" Dari pertama aku datang, aku udah langsung ke rumah mu. Cuma aku ngeliat aja dari jauh. Beberapa kali aku perhatiin, kamu nggak ada, Re. Sampe aku tanya-tanya di sekitar rumahmu. Beberapa tetanggamu bilang, kamu udah lama nggak keliatan di rumah, tapi nggak ada yang tau kamu tinggal di mana. Dan aku belum siap kalo harus ketemu Sara duluan. "
" Iya sih, aku emang masih tinggal diluar kalo taun lalu. 3 taun aku tinggal di daerah Kebayoran Lama. Di Depok sini aku baru pulang lagi setelah nikah. Dan itu juga langsung tinggal di tempat Ryu. "
" Oh, pantes. Aku cuma ngeliat Sara aja yang keluar
masuk rumah. Hari ini aku datang kesini, setelah dapat nomer telpon Sara dari Zoya. Aku nggak berani minta sama kamu, karena inget, terakhir kita ketemu kemarin, kamu masih kurang percaya padaku. "
" Ya secara, gimana aku mau percaya gitu aja, Dit. Masih seger banget nih di ingatan ku, kamu yang berdarah-darah, pingsan, dan pisau Sara yang jadi senjatanya.... "
Ditto hanya tersenyum simpul menanggapi komentar Aretha.
" Maaf... "
__ADS_1