
KKRRIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNGGGGG !!!!!!
" Aadduuhhh.... Berisik banget... '
Keluh Aretha sembari meraba-raba di atas meja.
KKRRIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNGGGGG !!!!!!
" Uuuuhhhh.... Mana sih... "
KKRRIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNGGGGG !!!!!!
" Iya ! Iya !!! Aaahhh !!! "
Dengan mata yang masih mengantuk, Aretha menarik tubuhnya untuk duduk.
KKRRIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNGGGGG !!!!!!
Aretha melihat ke arah meja kecil di sisi tempat tidurnya dan mengambil jam alarm yang berbentuk panda dengan warnanya yang khas, hitam dan putih.
KKRRIIIIIIIIIIIIIIINNNNNNGGGGG !!!!!
" Mampus nih !!! "
Dan bunyi alarm pun berhenti begitu Aretha menekan tombol di atas jam alarm tersebut, dengan penuh emosi.
Jam tujuh lebih ya...
" Waduh ! Aku lupa ! "
Matanya membelalak saat menatap jam alarm tersebut.
Dan dengan secepat kilat, Aretha melompat dari tempat tidurnya. Langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Tak berapa lama, Aretha sudah keluar dengan tubuh yang terlilit handuk dan rambut setengah basah. Mandi cowboy.
" Aduh, aduh ! Gawat ! Gawat... "
Gumamnya seraya memilih pakaian yang ingin dikenakannya dari dalam lemari.
Setelah memilih dengan asal, pada akhirnya, Aretha dengan gerak cepat mengenakannya.
" Dandan di kantor aja lah... "
Gumamnya seraya menyambar tas kosmetik di atas meja riasnya dan memasukkannya ke dalam tas ransel berwarna coklat muda.
" Apalagi ya yang dibawa ? Mmm... Hp, Hp... Mana Hp ku... "
Kembali ia bergumam dan segera ia menggeledah tempat tidur dan meja, mencari handphone nya.
" Aduuuhh... Dimana sih ?! "
Aretha menjadi makin panik saat tak menemukan handphone nya.
Sambil menenteng tas ranselnya, ia berlari keluar kamar. Kali ini ia mengacak-acak ruangan di luar kamarnya.
" Hp... Hp... Hp... "
Gumamnya mulai cemas.
" Aaaarrgghhh, SHIITTT !!! "
Umpatnya dengan seru.
Sudahlah, nggak usah dicari lagi...
Bete, bete deh nggak pegang hp seharian !
Otw sekarang !
Udah jam setengah delapan lebih, bakalan telaaaaatttt.....
Batin Aretha sangat kesal dan menyerah.
Lalu ia pun menutup tas ranselnya dan mengenakannya di punggung. Setengah berlari, ia menyambar sebuah helm dan kunci motornya.
Melihat kunci motor di tangannya, wajah paniknya seketika berubah, menjadi senyum yang sangat lebar.
" Akhirnya... Kamu jadi milikku lagi, sayang, mmmmuuuuaaahhhh !!! "
Penuh kebahagiaan yang terlihat jelas, Aretha mencium kunci motor tersebut. Dan iapun segera bergegas pergi keluar meninggalkan apartemennya, sembari bersiul senang.
KANTOR RYUZAKI
" Pagi, pak. "
Sapa Aretha dengan sopan sembari melempar senyum termanis nya.
Kayaknya ini satpam awet juga kerja disini...
Dia ini masih inget aku nggak ya ?
Mmm, namanya adalah... Hadi Sasmita.
Batin Aretha sambil curi-curi pandang ke arah dada kanan seorang satpam yang sedang mengernyitkan dahinya saat menatap Aretha.
" Pagi juga. Ada yang bisa saya bantu ? "
Jawab satpam tersebut, tak lupa tersenyum untuk membalas senyum sang tamu.
Dia nggak ingat...
Batin Aretha lagi.
" Saya karyawan baru, pak. Bagian HRD sudah konfirmasi ke bapak belum soal hari ini saya mulai bekerja ? "
" Oh, karyawan baru ? Ada surat pengantar dari HRD nya ? "
" Ada, sebentar ya, pak... "
Dan Aretha pun membuka tasnya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, wajahnya mulai panik. Satpam tersebut mulai curiga.
" Mbak, setiap karyawan baru pasti dikasih surat pengantar da... "
" Pak, beliau ini asisten pribadinya Pak Ryuzaki yang baru. "
Sebuah suara yang berat terdengar dari arah belakang sang satpam.
Aretha dan satpam tersebut segera melihat siapa yang bicara baru saja. Eza ternyata. Aretha langsung tersenyum lebar.
" Oh, gitu. Maaf ya, pak, mbak. "
Sahut satpam tersebut yang kembali tersenyum.
Selamet... Selamet...
Tau itu surat pengantar koq nggak ada di dalam tas, padahal rasanya udah kusiapin deh.
Ada Eza ini, nggak pusing berantem sama satpam lagi.
Batin Aretha merasa tenang.
" Masih mau diem disini ? Bos udah nungguin lho ! "
Kata Eza yang melihat Aretha masih berdiri diam termangu.
" Ah, iya... Mari, pak. "
Kata Aretha sambil menganggukkan kepala kepada satpam tersebut.
" Iya, silahkan. "
Jawab sang satpam dengan sopan.
Aretha mengekor di belakang Eza yang sesekali menyapa orang-orang yang dilewatinya sepanjang perjalanan menuju ruangan Ryuzaki.
" Kenapa mereka ngeliat aku kayak gitu ya ? "
Gumam Aretha dengan penuh tanda tanya di benaknya, saat beberapa kali ia melihat beberapa orang memperhatikannya dengan mimik serius.
" Jangan digubris, cuekin aja. Biasalah, namanya manusia. Penasaran dengan sesuatu yang baru, apalagi hari ini ada dua yang baru. "
Kata Eza yang mendengar gumaman Aretha.
" Salah satu yang baru itu, aku ? "
" He-em... "
" Lalu satu lagi ? "
" Ayako, di bagian Marketing. "
" Siapa ?! "
Aretha bertanya setengah berseru.
Eza menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Aretha. Aretha juga menghentikan langkahnya dan menatap Eza dengan tajam.
" Aku menolak kerja disini. Bilangin ke Ryu, aku pulang. "
Kata Aretha tegas.
Tanpa menunggu Eza menjawab, Aretha sudah memutar tubuh dan berjalan ke arah keluar gedung. Tapi belum sempat ia berjalan satu langkah, wajahnya terkejut melihat seseorang yang ada di hadapannya kini.
" Aku menolak penolakan mu itu. Tetap bekerja disini atau aku terpaksa menyeretmu masuk ke ruanganku sekarang juga. "
Kata Ryuzaki yang sudah menghadang langkah Aretha.
" Apa hakmu memaksaku kayak gitu ?! "
Ujar Aretha dengan nada yang menantang.
" Aku punya hak atas kamu seutuhnya. Ingat, kita belum bercerai. "
Jawab Ryuzaki.
" Cih, alasan itu lagi. Apa nggak punya alasan yang lain, hah ?! "
Sahut Aretha sinis.
Ryuzaki berjalan mendekati Aretha dan dengan cepat, langsung mengangkat tubuh Aretha dan membopongnya.
" Heii !!! Kamu gila ya ?!! "
Seru Aretha memberontak.
Dan tentu saja, hal itu menjadi bahan perhatian orang-orang di sekitar mereka. Eza hanya tersenyum melihatnya.
" Tugasku sudah selesai. Uruslah dengan baik istri nakal mu ini, ya. "
Kata Eza dengan mengerlingkan sebelah mata nya.
" Lepasin nggak ? "
Kata Aretha setengah berbisik saat Ryuzaki mulai membawanya kembali dan memasuki lift.
" Nggak akan... "
Sahut Ryuzaki yang ikut berbisik pula.
" Diliatin orang... "
" Biarin... "
" Ryuuuu... Pleaassssee... "
" Jangan banyak bergerak, tanganku pegal. "
" Isshh... "
Dan Aretha pun memilih menurut. Ryuzaki melirik ke bawah, ke arah wajah Aretha. Terlihat olehnya, Aretha menyembunyikan wajah dengan menempel ke dadanya. Ryuzaki pun tersenyum senang.
__ADS_1
Berapa lama ya nggak menggendongnya kayak gini...
Jadi terasa dekat banget kayak dulu.
Nafasnya terasa hangat menembus jas dan kemejaku.
Batin Ryuzaki dengan rasa bahagia yang ia sembunyikan dari raut wajahnya.
Tak lama kemudian, keduanya telah memasuki ruangan Ryuzaki. Wajah Ryuzaki tampak terkejut, saat mendapati sosok Ayako sudah duduk di kursi kerjanya.
Aretha yang merasa langkah Ryuzaki terhenti, mengangkat wajahnya dan melihat kearah wajah Ryuzaki.
" Udah sampai ya ? Turunin a... "
" Pagi, Ryu... "
Belum selesai Aretha bicara, Ayako sudah memotong kalimatnya sembari tersenyum kepada Ryuzaki.
Aretha melihat ke arah depan. Dan melihat Ayako yang beranjak bangun dari kursi kerja Ryuzaki.
Perlahan, Ryuzaki menurunkan tubuh Aretha. Kemudian ia berjalan ke arah meja kerjanya. Ayako segera berpindah tempat, berdiri disisi meja.
" Re, duduk dulu. "
Kata Ryuzaki sesaat setelah ia duduk, masih melihat Aretha berdiri.
Aretha pun berjalan menuju sofa tamu di tengaj ruangan. Tak ingin melihat Ayako, Aretha melempar pandangannya ke arah balkon yang hanya terhalang pintu kaca.
" Ryu, aku nggak mau kantor ku di bawah. Apa nggak bisa dipindah, jdi satu lantai saja sama kamu... "
Kata Ayako dengan nada manja.
Isshhh...
Sok manja !
Aku aja yang istrinya, nggak sok sok an manja gitu.
Bikin sakit kuping aja !
Batin Aretha setengah gondok.
" Nggak bisa pindah... Dari dulu Divisi Marketing emang ada di bawah. Itu bikin mudah Divisi mu buat keluar masuk gedung saat diperlukan. Marketing kan yang paling sering punya kerjaan di luar. "
Jelas Ryuzaki dengan tenang.
" Ya udah, khusus buat aku saja. "
Ayako masih mencoba untuk memohon.
" Kayak gitu malah makin ribet lagi. Bukannya kamu sendiri yang pingin ke Divisi Marketing ? "
" Iya, memang aku yang mau, karena sesuai dengan jurusan yang aku ambil waktu kuliah. "
" Ya udah, kalo gitu... "
" Ryu... tolonglah... "
Kata Ayako terdengar sangat manja.
Bahkan kali ini, ia dengan manjanya begitu saja memeluk Ryuzaki dari samping.
Aretha yang bisa melihat hal itu dari sudut tatapannya merasa jengah. Dan dengan sigap, ia pun berdiri, memilih keluar ke arah balkon.
Iihh, apa-apaan itu...
Disangka si masako itu, aku ini obat nyamuk kali ya ?
Suaranya sok manja gitu, kelakuannya juga nggak tau malu.
Itu kan suami orang !
Itu suami ku, tau !!
" Eh... "
Seperti tersadar, Aretha agak terkejut dengan isi pikirannya sendiri.
" Hhuufftthh... "
Please, Re...
Sadarlah !
Ingat ! Kamulah yang memilih ninggalin Ryu...
Apapun yang terjadi, jangan cemburu.
JANGAN CEMBURU !
Katanya dalam hati pada dirinya sendiri.
Aku cemburu kah ?
Iya ya, kenapa aku cemburu ya...
Aku emang masih cinta, bukan ?
Sudah... Sudah...
Berhenti sampai disini.
Nggak boleh menyesali keputusan yang aku buat sendiri.
Demi aku...
Demi aku...
Ya Allah, nggak enak banget ini rasanya cemburu...
Sabar... Sabar...
__ADS_1
Sembari menatap langit pagi hari yang cerah, Aretha terus menekan perasaan cemburunya dan berusaha memberi semangat untuk dirinya sendiri.